Nafisa melongo saat kedua matanya telah membuktikan ucapan Aluna. Tidak sia-sia dirinya diseret untuk mengikuti kuliah umum mahasiswa S1. Sejak tadi ia berdoa semoga saja tidak ada yang mengenalinya di sini. Tapi cukup menyebalkan juga melihat banyak pasang mata melirik mereka sejak tadi. Apalagi alasannya kalau bukan Aluna. Sahabatnya yang saat ini sibuk sendiri dengan ponselnya. Mengabaikan sosok laki-laki tampan yang baru saja masuk ke dalam ruang kuliah berbentuk learning teater tersebut.
“Lun, Luna… dosen yang ngajar kuliah umum hari ini beneran ganteng. Bukan, ganteng banget malah. Kelihatan cool tuh pakai kaca mata minus. Kamu tahu dari mana kalau dosennya ganteng?” tanya Nafisa menyenggol kaki sahabatnya.
“Om Hamiz. Aku mau ketemu di sini, tapi dia bilang digantiin sama dogan. Dosen ganteng. Beneran ganteng nggak sih?” Aluna celingak-celinguk melihat tiga sosok di bawah sana.
Salah satunya ia kenali sebagai operator ruang LT ini dari seragam yang dikenakannya. Satunya lagi pasti mahasiswa karena mengenakan kemeja kotak-kotak dengan rambut panjang ikal yang diikat rapi. Menurutnya, itu bukan dosen yang akan mengisi kuliah pagi ini karena memakai sepasang sepatu hiking khas seorang pendaki gunung.
Pilihan terakhir adalah sosok yang mengenakan kemeja putih dan celana bahan abu-abu. Dari belakang terlihat potongan rambutnya yang rapi. Beberapa kali ia mengangguk atas instruksi pegawai di sampingnya. Ketika melihat punggung tegap seseorang dengan penampilan rapi itu, Aluna bisa menebak jika itu dosen pengganti omnya. Mubarak Alfatha.
“Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakhatu… dan selamat pagi semuanya.”
Salam dan sapaan itu dijawab seisi learning teater. Senyum ramah yang diberikan dosen pengganti itu membuat lebih dari setengah isi ruangan terpesona. Bahkan mahasiswa laki-lakipun ikut antusias. Aluna kembali fokus ke depan melihat sosok yang mengenakan kaca mata minus itu. Ucapan maminya jika dia sebelas dua belas dengan Gibran itu benar. Suaranya tenang dan jelas ketika ia menjelaskan memang patut diacungi jempol untuk standar seorang dosen pengganti.
Kuliah umum yang berlangsung dua jam lebih itu kini dibuka sesi tanya jawab. Nafisa yang duduk di sampingnya mengulas senyum karena Aluna diam-diam tersenyum dan mengangguk setuju dengan jawaban yang baru saja dijelaskan oleh dosen. Ia tahu jika Aluna belum lama ini putus dengan pacarnya. Tapi melihat gadis itu mengulas senyum menatap dosen ganteng di bawah sana, Nafisa merasa lega.
Aluna tidak cinta mati pada mantannya. Tangisannya kemarin malam saat curhat dengan alasan ia pindah ke Makassar sepertinya tidak perlu dihawatirkan. Obat patah hati seorang gadis memang menikmati wajah tampan ciptaan Tuhan. Benar begitu bukan?
***
Ahana duduk di kantin sambil menyeruput dengan kesal es teh yang dipesannya beberapa saat yang lalu. Kekesalannya di ruang kuliah belum juga surut. Nafisa hanya bisa meringis melihat Ahana yang lebih mirip anak remaja labil. Siapa yang akan menyangka senyum merekah gadis itu saat menatap wajah tampan dosen itu kini berganti berganti raut wajah kesal?
“Aku bakalan balas dia Naf. Kalau rencana aku gagal, aku bakalan laporin dia sama Jendral Gib!” ujar Aluna menyusut hidungnya dengan tissue.
Sisa tangisnya masih ada. Walau begitu senyum nenek sihir versi Safwan di wajah imut itu kini hadir. Pertanda sahabatnya yang satu itu sudah memiliki rencana.
“Mau balas pakai apa?” tanya Nafisa kembali mengunyah kentang gorengnya, “Yakin mau laporan sama Jendral Gib? Bukannya kemarin kamu habis palakin Jendral Gib? Kamu bahkan ketawa kayak nenek sihir pas lihat amplop gajinya. Kakak sepupu kamu itu kamu palakin nggak kira-kira! Kamu pikir Jendral Gib masih mau bantu kamu?”
“Iya juga ya? Masa aku ngadu sama Safwan? Yang ada Safwan malah ketawain aku. Nggak mungkin aku ngadu sama papi sama mami. Ketahuan deh kalau aku di sini? Aku nggak mau diinterogasi sama papi, mending sama Jendral Gib. Soalnya kalau sama Jendral Gib, aku masih bisa ngadu sama om Hamiz. Tapi mana bisa ngadu kalau papi bertindak? Om Hamiz bakal terseret dalam kebohongan aku dan tante Mariska bakal ikut marah sama kami berdua,” ujar Ahana menghela napas berat, “Tapi kalau bukan sama Jendral Gib, aku ngadu sama siapa? Masa sama calon suami aku yang nyebelin itu? Kan dia biang kerok hati aku sekarang!”
“Biang kerok hati kamu?” tanya Nafisa yang diangguki Ahana dengan polosnya.
Diam-diam Nafisa menahan diri untuk tidak tertawa saat ini. Istilah yang diungkapkan Ahana memang beda dari kebanyakan orang. Sebisa mungkin ia juga tidak ingin jadi biang kerok yang menyebabkan sahabatnya itu kembali menangis.
“Nyesel banget tahu aku nggak pakai hells. Aku emang sedikit pendek, tapi bukan bocil. Aluna Mairahani Wijaksono itu bukan bocah kecil. Aku imut. Aku kan udah berdiri tadi, masih dikira duduk! Mejanya aja yang ketinggian!” Aluna kembali menggerutu.
Sejam lalu saat masih duduk di dalam lecture learning, Aluna mengacungkan tangan sebagai penanya terakhir. Dogan alias dosen ganteng itu mempersilahkan Aluna untuk berdiri seperti peserta lainnya yang berdiri ketika dipersilahkan untuk menyebutkan pertanyaannya. Aluna hanya bisa melongo. Bagaimana tidak? Dirinya sudah lebih dulu berdiri lalu mengangkat tangan.
Flashback on
“Silahkan berdiri dan perkenalkan diri Anda, kemudian sebutkan pertanyaannya.” Bara mempersilahkan Aluna dengan anggukan kecil, “Silahkan berdiri! Biar yang lain juga bisa mengenal Anda.”
“Saya sudah berdiri Pak Dosen. Kacamata Bapak harus direvisi,” ujar Aluna berkacak pinggang dan mengundang tawa seisi ruangan.
“Maafkan saya. Silahkan pertanyaannya!” Bara memusatkan perhatiannya untuk mendengarkan pertanyaan mahasiswi yang tampak sedang kesal itu karena belum juga menurunkan kedua tangan di pinggangnya. Entah sengaja atau lupa.
“Dari materi tadi, saya ingin menanyakan tentang kinerja jantung. Bagaimana bisa kinerja jantung seseorang meningkat dan rasanya seperti berdebar tidak menentu saat mendengarkan nama seseorang yang masih asing baginya?” tanya Aluna dengan serius.
“Kinerja jantung bisa meningkat karena beberapa faktor yang saya sebutkan di slide ini," jawabnya sambil mengganti slide, "Untuk pertanyaan Anda barusan, itu disebabkan oleh faktor psikologis. Kemungkinan kedua Anda menyukai pemilik nama itu.”
“Kok tahu kalau itu aku?” tanya Aluna menunjuk dirinya sendiri dan membuat beberapa suara menghela kecewa. Cewek incaran mereka sudah berdebar karena orang lain.
“Saya hanya menduga saja. Jika Anda merasa ada yang salah, sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter jantung. Menurut literatur yang pernah saya baca, itu salah satu tanda jika seseorang memiliki ketertarikan pada sosok lain. Itu adalah hal wajar, namun tidak semua orang bisa mengalami. Nama Anda siapa dan dari prodi apa?”
“Saya Peri, Bapak bisa panggil saya Neng Peri, prodi seni rupa. Saya bukan mahasiswa kampus ini. Jadi Bapak tidak perlu hawatir saya bakal jadi fans kayak yang lain,” ujar Aluna dengan sisa kekesalan karena bisik-bisik mahasiswa lain yang mengatakan dirinya bocil.
“Saya sarankan Anda untuk konsultasi pada ahlinya agar Anda bisa lebih yakin dan tentu saja hal itu akan membuat Anda tenang. Nama Anda cukup unik, saya harap Anda bertemu dokter jantung yang tepat.”
“Nggak ada dokter jantung yang bakalan mau jadi dokter jantung seorang peri Pak. Takut kena sihir dan malah detak jantung dokternya yang berakhir. Tiiittt…” ungkap mahasiswi yang duduk di belakang Aluna dan Nafisa.
Flashback off
“Gara-gara si biang kerok nih aku diledekin! Besok aku bakal balas dendam. Pokoknya harus!”
***
Bara memarkir motornya dan hendak kembali menutup pintu pagar. Disaat yang sama mobil Gibran hendak masuk. Kakak angkatnya itulah yang sudah menyeretnya tinggal di rumah ini sejak setahun yang lalu. Saat Gibran turun, laki-laki itu langsung mendelik tajam.
“Ngambek karena apa?” tanya Bara.
“Kamu kemarin ke mana?” tanya Gibran.
“Jawab dulu, baru ganti saya yang jawab.” Bara mengulas senyum jahil. Ia tahu Gibran semakin kesal. Tapi ia memang sangat suka menjahili Gibran. Balas dendam karena sejak di rumah sakit dulu, kakaknya itu suka sekali menjahilinya.
“Dasar Lucifer! Aku kesal karena kamu nggak langsung balas pesan penting. Power bank kamu mana? Ha? Orang yang kamu cari itu katanya nggak di daratan. Temannya bilang kayak gitu. Nggak mau bilang informasi apapun selain sama kamu. Bagaimana aku nggak kesal?" cecarnya.
“Kak Gibran marah-marah kayak cewek PMS saja. Bara kemarin ada operasi darurat. Power bank saya pinjamkan sama keluarga pasien. Supaya bisa menghubungi keluarganya. Tapi lupa dikembalikan. Saya tidak bawa charger. Jadinya sampai rumah baru isi daya. Tidak langsung dibalas karena Bara ketiduran. Capek habis operasi 5 jam,” ungkapnya.
“Kamu curhat kayak emak-emak!” balas Gibran.
“Oh… jadi kalau mama bilang kayak gitu... kamu anggap mama curhatnya nyebelin? Gitu ya Gib? Kok mama baru tahu ya?” sindir Mariska.
“Jangan salah paham Yang Mulia Ratu.”
“Tidak perlu merayu Jendral Gib. Kamu sudah ketahuan selama ini nggak suka mama curhat, iya kan? Ngaku saja. Mama nggak marah. Nggak ada gunanya juga. Ya begini nasibnya mama nggak punya mantu yang jadi teman curhat. Mau bagaimana lagi, kamu nggak bawa calon istri, janji-janji mulu dari dulu.” Sindiran Mariska telak menusuk ke jantung Gibran. Laki-laki itu melirik Bara minta bantuan.
“Mama mau masak nasi goreng tidak? Bara lapar. Belum sempat makan tadi. Setelah gantikan papa, Bara dapat telpon darurat dari rumah sakit lain tempat Bara kerja," bujuknya.
“Kontrak kamu di rumah sakit lain belum berakhir?” tanya Gibran mengernyit.
“Dasar tidak peka! Begitu saja tidak tahu. Adik kamu kontraknya setahun. Kerja di sana baru 8 bulan, artinya masih ada 3 bulan lagi. Jangan berusaha mengalihkan pembicaraan! Ayo Bara, mama buatin nasi goreng,” ajak Mariska.
“Ma… masa cuma buat Bara sih? Buat Gibran tidak?”
“Kak Gibran! Kakak sudah ketemu calon istrinya Kakak?” Ratna yang menenteng sebuah buku ensiklopedia di tangannya berlari ke arah Gibran yang menggeleng, “Masa sih? Tapi kok di seragamnya Kak Gibran ada bekas noda lipstick?”
Prrangg!!!
“Lipstick?!” Mariska melotot pada Gibran.
“Di seragam Kak Gibran?” Bara menatap Gibran syok.
“Iya, Ratna kan cuci pakaian kortor. Nah Ratna sekalian cek di mobilnya kak Gibran waktu kak Jay diminta keluarin food container. Ratna lihat ada seragam gantinya kak Gibran yang ada noda lipstiknya. Lipstick merah yang tidak bisa hilang kalau dikucek biasa pakai air. Bukan cuma satu, tapi dua kali cipok,” kata Ratna mengacungkan dua jarinya.
“Masa sih?” Mariska menatap Ratna dan Gibran bergantian. Sebelum Gibran buka mulut untuk menjelaskan, Ratna lebih dulu mengeluarkan ponsel di sakunya. Video seragam itu sebelum ia masukkan ke dalam mesin cuci.
“Gibran, ini maksudnya apa?” tanya Mariska ingin sekali memukul kepala putra sulungnya itu karena Gibran hanya diam saja menutup rapat mulutnya melirik Bara.
“Aku nggak bisa bilang Ma. Sudah janji sama si Peri Manja nggak bakal bilang sama siapapun kalau dia ada di Makassar saat ini. Bara juga nanti bisa salah paham sama Aluna kalau tahu kelakuan calon istri pilihan kalian itu gadis yang suka bikin sakit kepala. Kayak Gibran saat ini. Terjebak di antara janji dan pasrah karena tidak bisa membela diri. Semoga Bara beneran bisa jadi jodohnya Aluna. Supaya aku bisa gangguin Aluna sepuasnya. Balas dendam sama semua hal yang selama ini bikin Gibran sakit kepala,” batin Gibran.
“Kak Gibran kenapa seperti orang yang merasa bersalah?”
“Terjebak.”
“Alah… sok terjebak! Padahal cowok dewasa kayak kamu pasti di luar sana nggak bisa ditebak! Dasar! Mama nggak mau tahu ya Gib, tahun depan kamu sudah harus nikah! Titik!”
“Ini gara-gara si Peri! Dasar biang kerok!” gerutu Gibran dalam hati.
***
Aluna baru saja selesai mandi dan menunaikan sholat subuhnya. Hari ini akan jadi hari balas dendamnya untuk biang kerok hatinya. Rencananya yang semalam sudah ia susun matang-matang dengan minta saran pada Caramel. Salah seorang sahabatnya yang memang cukup ahli soal balas dengan pada kaum adam.
“Wah… cantik banget Neng Peri. Padahal mau balas dendam, kok dandannya niat banget?” Nafisa duduk di sisi ranjangnya sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.
“Karena balas dendam sama si biang kerok hari ini itu memang sedikit spesial. Aku bakalan bikin dia melongo takjub sama aku. Biar bagaimanapun aku sudah buat keputusan untuk menerima perjodohan sama dia. Hidup datar-datar saja itu nggak asik kata Cara. Dia sudah kasih saran sama aku. Aku bakal bikin dia sadar kalau aku ini bukan bocil,” ujar Aluna memasang anting jumbai dengan hiasan pompom putih di ujungnya. Anting dengan warna yang sama dengan bajunya.
“Kamu tinggal bawa tongkat bintang dan bakal beneran jadi peri.” Aluna terkekeh. Mau bagaimana lagi, hanya ini dress yang dia miliki dan terkesan sopan karena saat bebelanja kemarin dengan uang palaknya, ia tidak membeli banyak barang. Kopernya yang dikirim Safwan belum tiba. Sementara uang gaji Gibran sudah ia kirimkan untuk adik kembarnya.
“Kamu yakin tidak mau ditemani?”
“Nggak Naf. Aku nggak lama kok. Cuma mau kasih pelajaran sama si biang kerok, terus pulang. Aku juga harus siap-siap pulang ke rumah. Tiga hari pemberian Jendral Gib akan berakhir.”
“Kamu aneh deh, di mana-mana tuh peri yang kasih batas waktu. Kayak kisahnya Cinderella. Nah kamu, kebalik. Justru si Jendral yang kasih kamu batas waktu,” kata Nafisah terkekeh melihat Aluna cemberut.
“Beginilah nasib si Neng Peri yang nggak punya tongkat ajaib. Habis interview, aku balas dendam. Habis itu balik ke sini packing dan berackting datang dari bandara. Tuh, Jendral Gib sudah kasih print out tiket pesawat palsu. Aku sampai nggak kepikiran loh, tapi Jendral Gib tuh kayak peri banget. Awas saja kalau aku ketahuan! Aku bakalan bikin Jendral Gib jemput aku di diskotik,” ungkapnya.
“Emang kamu pernah masuk ke diskotik?” tanya Nafisa.
“Nggak pernah. Tinggal masuk doang. Pesan minum, terus pura-pura teler kalau Jendral Gib sudah nongol jemput aku. Kalau aku bangun, dia bakal minta maaf dan bilang... jangan sedih. Adik kakak mau apa biar nggak sedih lagi?”
“Terus kamu mau minta apa?” tanya Nafisa.
“Aku bakal minta Jendral Gib balas dendam sama dia!”
“Maksud kamu si biang kerok hati kamu?” tanya Nafisa mengulum senyum geli karena Aluna yang sedang sibuk memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam tasnya, tanpa sadar mengangguk. Mengakui jika dosen ganteng kemarin itu si biang kerok hatinya. Ingin sekali rasanya mencubit pipi Aluna saking gemas karena sahabatnya itu terlalu polos.
***