Part 5 Sugar baby

1264 Kata
Hamizan mengulas senyum ketika mendapat pesan dari Aluna kalau gadis itu minta kontak Bara. Tentu saja ia akan dengan senang hati mengirimkan. Setelah bertanya alasannya yang membuat Hamizan tertawa. Peri kecilku : Om, Luna minta kontaknya dosen pengganti yang kemarin. Me: Untuk? Kamu sudah suka saat pandangan pertama? Ganteng kan? Peri kecilku: Luna harus lakukan pengintaian lebih dulu kayak Jenderal Gib sebelum gencar senjata nanti. Dogan kemarin itu biang kerok. Nanti Luna cerita. Me: (Contact Doctor Lucifer) Peri kecilku: Ih.... Om kok gitu situ sih? Luna serius nih.... Minta kontak dosen kemarin. Yang dijodohin sama Luna. Yang namanya... "MUBARAK ALFATHA" bukan Doctor Lucifer.... Me: Itu kontaknya. Save dulu nama Bara. Lihat foto profilnya. Masih dosen ganteng yang kemarin kan? Peri kecilku: Upsss sorry Your Highness... Kok namanya Lucifer? Temannya Jendral Gib ya? Kan papi sering bilang, kak Gibran itu Devil Police. Me: Bukan. Saudaranya. Devil Police saudaraan sama Doctor Lucifer. Peri kecilku: Kalau mereka saudaraan... Om siapa? Raja Satan? Me: Sepertinya begitu Peri kecilku: ??? (emoticon tertawa) Bara mengernyit melihat papanya senyum-senyum sendiri membalas pesan di ponselnya. Ingatannya kembali pada gadis yang diduga Suster Mia adalah sugar baby papanya. Tidak mungkin itu benar kan? Rasanya sulit sekali mempercayainya. Tapi tidak bisa ia pungkiri jika ia pun merasa penasaran. Di luar sana banyak sugar daddy yang mencari sugar baby. Apa papanya salah satu dari mereka? Mengingat gadis tempo hari menghitung banyak uang dari sakunya setelah keluar dari ruangan papanya. "Astagfirullah hal adzim." Bara mengucap istighfar dalam hatinya. Itu tidak mungkin. Ia kembali menegaskan jika papanya adalah seorang family man. Tidak mungkin menghianati istri dan keluarganya. Sejak mengenal Hamizan dan keluarganya saat Gibran menjadi pasiennya di meja operasi, tidak pernah sekalipun ia melihat sosok dokter idolanya itu berkata kasar pada keluarganya. Apa itu hanya kedok? Bara kembali menggeleng menampik bisikan setan. Bara memilih mengirim pesan pada mamanya. Mungkin saja papanya sedang sibuk chatting dengan mamanya. Tapi pesan Bara sama sekali tidak dibalas. Bara kembali dilanda gundah. Akun sosmed mamanya terakhir aktif sejam lalu. Itu artinya, bukan mamanya yang sedang chatting dengan papanya. "Kamu kenapa Bara?" tanya Hamizan. "Papa pernah berpikir tentang selingkuh?" tanya Bara inhin tahu reaksi papa angkatnya itu. "Tidak," jawab Hamizan. "Kenapa ada orang yang bisa terjebak dengan perselingkuhan? Pasien Bara ada yang konsultasi dan curhat. Setiap kali dengar kabar suaminya selingkuh lagi, dia collapse." "Orang selingkuh itu tidak bersyukur. Mencari kesalahan dan lari dari masalah tanpa sadar ia mengundang masalah baru. Kalau nanti kamu jadi nikah sama cewek yang papa jodohin, awas saja kalau kamu selingkuh!" ancam papanya. "Nggak berani Pa," jawab Bara mengulas senyum dan keduanya tertawa. "Kamu memangnya pernah diselingkuhi?" tanya Hamizan mengernyit. "Tidak Pa. Bara belum pernah jalin hubungan serius sama cewek," jawab Bara apa adanya. "Soal perjodohan yang papa bilang waktu itu, kamu benar-benar yakin? Papa tidak sengaja mendengar kamu minta Gibran mencaritahu tentang seseorang dari masa lalu kamu." Hamizan menatap putra keduanya itu dengan lekat. Bara mulai menceritakan tentang pembicaraannya dengan Gibran tentang seseorang yang ia cari. Orang itu bukan gadis dari masa lalunya, melainkan kakaknya. Kakak dari ayah yang sama namun dari ibu yang berbeda. Beberapa tahun lalu kakaknya dinyatakan hilang dalam kecelakaan kapal nelayan tempatnya bekerja. Lama tidak ada kabar tentang kakaknya itu. Namun saat menghadiri seminar di Surabaya, ada seorang peserta seminar yang mengatakan bertemu orang yang mirip dengannya. Itulah alasan mengapa dirinya meminta tolong pada Gibran karena ia tahu benar bagaimana Gibran mencaritahu tentang seseorang. Koneksi kakaknya itu tidak bisa dianggap remeh. "Hari ini kamu punya rencana apa? Papa mau kenalkan kamu sama seseorang," ujar Hamizan antusias. "Hari ini Bara ada jadwal operasi Pa. Sore nanti di klinik, sudah ada janji sama sahabatnya mama yang mau konsultasi. Maaf ya, Pa," ujarnya "Tidak apa-apa. Kan papa cuma tanya. Oh ya, kosongkan jadwal kamu di klinik minggu depan. Kita makan malam sama keluarga yang putrinya ingin jodohkan sama kamu. Masalahnya, mereka undang kita lengkap. Jadi kamu harus bujuk Gibran untuk ikut makan malam. Gunakan trik apapun kalau perlu kamu jebak. Papa tidak mau tahu kamu bakal pakai cara apa. Selama ini kamu selalu bisa buat Gibran nurut tanpa bikin kekacauan," ujarnya dengan tawa. "Tapi kak Gibran sedang mengusut kasus berat Pa. Sepertinya dia dapat informasi yang menarik terkait atasannya. Dia bahkan sempat ancam Om Derdi tidak akan membagi masalah itu," ucap Bara menghela berat. Membujuk Gibran bukan perkara mudah. "Pantas saja Derdi meminta agar Gibran ikut makan malam minggu depan. Ternyata ada alasan besar dibaliknya," batin Hamizan memijat kepalanya yang mendadak pusing jika membayangkan perdebatan antara putranya dengan adik iparnya itu. "Bara akan cari cara ajak kak Gibran. Kasus pembunuhan di jembatan pagi tadi sampai sekarang membuatnya sibuk. Tiap kali ditelpon, pasti sedang terhubung dengan panggilan lain," akunya. "Sebentar, papa baru ingat ada pamflet dari rekan papa di Jakarta. Ini tentang pengajuan kamu jadi relawan bulan lalu. Hasilnya ditolak. Tapi kamu diminta sama persatuan dokter untuk ikut kajian tentang kesehatan jantung anak," kata Hamizan beranjak. Disaat yang sama ada pesan notifikasi yang masuk dan sempat Bara baca. Nama kontak yang tertera dari pengirim pesan itu adalah... Peri kecilku. Bara mematung di tempatnya melihat nama itu di layar ponsel papanya. Belum pulih keterkejutannya, ada notifikasi pesan lagi dari kontak itu yang mengirimkan ucapan terimakasih dan tanda love merah. Hamizan masih sibuk memeriksa laci mejanya. Tapi Bara sadar jika ia tidak pantas membuka dan menghapus pesan itu. Jika benar papanya punya sugar baby, maka ia tidak bisa tinggal diam saja. Ia akan membuat gadis pengacau itu menjauh dari papanya. Bagaimana pun caranya. "Nah, ketemu. Ini dia," katanya seraya menghampiri Bara, "Kemarin dokter Faizal sudah kasih izin dan semua akomodasi serta biaya penelitian akan ditanggung sama salah satu Rumah Sakit Swasta Alqadrie. Rumah sakit itu sudah punya banyak cabang di beberapa negara. Papa harap ini bisa jadi salah satu pijakan untuk karir kamu kedepannya." "Terima kasih banyak Pa. Bara akan berusaha tidak mengecewakan Papa sama Prof. Faizal. Bara pamit dulu, mau visit pasien. Pasien yang rencananya operasi besok sudah menginap beberapa hari ini untuk kontrol. Bara belum ketemu sama orang tua anak itu," pamitnya. Dari celah pintu yang akan ia tutup rapat, dilihat papanya sedang tersenyum bahkan tertawa membalas pesan di ponselnya. Pesan dari peri kecilnya. Bara tidak habis pikir dengan apa yang baru saja ia lihat dan dengar. Telinganya sendiri mendengar papanya mengatakan hal yang sama seperti suster Mia katakan waktu itu. "Om tahu kamu gugup. Tapi anggap saja ini awal yang menegangkan. Nanti kamu akan terbiasa sendiri. Ingat, kamu itu peri kesayangan om. Jadi tidak perlu malu. Om justru suka dan bangga," kata Hamizan yang masih sempat didengar Bara. *** "Dokter Bara? Kapan Dokter datang?" tanya seorang pasien anak. Pasien yang sebulan ini menjadi pasien Bara sejak memulai konsultasinya untuk operasi jantung, "Dokter tahu? Kemarin dulu waktu mau ketemu Dokter, aku lihat Barbie di taman. Barbie hidup. Dia juga nyanyi buat aku. Katanya hari Jumat ini dia bakal balik ke sini dan baca dongeng buat anak-anak di rumah sakit ini." "Barbie hidup? Cantik tidak?" tanya Bara mengusap sayang kepala bocah 13 tahun itu. Pasiennya yang kuat meski usianya masih sangat muda. "Cantik banget Dokter. Aku pikir dia beneran boneka yang dibacakan mantra terus hidup. Namanya Al... aduh aku lupa. Tapi aku ingat kalau dia bilang dia peri. Peri cantik kesayangan semua orang." "Peri?" Bara bergumam. Lagi-lagi kata itu mengusiknya. Namun ia merasa jika ini adalah petunjuk dari Allah. Mungkin saja Barbie hidup yang diatakan bocah ini adalah sugar baby papanya. "Apa Barbie yang kamu maksud itu pakai sepatu boot?" tanya Bara. "Oh, jadi dokter juga sudah kenal sama dia?" tanya anak itu dan Bara tersenyum dalam hati. Semoga hari Jumat nanti ia bisa bertemu dengan gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN