Seharian ini, tak ada yang bisa gadis itu lakukan. Ia mengurung diri di kamar, berguling kiri, kanan, lalu menatap ponsel dengan tatapan merana. Kasurnya kempis di tengah karena sejak mata terbuka, Kanya sama sekali tak beranjak. Berkali-kali ia ingin bangun, tapi kemudian seluruh tubuh melemas kembali. Menatap langit-langit lama-lama, menutup mata sejenak, lalu membuka mata lagi, Kanya menghembuskan nafas lelah.
Sedari tadi bunda sudah berangkat menuju temparnya bekerja. Berkali-kali mengajak Kanya untuk sarapan, ketukan di pintu kamarnya tak dihiraukan, Kanya hanya berteriak, “Aku sakit, bun.”, kemudian diam. Gadis itu pura-pura tidur yang terlihat pura-pura mati, membuat sang ibu khawatir setengah mati. Sejak pulang kemarin, ia memang langsung masuk kamar dengan wajah memerah di antar Baskara. Ia tak berterima kasih pada pria yang mengantarnya ataupun bersalam dengan sang ibu yang asyik minum teh di ruang tamu. Dengan cepat, pintu kamar ditutup, dikunci, ia menangis di atas bantal. Tak mengizinkan siapapun mendekat.
Kanya tak peduli. Hatinya sakit. Ia tak ingin siapapun berusaha membuatnya baik-baik saja. Ia hanya ingin menangis. Semalaman penuh. Hingga akhirnya kelelahan sendiri dan tertidur bersama bercak air yang tersisa di pipi. Ketika banging, kulitnya terasa kering, begitu pula bola mata. Ia haus namun tak ingin keluar, ia ingin sembunyi di dalam kamar.
Ia sama sekali tak menghiraukan detak jam atau angka pukul berapa yang ditunjukkan ponselnya saat ini. Lama sudah ia menangis, merenung, menangis lagi, merenung lagi. Yang gadis itu inginkan hanya kabar dari Banyu yang mengatakan kalau kemarin pria itu main-main, ia hanya bercanda, dan mereka tidak dalam keadaan ‘break’.
Kanya memikirkan pernyataan Banyu kemarin.
“Kamu mau break dulu nggak?”
‘Apa itu break?’ pertanyaan dalam kepalanya itu menyulut amarah lagi. Kanya masih tak percaya karena Banyu meminta break. Gadis itu tak mengerti konsep break yang diajukan Banyu, ini sama seperti menggantung hubungan mereka. Buat apa break? Ia masih tak mengerti mengapa Banyu bicara soal break tanpa memberinya kesempatan bicara. Yang membuat Kanya lebih bertanya-tanya adalah… bagaimana Banyu bisa tahu kalau ia dan Baskara pergi bersama?
Berkali-kali Kanya memikirkan, ada banyak hal janggal hari itu. Tidak ada yang memberi tahu Banyu soal Kanya yang pergi bersama Baskara. Ia mengabsen orang yang tahu kejadian saat itu. Ia, Baskara, Lintang, Sendy, kemudian… Renata dan dua temannya: Iris serta satu lagi gadis yang tak ia kenal.
Ia, kedua sahabat, dan Baskara jelas tak mungkin mengatakan ke Banyu. Apa mungkin… salah satu dari ketiga orang tersebut?
Meskipun curiga, Kanya masih tak berani berspekulasi lebih jauh. Ia dan Renata baru saja berteman, ia tak ingin mencurigai kawan yang belum seminggu ia kenal. Mungkin… dua gadis teman Renata itu yang melakukannya. Tapi, untuk apa?
Pusing, Kanya meringis menahan sakit kepala karena memikirkan masalah ini berlarut-larut. Ia menginginkan Banyu. Ia ingin pria itu di sampingnya, tapi ia sadar kini hubungannya dengan Banyu sedang mengalami masa jeda. Dengan sedih, Kanya memejamkan mata.
“Banyu…”
Ia mengumamkan nama itu pelan, membayangkan wajah yang biasa menatap lembut. Tak lama kantuk menyerang, ia tak ingin tertidur tapi berat kelopak mata membuat gadis itu terpaksa menuju pulau kapuk.
‘Banyu, aku rindu…’
***
Terbangun, dahi gadis itu mengriyit mendengar ketukan keras di pintu kamar. Badannya terasa lemas dan suhu tubuhnya naik, yang hanya bisa ia lakukan adalah mengerang dengan tenggorokan yang seperti tersumpal. Suara ketukan itu begitu kasar, tak seperti ketukan milik bunda yang pelan. Perlahan, kesadaran menyergap. Bukankah bunda sudah pergi bekerja? Lalu siapa yang mengetuk? Memangny sudah sore?
Meskipun enggan, tangannya menggapai-gapai mencari ponsel. Sebenarnya ada jam dinding di belakang Kanya yang cukup besar. Gadis itu bisa saja balik badan dan mengetahui waktu dengan segera. Yah, tapi kalau ada cara sulit, kenapa harus yang gampang?
‘Ketemu!’ batin Kanya. Ia menatap jam yang sudah menunjukkan angka sebelas lebih empat puluh menit, ini hampir tengah hari dan gadis itu belum beranjak dari pembaringan.
Ketukan di pintunya makin keras, membuat Kanya merasa parno karena gadis itu tak tahu siapa yang masuk ke rumahnya. ‘Apa rampok?’ pikirnya takut.
Segera, ia mencari benda yang dapat digunakan untuk melindungi diri. Satu-satunya benda yang cukup solid digunakan untuk memukul hanyalah semprotan nyamuk yang ia beli minggu lalu. Bangun, meskipun seluruh badannya terasa sakit, tenaga Kanya kumpulkan untuk menyerang.
‘Pokoknya pukul, terus kabur keluar!’ bisik otaknya.
Ketukan itu masih terus terdengar, tanpa suara apapun, membuat seluruh tubuh Kanya begidik ngeri.
Satu
Dua
Tiga!
Cepat, gadis itu membuka pintu. Tanpa melihat dahulu siapa yang berada di depannya, pukulan mengayun sekuat tenaga. Bunyi tak paduan antara alumunium dan batok membuat siapapun yang mendengar merasa ikut kesakitan. Sekuat tenaga, Kanya segera ambil ancang-ancang dan melompati manusia yang mengaduh berjongkok memegang bagian terpukul tersebut.
Kanya melompat, berusaha melewati tubuh besar yang berjongkok. Belum juga lompatannya selesai, kakinya sudah ditarik, membuat tubuh Kanya bedebam menabrak lantai dengan posisi telungkup. Kanya ingin mengaduh kesakitan, namun insting bertahan hidupnya berkata untuk menendang. Jadi sembari berteriak, kaki Kanya bergerak menendang dengan mata terpejam.
“LEPASIN! LEPASIN NGGAK!” Seru gadis itu masih menutup mata dan membabi buta menyerang dengan kaki. “TOLONG! TOLONG RAMPOK!”
“Nya! Ini aku!” terkejut, Kanya segera membalik badan, menemukan Baskara yang memegang tangan kanannya memegang kaki kiri Kanya dan tangan sebelah kiri memegangi kepala.
Pekikan kecil keluar dari mulut gadis tersebut, segera, mulut ia tutup. Tanpa memperdulikan sakitnya sendiri, ia membantu Baskara berdiri, memapah pria besar itu ke sofa tamu sambil membodoh-bodohi diri sendiri.
‘Realisa Kanaya, bodoh banget kamu!’