Di dalam kamar, Rayyan masih merasa bersalah atas sikap mamanya yang seolah melupakanku. “Kya, maafin sikap Mama tadi ya.” “Loh, emang Mama kenapa Mas?” “Iya, Mama jadi lebih perhatian sama pacarnya Mas Raska sampai-sampai lupa kalau dia sudah memesan ingin kamu buatkan makanan. Bahkan tadi pas makan malam, Mama juga jarang merespon kamu, dia lebih memperhatikan pacarnya Mas Raska tadi.” Kata Rayyan penuh rasa bersalah. “Mas.. Aku gak kenapa-kenapa kok! Kalau nantinya Raisa jadi istrinya Mas Raska juga dia kan bakal jadi kakak ipar aku. Wajar kan kalau Mama juga sayang dan perhatian sama Raisa?” *** Pagi hari sebelum aku dan Rayyan keluar kamar untuk sarapan, aku menyempatkan diri untuk meminta izin suamiku agar aku boleh mengunjungi kedua orang tuaku. Karena sepulang dari Jepan

