‘Apa susahnya sih ngomong ke Banyu? Cuma tinggal keluarin kata-katanya aja Kanya. Kamu bisa!’
Setelah Bunda pergi tadi, Kanya termenung-menung sendirian di meja tamu. Ia duduk menatap depan, sementara pikirannya berkelana membayangkan banyak hal yang memenuhi otaknya: satu, Baskara akan sarapan seminggu di rumahnya. Dua, kalau dia sarapan di rumah dan bertemu duo sahabatnya; Lintang dan Sendy, bisa perang dingin nanti. Tiga, ini paling penting, ia harus bicara pada Banyu soal kedekatan tiba-tibanya dengan Baskara.
Kanya memang mengenal banyak hal soal Banyu, bisa dibilang hampir seluruhnya. Tapi gadis itu masih sulit menebak jalan pikiran Banyu yang kadang lebih mementingkan logika dibanding dengan perasaan orang lain. ini membuat mereka kadang berselisih paham karena pria itu jarang sekali mau mengalah meskipun orang lain sakit hati dibuatnya. Dua tahun bersama, Banyu tak berubah dan tak berusaha menyesuaikan. Tentu Kanya pun tak ingin mengubah pria yang ia kasihi, tapi tiap kali mereka berdebat, skalanya jadi besar dan keduanya merajuk dengan tak bicara berhari-hari. Jadi, yang bisa gadis itu lakukan adalah langsung mengubah topik jika percik adu mulut terasa di antara keduanya.
Dengan keberanian yang telah terkumpul, gadis itu mengambil handphonenya. Mencari nama Banyu di w******p. Menatap sebentar pesannya yang sejak semalam belum di balas. Kanya menghembuskan nafas, jarinya menari di atas layar. Kata-kata singkat ia rangkai.
…
((PENTING)) Banyu, hari ini bisa ke rumah? Ada yang mau aku omongin nih… bales secepatnya, penting banget. Love you, be…
…
Ia memang harus menambahkan kata ‘penting’ kapital di depan jika ingin Banyu segera menjawab. Ini merupakan kesepakatan bersama mengingat betapa (lumayan) susahnya pria itu dihubungi. Ponsel Banyu memang selalu aktif, namun layarnya jarang sekali diusap. Pria itu lebih suka belajar, menikmati suasana, atau bermain dengan kucing dibanding terjebak menatap kubus kecil yang katanya pintar itu. Media sosial yang terpasang hanya yang dianggap Banyu penting saja. Akun i********:, salah satu platform paling popular, saja tidak akan ia buat jikalau Kanya tidak memaksa dan membuatkan dihadapan wajah.
Berkebalikan, Kanya merupakan pengguna aktif berbagai platform. Mulai dari perpesanan, market place, platform panjat sosial, ia daftarkan diri. Dia tidak bisa dibilang adiktif terhadap internet, tapi gadis itu mengerti betapa pentingnya membuat citra baik melalui media sosial, makanya ia rutin online di platform-platform tersebut.
Was-was, sudah lima belas menit, Banyu belum menjawab pesan Kanya. Suasana hatinya berubah menjadi tak baik, ia kesal.
Dalam perjanjian tak tertulis yang disetujui keduanya, Kanya dan Banyu berjanji akan membalas pesan penting paling lambat lima belas menit setelah pesan diterima di ponsel. Jika lebih dari lima belas menit, maka pengirim boleh menelpon. Ah ya… Banyu tak suka ditelpon, bahkan mendengarkan voice note saja ogah-ogahan. Tentu ini masalah buat Kanya karena ia selalu ingin berdua, ngobrol, bermanis-manisan di telepon dengan Banyu. Protes keras beberapa kali yang dilakukan gadis itu akhirnya membuahkan hasil dan Banyu pun menyepakati beberapa hal, salah satunya perjanjian mengenai pesan penting tersebut.
Sebenarnya sekarang Kanya sudah sah-sah saja bila ingin menelpon Banyu, tapi ia enggan. Ah… kenapa pula ia harus mengatakan ’sah’? Bukankah Banyu adalah pacar Kanya? Gadis itu harusnya berhak untuk menelpon kapan saja tanpa harus ada kesepakatan seperti ini.
Keengganan Kanya berasal dari kebiasaan Banyu yang berulang seperti sekarang ini. Meskipun mereka telah bersepakat sedemikian, Banyu tetap saja tidak pernah kurang dari lima belas menit membalas pesannya. Kanya tahu bila pria itu jarang mengantongi ponsel di rumah, tapi setiap kali ada urgensi yang harus Kanya sampaikan, Kanya harus menunggu, lalu menelpon. Sedangkan bila Banyu sedang butuh, Kanya selalu ada. Ia akan membalas Banyu secepatnya, memberi saran dan bantuan jika dibutuhkan. Tentu Banyu akan menjawab, tapi setelah kurang lebih setengah jam setelah pesan di kirimkan. Pria itu akan meminta maaf dan meredakan emosi Kanya. Meskipun sudah memaafkan, bagaimanapun juga Kanya agak kesal karena teringat hal berulang ini.
“Dasar Banyu nyebelin!” teriak Kanya sebal.
Ia ingin sekali menyingkirkan ponsel dihadapannya yang tak menampakkan tanda pesan baru dari Banyu. Ia ingin sekali memaki pacarnya karena tak menjawab hingga kini. Dan yang paling ia inginkan sekarang adalah… tak memberi tahu Banyu soal rencana Baskara ke rumah.
Jikalau tak meningat perkataan bunda, mungkin ia sudah membiarkan begitu saja ponselnya tergeletak di meja tamu dan ia akan ke depan tv untuk menonton atau menyalakan laptop mungilnya.
‘Banyu perlu tahu,’ begitu ulangnya dalam hati.
Menyingkirkan ego, gadis itu mengambil persegi panjang mungil tersebut, membuka w******p dan men-dial up Banyu.
Biasanya butuh dua sampai tiga kali panggilan sebelum Banyu mengangkat dan memperdengarkan suara. Suara Banyu terdengar di panggilan kedua.
“Halo Kanya?”
“Halo Banyu!” Seru Kanya. “Kok pesanku nggak dibalas sih?.” Merajuk, gadis itu memonyongkan bibir dan mengkerutkan dahi.
“Maaf, tadi aku lagi bantuin ayah nguras kolam. Memang ada apa Nya?”
“Um… hari kamu bisa keluar? Aku butuh ngomong sesuatu yang penting nih ke kamu.” Sedikit berhati-hati, suara Kanya terdengar tak yakin. Gadis itu tahu kalau hari minggu adalah jadwal quality time Banyu dengan keluarganya. Tentu akan sulit meminta pria itu pergi dan menemuinya. tapi hati Kanya tetap berharap.
“Penting banget ya?” tanya Banyu agak tak nyaman. Kedua manusia yang saling tersambung itu menghembuskan nafas panjang karena alasan yang berbeda. Banyu yang bingung karena ia tak terlalu ingin keluar rumah, tapi di sebelah sisi, Kanya bisa betulan ngambek jikalau apa yang ingin gadis itu bicarakan penting. Sedangkan Kanya menghela nafas karena berekspektasi kalau Banyu akan menolak.
“Iya sih Nyu. Aku perlu ngomong sama kamu,” jawab Kanya dengan suara yang mengecil.
“Nggak bisa lewat telpon aja?” tanya Banyu. “Aku lagi bersih-bersih rumah, nggak enak kalau ninggalin.”
Hening… tentu bisa. Pembicaraan mengenai Baskara bisa dilakukan di telepon sekarang juga. Tapi Kanya tak mau. Setelah mengumpulkan keberanian, menunggu balasan Banyu, dan lainnya, masa ia harus bicara soal ini di telepon? Terlebih, ia ingin melihat ekspresi dan raut wajah Banyu saat Kanya memberi tahu nanti.
“Nggak bisa.” Jawab Kanya agak ketus.
“Emang apa sih yang mau kamu omongin?” tanya Banyu. Kanya bisa merasakan sedikit kesal pada nada bicara barusan. Perasaannya pun jadi ikut mendung dibuatnya.
“Ya kalau aku omongin di sini percuma dong. Aku bilang kan ngomong langsung.” Nada bicara gadis itu naik satu oktaf. Kali ini bocor sudah kantung kesabaran yang ia genggam rapat-rapat dan ia langsung menyesali hal tersebut karena sepertinya Banyu kaget dengan reaksi Kanya yang cukup emosional.
“Oke.” Jawaban Banyu membuat Kanya terkejut. Gadis itu diam sejenak menjauhkan ponsel dari telinga.
“Apa?” tanya Kanya memastikan.
“Aku bilang oke, Kanya.” Jawab Banyu sekali lagi. “Tapi sebentar aja.”
Tangan Kanya mengepal ke udara dan berteriak ‘yes!’ dalam hati. Batinnya melonjak-lonjak kegirangan karena Banyu mau menuruti permintaan. Gadis itu tersenyum riang dan berterima kasih pada tuhan untuk kata-kata ‘oke’ dari Banyu barusan.
“Iya Nyu-Nyu. Sebentar doang kok.”
“Sekarang udah nggak marah lagi?” pertanyaan Banyu membuat gadis itu salah tingkah.
“Siapa yang marah?” jawab Kanya dengan nada tinggi malu-malu. Tentu Banyu bisa menangkap kalau pasangan bicaranya sedang kikuk karena ketahuan merajuk.
“Iya iya. Dua puluh menit lagi aku sampai.”
“Kamu nggak ganti baju dulu?” tanya Kanya memastikan. Rumah Banyu dan Kanya berjarak agak jauh, kurang lebih dua puluh menit perjalanan. Oleh karena itu aneh sekali Banyu bilang dua puluh menit lagi akan sampai.
“Nggak usah. Biar kamu bauin ikan dari kolam.” Banyu terkekeh membuat Kanya makin salah tingkah dibuatnya. Inilah sisi Banyu yang ia sukai, sisi yang hanya pria itu tunjukkan ke Kanya dan keluarga Banyu
“Dasar! Kalau gitu cepetan ya, aku tunggu.”
“Iya Kanya.”.