CHAPTER 4. TIDAK MENDAPAT RESTU

1115 Kata
Setelah sepakat dengan kerja sama itu. Devin meminta izin pada manager restoran untuk menyelesaikan kekacauan yang dibuat. Ia tidak langsung mengundurkan diri dari restoran itu. Devin butuh pekerjaan dan identitasnya sebagai pelayan restoran untuk mengelabui seseorang. "Apa kau sedang tegang?" tanya Lucia. Kali ini Devin sedang mengendarai mobil wanita itu. Mereka sedang dalam perjalanan menuju kantor Redrigo. "Menurutmu? Meskipun pernikahan ini adalah pernikahan kontrak, tetapi bertemu dengan pamanmu cukup untuk menguji keberanianku. Apa kau yakin, pamanmu akan setuju?" tanya Devin. Ia menatap Lucia sebentar, sebelum kembali fokus pada jalan di depannya. "Dia tidak akan bisa menentang. Jika itu sampai terjadi, kita tetap akan menikah!" Lucia berucap tegas. "Kau benar-benar gila. Keberanianmu patut diacungi jempol." Devin tertawa pelan. "Terkadang kita harus gila untuk tetap menjadi waras," jawab Lucia dengan santai. Devin hanya menggeleng saja mendengar jawaban wanita yang duduk di sampingnya. Hening. Tidak ada lagi obrolan dari kedua orang itu. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Lucia sibuk dengan segudang jawaban yang akan ia berikan pada pamannya. Sedangkan Devin berdoa, semoga kekasihnya tidak tahu tentang pernikahan kontrak itu. Mobil yang Devin kendarai sudah tiba di sebuah gedung megah berlantai 70. Tempat dimana Redrigo memimpin perusahaan itu. Beberapa karyawan yang bertemu dengan Lucia menyapa dan dibalas dengan senyum ramah oleh wanita itu. Keduanya memasuki lift yang akan mengantar mereka menuju lantai paling atas gedung. "Aku ingin bertemu dengan pamanku. Apa dia ada di dalam?" tanya Lucia pada sekretaris Redrigo yang sedang duduk di balik meja kerjanya, tepat di dekat pintu masuk ruangan pria itu. "Tuan Redrigo sedang ada rapat dengan klien, Nona. Sebenar lagi selesai. Anda bisa menunggu di ruangan beliau," jawab sekretaris itu dan mendapat anggukan dari Lucia. Lucia mengajak Devin untuk masuk dan menunggu di ruang kerja Redrigo. Satu jam menunggu, Redrigo masuk bersama dengan asisten pribadinya. “Maaf, sudah membuat keponakanku menunggu lama,” ucap Redrigo menghampiri Lucia yang sedang duduk di sofa. Ia beralih pada pria yang duduk di samping Lucia. “Siapa pria ini, Lucia?” “Dia adalah Devin, calon suamiku.” Lucia berucap tegas. Tidak ada rasa takut sedikit pun di hatinya. Redrigo tertawa, menatap Lucia dan Devin bergantian. “Ini bukan waktunya untuk bercanda, Lucia.” “Aku tidak sedang bercanda, Paman. Kami akan menikah dua hari lagi,” jawab Lucia dengan kalimat tegas dan wajah serius. Redrigo menghentikan tawanya dan menatap Lucia begitu serius. “Kau sudah gila, Lucia!” “Pernikahan itu akan tetap berlangsung. Hanya saja dengan pengantin pria yang berbeda.” Lucia menjelaskan kalimatnya. “Tidak, Lucia. Apa kau pikir keluarga Oscar akan menerima begitu saja keputusanmu?” “Aku akan bicara dengan mereka.” “Kau ….” Redrigo tidak melanjutkan kalimatnya. Tangan pria itu mengepal dan rahangnya mengeras. Ia kemudian beralih menatap tajam pria yang duduk di samping Lucia. “Aku tidak bisa menikahkan keponakanku dengan pria sembarangan. Aku bahkan tidak tahu siapa pria itu dan asal usul keluarganya.” “Saya hanya pria biasa dari keluarga biasa, Tuan. Rasanya memang tidak layak jika saya bersanding dengan Lucia, tetapi saya mencintai keponakan Anda.” Devin mengucapkan kalimat itu dengan begitu lancar. Redrigo tertawa mendengar pengakuan Devin.”Kau pikir keponakanku bisa hidup hanya dengan cinta saja? Apa yang bisa kau berikan untuk membahagiakannya. Kau tahu siapa wanita yang akan kau nikahi ini?” “Ya, Saya tahu. Tetapi saya juga yakin jika saya bisa membahagiakan Lucia.” Devin masih menjawab dengan percaya diri, membuat Redrigo berdecak kesal. “Yang akan menikah adalah aku, Paman. Jadi, aku tahu siapa pria yang pantas untuk mendampingiku.” “Kau masih terlalu muda untuk memahami tentang hidup ini, Lucia. Pernikahan tidak cukup hanya dengan cinta saja!” “Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan hidupku sendiri! Dan lagi, bukankah aku adalah pewaris dari perusahaan ini? Tidak ada yang perlu aku takutkan!” Lucia membalas tatapan Redrigo. Sorot matanya jelas memancarkan sebuah tantangan pada pria itu. Jawaban Lucia semakin membuat rahang Redrigo mengeras. Ia tidak percaya jika keponakannya yang dianggap pendiam, ternyata berani menantangnya. “Baiklah, jika kau tetap dengan keputusanmu. Aku tidak akan datang di acara pernikahan itu!” Redrigo bangkit dari duduknya dan meninggalkan Lucia dengan Devin. “Aku tidak butuh restu dan kehadiranmu di sana. Pernikahan itu akan tetap berlangsung tanpa kehadiranmu sekalipun!” Lucia bicara keras agar pamannya bisa mendengar. Lucia menghela napas lega saat melihat punggung Redrigo menghilang di balik pintu ruang kerjanya. Devin kemudian memberikan air minum di dalam gelas pada Lucia. “Terima kasih,” ucap Lucia menerima gelas itu lalu meneguk isinya. “Kau sangat berani untuk menentang pamanmu, Lucia.” Devin tersenyum miring. “Aku harus melakukan itu. Aku ingin dia tahu kalau aku bukan bonekanya lagi,” jawab Lucia dengan sorot mata yang penuh amarah. “Sepertinya kita harus lebih hati-hati setelah ini," ucap Devin mengingatkan. Devin merasa jika Redrigo tidak akan tinggal diam. Pertemuan pertamanya dengan pria itu, membuat Devin sedikit tahu karakter Redrigo. “Ya. Aku tahu itu.” Devin memilih bungkam tentang identitasnya yang sebenarnya. Ia sengaja tidak mau memberitahu Redrigo. Walaupun pria itu pasti akan mencari tahu, tetapi Devin sudah bekerja sama dengan salah satu teman agar bisa membantu untuk menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya. Devin juga meminta bantuan pada sang papa agar pria itu berpura-pura tidak mengenalnya. Setelah menemui Redrigo, Lucia tidak langsung mengantar Devin ke restoran tempat pria itu bekerja. Ia mengajak Devin ke rumahnya lebih dulu untuk mencoba jas pengantin milik Oscar. Devin menatap bangunan megah di depannya. Ia cukup kagum melihat bangunan tersebut, lebih mewah dari rumah milik orang tuanya. Namun, rumah itu terlihat sangat sepi. Beberapa pelayan menyambut kedatangan Lucia saat wanita itu baru saja turun dari mobil. “Nona.” Seorang pelayan menghampiri Lucia dengan wajah khawatir. “Apa Anda baik-baik saja?” tanya pelayan itu. Ia kemudian menatap Devin yang sudah berdiri di samping Lucia dan menunduk hormat pada tamu yang dibawa oleh nonanya. Lucia berdecak malas mendengar pertanyaan kepala pelayan tersebut. “Kau seolah-olah tahu jika sesuatu yang buruk akan menimpaku,” ucap Lucia. Ia kemudian meninggalkan Ana begitu saja. “Kenapa kau membawaku masuk ke dalam kamarmu?” tanya Devin. Pria itu menatap ke sekeliling kamar. “Coba ini.” Lucia mengabaikan pertanyaan Devin dan memberikan sebuah setelan jas pada pria itu. “Cepat ganti di sana.” Lucia menunjuk walkin closet di sisi lain kamar. “Aku pikir kau ingin mengajakku malam pertama sebelum pernikahan kita.” Devin tersenyum menggoda. “Cepat coba jas itu atau aku akan membunuhmu!” Lucia menatap tajam Devin dan membuat pria itu berdecak malas. Ternyata Lucia adalah wanita yang dingin. Setelah Devin masuk ke dalam walkin closet. Lucia menghela napas berat. Ia menatap gelang bertali hitam yang terdapat inisial sebuah huruf di sana. “Maafkan aku, Oscar.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN