Rachel Tak Mau Kalah

529 Kata
"Ini uang untukmu dan jika ada keperluan lain kau bisa menggunakan kartu ini. Simpan dengan baik dan manfaatkan dengan baik juga." Kaivan memberikan sejumlah uang pada Rachel, menyodorkan tangannya kemudian saat Rachel telah mengambil uang tersebut. Rachel meraih tangan suaminya, menyalimnya dan mencium punggung tangannya juga. Dia tersenyum manis sembari dengan bayang-bayang makanan dalam kepalanya. Uangnya banyak sekali dan dia bisa foya-foya di kantin fakultasnya. "Langsung pulang ke rumah kita. Jangan kemari," peringat Kaivan. Rachel menganggukkan kepala. "Siap, Bang-Mas Kaivan ma-maksudku," jawab Rachel dengan terburu-buru meralat panggilannya pada suaminya ini. Piyuuhhh, hampir saja dia memanggil suaminya dengan Bang Kai lagi. Hampir! Kaivan hanya menatap datar pada istrinya, setelah itu dia beranjak dari sana tanpa mengatakan apapun lagi. Dia diikuti oleh William dan juga Hansel yang sudah seperti pengawal pribadinya. Namun, bisa dikatakan juga begitu karena selain kedua orang itu menjadi sekretaris dan asisten Kaivan, mereka juga merangkap sebagai bodyguard yang siap melindungi sang tuan jika bahaya tiba-tiba menyerang. Rachel sebenarnya ingin ikut, akan tetapi jadwalnya ke kampus nanti itu di jam sebelas, pagi menjelang siang. Masih terlalu lama. Jadi Kaivan menyuruhnya berangkat dari rumah kediaman Kendall. Sepertinya suaminya, Rachel langsung masuk dalam rumah. Namun tiba-tiba Nenek suaminya, Parah, dan Evelyn (sepupu suaminya) mendatangi Rachel. Srett Evelyn langsung merampas uang dan kartu debit di tangan Rachel, uang yang diberikan Suaminya tadi padanya. "Enak saja kamu dapat uang dari Kakak aku." Evelyn berkata sinis, menatap Rachel dari atas hingga bawah dengan tatapan jijik dan meremehkan. "Wanita miskin sepertimu tidak pantas memegang uang banyak. Minta pada ayahmu saja saja! Dasar miskin!" "Aku nggak miskin yah. Ayah aku masih bisa memberiku nafkah, nggak usah sok begitu." Rachel mendelik dan menatap tak suka pada Evelyn. Oh, halo! Mereka pikir mereka ini bisa menindas Rachel, heh? Big no! Rachel ini queen! Dia istri dari seorang Kaivan Rafindra Kendall yang ditakuti banyak orang. Meskipun mereka ini keluarga suaminya sendiri, tetapi harusnya mereka juga takut pada Rachel. Bug' Parah mengangkat tingkatnya tinggi lalu memukulnya ke punggung Rachel itu cukup sakit dan membuat Rachel meringis kesakitan juga. "Agkh!" Rachel memekik sakit. "Gadis murahan! Jangan berani naikkan suaramu di depanku dan cucu-cucuku. Kau ini hanya alat yang dibeli oleh Kaivan-ku. Jangan belagu! Dasar miskin tidak tahu diri," marah Parah. "Argkkkk !" Rachel menggeram kesal. Dia langsung merampas tongkat di tangan Parah lalu mengayunkannya, gerakan ingin memukul Parah. Parah langsung merunduk dan menyembunyikan wajahnya. Dia panik dan ketakutan. Bahkan wanita tua itu menjerit. "Kamu takut, Nek?!" Rachel berkata remah, menurunkan tongkat itu sembari menatap sinis pada Parah dan Evelyn. "Nenek-nenek sepertimu harusnya banyak-banyak zikir. Biar nanti mati dipermudah oleh yang Kuasa. Udah bau tanah juga, tapi belagu minta ampun!" ketus Rachel dengan segera beranjak dari sana. Namun dia tiba-tiba berhenti, menatap ke arah Evelyn yang terlihat syok dan juga Parah yang masih pucat pias. "Satu lagi, makan tuh uang. Biasa orang kaya emang serakah. Serakah sekali sampe mengambil hak orang. Moga-moga lu mati, kuburanmu nggak sempit yah." Setelah mengatakan itu pada Evelyn, Rachel segera beranjak dari sana. Sialan, masih pagi tetapi dia harus adu mulut dengan dua wanita menyebalkan di rumah suaminya ini. 'Wah tapi enak juga. Aku berasa bakatku sebagai psychopath darah rendah diasah di sini. Ckckck!' batin Rachel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN