“Ge?” Gelegar masih terdengar, hujan turun semakin deras ditambah angin yang membuat teras kamar kosan Ivy ikut basah. Tadinya dia sudah bersiap menunggu jemputan Anan karena mereka ada job malam ini, job The Hope semakin ramai dan jadwal mereka semakin penuh. Hampir setiap malam mereka pindah-pindah cafe untuk manggung. Ketukan pintu kamar kos membuat Ivy bertanya-tanya, siapa yang ingin menemuinya. Anak-anak kosan lain? Nggak mungkin sih, orang hujan-hujan gini mendingan rebahan di kamar daripada nyatronin tetangga kos kan? Tak di sangka yang mengetuk pintunya adalah Gevit. Dengan tubuh basah kuyup dan air menetes dari ujung rambutnya, bibir Gevit gemetar kedinginan. Nggak ada waktu untuk mengagumi ketampanan Gevit meski Ivy ingin sekali melakukan hal itu. “Kamu ngapain hujan-hujanan

