Alesha mengusap keringat yang membanjiri pelipis dan lehernya, sejak tadi dia terus saja bolak-balik kamar mandi untuk memuntahkan sesuatu yang sedang berputar hebat. Sudah dia muntahkan, tapi hanya cairan bening yang lagi-lagi keluar sampai tenggorokannya terasa pedih. Begitu mual rasanya, sampai tidak dapat menahannya walau sebentar saja. Alesha bingung harus mengadu kepada siapa, sementara tubuhnya sudah begitu lemas. Harusnya dia meminum obat untuk meredakannya, tapi keadaan sedang benar-benar tidak mendukung. Alesha ingin sepulangnya dari kampus mampir ke apotek atau rumah sakit, tapi pengawal Devano selalu tidak melepas dirinya ke mana pun kaki Alesha melangkah. Dia seperti tawana, gerakannya sangat terbatas. Dia keluar dari kamar mandi, kepalanya sedikit terasa pusing akibat kurang

