Alesha duduk sendirian di balkon kamar sambil menikmati salad buah bikinan Bibi Pen, wajahnya ditekuk, telah hilang binar indah yang sering dia perlihatkan di hadapan semua orang. Pikirannya berkelana ke sana ke mari mencari cara terbaik untuk melarikan diri. Dia lelah, tubuhnya pun sudah tidak mampu bertahan. Dari pada Alesha mati tidak keruan di kediaman Axelleyc, lebih baik menghilang dan pergi sejauh mungkin. Dia tidak bisa bersama Devano lagi, pria itu sana sekali tidak mencintainya, dia menjerat Alesha hanya untuk kesenangan yang entah berujung apa. Sejauh ini saja sudah penuh dengan kesakitan, bagaimana jika lebih lama? Yang ada Alesha hanya mendapat luka dan tangis. Alesha sudah bosan merasakan kesakitan sejak beberapa tahun yang lalu, kini waktunya hidup tenang dan bahagia. Dia a

