KELUARGA CASTILLO
Para tamu mulai mengambil tempat duduk masing-masing. Gael berdiri, mengangkat gelas wine, dan ruangan yang tadinya dipenuhi suara bising mendadak sunyi.
"Selamat malam, keluarga, teman-teman, kolega, dan ... mungkin beberapa pesaing." Gael tersenyum, menciptakan tawa kecil di antara para tamu. "Malam ini bukan malam untuk kontrak, bukan malam untuk negosiasi. Malam ini adalah malam untuk merayakan hal paling berharga dalam hidup seorang pria tua sepertiku, yaitu keluarga."
Ia menatap Alexander di sampingnya. "Tujuh tahun yang lalu, ketika cucu pertamaku lahir, aku menyadari sesuatu yang selama ini mungkin aku lupakan. Bahwa di balik semua angka, semua gedung pencakar langit, semua perusahaan yang kita bangun ... yang tersisa pada akhirnya adalah orang-orang yang kita cintai."
Eleanor, sang istri, mengusap lengannya dengan lembut dan penuh cinta. Di belakang, Grant, putra keduanya, menunduk sembari melihat lihat tamu yang datang. Gregor, putra ketiganya, tersenyum kecil, dan Grayson si bungsu meneguk wine-nya sampai habis.
"Untuk Alexander, cucu salah satu penerusku," Gael Castillo mengangkat gelasnya. "Untuk keluarga. Untuk hal-hal yang membuat kita tetap seperti manusia."
"Untuk keluarga!" seru para tamu serempak.
Saat akhirnya Alexander meniup lilin dengan bantuan Geya dan ayahnya, Bastian Archibald, ruangan dipenuhi tepuk tangan.
Gael menatap semua yang hadir dengan rasa puas karena memiliki keluarga yang bahagia dan utuh.
Beberapa teman Alexander dari sekolahnya juga hadir, namun hanya teman dekat saja yang merupakan kolega bisnis Castillo.
Mereka berkumpul di samping kanan kiri Alexander dengan ekspresi senang. Mungkin ada sekitar 6 anak saja di mana ada satu gadis kecil bermata biru yang ada tepat di samping Alexander.
Grant, sang paman, tersenyum melihat pemandangan itu. Bahkan anak kecil saja terlihat romantis, sedangkan dirinya begitu sulit menetapkan pilihan pada satu wanita, karena terlalu malas untuk berkomitmen serius.
Grant masih mengamati Alexander yang akan memberikan kuenya pada gadis kecil cantik itu. Setelah itu, tanpa di sangka Alexander mencium pipi gadis itu.
Semua yang melihatnya tampak tertawa, tapi tidak dengan seorang wanita muda yang ada persis di belakangnya.
Grant mengamatinya karena wanita itu terlihat mencolok dengan dandanannya yang begitu feminin dan cantik tentunya.
‘Mungkin ibunya,’ pikir Grant.
*
*
Akhirnya, setelah acara selesai, sebagian besar tamu pun pulang dengan ekspresi bahagia. Di sudut ruangan luas itu, Grant melihat Geya—kakaknya berbicara dengan wanita yang mungkin merupakan ibu dari gadis kecil yang dicium Alexander tadi.
Grant pun menghampiri mereka karena wanita mereka tampak serius, mungkin ada masalah.
“Monica, maaf, tadi Al mencium Sabrina. Dia hanya—“
“Dia hanya anak-anak, begitu, kan? Aku sudah berulang kali memperingatkanmu, Geya. Al terlalu dekat dengan Sabrina, aku tak mau jika ini diketahui oleh ayah Sabrina. Dia akan marah padaku, terlebih aku diam-diam mengajaknya kemari tanpa izin darinya. Aku membawa Sabrina kemari karena dia terus merengek. Dan kau tahu aku tak bisa menolak keinginannya,” sahut wanita bernama Monica itu.
“Ada apa ini?” tanya Grant dengan suara bassnya yang berat dan dalam.
Semua langsung menoleh ke arahnya termasuk Monica.
“Grant? Tidak, ini bukan urusanmu. Pergilah, kami hanya membicatakan tentang sekolah anak-anak,” kata Geya.
“Aku tak percaya. Wanita ini tampak sedang memarahimu,” kata Grant memandang tajam pada Monica.
Monica mengernyit. “Aku permisi,” kata Monica akhirnya dan berbalik pergi lalu menyusul Sabrina yang sedang bermain berlarian bersama teman-temannya yang lain dan Alexander juga.
“Ada apa sebenarnya? Siapa dia?” tanya Grant pada Geya. “Ibu gadis kecil itu?”
“Bukan, dia bibi dari Sabrina. Dan Sabrina adalah putri dari John Davies. Kau pasti kenal kan, rival bisnis keluarga kita. Dan wanita itu adalah Monica Davies, adik dari John. Dia keberatan karena Al mencium Sabrina. Huuffft!! Kenapa Al bisa se-bucin itu pada anak rival keluarga kita?” Geya kemudian berjalan menuju Alexander yang merasa sedih ketika Sabrina pulang.
“Ck ck ck … ada-ada saja,” kata Grant. “Monica Davies … kau cantik juga.” Grant tersenyum miring sambil menyesap wine nya yang tinggal sedikit saja.