Alesha terbangun dari tidurnya dengan napas tidak beraturan, keringat membanjiri bagian pelipis dan leher jenjangnya. Wajah itu memerah padam di bawah ruang temaram, Alesha meraih gelas yang ada di atas nakas, meminum airnya hingga tandas. Dia bermimpi buruk, sangat mengerikan. Setelah napas mulai beraturan, Alesha menyibak selimut. Dia menggulung rambutnya ke atas--agak sedikit berantakan, lalu memperbaiki gaun tidurnya yang hanya berlengan sebesar lidi. Dengan langkahan lebar dan terburu-buru, Alesha melangkah menuju kamar Devano. Yap, kamar pribadi pria itu. "Paman, buka pintunya!" ucap Alesha mengetuk dengan tidak sabaran. "Paman, aku tahu kamu belum tidur di dalam sana, buka pintunya. A-aku mau bicara!" Bukan mengetuk lagi, tapi sudah layaknya menggedor kasar. Tidak tahu apa yang Al

