‘Ah, sial! Kenapa juga Daddy harus tahu tentang balapan itu.’
Seorang pria berparas tampan sedang mengumpat dalam hati. Di sampingnya duduk seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah.
“Ayo, Devin. Kita sudah sampai,” ucap pria paruh baya tersebut. Ia turun lebih dulu dan diikuti oleh putranya.
Pria muda itu mengamati bangunan di depannya. Itu adalah restoran milik keluarganya. Masih sepi karena restoran itu baru saja buka.
“Apa Daddy yakin, menyuruhku untuk bekerja di sini? Apa Daddy tidak malu, jika sampai ada rekan kerja Daddy yang tahu?” tanya pria itu pada papanya.
“Kenapa harus malu? Daddy justru akan bangga padamu. Begitu juga rekan kerja daddy. Mereka pasti bangga karena kau mau bekerja dan memulai dari bawah, meskipun kau adalah pewaris perusahaan keluarga kita,” balas pria paruh baya itu yang sedang tersenyum lebar menatap putranya. Sementara, pria muda itu hanya bisa mendengus kesal.
Namanya adalah Devin Alister. Putra dari seorang pengusaha ternama bernama Arthur Barnard. Devin sedang menjalani hukuman dari papanya karena terlibat balapan liar. Selalu saja menghamburkan uang milik sang papa untuk kepentingan pribadi dan menyenangkan kekasihnya.
Devin harus bekerja di salah satu restoran milik papanya dan menjadi karyawan biasa di sana. Tentu awalnya pria itu menolak, tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain setelah Arthur mencabut semua fasilitas mewah yang diberikan padanya. Devin harus bekerja dan mendapatkan uang yang banyak agar tetap bisa memberikan apa yang kekasihnya inginkan. Baru-baru ini Giovana, kekasihnya, meminta sebuah tas branded keluaran salah satu brand ternama.
“Ayo kita masuk. Jangan memberikan kesan buruk di hari pertamamu bekerja.” Arthur mengingatkan putranya. Pria itu berjalan lebih dulu dan diikuti oleh Devin.
Mereka langsung menemui manager restoran. Arthur harus menyampaikan beberapa hal pada pria bernama Theo.
“Dia bekerja di sini sebagai karyawanmu, Theo. Jadi, perlakukan dia sama seperti karyawan lainnya. Tidak ada yang spesial di sini. Jika dia melakukan kesalahan, maka berikan dia hukuman yang sama seperti karyawan yang lainnya.” Arthur berucap dengan tegas. Ia beralih menatap putranya. “Bekerjalah dengan baik, Devin. Ingat, di sini kau sebagai karyawan, bukan sebagai putra dari daddy. Jangan mengharapkan perlakukan khusus apa pun!”
Theo dan Devin mengangguk. Devin tahu jika ia tidak akan bisa menentang keputusan papanya. Ia tahu sekeras dan sedisiplin apa sang papa. Menurut adalah jalan yang terbaik. Lagi pula, ia tidak akan selamanya bekerja sebagai pelayan.
Setelah kepergian Arthur, Theo memberikan seragam restoran pada Devin dan menjelaskan apa saja tugas pria itu dan peraturan di sana. Setelah Devin sudah mengerti, barulah Theo meminta seorang karyawan lama untuk mengajari Devin.
Devin melakukan tugasnya dengan baik, tetapi kejadian yang tidak terduga terjadi saat jam makan siang. Pria itu melakukan kesalahan dengan menumpahkan jus buah pesanan pelanggan.
Pelanggan wanita itu memaki Devin dan meminta ganti rugi karena minuman itu mengenai pakaian yang dia pakai.
“Aku tidak mau tahu! Kau harus ganti rugi atau aku akan meminta manager restoran ini untuk memecatmu! Aku adalah pelanggan di sini. Kau tidak tahu, bukan? Gaunku ini sangat mahal,” ucap wanita itu dengan begitu arogan.
“Maafkan saya, Nona. Saya tidak sengaja melakukan itu.” Devin masih memohon. Ia berusaha keras untuk menahan kekesalannya.
Ingin rasanya ia melemparkan uang ke wajah wanita arogan itu, tetapi ia sadar posisinya saat ini hanya sebagai pelayan di sana, dan ia tetap harus merendahkan harga dirinya.
Kedatangan seorang wanita cantik yang mengaku sebagai temannya, mengalihkan perhatian kedua orang itu. Devin menatap wanita yang berdiri di sampingnya dan mencoba untuk mengingat apakah wanita itu benar-benar temannya. Sial. Ia tidak mengingat sedikit pun tentang wanita itu.
Devin mengabaikan pikirannya, yang terpenting saat ini adalah ia bisa terbebas dari pelanggan wanita yang arogan tersebut. Ia bersyukur wanita itu datang di waktu yang tepat. Devin berharap wanita itu benar-benar tulus menolongnya. Namun, pikiran Devin salah. Tidak ada yang gratis di zaman sekarang ini.
Devin tidak mempermasalahkan jika wanita yang menolongnya meminta ganti dengan sejumlah uang. Ia akan meminta tawaran untuk membayar dengan cara mencicil. Namun, ada hal gila yang berhasil membuat Devin terkejut. Wanita itu meminta agar Devin menikahinya dua hari lagi.
Devin tidak habis pikir dengan permintaan wanita itu. Namun, wanita yang sekarang sudah duduk di depannya itu terlihat sangat memohon.
“Aku mohon. Jika kau mau menikah denganku, aku akan memberimu bayaran mahal.” Wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai Lucia itu memberikan tawaran. “Ini hanya akan berlangsung selama satu tahun. Maksudku … ini hanya pernikahan kontrak.”
“Kau sudah gila! Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Bagaimana mungkin kau mempermainkan sebuah pernikahan?” Devin menggeleng tidak percaya.
“Aku tahu, tetapi aku harus melakukan itu.”
“Beri aku alasan yang masuk akal,” pinta Devin. Ia menatap serius wanita di depannya.
Lucia menghela napas berat. Ia pikir akan mudah meminta bantuan pria itu, ternyata tidak. Lucia terlihat berpikir. Apakah ia harus menceritakan yang sebenarnya pada Devin atau mencari pria lain yang mau menikah dengannya. Namun, ia sudah tidak mempunyai banyak waktu. Masih banyak yang harus ia lakukan, selain mencari pria yang mau menikah dengannya dalam waktu dua hari lagi.
“Baiklah.” Lucia menyerah dan memilih untuk menceritakan pada Devin apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun menceritakan hal itu sama saja akan membuat luka di hatinya kembali terasa sakit.
“Sebenarnya aku akan menikah dengan kekasihku dua hari lagi, tetapi dia mengalami kecelakaan. Mobil yang dia kendarai jatuh ke dasar tebing dan tenggelam di laut. Sampai saat ini mayatnya belum ditemukan. Mungkin ini terdengar gila dan tidak masuk akal. Bagaimana bisa aku tetap menikah, sementara kekasihku belum ditemukan.” Lucia diam sejenak dan menatap Devin.
“Aku harus tetap menikah agar aku bisa mengambil alih perusahaan milik papaku yang saat ini dipimpin oleh pamanku. Aku harus mengungkap kejahatan seseorang yang aku curigai selama ini. Aku tidak akan bisa melawan orang itu jika aku tidak memiliki kekuasaan. Dia sangat licik dan berbahaya. Aku mohon, bekerja samalah denganku dan aku akan membayarmu sesuai dengan yang kau inginkan.”
Devin diam sejenak. Sepertinya masalah wanita itu cukup serius, tetapi ia juga tidak bisa percaya begitu saja dengan Lucia. Mereka baru bertemu.
“Bagaimana aku bisa percaya dengan semua yang kau katakan?” Devin menelisik wanita di depannya.
“Kau bisa membatalkan kerja sama kita jika apa yang aku katakan tidak benar dan kau merasa dirugikan. Aku tidak akan menuntut dan meminta kembali uang yang sudah aku berikan padamu.”
Devin kembali berpikir. Sepertinya kerjasama ini cukup menguntungkan untuknya. Ia tidak perlu melakukan apa-apa. Cukup menikah dengan wanita itu.
Dengan bayaran itu, ia juga bisa memberikan apa yang diinginkan oleh Giovana. Ia tetap bisa membelikan barang-barang branded untuk kekasihnya.
Devin tersenyum miring. “Baiklah. Aku setuju.”