Suami Sempurna

543 Kata
Bug' Tiba-tiba Kaivan mendadak berhenti melangkah, Rachel yang kurang fokus-- berjalan lotoy dibelakang Kaivan, pada akhirnya menabrak punggung lebar Kaivan. "Auuu …." Rachel memekik sakit, mengusap kasar keningnya sendiri sembari menatap penuh tanda tanya pada Kaivan yang tiba-tiba berhenti melangkah–sekarang malah menatap Rachel dengan tajam, entah maksud pria ini apa. "Pertama, berhenti memanggilku Abang. Kedua, jadi menurutmu suami istri itu tidur berpisah, heh?" Karena takut dengan aura pria dingin di depannya ini, Rachel reflek meneguk saliva dengan susah payah dan bergerak mundur beberapa langkah untuk memberi jarak dengan Kaivan yang punya tatapan membunuh ini. Astaga, Rachel merasa tatapan Kaivan ini seperti pedang yang siap mencincang halus tubuh Rachel. Menakutkan! "Ba--baik, Bang Kai." "Kau-" Kaivan mengatupkan rahang sembari menatap semakin tajam ke arah Rachel. Sedangkan Rachel, dia menutup mulut, matanya membulat horor dengan air muka panik luar biasa. Dia tiba-tiba menggelengkan kepala dengan sembari menatap pias pada suaminya. Rachel ceplos dan tanpa sadar dia telah mengatai suaminya bangkai. Astaga, dia tak sengaja dan tak berniat mengatai Kaivan juga. Tuk' Kaivan menyentil kuat kening Rachel, membuat perempuan itu memekik sakit dan menampilkan air muka meringis dan kecut. Kaivan menggenggam tangan Rachel kemudian menarik perempuan itu dari sana. Diam-diam Kaivan tersenyum tipis, gelik dengan ekspresi Rachel ketika keningnya disentil oleh Kaivan. Cih, Rachel menggemaskan dan sangat imut juga. Bibirnya yang suka mencerocos sebenarnya sangat menggoda bagi Kaivan. Tapi Kaivan harus menahan diri. "Jangan sampai kau memanggilku dengan sebutan Abang lagi, Ichi, atau kau akan mendapat hukuman dariku." Kaivan berucap sembari membuka pintu kamar miliknya dalam kediaman Kendall ini. "Iya, Sayang," sungut Rachel dengan pelan dan lemas. Kenapa dia serba salah? Tadi dia juga hanya keceplosan, dia tidak berniat memangil Kaivan begitu. Kaivan yang sudah melepas genggamannya, bersedekap sembari menatap tajam pada istrinya. Panggilan apa tadi? Sayang?! Cih, menggelikan sekali. Sebenarnya, itu terlalu manis. Jadi tidak! "Mau ku sentil mulutmu, humm?" tanya Kaivan dengan suara pelan dan rendah. Namun tatapannya begitu tajam dan membunuh -- membuat Rachel gugup dan merasa akan mati saat ini juga. Hah, atmosfer dalam kamar ini terasa sangat dingin. Ju--juga angker. "Jadi aku harus memanggilmu apa? Abang salah, sayang salah, bapak salah. Trus yang benar apa?" keluh Rachel dengan air muka masam dan setengah dongkol. "Panggil yang normal. Misal Mas. Itu simple dan mudah." "Abang juga simpel dan mudah." "Jangan melawan!" "I--iya, Pa-bang eh Mas." *** Ini adalah sarapan terburuk dan paling mengerikan bagi Rachel. Dia satu meja dengan keluarga suaminya yang sangat angker ini. 'Beh, masih pagi udah bad mood aja nih si neneknya Tapasya.' batin Rachel sembari diam-diam mengamati nenek dari suaminya tersebut. Parah berdecis kemudian menepuk meja cukup kuat, istri dari cucu kesayangannya tengah memperhatikannya. Cik, gadis kucel dan dekil ini sepertinya merencanakan sesuatu untuk nya. Atau diam-diam dia mendumel dalam hati? Yah, bisa jadi. Brak' Semua orang mendongak dan menatap ke arah Parah, termasuk Rachel dan juga Kaivan. "Ada apa, Mih?" tanya Diana, putri dari Parah dan merupakan Tantenya Kaivan. Tentunya. "Iya, ada apa sih, Eyang?" Evelyn juga ikut bertanya. Dia sepupu Kaivan. Parah menatap tajam dan penuh kebencian pada Rachel. "Gadis kucel itu diam-diam memperhatikanku. Membuat selera makanku berkurang. Wajahnya memuakkan!" "Mudah, jangan makan," jawab Kaivan dengan santai sembari meletakkan lembar roti yang baru di piring istrinya. Roti yang sebelumnya sudah ia oles dengan selai strawberry.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN