Sekitar pukul tujuh pagi, kelopak mata Gevit terbuka. Cowok itu memperbaiki posisi duduknya, sementara Leo yang duduk di sampingnya masih tertidur pulas. Gevit menatap ke arah luar, sebentar lagi sepertinya kereta akan berhenti di stasiun Pasar Turi mengingat jam setengah delapan seharusnya mereka sudah sampai. Keluar dari tempat duduk dengan hati-hati, tapi tak sengaja lututnya menghantam lutut Leo. “Aduh!” seketika Leo terjaga, Gevit nyengir seraya mengangkat dua jarinya. “Sori” Umpatan Leo tertahan saat Gevit sudah berjalan menuju toilet. “Jam berapa sih?” kedua bola mata Leo melirik ke arah jam yang melingkar di tangan. Leo menyandarkan kepalanya, menatap ke luar jendela. Hamparan persawahan menyambut, lensa matanya dimanjakan oleh pemandangan alam yang luar biasa itu. Jarang-jaran

