Apa-Apaan Ini?

2075 Kata
Terbatuk-batuk, Kanya berusaha menutup mulut agar butiran nasi goreng tak termuntahkan. Tenggorokannya tercekat membuat sarapan yang sedang ia telan nyangkut di sana. Tangan kanannya menggapai-gapai gelas air yang jauh dari jangkauan. Matanya sudah berair karena tersedak. “Aduh! Makanya makan pelan-pelan dong nak,” seru bunda menyodorkan air putih. Dengan cepat gadis itu meneguknya. Rasanya ia baru selesai melakukan lari dua ratus meter yang membuatnya ngos-ngosan. Setelah terbebas dari sumpalan, Kanya menatap sumber masalah yang terletak di samping piring berisi nasi goreng sisa setengah. Ponsel hitamnya. Matanya menyelidik, berusaha memastikan kata-kata yang barusan ia baca betul-betul benar adanya, bukan sekedar salah ketik semata. Sudah pasti pengirimnya adalah pria yang kemarin bersua via suara. Baskara.  ‘Sarapan seminggu di rumahku? Apa kita sudah sedekat itu hingga Baskara berani meminta hal aneh semacam ini?’ tanya otak Kanya berulang. Gadis itu memutar ingatan pada perbincangan kemarin sore. Mereka menghabiskan hampir dua jam untuk saling bercerita. Memang topik utama pembicaraan kemarin merupakan hal yang sensitif, soal perasaan, yah… bisa dibilang obrolan kemarin ‘heart to heart’. Tapi tetap saja Kanya merasa hubungan mereka hingga saat ini cuma teman, bahkan mungkin cuma ‘kenalan’. Bukankah meminta sarapan bersama, bahkan di rumah Kanya, hanya bisa dilakukan jika mereka benar-benar dekat? Apa saat ini statusnya dan Baskara adalah sahabat? Menggaruk kepala, ia masih asyik menatap layar ketika sang ibu ikut melongok. “Dari Banyu ya?”  “BUNDA!” terkaget, gadis itu melonjak dari kursi. Wajahnya memerah karena malu. Bagaimana ibunya tahu soal Banyu? “Bukan kok, dari temen lain.” jawab Kanya sambil memeluk handphone kecil di d**a. “Bunda sok tahu ih!” Bersungut-sungut, Kanya mengantongi ponsel dan menghabiskan seluruh sarapannya menggunakan kecepatan kilat. Mata bunda mengikuti pergerakan tubuh anak gadis yang begitu terburu-buru. Kanya kemudian menaruh piring di bak cuci. Tangan bergerak membersihkan dengan segera. Ia ingin kabur dari situ sebelum sang bunda bertanya-tanya lebih lanjut. “Buru-buru amat sih Kanya,” sahut bunda sambil tertawa kecil. “Oh ya, kamu masih pacaran kan sama Banyu?” Kali ini Kanya menghentikan pergerakan tangan tanda kaget. Bagaimana ibunya tahu? Kanya memang beberapa kali membawa pacarnya ke rumah. Memang belum secara resmi memperkenalkan Banyu sebagai kekasih, gadis itu hanya menyebut Banyu sebagai teman laki-laki (boyfriend secara implisit) pada sang bunda. “Nggak usah nyari alasan, bunda udah tahu kok.” bunda melangkah menuju wajan dan memasukkan sisa nasi goreng yang tak keduanya makan ke dalam tupperware. Sisa sarapan biasanya dibawa bunda sebagai bekal makan siang di tempat kerja. Kebiasaan tersebut benar-benar menghemat pengeluaran rumah tangga meskipun awalnya bunda harus menanggung malu karena terus menolak ajakan makan siang dari rekan-rekan. “Bunda kok tahu sih?” tanya Kanya curiga, tangannya telah selesai berkegiatan. Ia menduga kalau Sendy yang sudah tak sengaja membocorkan info hubungannya dengan Banyu. Pria itu memang akrab sekali dengan bunda, mereka betul-betul teman bicara yang cocok meskipun beda umur, dan Kanya agak iri melihat betapa senangnya bunda ketika Sendy datang kerumah. Seperti menyambut anak sendiri, bahkan sering Kanya melihat orang tua tunggalnya lebih memanjakan Sendy dibanding dirinya. Maka itu tak heran jika tiba-tiba Sendy berbicara soal Banyu. Apalagi Sendy memang bermulut besar, kebiasaan buruk yang sering kali Kanya tolerir. “Yah, bunda kan punya ini” menunjuk hati. “Dan ini.” menunjuk kepala. Bunda tertawa kecil dan melanjutkan, “Kanya kan jarang bawa laki-laki ke rumah. Kalau Sendy sih pengecualian. Waktu kemarin Banyu datang, bunda bisa lihat kalau kalian punya hubungan.” Kanya tersenyum masam.  ‘Memang kelihatan ya?’ pikir gadis itu agak malu. “Kalau Kanya memang mau pacarana, bunda enggak ngelarang kok. Cuma bunda minta Kanya hati-hati ya. Jangan seperti waktu itu.” Wanita paruh baya itu memeluk putrinya dari belakang. Ingatan bunda berkelebat ke masa lalu saat sang anak pulang subuh dengan rambut acak-acakan dan menangis keras. Ia harus memanggil tetangga untuk membantu membopong Kanya yang kemudian pingsan ke rumah sakit. Benar-benar kejadian memilukan. “Bunda tenang aja. Banyu orang baik kok.” Kanya menganggukkan kepala tanda setuju. Beberapa tahun yang lalu hubungan Kanya dengan gebetan alias crushnya memang benar-benar membuat gadis itu ‘crush’ alias hancur berkeping-keping. Meskipun tak ingin lagi mengingatnya, perkataan bunda membuat Kanya mau tak mau membawa kembali kepingan memori yang membuat tubuhnya merinding. Sampai lima tahun yang lalu, jika terkenang, memori itu membuat Kanya gemetar hebat. Di tahun pertama setelah kejadian itu, Kanya membutuhkan asistensi bunda untuk dapat pergi keluar. Secara rutin gadis itu menemui psikolog dan psikiater. Beruntung seiring waktu, kondisi Kanya membaik hingga akhirnya ia bisa dinyatakan sembuh. “Oh ya,” kali ini sang bunda melepas pelukan. “Bunda hari ini pulang terlambat. Ada orang pesan gaun pesta yang harus jadi minggu ini. Kamu berani kan bunda tinggal sendiri?” Gadis itu merengut, “Bun, aku udah gede.” “Ya siapa juga yang bilang kamu masih kecil. Maksud bunda biar kamu jaga diri dan rumah.” Jawab bunda mengelus kepala Kanya. “Terutama sih rumah.” “Ih, bunda!” seraya rambutnya diacak-acak, Kanya menampakkan raut cemberut. Ia tahu bunda sedang bercanda, tentu wanita yang melahirkannya ini ingin putri satu-satunya aman sentosa dibanding rumah yang kalau kenapa-napa bisa diperbaiki. “Oh ya bun, aku mau minta izin boleh enggak?” ujar Kanya tiba-tiba. Bunda menatap Kanya penasaran. Gadis itu sebenarnya belum yakin ingin meng-iyakan permintaan Baskara sarapan seminggu di rumahnya. Ia tak ingin terlalu dekat dengan Baskara, ia teringat betapa Lintang membenci pria itu. Belum lagi Kanya punya Banyu yang hingga saat ini saja belum sampai tujuh kali mampir ke rumah. Kanya memang bersimpati pada Baskara, tapi pun ia belum tahu bagaimana nanti teknis agenda ‘sarapan’nya: apa Baskara akan membawa makanan sendiri atau ikut makan apa yang bunda masakkan? Kalau rumahnya jauh bukankah lebih baik makan di restaurant sekitar? Ah, ada banyak pertimbangan di kepala Kanya. Tapi seandainya nanti Kanya (harus) membolehkan, maka setidaknya, bunda harus tahu lebih dulu. “Jadi… ada temen Kanya yang mau sarapan bareng di sini. Tapi… semingguan.” Menautkan jari, gadis itu menatap ragu pada bundanya. “Seminggu? Dia nggak sarapan sama keluarga? Orang tuanya kemana?” tanya bunda terkaget. “Um… orang tuanya pergi kayaknya. Dan… dia nggak suka makan sendirian.” “Oh… Sendy, ya?” tanya bunda riang. “Kalo bocah itu sih, gapapa seminggu di sini. Bunda seneng deh sama dia, lucu banget. Nanti kalo dia sarapan seminggu di sini, bunda masakin yang enak-enak.” Kanya menggaruk kepala bingung. Ia baru teringat kalau bunda tidak pernah bertemu dengan Baskara. Selama kuliah, ia tak pernah megajak orang lain selain Lintang, Sendy, dan Banyu datang ke rumah. Ia tak takut bunda tak memperbolehkan, itu malah lebih baik kalau bunda menolak karena Kanya jadi punya alasan untuk diberikan ke Baskara. Tapi Kanya takut kalau bunda mungkin saja… marah? Wanita yang telah melahirkannya ini mungkin saja kesal karena tiba-tiba Kanya membawa teman numpang sarapan yang padahal belum diperkenalkan. Bunda memang jarang sekali menampilkan emosi tak baik, namun karena itulah amarah bunda tak tertebak dan jauh lebih mengerikan dibanding orang yang suka memaki tiap hari.   “Um… bukan bun. Temen yang lain.” “Lintang?” Kanya menggeleng kembali. Otaknya menyusun kalimat agar ia bisa mengeluarkan nama Baskara dengan cara yang halus. “Bukan.” “Oh, Banyu?” jawab bunda kembali riang. “Kamu akhirnya mau ngenalin bunda ke Banyu ya? Kalian emangnya sudah serius sampai dia mau nyobain sarapan bareng calon ibu mertua?” “Bukan Banyu bunda.” Ada jeda yang Kanya ambil agar ia bisa menarik nafas. “Temen baru Kanya. Namanya Baskara.” Kali ini hening. Beberapa detik rasanya seperti beberapa menit. Bunda menatap Kanya dengan pandangan yang tak bisa ditebak. Tubuh mereka seolah berhenti bergerak dan memproses percakapan barusan. Dalam hati, Kanya menyesalkan bertanya soal ini. Kenapa ia tak langsung menolak Baskara saja? Jadi begini kan? “Itu… laki-laki?” Kaget, Kanya menatap bundanya dengan takut. “Eh, iya bun.” “Kayak Sendy?” seraya menggerakkan jari kelingking, bunda menatap putrinya mengintrogasi. Wanita paruh baya tidak menunjukkan ekspresi tidak suka, kali ini hanya penasaran yang bisa Kanya tangkap dari mata beliau. “Engga bun.” Suara Kanya mencicit.”Tapi kalau engga boleh, gapapa. Kanya juga engga yakin kok kalau bunda ngebolehin. Nanti Kanya bilang kalau…” “Siapa bilang engga boleh?” Kali ini Kanya jauh lebih kaget dari sebelumnya, gadis itu sampai lupa kalimat yang sekiranya akan ia ucapkan. ‘Apa yang barusan bunda katakan?’ batin Kanya bingung. Kanya mencerna kalimat tanya barusan dengan lambat sehingga bunda langsung melanjutkan, “Bunda bolehin kok. Tapi memangnya kamu sudah bilang Banyu?” Gadis itu terdiam. Ia memang belum menceritakan apapun soal kemarin pada pacarnya, apalagi soal permintaan Baskara barusan. Batinnya mengalami peperangan karena di satu sisi bunda benar bahwa Banyu berhak tahu soal hubungannya dengan Baskara yang melesat cepat. Di sisi yang lain, jika Banyu ia beri tahu, ada kemungkinan Banyu marah dan kemungkinan lainnya adalah pria itu tak peduli. Ia tak takut kalau Banyu marah karena toh, ia bisa menenangkan pria itu. Tapi bagaimana jika Banyu tak peduli dan malah membolehkan dengan senang hati? Kanya akan sedih karena berpikiran pacarnya tidak sayang. “Kayaknya Banyu nggak perlu tahu deh, Bun.” Jawab Kanya skeptis. Mulut gadis itu maju memikirkan nanti pacarnya tak ambil pusing soal ini. “Loh, kok kamu kayak gitu.” Wanita paruh baya itu terkaget. Dahinya berkerut tanda tak suka. “Kamu beneran masih pacaran sama Banyu kan?” “Iya bun.” Jawab Kanya masih sambil merengut. “Kamu pacaran Cuma mau main-main kah?” tanya bunda, kali ini nadanya datar. Kanya tersadar kalau kata-katanya tadi membuat ibunya kesal dan bahkan mungkin kecewa. Lagi-lagi ia menyalahkan keputusannya. “Bukan gitu maksud aku bunda. Aku cuma…” “Cuma apa?” Kali ini Kanya diam, ia tak mau mengeluarkan perasaan sesunggahnya pada sang ibu. Meskipun Kanya mengerti kalau bunda pasti bersimpati pada konflik batinnya, namun tetap saja Kanya malu kalau kegelisahannya soal Banyu diketahui bunda. Belum lagi kemungkinan bunda akan menganggap Banyu tidak baik bagi Kanya. Ia tak mau hal tersebut. “Aku cuma bingung cara ngomong ke Banyu.” Jawab Kanya asal. “Kayaknya nggak usah ngasih tahu juga. Lagi pula, aku sama Banyu belum tentu jadi kok bun.” Bohong! Kanya tahu kalau dirinya berbohong. Ia berkali-kali, mungkin puluhan kali, berangan-angan memiliki tiga anak yang berlari di halaman rumah. Ia mencium tangan Banyu yang pergi bekerja dan menatap (calon) suaminya mengendarai mobil ke kantor. Intinya, ia sudah punya bayangan masa depan. Artinya gadis itu begitu yakin kalau Banyu akan membersamai sampai rambut memutih, sampai ajal menjemput, sampai mati. “Kanaya Realisa…”Ah, kali ini Bunda memanggil nama panjang Kanya. Gadis itu tahu kalau wanita di depannya sudah pasti marah dengan jawaban asal-asalan barusan. “Bunda tahu kalau pacaran belum berarti kamu mau mengajak orang itu ke pelaminan. Tapi bunda selalu tekankah dalam hubungan antar manusia, mau itu teman, sahabat, orangtua-anak,” bunda menunjuk diri dan putrinya bergantian. ”Ataupun pacaran, semua butuh komunikasi.” Ah, bunda mulai lagi. Wanita paruh baya itu memang hobi sekali bicara soal hubungan interpersonal manusia. Kanya puluhan kali, bisa jadi ratusan, sudah mendengarkan sang ibu bicara bagaimana sebagai makhluk sosial, komunikasi merupakan kunci penting agar keharmonisan antar manusia bisa tercipta. Mungkin karena bunda sudah mulai tua, bunda makin sering mengucapkan nasihat-nasihat yang sama, sering kali durasinya lebih lama. Dengan wajah bosan, Kanya mendengarkan sang ibu bicara A sampai Z sambil sesekali bernostalgia, mengenang hubungannya dengan ayah Kanya. Hari ini hari Minggu, jadi Gadis itu tak bisa beralasan kalau ia harus berangkat cepat ke kampus. Ini artinya ia harus duduk dan memperhatikan khotbah bunda sampai habis. Terkantuk-kantuk, Kanya mendengarkan ceramah yang menghabiskan waktu hampir satu jam lamanya. “Intinya ya nak, kamu harus membicarakan ini sama Banyu dahulu.” Menghela nafas, Kanya akhirnya mendongakkan muka menatap Bunda. ‘Selesai,’ pikirnya. “Kalau gitu enggak jadi aja deh Bun." Jawab Kanya.  Di sela ibunya berbicara panjang lebar soal komunikasi tadi; Kayaknya sudah memikirkan masak-masak kalau ia akan  menolak permintaan Baskara. Ini jauh lebih mudah dibanding harus  meresikokan hatinya sakit karena Jawaban banyu.  "Loh kok gitu. Bunda udah seneng loh ini kamu mau bawa temen." Kali ini ibunya yang merengut. "Pokoknya kamu ngomong dulu sama Banyu soal ini, terus bilang sama siapa itu? Bas... Baskara! Kalau bunda ngizinin dia sarapan di rumah. " "Tapi bun...  " "Udah lah, bunda tunggu kabar baiknya. Sekarang bunda mau berangkat dulu. Ingat ya jaga rumah! " hanya hanya bisa melongo menatap ibunya yang mengangkat tas dan berjalan melewati pintu depan, meninggalkan dirinya yang masih mencerna titah barusan. ‘Mampus!’  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN