Kemarahan Sang Kakak

812 Kata
Mobil merah Mercedes Benz melambat di depan gerbang otomatis sebuah rumah mewah di kawasan elit. Monica menghela napas panjang, jemarinya masih menggenggam setir dengan erat. Di kursi samping, seorang gadis kecil dengan rambut indahnya yang digerai hampir tertidur, pipinya yang tembam menempel pada boneka kelinci kesayangannya. "Aunt, kita sudah sampai?" suara lirih Sabrina membuyarkan keheningan. "Sudah, Sayang. Aunt buka pintu dulu." Monica memarkir mobil di garasi dalam—sebuah ruangan luas yang cukup untuk lima mobil, meski hanya ada dua yang terisi malam ini. Ia turun, lalu membuka pintu samping untuk menggendong Sabrina. Gadis kecil itu menggeliat malas, matanya masih setengah terpejam. "Aunt Moni, aku senang tadi bisa main dengan Al," gumam Sabrina, merapatkan wajahnya di leher Monica. "Rumahnya besar sekali ... seperti istana." Monica tersenyum tipis, tetapi senyum itu terlihat ragu. Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya terus berputar, takut jika kakaknya tahu tentang acara tadi. Alexander Archibald—teman sekelas Sabrina—mengadakan pesta ulang tahun ke tujuh di kediaman keluarga Castillo di kawasan perbukitan mewah. Monica tidak berniat menghadiri awalnya. Ia tahu betul bahwa keluarga Castillo adalah rival bisnis utama perusahaan kakaknya, John Davies yang bergerak di bidang properti dan infrastruktur. Tapi Sabrina menangis sejak pagi. Ia sudah berjanji pada Alexander. Ia sudah memilih gaun favoritnya. Ia sudah menggambar kartu ucapan sendiri. Monica, yang tidak memiliki anak dan memuja keponakannya seperti anak sendiri, akhirnya luluh. Sekarang, Monica berdiri di depan pintu utama rumahnya. Dari balik kaca, dia bisa melihat lampu ruang tamu menyala terang—lebih terang dari yang dia tinggalkan tadi. Jantungnya berdegup lebih cepat. Siapa yang ada di dalam? Pelayannya pasti sudah pulang ke rumahnya di paviliun belakang. Tidak mungkin ada orang lain. Dengan hati-hati, Monica membuka pintu. Aroma parfum yang sangat dia kenal memenuhi rongga hidungnya. Dan di sana, di ruang tamunya yang mewah, duduk seorang pria di kursi sofa putih. Satu kakinya disilangkan di atas lutut. Dan itu adalah kakak laki-laki Monica, ayah dari Sabrina. Matanya menatap tajam ke arah pintu. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan hangat. Hanya tatapan yang membuat Monica ingin mengecilkan tubuhnya meskipun usianya sudah dewasa. "John?" Monica berusaha tersenyum, tetapi suaranya sedikit gemetar. "Kau ... ada di sini? Bukannya tadi kau bilang ada rapat sampai malam?" "Rapat selesai lebih cepat." Suaranya datar, dingin, tanpa intonasi. "Ada yang ingin kau jelaskan, Nica?" Monica menggesekkan mengusap punggung Sabrinas yang masih setengah tertidur dalam gendongannya, tidak menyadari ketegangan yang tiba-tiba dirasakan bibinya. "Maksudmu?" "Jangan pura-pura bodoh." John berdiri. Tingginya mencapai seratus delapan puluh lima sentimeter, dan saat dia berdiri, seluruh ruangan terasa mengecil. "Aku tahu kau membawa Sabrina ke pesta keluarga Castillo tadi.” Monica membeku. Darahnya terasa berhenti mengalir. "Siapa ... siapa yang bilang?" "Kau pikir aku akan melepaskan putriku tanpa pengawasan meskipun pada adikku?” John berjalan mendekat. "Yang penting, kau tahu betul bagaimana perasaanku tentang Castillo." "Tapi—" "Jangan! Tak ada tapi!” John mengangkat satu tangannya, menghentikan Monica yang hendak berbicara. Matanya kini beralih ke Sabrina, yang mulai terbangun karena suara-suara keras. Gadis kecil itu mengucek matanya, kebingungan. "Daddy?" "John, biarkan saja dia di sini. Besok pagi aku antar ke sekolah. Aku janji—" "Tidak." John memotong dingin. "Kau sudah melanggar kepercayaanku sekali hari ini. Kau pikir aku akan memberimu kesempatan kedua?" "Tapi aku hanya mengantar Sabrina ke pesta temannya! Dia menangis dari pagi. Dia sudah berjanji pada Al.” "Kau membawa putriku ke sarang musuhku, Nica! Daddy pun akan marah jika tahu hal itu!” "Tapi Sabrina tidak tahu semua itu. Dia hanya anak kecil—" "Justru karena dia anak kecil, dia tidak boleh terlibat dan tak boleh mengenal mereka sejak awal." John melangkah maju, dan tanpa banyak bicara, dia meraih Sabrina dari gendongan Monica. Gadis kecil itu meronta, menangis lebih kencang. "Tidak! Tidak mau! Aku ingin bersama Aunt Moni!" "Sabrina, cukup." John menggendong putrinya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengambil jasnya dari sandaran kursi. "Kita pulang. Sekarang." Monica berdiri terpaku. Ia ingin meraih kembali Sabrina. Ia ingin berteriak pada kakaknya bahwa dia terlalu kejam, terlalu kaku, terlalu keras kepala. Sejak kecil, Monica sudah tahu bahwa kakak laki-lakinya tidak bisa dibantah. Dia tidak pernah salah. Dia tidak pernah mau kalah. Dan dia tidak pernah mau mendengar penjelasan yang tidak sesuai dengan pendiriannya, dan bahkan membuat mantan istrinya sendiri—ibu Sabrina—meninggalkannya dengan pria lain. "John, setidaknya biarkan aku memeluknya dulu—" "Tidak." Sabrina sudah terisak-isak kelelahan di pelukan ayahnya. Wajahnya merah, matanya sembab, tetapi dia tidak lagi meronta. Hanya sesekali terdengar suara tangis kecil yang tertahan. John berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, dia berhenti sejenak, membelakangi Monica. "Besok, jangan coba-coba menjemput Sabrina dari sekolah. Aku akan mengatur agar pengasuhnya yang menjemput." "John—" "Dan satu lagi." John menoleh. Tatapannya tajam menusuk. "Jika kau masih menganggap dirimu bagian dari keluarga ini, jangan pernah—pernah lagi—berurusan dengan keluarga Castillo. Apapun alasannya. Atau aku tidak akan segan-segan memutus hubungan kita." * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN