Rachel kini di kampus. Namun sebelum ke kampus tadi, Rachel meminta Hansel mengantarnya ke grosir pakaian milik keluarganya. Rachel mengambil beberapa baju kaos dan kemeja lalu membawanya ke kampus.
Seperti biasa, jika Rachel kekurangan uang dari ayahnya, dulu, Rachel akan mencuri beberapa pakaian di grosir kemudian menjualnya pada teman-temannya dengan harga dua kali lipat. Cih, Rachel jual murah? No! Rachel mata duitan.
Sebenarnya dia bisa saja meminta uang pada ayahnya atau pamannya, akan tetapi dia segan karena dia sudah bersuami. Dia juga tadi berniat meminjam uang pada Hansel, tapi harga diri suaminya-- ah, memalukan.
Dia masih punya uang. Hanya saja tertinggal di rumah Kaivan. Rumah Kaivan jauh, bisa-bisa Rachel yang masih harus ke kang Poto copy dulu, terlambat menemui dosennya.
"Anj! Revisi lagi. Biadap memang dosen itu!" umpat Rachel sembari berjalan di koridor kampus. Dia telah selesai bimbingan dan dia revisi lagi. "Argkkkk … sial sial sial! Dibalik ajah belom, udah dibilang revisi. Si bangke."
"Gimana, Sayang?" tanya Alsya, sahabat Rachel.
"Dari wajahnya sih revisi. Pftttt …." ledek Denny, sahabat Rachel juga.
Rachel berkacak pinggang. Dia mengingat judul skripsi-nya kemarin yang tiba-tiba berubah. Dia ingin memarahi Denny karena dia yakin Danny adalah dalang dari judul aneh syaiton itu. Namun, Rachel memilih menunda kemarahannya.
"Baiklah, Teman-teman. Aku lagi nggak punya duit dan seperti biasa kalian harus membantuku jual baju. Nih." Rachel mengambil baju dalam tas kemudian memberikannya masing-masing dua pada Denny dan Alsya. "Harga kaos masing-masing enam ratus lima puluh ribu saja. Nawar? Boleh. Tapi cuma lima ribu harga yang dipotong."
Sebenarnya harga asli kaos tersebut adalah tiga ratus ribu. Namun karena dia telah di tangan Rachel maka harganya bertambah satu kali lipat.
"Ma--mahalnya!! Kemarin aku beli dapat empat ratus ribu kok." Alsya memanyunkan bibir. "Mana ada yang mau beli, Chel. Harga di toko sebelah murah."
"Ya karna aku kan pemilik merek, jadi suka-suka ku lah naikin harga. Ah, setan! Bodoamat! Jual dan harus laku!" kesal Rachel sembari berjalan cepat dari sana. Dia juga harus menjual baju yang ada padanya. Dia mencari target dan ketemu.
"Hei … dek dek dek!" Rachel berlari kecil ke arah seorang pria yang ia tebak adalah juniornya. Dari wajahnya masih kelihatan muda dan tanpa beban.
"Bentar yah, Dek." Rachel mengambil baju kaos jualan dari dalam tas, membuka plastiknya kemudian memakaikannya pada pria itu.
Pria tersebut bingung, namun dengan polos dan naifnya dia mau-mau saja dipasangkan baju kaos ke tubuhnya.
"Nah, bagus nih." Rachel tersenyum cemerlang, menatap pemuda tersebut dengan manis.
"Siapa?" tanya pria tersebut, menaikkan sebelah alis.
"Hehehe … sekarang Adek yang tampan membahana ini bayar yah. Enam ratus ribu ajah. Karena adek ini menggemaskan, jadi ada potongan harga spesial." Bukannya menjawab perkataan pria itu, Rachel langsung to the point.
"Anda penipu?"
"Oh, tidak-tidak. Kualitas baju ini bagus. Dari kain premium yang diimpor. Warnanya nggak akan luntur hingga sepuluh tahun ke depan, nggak mudah robek, dan sesuai trend. Uuu … ini saja pas di badan Adek," cerocos Rachel yang malah semakin membuat pria itu bingung.
"Tetapi saya tidak berniat membelinya," ucap pria itu sembari menatap aneh pada Rachel.
"Ouh, mau masuk bon hutang? Umm … santai santai." Rachel mengeluarkan buku catatan hutang dari dalam tasnya. "Nama adek siapa, fakultas dan jurusannya apa, semester berapa, NIM berapa?"
"Hah." Pria itu menghela nafas, merogok saku–mengeluarkan dompet kemudian mengambil sejumlah uang untuk membayar baju kaos tersebut. "Ini."
"Ouh, langsung lunas ternyata. Terimakasih terimakasih, Dek. Senang berbisnis dengan anda." Rachel tersenyum lebar, menyimpan uang dari pria itu lalu memungut sampah plastik dari baju tadi. "Oh, ini plastik kemasannya, Dek."
"Tidak perlu." Pria itu berucap malas kemudian beranjak dari sana sembari memasang headset di telinga.
Rachel terkekeh bahagiah. "Aku emang pintar berniaga. Nggak sia sia aku nonton si Mail." Rachel berucap bahagiah sembari berjalan pergi dari sana.
Tiba-tiba handphonenya berdering, sambungan telpon masuk dari suaminya.
"Iya, Sayang?" canda Rachel–dia terlalu bahagia karena bajunya laku satu.
Suara dengkusan terdengar dari seberang sana. Ah, persetan bagi Rachel! Nanti kalau Kaivan memarahinya, tidak masalah karena Rachel sedang bahagian.
'Ke depan sekarang.'
"Iya, Sayang. Sabar …," ucap Rachel dengan genit.
Sambungan dimatikan dan Rachel tebak suaminya itu pasti marah padanya. 'Hihihi … tapi tidak apa-apa. Siapa tahu dia tidak betah punya istri kecantilan. Trus aku diceraikan deh.'
Melihat mobil suaminya, Rachel berjalan semangat ke sana. Dia juga sudah mengabari Alsya dan Denny jika dia pulang duluan dan baju-baju tadi dijual sesuai harga saja.
Bug'
Rachel masuk dalam mobil, dan langsung duduk manis di sebelah suaminya yang ada di kursi kemudi. "Salim dong, Sayang," ucap Rachel lagi sembari meraih mandiri tangan Kaivan, menyalaminya lalu mencium punggung tangan suaminya tersebut dengan bertenaga dan lamat.
"Kau sedang senang, Ichi?" tanya Kaivan dengan sebelah alis terangkat. Awalnya dia ingin marah ketika perempuan yang telah ia nikahi ini terus memanggilnya sayang.
Bukan tak suka! Tapi lebih ke … -- sulit Kaivan jelaskan!
Namun dia menunda untuk tak marah karena Rachel menyalam dan mencium punggung tangannya dengan begitu bersemangat. Itu menyentuh hati beku Kaivan.
Lagi-lagi Rachel menunjukan sikap tak masalahnya dengan wajah Kaivan yang berbalut topeng. Perempuan ini sangat enjoy.
"Hu'um. Aku tadi habis …-" ucapan Rachel berhenti saat menyadari sosok lain dalam mobil suaminya.
Ada seorang pemuda duduk di bangku belakang. Rachel menoleh syok dan horor pada pria itu.
"Hai …."
"Kau!"