Bicara atau Bertengkar?

1629 Kata
Tak sampai dua puluh menit, suara motor vario yang biasa dinaiki Banyu terdengar dari halaman rumah. Kanya sendiri, setelah mencuci muka dan berganti pakaian layak —bukan daster bolong di ketiak yang semalam ia pakai tidur, langsung duduk di sofa ruang tamu dan menunggu kedatangan sang kekasih. Pria itu datang dengan rambut yang terlihat rapi, kacamata bulat besar, dan kaos oblong serta celana kargo pendek. Siapapun yang melihat Banyu akan setuju kalau pria tersebut sebenarnya tampan, hanya saja tampilan di kampus membuatnya terlabeli kata 'cupu'. Melangkah mantap, Banyu mendekati pintu. Belum mengetuk, kayu papan tersebut terbuka, memperlihatkan wajah Kanya tanpa make up sama sekali. 'Cantik,' batin Banyu. Kanya berdiri berkacak pinggang sambil tersenyum. "Kok lama banget?" Tanya gadis itu bercanda. "Lama apanya, orang kurang dari dua puluh menit kok." Kanya tertawa kecil. Banyu diam-diam mengagumi keindahan Kanya. Mata gadis itu yang menyipit saat tersenyum, suara tawa yang renyah, dan lesung pipi yang cuma sebelah, muncul saat gadisnya merasa bahagia. "Masuk gih," ajak Kanya ke dalam. Banyu melongok, menatap ruang tamu dan mengamati dengan seksama. "Bundamu nggak ada ya?" Tanya Banyu memastikan. "Engga, hari ini beliau masih kerja." "Hari minggu?" Banyu terkaget mendengarnya. Pria itu memang salut pada kegigihan ibu kekasihnya ini. Wanita yang menjadi orang tua tunggal begitu cepat dan dengan sekuat tenaga berusaha menghidupi diri dan anak semata wayang. "Iya. Kata bunda ada gaun pesanan yang belum selesai. Bisa lembur mungkin." Banyu membentuk huruf o dengan mulutnya, semakin terpukau dengan kerja keras bunda pacarnya dalam hati. Ia bercita-cita akan seperti itu, seperti ibu Kanya, berdedikasi sepenuh hati untuk keluarga. Setelahnya pria itu tak berkomentar macam-macam lagi. "Mau masuk nggak?" Tanya Kanya memastikan. Gadis itu menunggu Banyu yang masih diam dan menerawang. "Jangan ah. Bunda lagi nggak ada, kalau nanti ada tetangga lewat, bisa jelek nama bunda dan kamu." jawab Banyu. Seraya menjawab, Banyu mendudukkan dirinya di bangku teras. Mau tak mau, Kanya menyusul dan duduk di depan Banyu, gadis itu menatap pria di hadapannya dengan intens, membuat Banyu merasa agak risih. “Ada apa sih?” tanya Banyu penasaran. “Nggak papa. Aku Cuma merhatiin orang yang abis nguras kolam, tapi  masih rapih aja.” Jawab Kanya tanpa melepas pandangan. Banyu tertawa karena kalimat barusan. Tentu saja Banyu rapi karena ia sempat mengganti baju sebelum menuju rumah Kanya. Bagaimana mungkin ia berangkat dengan celana dan kaos basah yang digunakan untuk bebersih tadi? “Udah nggak usah diperhatiin.” Selesai tertawa Banyu kembali fokus menatap wajah gadisnya yang terheran dengan teman bicara di depan. “Nah… kamu ngajak ke sini, mau ngomong apa?” Tersadar, Kanya diam sejenak dan berusaha mengingat rentetan kalimat yang telah rapi-rapi ia susun di kepala. Kebingungan tercetak jelas di matanya yang bergerak ke kiri dan kanan seolah mencari benda yang bisa membuat amnesianya hilang. “Tenang Kanya. Aku nggak ngeburu-buru kok.” menenangkan, Banyu mengerti kalau perempuan di depannya sedang panik kecil-kecilan karena lupa ingin bicara apa. Kanya menarik nafas pelan. Meskipun Banyu bilang kalau ia akan menunggu, tapi pria itu harus pulang segera. 'Apapun yang terjadi, terjadilah!' Melupakan segala yang ia sudah atur di otak, Kanya bicara. Ia meruntut kejadian kemarin hingga hari ini. Tentang Baskara yang tiba-tiba menelpon, tentang telpon yang berlangsung dua jam, dan tentang apapun yang mereka obrolkan bersama. Kemudian sampailah pada permintaan Baskara soal makan di rumah. Memasuki obrolan ini, Kanya lebih berhati-hati berkata. Ia tak mau Banyu mengira bahwa ia setuju dan malah senang dengan agenda sarapan ini. Ia sendiri malah tak mau dan berharap Banyu menolak dengan keras. Kalau Banyu menolak, bunda pasti juga membatalkan titahnya dan Kanya dengan senang hati akan memberi tahukan Baskara soal ‘Maaf Bas, nggak bisa.’ untuk permintaan sarapan tersebut. "Jadi... gimana?" "Gimana apanya?" Dengan bingung Kanya menatap Banyu yang terlihat sama sepertinya. Alis pria itu naik satu menandakan ia tak mengerti pertanyaan terakhir yg dilontarkan gadis di depannya. Keduanya saling tatap keheranan. 'Apa Banyu betul tak paham, tak peduli, atau bodoh sih?' Teriak Kanya dalam hati. Gadis itu segera menyingkirkan kemungkinan ketiga karena Banyu adalah sosok yang pintar. Kemungkinan pertama juga agaknya tak mungkin karena Banyu Kembali lagi pria itu tidak bodoh. Apa… Banyu tidak peduli? Menegakkan tubuh Kanya kemudian berkata... "Maksud aku tuh... kamu nggak marah atau... apalah,"  Kanya tak mau mengatakan kata ‘cemburu’ karena gengsi. "Kalau Baskara sarapan bareng aku dan bunda?" Gadis itu menatap pria di depannya tajam. Kanya menduga kemungkinan terburuk bahwa Banyu akan membolehkan agenda sarapan besok dan sama sekali tidak merasakan apapun soal kedekatan Baskara dan Kanya. Kalau sampai apa yang ia pikirkan terjadi, ini akan menguatkan dugaannya kalau Banyu memang betul tak peduli. Gadis itu sangat berharap bahwa Banyu mengatakan hal yang berkebalikan dari prasangka buruknya. "Kenapa harus marah?" “Ya… karena aku sama Baskara tiba-tiba deket?” “Ya terus kenapa?” Deg... jantung Kanya mencelos ke bawah. Apa pria ini tak sadar kalau Kanya dekat dengan playboy paling terkenal di kampus? “Kamu nggak cemburu?” Keluar sudah kata itu. Kanya sebenarnya tak ingin mengucapnya karena akan kelihatan kalau dirinya ingin Banyu kesal dan merasa tersaingi oleh Baskara. Diam-diam gadis itu minta maaf pada Baskara karena menggunakan pertemanan mereka sebagai jalan membuktikan perasaan sayang Banyu pada Kanya. “Nggak tuh.” Jawab Banyu. “Bunda juga udah setuju kan kalau Baskara boleh sarapan di rumah, mau aku bilang apa juga kayaknya percuma. Nggak masalah kok, Nya.” Gadis itu hanya mendengar dua kata pertama yang diucapkan sang kekasih, sisanya hanya dengungan karena ia terlalu fokus pada bagian depan. Kali ini jantung Kanya terasa sudah jatuh ke kaki. Menyakitkan hingga rasanya ingin menangis di tempat. ‘Banyu tidak peduli,’ bisik batinnya pedih. Betul ekspektasinya, bahwa Banyu tidak akan cemburu sama sekali. Lihat, bahkan pria itu kini malah bersandar santai. "Jadi ini yang kamu mau omongin?" Banyu menghela nafas pendek. Membuang nafas dengan mudah seolah menepis perasaan Kanya yang sakit ke tanah. "Kamu bisa bilang ini ditelepon, buat apa aku jauh-jauh ke sini kalau ternyata cuma ini yang mau kamu omongin." Perkataan Banyu barusan seolah memberi sayatan baru pada hati gadis itu. Kanya terdiam tanpa kata, ia menundukkan kepala karena tak ingin Banyu melihat maniknya yang memerah. Air matanya sudah hampir keluar, namun dengan hentakan kuat pada kepala, ia tengadah dan menahan lelehan tersebut jatuh di pipi. Dengan segenap kekuatan yang tersisa, gadis itu pura-pura tersenyum dan berkata… “Oke. Aku kabarin Baskara sekarang kalau gitu ya.” “Iya.” Jawab Banyu. Marah, kesal, dan terutama sedih bercampur jadi satu saat ia mengeluarkan ponsel dan mengetikkan jawaban pada Baskara, … Boleh bnget Bas. Besok kamu baw badan ajs, nanti mskanannya dari aku sama bunda. Di rimah cuma berdia sih ya, jadi selama seminggu kamu jdi bgian di keluargaku dan satu-satuny lelali. Wkwkwl Aku tnggu jadwalny ya … Kanya dengan segera mengirimkan tanpa pikir Panjang, beberapa kesalahan ia buat karena terlalu cepat mengetik. “Udah.” “Hmm… oke.” Banyu menganggukkan kepala. “Kamu mau lihat isi pesannya?” seolah menantang, Kanya menunjukkan ponselnya. “Nggak usah. Aku mau langsung pulang, udah ditunggu.” Kanya mengangguk tanpa suara. Mengantar sampai depan, Banyu menyalakan vario yang terasa kecil dibanding ukuran tinggi tubuhnya. Kanya menatap punggung Banyu selagi pria itu melambai dan kemudian menghilang di balik pagar. Ia cepat-cepat masuk ke rumah, mengunci pintu. Berlari menuju kamar, menangis keras-keras. *** Dalam perjalanannya ke rumah Banyu beberapa kali hampir menabrakkan diri ke pengendara lain maupun trotoar karena melamun. Beberapa kali matanya terlihat menerawang jauh entah kemana selama beberapa detik, meninggalkan tubuhnya yang berada di atas motor berjalan. “WOY! NYETIR TU PAKE MATA!” teriak pengendara mobil lain tepat di sampingnya. Lagi-lagi ia hampir menyerampet mobil yang posisinya tadi ada sebelah karena tiba-tiba tubuhnya kehilangan control. Pria itu meminta maaf berkali-kali sampai akhirnya mobil beserta isi-isinya melaju dan meninggalkan Banyu di pinggir trotoar. Pemuda itu memutuskan untuk diam sejenak di situ untuk menetralkan diri, membuat dirinya tenang Kembali, dan menghindari mara bahaya kalau ia Kembali mengendarai. “Kenapa aku bilang iya?” gumam Banyu sambil duduk di bahu jalan. Ia menenggelamkan wajah pada kedua telapak tangan, mengusapnya dengan kasar. Bohong kalau ia bilang dirinya tidak cemburu pada Baskara. Baskara akan makan selama seminggu di rumah pacarnya, Bersama pacarnya, dan pula Bersama ibu sang pacar yang notabene belum tahu kalau Banyu adalah kekasih putrinya. Bagaimanapun juga Baskara memiliki banyak hal yang Banyu tak miliki. Tampan, kaya, dan koneksi luas karena ke-humble-an pada semua orang, siapa yang tak iri coba? Seandainya tadi banyu bilang ‘tidak’ dan tak mengizinkan Baskara untuk sarapan di rumah Kanya apa ia tak akan menyesal seperti sekarang? Tapi jika ia tak mengizinkan, dirinya akan terlihat seperti kekasih pengatur dan pencemburu. Meskipun Kanya adalah pacarnya, gadis itu tetaplah manusia yang punya otonomi sendiri. Kalau Kanya tidak keberatan, kenapa Banyu harus keberatan? Pun bunda pacarnya sudah berkata ‘oke’. Apa ia tetap punya suara jika sudah seperti itu? Ah, Baskara. Teman lamanya yang sudah sekian tahun tak tegur sapa. Ia tahu Baskara berganti-ganti pacar di SMA, namun dengan intensitas yang normal. Tapi semenjak kelulusan dan hubungan yang makin merenggang, Banyu tak dengar lagi kabar pria itu. Entah sejak kapan mulainya, Baskara dilabeli pria b******k dan playboy yang bergonta-ganti kekasih tiap minggunya. Bukan itu saja, Baskara sering terdengar terlibat cek-cok karena merebut kekasih orang lain. Apa kali ini teman lamanya akan mentargetkan Kanya? Pacar dua tahunannya tersebut? Banyu tahu Kanya adalah gadis yang baik dan setia, ia tak akan jatuh begitu saja pada perangkap Baskara. Tapi… tapi seandainya saja itu terjadi, Banyu takt ahu apa yang akan ia lakukan. Kanya, meskipun bukan cinta pertama, namun adalah kekasih pertama dan ia harapkan sebagai yang terakhir. Tapi… kini ia mulai memikirkan kemungkinan bahwa mungkin saja, Kanya bisa saja tak membersamainya sampai akhir. Setelah menenangkan diri dan mengatur pikirannya yang semerawut, pria itu berdiri Kembali. Menaiki motor dan menyalakannya. Ia pulang meski masih ada sejumput kesedihan dalam diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN