Hari telah larut malam, gadis itu duduk di kursi teras depan dengan gelisah. Seharian penuh, ia menunggu kabar dari suami. Hanya menjenguk teman, tetapi dari pagi pria itu tak juga kembali. Membuat gadis itu sangat gelisah dibuatnya. Ia sangat ketakutan, takut sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya. “Ke mana Kamu, Mas?” Ia menyeka air mata yang membasahi pipinya. Sudah ke berapa kalinya, ia menelepon pria itu, tetapi nomor suaminya masih belum aktif juga. Bertambah gelisah dan galau kala ia melihat awan hitam bergulung tampak dari arah laut. Sepertinya hari akan hujan. “Astagfirullah!” Ia menutup wajahnya ketika air hujan mulai menyapa, apalagi saat angin menerbangkan tetesan air itu hingga membasahi wajahnya. Sebagian gamis yang dipakai gadis itu bahkan basah karenanya. Ia dengan cep

