CHAPTER 1. TIDAK MUNGKIN, PAMAN!
“Tidak mungkin, Paman! Oscar tidak mungkin meninggalkan aku!” teriak seorang wanita yang sedang berdiri mematung. Di depannya sudah ada sepasang gaun pengantin. Air mata berjatuhan membasahi pipi.
Pria yang mengenakan setelah jas lengkap itu menghampiri keponakannya dan memeluk wanita itu. “Itulah yang terjadi sebenarnya, Lucia.”
“Tidak! Aku akan pergi ke tempat itu dan mencari Oscar sendiri. Aku tidak percaya sebelum aku melihat jasadnya!” Lucia melepaskan pelukan pamannya dan berlari meninggalkan pria itu.
Namanya adalah Lucia Elena, seorang anak dari pengusaha ternama di negaranya. Namun, ayahnya sudah lama meninggal karena sebuah kecelakaan. Sedangkan ibunya, harus dirawat di rumah sakit jiwa karena mengalami depresi berat setelah kematian suaminya.
***
Mobil yang Lucia kendarai melaju menerobos derasnya hujan yang turun siang itu. Ia tidak peduli dengan keselamatannya. Wanita itu hanya ingin sampai ke lokasi dimana calon suaminya mengalami kecelakaan.
Sesampainya di lokasi, masih ada beberapa petugas polisi yang berada di sana untuk mengamankan Tempat Kejadian Perkara.
“Tolong jangan melewati batas garis polisi, Nona.” Salah seorang polisi memberi peringatan pada Lucia.
“Saya ingin melihat calon suami saya! Dia pasti masih hidup!”
“Tolong Anda tenang dulu, Nona. Kami tidak bisa melanjutkan pencarian karena cuaca sedang buruk.” Polisi itu masih terus menenangkan Lucia. “Sebaiknya Anda kembali ke mobil.”
Lucia hanya bisa menangis mendengar penjelasan polisi. Ia masih ingin berada di sana dan mencari kekasihnya, tetapi ia juga tidak bisa memaksakan keinginannya karena kondisi cuaca memang sedang buruk. Wanita itu memilih untuk menunggu di dalam mobil.
“Kenapa kau tega meninggalkan aku, Oscar? Bagaimana bisa kau mengingkari janjimu.” Lucia menangis. Ia masih tidak percaya jika mobil yang Oscar tumpangi menabrak pembatas jalan di tepi tebing, membuat mobil itu jatuh dan tenggelam di laut.
Beberapa kali Lucia meyakinkan diri jika kekasihnya masih hidup. Ia belum percaya jika mayat Oscar belum ditemukan.
Lucia mengabaikan ponselnya yang terus berdering. Ia sedang tidak ingin menerima panggilan dari siapa pun.
Empat jam wanita itu berada di lokasi kecelakaan. Hujan sudah mulai reda, hanya meninggalkan rintik gerimis. Lucia mencoba untuk turun dari mobilnya, tidak memakai payung dan membiarkan tubuhnya disirami gerimis. Lucia menghampiri polisi yang masih berada di sana.
“Bagaimana? Apakah pencarian akan kembali dilakukan?” Lucia bertanya sembari menatap polisi di depannya.
“Kami tidak bisa melanjutkan pencarian, Nona. Hujan diperkirakan akan turun kembali dan ombak di bawah sana cukup kuat.” Polisi menjelaskan pada Lucia. Wanita itu merasa kecewa.
“Tapi kekasihku masih ada di bawah sana. Bagaimana mungkin kalian menghentikan pencarian begitu saja!” Lucia mengamuk dan menatap tajam anggota polisi itu. “Kalau kalian tidak mau mencarinya, biar aku saja yang turun ke sana!”
“Nona!” Polisi berusaha mencegah Lucia, tetapi ia menepis kasar tangan polisi yang mencekal lengannya.
“Lucia!” Teriakan dari seseorang membuat Lucia menghentikan langkahnya.
Lucia dan polisi yang ada di sana menoleh ke arah sumber suara. Redrigo setengah berlari menghampiri Lucia. Pria itu meminta maaf kepada petugas polisi di sana karena keponakannya menyulitkan mereka yang sedang bertugas.
Dengan sedikit memaksa, Redrigo mengajak Lucia pergi dari sana. Membawanya masuk ke dalam mobil. Tidak peduli dengan teriakan wanita itu yang terus memberontak dan tetap ingin mencari kekasihnya. Redrigo melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
“Jika kau ingin Oscar cepat ditemukan, jangan membuat rumit keadaan dan mempersulit pihak kepolisian, Lucia!” kesal Redrigo dengan rahang mengeras.
“Mereka akan menghentikan pencarian, Paman. Bagaimana aku bisa tenang, sementara calon suamiku belum ditemukan!” teriak Lucia.
“Mereka menghentikan pencarian karena cuaca yang buruk. Mereka juga harus memperhatikan keselamatan anggotanya, Lucia. Kau diam saja dan tunggu kabar dari pihak polisi!” tegas Redrigo.
Napas Lucia memburu menahan amarah di d**a. Ia tidak akan tinggal diam dan akan mencari kekasihnya sampai ia bisa menemukan pria itu. Setidaknya jika Oscar benar-benar meninggal, ia harus bisa melihat mayat pria tersebut.
***
Malam yang dingin menyelimuti kota. Meskipun sudah larut, Lucia tidak juga mau memejamkan mata. Ia sedang menatap sepasang gaun pengantin yang terpasang indah pada patung di sudut kamarnya.
Tiga hari lagi ia akan menikah dengan Oscar dan mengikat janji suci di depan altar. Tetapi, sang kekasih dikabarkan mengalami kecelakaan tunggal dan belum ditemukan. Tentu itu menjadi pukulan berat untuk Lucia.
“Kau sangat jahat, Oscar. Kau kejam.” Lucia terisak sembari memeluk lutut.
Hujan kembali turun malam itu. Lucia bahkan belum membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian sejak pulang dari lokasi kecelakaan.
Oscar adalah harapan terakhir Lucia. Tidak ada lagi yang bisa wanita itu percaya setelah sang ibu masuk ke rumah sakit jiwa. Lucia rapuh. Tidak ada tempat untuknya berbagi. Hanya Oscar. Pria itu telah menjadi pelindung dan tempat Lucia menangis, tetapi sekarang Oscar bahkan pergi tanpa kata pamit.
Lucia tersenyum miris saat kembali mengingat kata-kata pamannya jika dia akan membantu Lucia. Pria itu terlihat begitu peduli padanya. Mungkin dulu Lucia akan percaya, tetapi tidak untuk saat ini. Bagi Lucia, Redrigo tidak lebih dari seorang monster.
Tiba-tiba Lucia teringat akan sesuatu. Dia kemudian beranjak dari duduknya dan menyeka air mata yang meninggalkan bekas di pipi.
“Paman … Paman!” Lucia berteriak memanggil Redrigo.
“Tuan Redrigo belum kembali, Nona.” Kepala pelayan menghampiri Lucia.
“Ah, Sial. Monster itu pasti dalang dibalik kecelakaan Oscar!” Lucia kembali berteriak meluapkan amarahnya.
“Nona … tenangkan diri Anda.” Ana mencoba untuk menenangkan Lucia. Wanita berusia 50 tahun itu mengajak Lucia untuk kembali ke kamarnya.
Lucia memberontak dan tetap ingin bertemu dengan pamannya. Mencari pria itu di ruang kerjanya, tetapi ia tidak menemukan siapa pun. Sepertinya benar, Redrigo memang belum pulang. Tetapi kemana pria itu pergi? Kenapa selarut ini dia belum juga pulang?
“Anda harus tetap sehat dan waras jika Anda ingin bertahan di sini, Nona.” Sebuah kalimat yang dibisikkan oleh Ana cukup menarik perhatian Lucia.
Ana tersenyum dan mengangguk saat Lucia menatapnya. Ia mengajak Lucia untuk kembali ke kamarnya. Wanita itu tidak menolak ataupun memberontak. Ana membantu Lucia berbaring di atas tepat tidur dan menyelimuti tubuh wanita itu.
“Selamat istirhat, Nona. Anda harus baik-baik saja demi Nyonya Camilla,” bisik wanita itu.
Sebenarnya Ana adalah kepala pelayan yang sudah puluhan tahun mengabdi pada kedua orang tua Lucia. Dialah satu-satunya orang yang bisa Lucia percaya setelah ia mengetahui sebuah rahasia besar. Namun, semua berubah saat Ana setuju dengan keputusan Redrigo untuk memasukan ibunya ke rumah sakit jiwa. Ana seolah-olah berpihak pada pria itu.
Sejak saat itu, tidak ada lagi yang Lucia percaya. Dulu, Redrigo dengan penuh kasih sayang merawat Lucia. Ia seperti melihat kembali sosok ayahnya pada diri Redrigo. Namun, kebencian itu mulai tumbuh saat Lucia dewasa dan ia mengetahui satu rahasia besar yang Redrigo sembunyikan dengan rapi.
"Akan kupastikan kau membayar mahal semuanya," gumam Lucia.