Break

1621 Kata
“Jadi, kalian ada perlu apa?” Tiga orang itu kini duduk bersama di gazebo berukuran kurang lebih dua kali dua meter. Tidak ada apapun yang membatasi sehingga ketiganya saling memojok dengan tak nyaman seolah mereka sedang berada pada medan perang tanpa perisai. Banyu duduk paling dalam pojok kiri. Kanya duduk di tengah pojok kanan. Sedangkan Baskara duduk di pinggir gazebo dengan kaki terselonjor keluar. Rumah-rumahan kecil ini memang cukup luas, tapi dua pria jangkung dengan tungkai yang ekstra panjang membuatnya menjadi sempit. Oleh karena itu Baskara memilih untuk membiarkan sepasang kakinya bergelantungan dan tubuhnya mengarah ke halaman, menyisakan punggung yang saat ini di tatap oleh Banyu. Sementara itu Kanya diam, ia menatapi Banyu yang masih terlihat sama seperti sebelumnya. Rahang tegas dengan kacamata itu membuat Kanya ingin melompat dan memeluk kekasihnya sekarang. Alih-alih, gadis itu membeku ketika pandangannya bersiboborok dengan sang pacar. Gantinya, ia malah menatap lantai kayu yang terlihat mengkilat seolah ada yang menarik di bawah situ. Sama seperti Kanya, Banyu juga diam. Ia menatapi gentian punggung Baskara, kepala Kanya yang tertunduk, dan lantai tempatnya bersila saat ini. Tak ada yang lebih Banyu inginkan selain masuk ke dalam kamarnya dan berteriak frustasi keras-keras. Banyu sedang tak ingin bicara dengan Kanya, setiap kali memandangi gadis itu, hanya gelombang sedih bertubi-tubi yang ia rasakan. Melihat gadisnya yang berhianat dengan penghiatnya langsung membuat Banyu ingin sekali mengamuk. Hari itu, Banyu tahu kalau Kanya telah m*****i kepercayaannya. Ia berbohong dan teman-temannya pun begitu, menutupi kebohongan Kanya. Beberapa hari yang lalu, Banyu mendapatkan pesan misterius berisi video Kanya dan Baskara yang sedang berjalan bersama di sebuah lorong. Video berdurasi lima belas detik itu menunjukkan beberapa orang berjalan dengan pakaian putih yang berlawanan dengan dua siluet manusia yang amat Banyu kenali sebagai fokusnya. Banyu tahu pasti itu adalah lorong rumah sakit, tapi sedang apa Kanya dan Baskara di sana? Time rame di pinggir video yang menunjukkan tanggal dan jam ketika video diambil membuat Banyu mengrinyit karena saat itu adalah waktu di mana Banyu kalang kabut mencari-cari gadisnya. Dibanding cemburu ataupun kesal, awalnya Banyu merasa lega karena Kanya sudah ditemukan bersama Baskara. Ia takut kalau Kanya dirampok atau diculik (mungkin saja kan?) oleh orang asing. Tentu video itu tak bermasalah, gambar berjalan itu tak menunjukkan gelagat apapun yang membuat Banyu harus khawatir. Ia percaya Kanya. Dan dirinya sadar betul kalau Kanya berhak pergi dengan siapa saja dan ke mana saja karena gadis itu adalah individu bebas, namun dengan catatan bahwa Kanya tetap setia. Ia tak mengindahkan video tersebut hingga akhirnya telepon dari Lintang dan Sendy masuk. Sebuah panggilan yang membuat Banyu mempertanyakan kesetiaan Kanya. Kedua sahabat Kanya mengatakan kalau gadis itu sedang berada dengan mereka dan berbohong kalau Kanya belanja sendirian di supermarket, maka dari itu Kanya tak mendengar dering ponselnya. Tentu itu berbanding terbalik dengan video yang ia terima beberapa menit sebelumnya. Time frame terlihat jelas dan tak mungkin berbohong. Kanya sedang berjalan dengan Baskara di rumah sakit. Ini membuat Banyu bertanya-tanya untuk apa teman-teman Kanya berusaha melindungi Kanya dengan kebohongan? Apa gadis itu sedang melakukan hal tak baik? Tapi di rumah sakit? Siapa yang sakit? Dan pula… apakah ini pertama kalinya Kanya dan sahabat-sahabatnya membohongi Banyu atau sudah kesekian kali? Tiap memikirkan itu kepala Banyu serasa mau pecah. Ia tak ingin percaya kalau Kanya membohonginya. Gadis itu tahu Banyu benci sekali dibohongi dan Kanya malah melakukan hal paling tak disukai. Ia benci memikirkan terus kemungkinan kalau Kanya berkhianat, ia pergi berkencan atau apapun dengan mantan temannya di rumah sakit. Memang tempat abnormal untuk berkencan, tapi bisa saja bukan? Maka dari itu Banyu berusaha menghindari Kanya selama beberapa hari ke belakang. Pria itu berusaha menenangkan pikiran dahulu sebelum menghadapi gadisnya. Tapi kedatangan Kanya dan Baskara malah menyulut lagi api yang sudah hampir ia padamkan. Memikirkan hanya satu motor yang terparkir dan bayangan bahwa mereka berboncengan, Kanya yang bersisian depan belakang dengan Baskara membuat Banyu merasa… sakit? Ada yang tak nyaman di d**a kiri. “Aku tinggal kalian berdua ya. Aku mau beli minum keluar.” Baskara memberi kode pada Kanya setelah keheningan lama yang serasa mematikan. Melangkahkan kaki ke luar pagar, Baskara meninggalkan kecanggungan antara dua insan yang masih belum mau saling menatap, berharap bahwa Kanya bisa menyelesaikan sendiri dengan baik. Agak kaget, Kanya memandangi Baskara yang meninggalnya berdua. Ia memang ingin berkata jujur saja, ia tak ingin berbohong dan berencana meminta testimony Baskara mengenai hari kemarin. Namun  dengan kepergian Baskara, rencana yang sudah ia susun matang-matang jadi buyar. Tapi persetan dengan hal itu, hari ini ia akan jujur. Kanya berdeham, menyiapkan diri untuk bersuara, namun terpotong. “Kamu mau break dulu nggak?” Kanya menatap pria di depannya tak percaya, memastikan pendengarannya tak salah. "Break?" "Iya."  Kanya mengrinyitkan dahi masih tak mengerti. "Maksud kamu apa?" Baskara menghela nafas, pria itu sudah berpikir masak-masak sejak kemarin, sekarang, ia akan mengatakannya. "Ya gitu, jeda. Kita evaluasi diri dan nata perasaan masing-masing. Kita masih pacaran, tapi... semacam istirahat dahulu." Dunia Kanya serasa pecah. Jatuh, hancur berkeping-keping, hanya menyisakan dirinya yang menatap manusia dihadapannya tak percaya. Kanya hanya terdiam. Gadis itu masih mencerna kata ‘break’ yang diajukan sang kekasih. Berharap ada jawaban lain yang mampir ke otaknya selain ‘persiapan untuk putus’. Memang apalagi break itu? Kanya mengambil nafas dalam-dalam, mencari pegangan yang tersisa dalam diri. Ia ingin menangis tapi sekuat tenaga ia tahan. Bibir digigitnya kuat-kuat, berharap dengan begitu ia akan ikut merasa tegar. Otaknya berlari-lari mengejek batin yang awalnya senang dan kemudian menjadi sedih dalam waktu sepersekian detik. Pada akhirnya hanya cicit yang tertahan keluar dari mulutnya, “Kenapa?” Diam. Diam ini begitu menyiksa bagi Kanya. ia menatap sang kekasih yang telah membersamai dua tahunan dengan nanar. Kekasih pertama yang Kanya kira akan bertahan selamanya. Impian yang ia susun pelan-pelan dan hati-hati dalam pikirannya runtuh. Visualisasi masa depan yang ia harapkan dengan Banyu hanya jadi asa. “Aku butuh waktu buat mikir lagi hubungan kita,” Banyu menunduk, menatap lantai yang menjemukan dan tak menarik dibandingkan dengan gadis di depannya. Tapi ia tak bisa menghadapi Kanya, Banyu tahu gadis itu pura-pura tegar dan jika Banyu melihat matanya yang berkaca-kaca, Banyu akan merubah keputusannya segera. Hatinya tercabik melihat Kanya yang bersedih, tapi jalan ini harus diambil. Beberapa hari belakangan Banyu memang lebih memikirkan banyak kemungkinan. Memaafkan Kanya dan pura-pura tak terjadi apa-apa pada hari itu adalah yang paling dominan. Ia juga memikirkan untuk memarahi gadis itu atau mengkonfrontasinya langsung, mengambil jeda ‘break’ adalah jalan terakhir di pikirannya. Namun setelah hari ini Banyu melihat Kanya datang dengan Baskara, pria itu sadar sesuatu. Ia tak boleh mencegah Kanya dalam menentukan pilihan, mungkin gadis itu ingin memilih bersama Baskara tapi terpenjara dengan hubungan pacaran ini. Maka itu Banyu ingin istirahat, break. Supaya Kanya bisa melihat hatinya dengan lebih jelas. “Karena kemarin?” tany Kanya setelah agak lama. Banyu bisa mendengar suara Kanya yang pecah. Gadis itu menahan agar senggukan tak keluar dari mulutnya. “Banyu, aku tuh…” “Aku mau kamu mengeksplor ketertarikan kamu sama orang lain dulu.” Banyu menatap Kanya. pria itu ingin mengambil balik kata-katanya ketika melihat sembabny wajah tersebut. Hidung Kanya memerah dan jejak air mata tercetak jelas di pipi. “Maksud kamu apa ‘mengeksplor’?” suara pecah Kanya bercampur marah. Badan gadis itu bergetar ketika setelahnya ia menyembunyikan kepala dalam kedua tangan. Kakinya tertekuk, sementara punggungnya terus naik turun. “Aku nggak mau kamu ngerasa terjebak sama aku padahal mungkin kamu suka sama orang lain.” “Suka sama siapa?” kanya betul-betul emosi. Ia lupa kalau ini adalah halaman rumah Banyu. Bukan jalanan atau rumahnya yang tak peduli kalau ada gadis dengan keras berteriak. “Entah.” Banyu menunduk lagi. “Tapi selama kita break, aku mau kamu cari tahu sendiri soal diri kamu lebih dalam. Aku pengen kamu memahami kepada siapa perasaan kamu tertambat. Kalau emang bukan aku, aku akan mencoba okay dan perlahan, ngelepas kamu.” “Ini gara-gara kemarin kan?” Kanya kali ini berteriak dengan gagal karena lagi-lagi suaranya pecah oleh tangis tertahan. Banyu mengangguk, membuat gadis di depannya membuang muka menahan tangis keras yang rasanya akan segera meledak. “Kamu marah kenapa? Kamu kenapa sih Nyu? Apa alasan kamu bilang gini?” akhirnya Kanya memberondong dengan sederet pertanyaan. Hatinya makin sakit saat Banyu bicara, tapi ia butuh jawaban. Hubungannya dan Banyu diambang kehancuran, paling tidak yang bisa Kanya lakukan saat ini adalah tahu alasan kenapa hubungannya harus semi-kandas. “Aku tahu kamu pergi sama Baskara.” Deg! Hati Kanya mencelos turun ke bawah. ‘Banyu… tahu?’ “Tapi bukan itu yang buat aku marah. Sahabat kamu bilang kalau kamu pergi sendiri ke supermarket. Mereka bohong.” Banyu mengambil nafas dan menjernihkan pikiran. Ia berusaha menyusun kata agar Kanya memahami dengan jelas alasannya. “Aku sama sekali nggak masalah kalau kamu memang mau pergi sama Baskara. Tapi kebohongan itu buat aku mikir, itu pertama kalinya sahabatmu nutupin aktifitas kamu, atau udah kesekian kali.” Kanya menggeleng, ia berusaha menjelaskan tapi tangan Banyu yang menghadapnya menahan. “Biarin aku lanjutin dulu.” Ujar Banyu sambil menahan air mata juga. “Aku mungkin akan percaya kamu dan ngelupain hari ini kalau kamu njelasin sekarang. Tapi gimanapun juga, di dalam pikiranku akan selalu ada pemikiran soal ‘gimana kalau Kanya suka sama orang lain dan pacaran denganku bikin dia nahan diri?’” “Aku mau kamu bahagia, meskipun nggak sama aku. Akhir-akhir ini kamu kelihatan seneng sama Baskara, aku pengen kamu pelajarin perasaanmu lebih dulu. Sebulan mungkin? Aku juga nggak tahu harus berapa lama kita break. Tapi, kalau kamu udah tahu jawabannya, kamu bisa kasih tahu.” Dengan langkah seribu, Banyu kabur masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Kanya yang menggeleng dan memeluk tubuh sendirian. Gadis itu terus menggumamkan, “enggak” di tempat. Air matanya terus mengalir tanpa henti hingga akhirnya Baskara datang dan terpaksa memaksanya pulang.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN