Lima belas menit kemudian, koktail itu habis. Monica merasakan kehangatan menyebar di pipinya.
Dunia terasa sedikit lebih lambat, musik terdengar lebih indah, dan lampu-lampu warna-warni itu tiba-tiba tampak memesona.
"Enak, kan?" Emma tertawa. "Mau satu lagi?"
Monica menggeleng, tapi kepalanya terasa berat. "Aku ... aku rasa aku sudah cukup. Aku hanya minum satu koktail, kenapa kepalaku ...?"
"Itu namanya mabuk, Monica. Santai saja. Kau istirahat dulu. Nanti kau akan terbiasa."
Monica menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Matanya menerawang ke tengah ruangan, tempat beberapa pasangan berdansa di bawah lampu yang berputar.
Tubuh mereka bergerak lambat, menyatu dengan irama musik yang mengalir.
Dan di tengah kerumunan itu, Monica melihat seorang pria.
Tinggi. Bahunya lebar dan atletis. Rambut gelap sedikit panjang, disisir ke belakang dan diikat dengan gaya yang tampak santai namun memesona.
Ia mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung hingga siku, memperlihatkan lengan bawah yang kekar dan jam tangan mahal di pergelangan tangannya.
Pria itu sedang berbicara dengan seseorang, tetapi matanya—Monica bisa merasakannya meski dari kejauhan—sedang menatap ke arahnya.
Monica tersentak. Ia mengenali wajah itu. Dia bertemu dengannya di pesta ulang tahun Alexander, cucu kesayangan Keluarga Castillo.
Dan sekarang, pria itu ada di sini. Di club yang sama. Di malam yang sama.
Monica membuang muka, berpura-pura tak tertarik dan tak peduli. Jangan panik. Mungkin dia tidak melihatmu. Mungkin dia hanya kebetulan menatap ke arah sini.
"Hei, kau melihat pria itu? Kau kenal sama Grant?" Emma tiba-tiba bertanya, matanya mengikuti arah pandangan Monica.
"Grant?” Monica mengernyit.
“Pria yang kau tatap itu. Aku melihat tatapanmu padanya. Tapi tenanglah, aku tak akan bilang pada Jason. Wajar jika para wanita memandangnya lebih dari satu menit. Dia memang hot.” Emma mengerling.
“Tidak, kau salah paham. Aku tak tertarik padanya. Aku hanya ... pernah merasa melihatnya di suatu acara."
"Dia Grant Castillo. Keluarga Castillo yang terkenal itu. Dia sedang kerja sama dengan keluargaku untuk proyek hotel baru di luar negeri, ya jadi aku mengundangnya juga, dan aku sangat senang dia bisa datang. Ah ya, banyak kabar bilang bahwa dia cassanova, dan sebagian besar wanita sangat suka pria nakal, bukan?” Emma mengangkat bahu lalu tertawa.
Monica menggeleng tanpa minat. Ia berharap Grant tidak mendekati mejanya karena dia tak mau berhubungan dengan apa pun yang bernama Castillo..
Tapi harapannya pupus ketika beberapa menit kemudian, Grant berjalan ke arah mereka dengan langkah tenang.
Dua gelas sampanye di tangannya. Wajahnya datar, tetapi sudut bibirnya sedikit melengkung—bukan senyum, lebih seperti rasa penasaran.
"Emma," Grant menyapa dengan suara bariton yang dalam. "Selamat ulang tahun."
Emma tersenyum lebar. "Grant! Terima kasih sudah datang. Aku kira kau tidak bisa."
"Aku hampir membatalkan. Tapi proyek dengan ayahmu lumayan penting." Grant meletakkan satu gelas sampanye di depan Emma, lalu menoleh pada Monica. Matanya meneliti wajah Monica seolah sedang membaca buku. "Halo Monica Davies, kita bertemu lagi."
"Kalian saling mengenal rupanya. Ck, Monica bilang tak mengenalmu.” Emma menyentuh bahu Monica dengan bahunya.
"Kita pernah bertemu," Grant berkata pelan, matanya tidak lepas dari Monica. "Di pesta keponakanku beberapa hari lalu.”
Monica akhirnya menatapnya. Grant mengingatnya. Di tengah kerumunan puluhan tamu di pesta itu, pria ini mengingat wajahnya.
"Ya," Monica menjawab singkat. Ia tidak mau bicara banyak. Suaranya terdengar lebih dingin.
“Jadi kau teman Emma?” tanya Grant.
“Dia tunangan sepupuku. Jason. Kau tahu dia kan?”
Grant terkejut sekilas, lalu tersenyum miring. “Ah … Jason? Ya, siapa yang tak tahu Jason. Banyak yang terkejut ketika Jason memutuskan bertunangan. Aku bahkan tak menyangka.”
Monica mengernyit. “Apa maksudmu?”
Emma tertawa mendengar itu. “Monica, jangan terlalu lugu. Jason sangat liar sebelum bertemu denganmu. Tapi sekarang, dia sudah berubah karenamu.”
Monica merasakan pipinya memanas. Apakah karena alkohol, atau karena tatapan Grant yang terlalu intens? Ia tidak tahu.
Tapi dia tidak suka perasaan ini. Perasaan di mana jantungnya berdegup lebih cepat setiap kali pria itu menatapnya.
“Aku rasa aku harus ke kamar kecil dulu,” kata Monica tiba-tiba.
Ia berdiri, sedikit goyah. Koktail tadi mulai terasa efeknya—atau mungkin bukan hanya koktail. Mungkin juga karena Grant.
Monica berjalan menuju lorong di belakang club, berusaha menenangkan diri. Di cermin kamar kecil, dia melihat wajahnya memerah. Ia membasuh muka dengan air dingin, menarik napas dalam-dalam.
‘Kau tunangan Jason. Kamu tidak boleh terpengaruh oleh pria lain. Apalagi pria dari keluarga Castillo—keluarga yang dibenci kakakmu,’ batinnya.
Setelah lima menit, Monica keluar dari kamar kecil. Ia berencana langsung pulang.
Tapi di ujung lorong, Grant berdiri, menyandarkan bahunya pada dinding. Tangannya di saku celana, sikapnya santai. Seolah dia sudah menunggu.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Ya. Aku hanya ... kepanasan." Monica berusaha melewatinya, tetapi lorong itu sempit. Grant tidak bergerak.
"Kau hanya minum satu koktail," Grant berkata pelan. "Aku melihatmu dari bar. Koktail yang Emma pesankan untukmu mengandung tiga jenis alkohol. Mungkin kau tidak merasakannya karena rasa manisnya, tapi efeknya cukup kuat untuk orang yang tidak biasa minum."
Monica mengerutkan kening. "Kau memperhatikanku?"
Grant tersenyum lagi. Senyum yang sama. "Sulit untuk tidak memperhatikan seseorang yang terlihat tidak ingin berada di tempat seperti ini."
Monica terdiam. Ia tidak tahu harus marah atau merasa tersanjung. Grant tidak salah—dia memang tidak ingin berada di sini. Tapi itu bukan urusan Grant.
"Aku harus kembali ke meja," Monica berkata tegas.
“Mau kuantar?”
“Tidak.” Monica menjawab dengan tegas meskipun mabuk.
Grant mengangkat bahu. “Kau terlihat mabuk.”
“Aku tidak mabuk!”