Devin ke luar dengan menggunakan setelan jas yang lengkap. Terlihat pas di tubuhnya. Untuk beberapa saat, Lucia terpaku melihat pria itu. Senyum tipis terulas di bibirnya. Namun, dengan segera ia mengubah raut wajahnya. Lucia segera sadar jika pria di depannya itu bukanlah Oscar.
“Bagaimana?” tanya Devin pada Lucia tentang penampilannya.
“Sudah pas. Beruntung kau memiliki postur tubuh yang sama dengan Oscar. Jadi, kita tidak perlu mencari jas lagi untukmu,” jawab Lucia.
Devin mengangguk paham dan pria itu masuk ke dalam walkin closet untuk mengganti pakaiannya.
Lucia menghela napas berat. Setelah ini, ia harus pergi ke rumah kedua orang tua Oscar untuk mengatakan pada mereka, jika ia tetap akan melangsungkan pernikahan. Ia akan menjelaskan pada mereka alasan kenapa ia tetap melakukan itu. Lucia berharap, kedua orang tua Oscar akan menerima alasannya.
Tidak perlu menunggu lama, Devin sudah kembali dengan pakaian miliknya. “Apa aku sudah boleh pergi dari sini? Aku harus segera kembali ke restoran. Aku tidak mau kalau sampai dipecat dari sana."
“Baiklah. Aku akan mengantarmu.” Lucia berdiri dan berjalan di depan Devin.
Belum sempat mereka ke luar dari kamar itu, seorang wanita dan pria paruh baya sudah berdiri di ambang pintu kamar.
“Jadi, benar yang dikatakan Tuan Redrigo?” tanya wanita paruh baya itu dengan tatapan tajam.
Lucia cukup terkejut dengan kedatangan kedua orang itu. Mereka adalah Luwis dan Elena, orang tua Oscar.
“Maaf, Nona. Mereka memaksa untuk masuk ke sini.” Ana menyusul dengan napas yang terengah-engah.
Lucia menghela napas berat. Ia tidak menyalahkan kepala pelayan atas kejadian itu. Lucia kemudian menatap kedua orang tua Oscar.
“Ini tidak seperti yang kalian pikirkan, Nyonya—”
“Aku tidak menyangka kau tega mengkhianati putraku, Lucia. Mayat Oscar bahkan belum ditemukan, tetapi kau sudah membawa pria lain masuk ke kamarmu!” Luwis ikut menatap tajam pada Lucia dan Devin.
“Aku akan jelaskan pada kalian. Mari kita ke ruang tamu dan bicara di sana,” ajak Lucia pada kedua tamunya.
“Tidak perlu! Penjelasan dari Tuan Redrigo sudah cukup jelas untuk kami. Beruntung, kau belum menikah dengan Oscar. Jika tidak, kami akan sangat malu mempunyai menantu sepertimu!” Elena menyela ucapan Lucia dan memberikan penolakan secara gamblang.
“Penjelasan kami jelas berbeda. Aku harap kalian bisa mendengar penjelasan versiku.” Lucia masih memohon. Berharap orang tua kekasihnya itu mau mendengarkan penjelasan yang akan ia berikan.
“Tidak, Lucia. Kami jelas lebih percaya dengan apa yang Tuan Redrigo katakan! Kau akan menyesal dengan keputusanmu ini, Lucia!” Luwis berucap tegas. Pria itu menarik tangan istrinya dan meninggalkan Lucia yang terdiam di tempatnya.
“Argh! Monster sialan! Sampai kapan dia akan menghancurkan hidupku!” Lucia berteriak. Napasnya memburu menahan amarah yang membara.
“Lucia, kau harus tenang.” Devin menghampiri Lucia yang terus berteriak marah.
“Aku akan membunuhmu!” teriak Lucia lagi. Ia berjalan cepat ke arah dapur.
“Tuan, tolong cegah Nona Lucia. Saya takut dia akan melakukan hal buruk yang dapat merugikan dirinya sendiri.” Ana meminta bantuan pada Devin.
“Lepaskan aku! Biarkan aku membunuh tua bangka itu!” Lucia terus berteriak dan memberontak.
Devin menahan tubuh Lucia dengan memeluknya. Semakin Lucia memberontak semakin erat pula pelukan pria itu. Lucia kembali meraung dengan napas yang semakin memburu.
“Lepaskan aku, Devin. Aku ingin membunuhnya.” Kalimat itu kini terdengar lirih.
Tenaga Lucia mulai terkuras dan tubuhnya terkulai lemas. Beruntung Devin segera menahan tubuh wanita itu.
Devin tidak mengucapkan kalimat apa pun. Ia membiarkan Lucia menangis dalam pelukannya. Memaki pria yang dia sebut sebagai monster.
Itu lebih baik dibandingkan Luci pergi menemui pria itu dengan maksud buruk. Mungkin bukan monster itu yang akan mati, tetapi Lucia lah yang akan pulang dalam keadaan tidak bernyawa.
Ana yang melihat keadaan nonanya, ikut menangis. Ia tahu betul, dulu Lucia seperti apa.
Dulu, Lucia adalah gadis yang periang dan ceria. Semua berubah saat papanya mengalami kecelakaan dan ibunya mengalami depresi. Lucia mengasingkan diri dari teman-temannya. Dia lebih suka menyendiri dan menghabiskan waktu bersama ibunya yang tidak bisa diajak bicara.
Puncaknya adalah saat Redrigo membawa Camilla ke rumah sakit jiwa dengan alasan wanita itu akan mencelakai orang-orang di sekitarnya.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Redrigo membuat keputusan tersebut. Saat itu, Camilla mencelakai seorang perawat yang akan memberinya obat. Wanita itu menolak dan melemparkan gelas ke wajah perawat tersebut. Meskipun berhasil menghindar, tetapi gelas itu mengenai kepala perawat dan mengakibatkan luka cukup parah. Perawat tersebut mengundurkan diri. Sejak saat itu, kondisi Camilla semakin memburuk. Dia sering menangis, tertawa, dan bicara seorang diri. Dia akan diam jika ada orang lain di dekatnya.
Lucia yang tidak terima jika ibunya dibawa ke rumah sakit jiwa, semakin terpukul. Apalagi, pihak rumah sakit membatasi kunjungan untuk Camilla dengan alasan kondisi wanita itu yang masih belum stabil. Saat berkunjung ke rumah sakit jiwa, Lucia hanya bisa menatap ibunya dari jauh.
Lucia seperti kehilangan semangat dalam hidupnya. Ia lebih suka menghabiskan waktu di dalam kamar. Hanya ke luar untuk sarapan, makan siang, dan makan malam saja. Wanita itu menolak siapa pun yang ingin bertemu dengannya.
Setelah kejadian itu, tidak ada satu pun teman yang datang berkunjung ke rumah mewah tersebut. Rumah megah yang dipenuhi oleh fasilitas mewah itu begitu sunyi di dalamnya.
***
Devin kembali ke restoran seorang diri. Pria itu baru pergi dari rumah Lucia setelah memastikan jika wanita itu benar-benar tidur. Rasa iba menyelimuti hati Devin saat ia tahu bagaimana keadaan Lucia dan penderitaan wanita tersebut. Menurut kepala pelayan di sana, Lucia juga terkadang mengkonsumsi obat penenang saat kondisinya sudah tidak terkendali. Devin merasa ada yang janggal dengan penghuni rumah megah tersebut.
“Kau tidak bisa seenaknya saja pergi di jam kerja, Devin. Kau hanya meminta izin dua jam padaku untuk menyelesaikan kekacauan yang kau buat. Tetapi kau baru kembali saat sudah malam seperti ini.” Theo menatap tajam pada Devin.
“Maafkan saya, Pak. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” Devin tertunduk. Ia pasrah jika memang harus dimaki. Asal tidak dipecat.
Devin bersyukur hanya mendapat peringatan dan tidak sampai di pecat. Setelah kejadian itu, pikirannya hanya dipenuhi oleh Lucia. Ia ingin tahu bagaimana keadaan wanita itu. Dan yang lebih Devin takutkan adalah Redrigo akan menyakiti Lucia.
Devin melanjutkan pekerjaannya di restoran sampai tempat itu tutup. Ia tidak pulang ke rumah orang tuanya, melainkan ke sebuah rumah sederhana yang akan menjadi tempat tinggalnya selama melakukan penyamaran.
Devin tiba-tiba teringat jika hari ini ia belum menghubungi Giovana. Ia ingin memberi tahu wanita itu jika sebentar lagi ia akan mendapatkan uang dan bisa membelikan tas branded yang wanita itu inginkan.
‘Datanglah padaku setelah kau membawa uang itu.’ Sebuah pesan balasan dari Giovana membuat Devin tersenyum masam.