"Bagaimana dengan pola wajah seperti ini nyonya?" tanya dokter kepada Erika.
"Ini sangat sempurna! saya menyukai pola wajah yang dokter usul kan, tapi saya ingin rahang saya terlihat lebih lancip ke bawah," pinta Erika.
"Saya akan melakukan seperti yang anda pinta," jawab dokter tersebut.
Proses operasi pun dilaksanakan, Erika yang sudah terbaring di tempat tidur bedah plastik,
lengkap dengan atribut pakaian pasien.
Mata Erika pun semakin berat untuk di buka, kerena pengaruh obat bius yang di suntikan pada nya. Sampai akhirnya dia pun tertidur pulas tak sadarkan diri.
Dokter pun segera memulai operasi plastik untuk wajah Erika. Butuh waktu berjam-jam untuk selesai melakukan operasi tersebut.
Billy yang terlihat panik berjalan mondar-mandir di lorong rumah sakit, dia khawatir kalau sampai operasi Erika tidak berjalan lancar.
"Andre lihat! apa yang sedang mereka lakukan di rumah sakit?" tanya Vita kepada Andre.
"Mungkin kerena ada sesuatu, atau mungkin papa kamu lagi sakit kali," jawab Andre.
"Jangan sembarangan bicara kamu!" cetus Vita yang melihat titik mobil Billy berada di rumah sakit.
Vita berpikir apa yang sedang mereka lakukan? apa yang telah dia lewat kan sehingga tidak mengetahui yang terjadi.
"Aku ingat!" ucap Vita menjentikkan jari nya.
"Apa? apa yang kau ingat?" tanya Andre.
"Aku tahu sekarang, apa yang mereka lakukan di rumah sakit, mereka sedang melakukan Aborsi."
Andre yang saat itu sedang minum, menyembur kan minuman tersebut ke wajah Vita kerena terkejut mendengar nya.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Vita membelalak kan mata nya menatap Andre.
"Apa yang barusan kau kata kan? mereka melakukan Aborsi?" tanya Andre tak percaya.
"Iya! kenapa kau sangat terkejut seperti itu?" tanya Vita heran melihat reaksi Andre.
"Aku tidak menyangka kalau ayah mu punya anak dari wanita itu," jawab Andre.
"Iya kau benar, reaksi ku juga sama seperti mu terkejut, saat kali pertama mendengar kabar itu," ucap Vita dengan raut wajah sedih.
Andre yang menatap Vita bersedih, hati nya terasa sakit, dia tak suka melihat nya sedih terus menerus.
"Ayo kita pergi keluar mencari hiburan?" ajak Andre.
"Tidak, aku sedang tidak ingin pergi kemana-mana, tujuan ku bukan untuk liburan, aku kesini hanya untuk memata-matai papa ku bersama selingkuhan nya," tolak Vita.
Andre yang menarik nafas panjang dengan penolakan Vita, dia pun mencari ide agar Vita tak bersedih lagi.
"Tunggu di sini! aku akan segera kembali," perintah Andre berlari keluar rumah.
Andre berjalan keluar mencari supermarket terdekat, dia membeli beberapa bahan baku dan sayuran, dia berencana untuk memasak buat Vita, meski pun dia tahu keahlian nya memasak masih di rata-rata 2,5.
Tapi dia tidak peduli tentang itu semua, dia akan berusaha memasak makanan terbaik untuk Vita. Saat semua bahan yang dibutuhkan nya telah di beli semua, dia pun kembali pulang ke hotel.
"Aku pulang!" ucap Andre menjinjing beberapa kantong plastik yang berisi beraneka macam sayuran.
Vita yang melihat Andre membawa sayuran tersebut tercengang melihat semuanya, dia bingung apa yang ingin di lakukan Andre.
"Apa yang kau bawa? kenapa kau berbelanja sebanyak ini?" tanya Vita mengecek satu-persatu bahan belanjaan.
"Untuk di masak dong, emang kamu mau makan sayuran mentah?" seloroh Andre.
"Kamu nyuruh aku masak? aku tidak mau? aku benci memasak!" cetus Vita.
"Kau wanita yang aneh, semua wanita mencintai tentang hal- hal yang berbau tentang masakan, tapi kau aneh, kenapa kau tidak suka?" tanya Andre.
"Aku tidak harus menjelaskan nya pada mu," cetus Vita.
"Kau tenang saja! kau cukup hanya duduk dan bersantai memandangi lelaki tampan sedang memasak," ucap Andre tertawa.
"Apa? kau yang akan memasak? tidak! jangan lakukan itu." ucap Vita meremehkan.
"Kau tidak tahu kemampuan ku, jangan meremehkan ku, jika kau tidak pernah merasakan masakan yang aku buat," ucap Andre yang segera memulai aksinya untuk memasak.
"Oke, oke, aku akan menanti kan nya," jawab Vita memonyongkan bibirnya ke depan.
Andre mulai memotong satu persatu sayuran yang tertera di atas meja, dengan sangat mahir, dia memotong bawang dengan sangat cepat. lalu dia menumis kan bumbu dan sayuran yang dia racip, lalu mengaduknya dengan sudip tahan panas.
Vita yang memperhatikan Andre memasak, hanya senyum-senyum melihat Andre yang tampak gagah saat mmasak.
Sudah berjam-jam Billy menunggu di luar, sampai makan pun dia tak beselera, dia sangat mengkhawatir kan Erika.
Tak berapa lama pun, dokter bedah plastik keluar dari ruang operasi. Billy yang melihat langsung mendatangi dokter tersebut, dan menanyakan keadaan Erika.
"Dok bagaimana? apakah semuanya berjalan lancar?" tanya Billy terlihat cemas.
"Tenang lah, dia baik-baik saja, operasi nya berjalan dengan sangat sukses, dia akan sadar setelah obat bius nya habis.
Jadi biar kan dia beristirahat terlebih dahulu.
"Baik dok," ucap Billy merasa lega.
Suara handphone Billy pun berbunyi, dia melihat nomor Rika sedang memanggil nya.
kemudian Billy mengangkat dan berbicara pada Rika.
"Halo!" ucap Billy.
"Mas, kamu dimana?"
"Aku sedang berada di dalam hotel sayang," ucap Billy mencari alasan.
"Beneran,Mas? kamu gak bohong kan?"
"Kenapa aku mesti bohong sayang, apa aku harus melakukan video call agar kamu percaya padaku.Aku lelah jika terus-menerus di curigai sama kamu seperti ini," ucap Billy berlagak sebagai korban.
"Maaf Mas, aku tidak bermaksud seperti itu sama kamu, aku hanya tidak ingin kejadian yang dulu terulang kembali," jawab Rika.
"Jika kamu menelpon ku hanya untuk mencurigai ku, lebih baik kita tidak perlu berkomunikasi selama aku di luar kota," cetus Billy.
Kenapa Rika tidak curiga jika Billy sedang berada di Korea, kerena Billy mengunakan nomor Indonesia, untuk tidak membuat Rika curiga.
"Jangan marah seperti itu,Mas! aku minta maaf kerena sudah mencurigai kamu," ucap Rika.
"Yasudah, aku ada pekerjaan lagi, nanti aku akan menelpon mu lagi," ucap Billy mengakhiri pembicaraan.
"Tara... Makanan sudah siap tuan putri!" ucap Andre yang meletakkan satu persatu makanan di atas meja.
"Hmm... bau nya harum sekali, tapi aku tidak yakin makanan ini terasa enak," ledek Vita.
"Jangan banyak bicara! nikmati saja, kau akan ketagihan saat memakan nya," jawab Andre.
"Aku ragu, aku tidak ingin memakan nya, aku pesan makanan di luar saja," tolak Vita.
"Kau meremehkan ku, kau benar-benar tidak mau memakan masakan ku," tanya Andre.
'Tidak, aku tidak berniat sama sekali untuk mencicipi masakan mu, aku curiga kau menaruh pil tidur di masakan itu," tuduh Vita menatap tajam Andre.
Tanpa basa-basi Andre memaksa mulut Vita terbuka, lalu dia memasukkan satu suapan makanan ke dalam mulut Vita.
Happy reading ?
Terima kasih untuk para readers tercinta ?
Jangan lupa mampir kek karya aku yang lain
#Hijrah Cinta ku
#Perjalanan hidup