Di bawah rinai hujan, ia terus berjalan menembus dinginnya malam. Tubuh kecilnya yang kebasahan menggigil kedinginan. Bukan hanya tubuh, barang bawaannya pun sama, basah tak bersisa. Tentu saja, dalam badai seperti itu ia memaksakan diri untuk pergi. Atau lebih tepatnya dipaksa pergi. Dentuman demi dentuman sang guntur terus saja terdengar, bahkan kilatan cahayanya membuat keadaan sekitar semakin menyeramkan. Namun, gadis itu mencoba untuk tetap berani. Karena tak ada lagi yang bisa ia lakukan, ia harus pergi dan menentukan tempat tujuan. Tetap tinggal hanya akan membuat Sofia semakin marah padanya. “Ke mana aku harus pergi?” lirih gadis itu berbicara sendirian. Air mata yang sedari tadi tak mau berhenti masih mengalir bercampur dengan air hujan. Ia memutuskan untuk berhenti di sebuah h

