CHAPTER 2. MENIKAHLAH DENGANKU

1105 Kata
Lusia bergelung di bawah selimut. Memeluk tubuhnya sendiri. Hidupnya begitu rumit. Semesta seolah-olah tidak berpihak padanya. Disaat ia memiliki sebuah harapan, tetapi semua kembali sirna. Air mata kembali menetes. Meninggalkan jejak pada bantal yang menyangga kepala. Lucia rindu dengan hidupnya yang dulu. Saat papanya masih hidup dan ibunya masih sehat. Sekarang, Lucia benar-benar merasa sendiri. Ia begitu sulit untuk memejamkan mata. Rasa lelah di tubuh tidak membuat rasa kantuk itu datang. Air mata begitu sulit untuk dibendung. Hingga wanita itu terlelap karena lelah terus menangis. *** Langit masih berselimut awan mendung dan rintik gerimis masih belum reda. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Belum ada kabar dari pamannya ataupun dari pihak kepolisian tentang pencarian Oscar. Apakah mereka akan melanjutkan pencarian atau tidak. Lucia menatap sebuah gelang yang melingkar di pergelangan tangannya. “Oscar, di mana kamu?” ucapnya dengan lirih. Sebuah ketukan di pintu kamar membuat wanita itu beranjak dari duduknya. Dengan malas, ia berdiri untuk membuka pintu. “Paman? Apa ada kabar tentang Oscar?” tanya Lucia pada pria yang berdiri di ambang pintu kamar. “Polisi sudah memutuskan untuk menghentikan pencarian. Pagi tadi, mereka sudah berhasil mengangkat mobil yang Oscar kendarai, tetapi mayat Oscar belum ditemukan.” Redrigo menjelaskan. Wajahnya terlihat begitu kacau. “Tidak, Paman. Bagaimana mungkin mereka menghentikan pencarian sementara Oscar belum ditemukan!” Lucia berteriak dan menggeleng tidak percaya. “Polisi sudah memastikan jika Oscar tidak mungkin selamat dalam kecelakaan itu, Lucia. Beberapa tim juga sudah ditugaskan untuk mencari di tempat lain, tetapi mereka masih belum menemukan mayat Oscar.” Redrigo berucap tegas. Sorot mata pria itu menunjukkan sebuah keprihatinan. Lidah Lucia terasa kelu untuk memberi bantahan. Ia hanya bisa menangis dan terus menggeleng tidak percaya. “Aku akan pergi ke kantor polisi. Kau sebaiknya istirahat saja. Kondisimu sedang lemah dan sebaiknya jangan ke luar rumah,” titah Redrigo. Dia kemudian berbalik meninggalkan Lucia yang masih berdiri di tempatnya. “Awasi dia. Jangan sampai dia melakukan hal konyol yang bisa merugikan banyak orang!” titah Redrigo pada Ana dan mendapat anggukan dari kepala pelayan tersebut. *** Lucia tidak bisa berdiam diri dan terus bersedih. Meskipun Oscar belum ditemukan, tetapi ia harus tetap menjalankan rencana pernikahannya yang hanya tinggal dua hari lagi. Lucia harus menikah untuk bisa mengambil alih perusahaan milik papanya yang saat ini dipimpin oleh Redrigo. Lucia harus menemukan seorang pria yang bersedia untuk menikah dengannya. Tiba-tiba sebuah ide muncul. Ia akan menikahi pria manapun yang bersedia bekerjasama dengannya. Lucia tidak bisa membiarkan perusahaan milik sang papa terus berada dibawah pimpinan pamannya. “Kenapa aku harus menikah lebih dulu untuk bisa memimpin perusahaan? Bukankah aku sudah cukup dewasa tanpa harus menikah lebih dulu?” Lucia bergumam sembari menatap foto sang papa dalam figura. Sebagai syarat untuk memimpin perusahaan, Lucia harus sudah menikah. Barulah perusahaan yang dipimpin oleh Redrigo akan diserahkan padanya. Lucia tidak mengerti kenapa ayahnya memberikan syarat seperti itu. Dengan hati yang masih terluka, Lucia keluar dari rumahnya. Tidak ada tujuan pasti. Yang terpenting saat ini, ia bisa ke luar dan mencari seorang pria yang mau menikah dengannya. Menikah dengan pria lain bukan berarti Lucia melupakan kekasihnya begitu saja. Ia hanya butuh status pernikahan yang sah. Bukan pria yang akan dinikahinya. Setelah menikah dan berhasil memimpin perusahaan papanya, Lucia akan tetap mencari Oscar. Memastikan jika kekasihnya itu benar-benar masih hidup. Lucia akan membalas semua penderitaan dan sakit hatinya selama ini. Ia yakin saat berhasil menemukan Oscar, pria itu akan mendukungnya. Mereka akan membalas dendam bersama. Menjebloskan orang yang selama ini ia curigai ke dalam penjara. Dua jam sudah mobil yang Lucia kendarai berjalan tanpa arah, tetapi ia tidak juga menemukan apa yang dicari. Hingga Lucia menyerah dan memilih untuk memarkirkan mobilnya di sebuah restoran. Ia baru ingat jika pagi tadi ia belum sarapan. Setelah memesan makanan, Lucia mencoba menelpon pamannya untuk menanyakan kabar terbaru tentang Oscar. Namun, baru ia akan menekan tombol panggil pada layar ponselnya, sebuah keributan mengusik dan menarik perhatian. “Aku tidak mau tahu! Aku ingin bertemu dengan manajer restoran ini. Aku harus bicara dengannya!” Seorang wanita terlihat begitu marah. “Saya mohon … maafkan saya, Nona. Saya tidak sengaja menumpahkan minuman itu.” Seorang pria yang mengenakan seragam restoran terlihat sedang memohon pada wanita di depannya. “Kau tahu berapa harga baju yang aku pakai?” maki wanita itu lagi. “Gajimu saja tidak akan cukup untuk membeli gaun yang aku pakai!” “Saya mohon, Nona. Saya benar-benar tidak sengaja. Tolong maafkan saya. Saya tidak ingin dipecat, Nona.” Pria tersebut terus memohon, tetapi diabaikan oleh wanita itu. Keributan itu menarik perhatian Lucia. Ia memperhatikan bagaimana pelayan restoran tersebut memohon dengan sangat pada salah satu pelanggan di sana. Namun, wanita itu sepertinya tidak mau memaafkan kesalahan karyawan tersebut. Tiba-tiba Lucia tersenyum dan sebuah ide muncul. Ia beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah keributan. “Permisi. Saya akan mengganti semua kerugian yang teman saya lakukan,” ucap Lucia, membuat dua orang itu menoleh padanya. Lucia berpura-pura mengatakan jika pria itu adalah temannya. Itu adalah salah satu cara yang masuk akal untuk menolong pria tersebut. Dan lagi, Lucia sangat tidak suka dengan keangkuhan. Ia bisa melihat jika pelanggan wanita itu begitu angkuh dan terlalu merendahkan orang lain. Lucia benci itu. Wanita bergaun merah itu tersenyum meremehkan. “Apa kau yakin bisa mengganti kerugian yang ditimbulkan oleh pria ini?” “Tentu. Aku tahu berapa harga baju yang kau pakai,” balas Lucia tersenyum. “Pergilah ke butik di mana kau membeli pakaian itu dan berikan kartu ini pada pegawai butik di sana. Mereka akan memberi pakaian yang kau butuhkan.” Lucia memberikan sebuah kartu pelanggan VIP pada wanita itu. Membuat pelayan restoran dan wanita bergaun merah tersebut tercengang tidak percaya. Bagaimana mungkin Lucia bisa memiliki kartu itu. Orang yang memiliki kartu tersebut, berarti dia bukanlah orang sembarangan. Tentu saja Lucia tahu. Ia bahkan tahu berapa harga gaun yang dipakai wanita itu. Harganya masih di bawah harga semua pakaian yang Lucia miliki. “Ikut denganku.” Lucia menarik lengan pelayan restoran itu, meninggalkan wanita bergaun merah yang masih penasaran dengan identitas Lucia. Lucia membawa pelayan pria itu duduk di sebuah kursi ruangan khusus. Ia menatap pria itu dengan seksama. “Terima kasih sudah membantu saya, Nona,” ucap pria itu. “Ya. Tetapi apa yang aku lakukan tadi tidaklah gratis,” balas Lucia sembari tersenyum smirk. Pria itu menghela napas berat. “Siapa namamu?” tanya Lucia. “Devin,” jawab pria itu. Ia kemudian menatap Lucia. “Apa yang harus saya lakukan untuk membalas kebaikan Anda, Nona?” Lucia diam sejenak. Ia sedikit ragu, tetapi tetap harus melakukan ini. Ia tidak mempunyai banyak waktu. “Menikahlah denganku, Devin.” “Apa? Menikah?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN