Vera menangis di ruang bawah tanah sambil mengangkat kedua tangannya, terdengar amat menyakitkan. "Deva, kamu tega melakukannya padaku?" tanyanya sekali lagi, memejamkan mata saat Devano mengarahkan pistol kepadanya. "Kamu yang menyakitiku duluan, kemudian bocah sial itu menghancurkan karierku. Apa ini begitu adil?" "Tutup mulutmu, jangan pernah mengatakan istri saya bocah sial!" Penuh bentakan tajam, rahang Devano mengetat murka. Di sebelahnya ada Morcy yang siap melahap daging Vera jika sudah tertembak. "Kamu emang cari masalah pada saya. Sudah berapa kali saya tekankan, jangan pernah ikut campur urusan saya. Lalu apa yang kamu lakukan waktu itu?" Memfokuskan titik pembidik, dia akan menembak tepat mengenai kening Vera, menembus hingga ke belakang kepalanya. "A-aku minta maaf. Tolong j

