Tunggu, untuk beberapa detik saja. Alena mencengkram tangan Aurin yang hendak mengetuk pintu. Dia masih belum siap bertemu Lestari, semenjak Aurin pindah Lestari tidak pernah menghubungi mereka berdua, tapi wanita itu justru terus melayangkan ancaman pada Riswan. Pukul sepuluh pagi hari, dua remaja itu berdiri di depan pintu siap mengetuk. “It’s okay, Al” Aurin menggenggam tangan Alena. Meyakinkan sang kakak kalau semua akan baik-baik saja, Aurin akhirnya mengetuk pintu. Selang sepuluh detik, pintu kayu tersebut terbuka. Lestari muncul dengan mengenakan celana pendek dan singlet tipis tanpa b*a. “Mama” Aurin sigap menangkap tubuh Lestari yang hampir ambruk, “Mama masih suka mabuk-mabukan?” “Rin..” gumam Lestari, mencoba untuk berdiri tegak meski tidak bisa. Kepala nya pusing sekali, unt

