Monica masih berdiri di ambang pintu. Ia tidak merasakan dingin. Yang dia rasakan hanyalah lubang menganga di dadanya—rasa bersalah karena tak bisa melindungi keponakannya, rasa takut karena telah mengecewakan kakaknya, dan rasa sakit karena melihat Sabrina dibawa pergi paksa.
Ia masuk ke dalam, menutup pintu. Rumah besar itu terasa begitu sunyi. Monica duduk di kursi, lalu dia menangis.
Lalu ponselnya berbunyi dan wanita itu melihat nama sang tunangan di layarnya.
Monica mengusap air matanya dan mengangkat ponseknya. “Halo, Jason.”
“Halo, Sayang. Hei, ada apa?” tanya Jason di seberang sana.
“Tidak ada apa-apa. Hanya bertengkar kecil dengan John.”
“Kenapa? Dia memarahimu? Karena apa? Aku yang akan bilang padanya nanti.
“Tak perlu, Jason. Ini hanya masalah Sabrina. Kau tahu kan dia overprotektif pada putrinya, dan aku paham hal itu.”
“Aku akan ke sana, menemanimu dan menghiburmu,” kata Jason.
Monica tersenyum. “Tidak perlu, bukankah besok kau harus ke luar negeri untuk urusan bisnis? Aku baik-baik saja.”
“Besok pagi aku akan ke sana sebelum berangkat. I love you,” kata Jason.
“I love you too,” sahut Monica.
Lalu mereka mengobrol beberapa menit sampai Monica mengantuk. Monica dan Jason sebenarnya dijodohkan oleh ayah mereka.
Dan, mereka sudah saling menyukai sejak awal bertemu, dan tak keberatan dengan perjodohan itu meskipun cukup kuno.
Bagi Monica, Jason adalah pria baik dan sopan. Apalagi pria itu bisa menjaga batasan yang ditetapkan oleh Monica yang tak ingin ada hubungan ranjang sebelum mereka menikah.
Mereka telah menjalani hubungan ini selama setahun belakangan. Dan mereka rencananya akan menikah tahun depan.
Monica tak sabar dengan hari itu, begitu juga dengan Jason yang di mata Monica adalah sosok pria sempurna—matang, mapan, tampan, setia.
*
*
Beberapa hari kemudian, pada hari Kamis sore, Monica duduk di balkon kamarnya sambil menyeruput teh chamomile.
Ponselnya tiba-tiba bergetar. Monica berharap itu John atau setidaknya kabar tentang Sabrina. Tapi nama yang muncul di layar adalah, Emma.
Emma Brown. Sepupu dari Jason—tunangan Monica.
"Monica! Besok malam aku ulang tahun, ya!" suara Emma di ujung telepon terdengar ceria, sedikit memekakkan telinga. "Aku mengadakan party kecil-kecilan di club. Kau harus datang meskipun mungkin Jason tak bisa datang karena katanya masih ada di luar negeri."
Monica mengernyit. "Club malam, Emma? Kau tahu aku tidak suka tempat ramai."
"Oh my, Monica, sekali-kali saja. Ini ulang tahunku yang ke dua puluh delapan. Aku belum mau tua. Aku mau bersenang-senang. Dan Jason pasti mengizinkanmu.”
Monica terdiam.
"Tapi—"
"Tapi apa? Sudah ya … kau harus datang. Sabtu malam. Aku kirim lokasinya. Pakai dress yang seksi! Jangan seperti nenek-nenek!”
Telepon ditutup sebelum Monica sempat menolak. Ia menghela napas panjang, membayangkan malam Sabtu yang seharusnya bisa dia habiskan dengan membaca buku di rumah.
Lalu Monica menelepon Jason, dia hanya ingin meminta izin dari tunangannya itu. Lama Jason tak mengangkatnya hingga akhirnya pria itu mengangkat panggilan darinya.
“Halo, Sayang,” sahut Jason dengan suara terengah-engah.
“Jason? Kau sedang berolah raga?” tanya Monica ketika mendengarnya.
“Ya, aku sedang berada di gym.”
“Owh, begitu. Semalam ini? Sekarang di sana malam, kan?”
“Ya, kau tahu kan bahwa aku sangat sibuk jika pagi sampai sore, jadi aku hanya sempat berolah raga malam. Ada apa, Sayang?”
“Begini … Emma mengundangku ke ulang tahunnya di club. Apakah aku boleh pergi?” tanya Monica ragu.
“Tentu saja. Dia sepupuku dan kuharap kau memenuhi undangannya. Dia sangat asyik. Kau akan suka pestanya. Percayalah,” jawab Jason.
Monica menghela napasnya. “Baiklah, kalau begitu.”
“Oke, aku harus olah raga lagi. Bye, see you soon minggu depan.”
“Bye,” sahut Monica dan sambungan telepon itu berakhir.
*
*
Sabtu malam tiba lebih cepat dari yang Monica inginkan. Ia berdiri di depan cermin kamarnya, menggantungkan gaun hitam yang dia pilih setelah setengah jam bimbang.
Gaun itu sederhana—talinya sangat tipis di pundak, belahan tidak terlalu terlihat, dan gaun itu membentuk siluet tubuhnya yang ramping.
Rambutnya dibiarkan terurai, sedikit bergelombang alami. Riasan wajahnya minimalis, lipstik nude dan sedikit perona pipi.
Ia tidak ingin terlihat berlebihan. Ia hanya ingin datang, menunjukkan wajah, mengucapkan selamat ulang tahun pada Emma, lalu pulang.
Sopir pribadinya mengantarkan Monica ke sebuah club di kawasan elit. Nama tempat itu tertulis dalam huruf neon merah muda, Velvet Club.
Dari luar, bangunannya tidak mencolok—hanya pintu hitam besar dengan dua security kekar di depannya. Tapi begitu Monica masuk, suasana langsung berubah.
Lampu-lampu berwarna-warni berputar lambat di langit-langit, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding.
Musik DJ menggetarkan lantai. Aroma parfum mahal, alkohol, dan sedikit uap rokok elektrik memenuhi ruangan.
Di sudut, sebuah bar panjang berkilau dengan ribuan botol yang tersusun rapi di belakang bartender berjas hitam.
Monica merasakan jantungnya berdebar tak nyaman. Tempat ini terlalu ramai, terlalu gelap, terlalu memekakkan telinga.
"Monica!"
Emma melambai dari sebuah meja VIP di pojok ruangan. Ia mengenakan gaun silver pendek yang berkilauan setiap kali terkena lampu disco.
Di sampingnya duduk beberapa orang yang tidak Monica kenal, termasuk dua pria berjas santai yang sedang tertawa dengan gelas wine di tangan.
Monica berjalan mendekat, berusaha tersenyum sopan. "Selamat ulang tahun, Em."
"Terima kasih sudah datang! Aku kira kau akan kabur." Emma memeluknya erat. "Minum apa? Aku pesankan koktail untukmu."
"Air putih saja—"
"Hei, come on, Monica. Ini pesta!" Emma sudah memanggil pelayan dan memesan sesuatu.
Monica duduk di kursi. Tak lama, pelayan datang dengan koktail berwarna oranye dalam gelas bertangkai panjang, dihiasi irisan jeruk di pinggirnya.
Monica menatap minuman itu ragu. Ia bukan peminum. Satu gelas wine saja sudah cukup membuat kepalanya berputar. Tapi Emma sudah mendorong gelas itu ke tangannya.
"Coba, Monica. Ini ringan. Rasanya manis seperti jus jeruk."
Monica menyesap kecil. Benar saja, rasanya manis, sedikit asam, dan hampir tidak terasa alkoholnya. Ia menyesap lagi. Dan lagi.