Penenang

1555 Kata
‘Aneh, aneh sekali.’ Meskipun ia senang dengan respon Kanya dalam teks yang ia kirimkan barusan, Baskara merasa aneh karena gadis itu seperti memaksakan diri menulis teks ini. Menulisnya pun seperti terburu. Walau baru beberapa kali bercengkrama via teks, tapi Baskara tahu kalau Kanya jarang menyingkat kalimat dan melakukan salah ketik. Itu juga yang membuat Baskara terkagum karena Kanya memberikan perhatian lebih untuk menulis lebih panjang dan mengedit Kembali perkataan salahnya sebelum mengirimkan ke Baskara. Pesan ini terlihat seperti ditulis dengan setengah hati, ditulis karena tak punya waktu, atau sedang dalam tekanan? ‘Apa Kanya sedang terkena masalah?’ Baskara berusaha menepis pertanyaan itu, namun kekhawatiran memenuhi dirinya. Mungkin ini cuma firasat, tapi Baskara betulan ingin menanyakan keadaan gadis itu. Tapi bagaimana jika ternyata itu cuma perasaannya saja? Bagaimana kalau ternyata Kanya sedang asyik makan dan menonton tv di rumah seperti dirinya sekarang ini? ‘Tapi kalau ternyata firasatku benar?’ batin Baskara. ‘Toh tidak ada ruginya juga memastikan.’ Pria itu kini bertekad akan menghubungi Kanya. Tak lama memang mereka kenal, pun tujuan awal Baskara bukan untuk berteman seperti ini, tapi Baskara sudah menganggap Kanya sebagai bagian dari orang-orang terdekat. Tidak sedekat Renata yang selalu menjadi ekor dan bayangan, tapi Kanya lebih mengarah pada kategori teman yang selalu di sampingnya dan bisa ia ceritakan banyak hal. Sama seperti wanita itu… Ingatan Baskara secara otomatis memunculkan sesosok wanita dengan rambut bergelombang panjang sedang memunggunginya. Rambutnya berkibar ditiup angin, melepaskan aroma semerbak mawar yang membuat mabuk kepayang. Wanita bergaun putih itu berbalik, menatap Baskara tepat di mata dan tersenyum. Ah, bahkan setelah sekian tahun, Baskara masih mengingat wanita itu… Baskara menggelengkan kepala segera agar pikirannya Kembali fokus pada Kanya. Bukan saatnya bernostalgia dan memikirkan hal-hal yang sudah lama ia kubur jauh dan ia sembunyikan dalam rimbun hatinya. Tak sampai tiga menit setelah pesan itu ia terima, Baskara membalas. … Kanya, are you okay? … Pria itu mengharapkan Kanya membalas secepatnya. Menghilangkan rasa khawatir berlebihan yang secara tiba-tiba menghampiri. Lima menit sudah terlewat, namun taka da balasan. Baskara mengirimkan teks kedua, ketiga, dan seterusnya sampai sepuluh pesan sudah ia sematkan pada ponsel Kanya yang entah di mana. Ia bertekad akan menunggu lagi sampai Kanya menjawab, namun tak bisa. Instingnya mengatakan kalau ada sesuatu yang membuat gadis itu tak membuka ponsel, tak menjawab bom pesan yang Baskara kirimkan. Segera, Baskara menelpon Kanya. *** Dalam kamar terang oleh cahaya Mentari yang menlusup masuk, Kanya terlihat membenamkan wajah pada bantal. Ia lelah mengalirkan air dari matanya yang dua puluh menit terakhir tak berhenti. Badannya terasa sudah remuk karena tak hentinya sesenggukan bibirnya keluarkan. Tak sadar, sedari tadi ponsel yang tergeletak di meja ruang tamu terus berdering. “Kenapa… nggak… mau… berhenti…” tutur Kanya terbata disela isaknya. Gadis itu berusaha menghentikan hujar di pipi namun tak berhasil. Hatinya masih mendung. Gadis itu tahu kesedihannya ini memang menye-menye. Ini hanya dugaan dan bukan berarti sepenuhnya benar bahwa Banyu tak peduli atau menyayanginya. Tapi seberapapun logikanya bicara, hati Kanya seperti menutup telinga dan berteriak bahwa Kanya tak dicintai. Ia terus menangis sampai rasanya kantung mata telah mongering, suaranya tak lagi keluar. Ia lelah. Matanya menjadi berat, tapi ia tak sanggup membalikkan badan. Kanya tertidur sambil tengkurap. *** Entah berapa lama sudah ia berada pada kondisi seperti ini, tapi Ketika membalikkan badan dan menatap langit-langit, cahaya dikamarnya berganti menjadi oranye. Pertanda bahwa mungkin berjam-jam sudah waktunya terbuang percuma. Dadanya terasa sesak, campuran sakit hati dan terlalu lama ditekan ke kasur. Lehernya pegal, sakit rasanya menangis dalam posisi seperti tadi. Kanya berjanji lain kali ia akan menangis dengan posisi telentang saja, sehingga kalau ia harus tertidur, ia tak akan merasa remuk seperti ini. “Jam berapa sekarang?” gumam gadis itu. Perutnya keroncongan karena siang tadi belum makan. Ia juga belum melakukan rutinitas hariannya, minum teh di sore hari. Setelah mengumpulkan tenaga, tubuhnya bangkit dari tempat tidur. Kakinya melangkah ke dapur dan memasak air untuk membuat teh hangat. “Earl grey saja,” ia memilih jenis teh yang berjajar rapi di rak. Kanya memang selalu minum the di sore hari, sebuah kebiasaan yang diturunkan almarhum ayah sewaktu masih hidup. Bedanya, ayahnya selalu minum teh tubruk biasa, sedangkan Kanya meluangkan waktu untuk memilih dan mengkoleksi banyak jenis teh dari penjuru dunia yang bisa ia dapatkan di toko herbs andalannya. Sebentar kemudian teh yang ia buat telah jadi. Ia duduk dan menikmati tehnya sembari memikirkan kejadian tadi siang dengan lebih jernih. Ia tahu tangisnya tadi berlebihan, ia juga ingat bahwa Banyu sempat mengatakan soal bunda yang sudah membolehkan, jadi Banyu tak bisa berkata apa-apa. Kanyapun membodohi diri sendiri kenapa harus bicara soal ‘izin’ dari ibunya kepada Banyu. ‘Tapi memang kalau ia tak bilang soal itu, Banyu akan mengubah jawabannya tadi?’ batin Kanya. Kakinya dilipat di atas kursi, memeluk lutut dan mengusapnya, “Nggak papa Kanya. Banyu emang kayak gitu, terlalu rasional. Dia peduli kamu. Dia sayang kamu,” bisik gadis itu pada diri sendiri. Di tengah menikmati kesendirian, gadis itu dikejutkan oleh suara dering ponsel. Segera ia mencari si pembuat suara. “Baskara?” ujar gadis itu menyebutkan sang penelpon. “Kenapa nelpon?” Dengan segera ia menjawab panggilan tersebut. “Halo Kanya!” sedikit menjauhkan ponsel dari telinga, Kanya mengrinyit mendengar suara pria di seberang yang agak berteriak. “Halo Bas… ada apa?” “Kamu nggak papa kan?” tanya Baskara. Kekhawatiran bisa Kanya rasakan dari nada pria itu. Tapi kenapa dia harus khawatir? Dia bukan cenayang yang bisa melihat Kanya sekarang sedang sedih, bukan? “Iya, aku nggak papa. Kenapa sih?” tanya Kanya penasaran. “Um…” Baskara bingung harus menjawab apa. “Aku… aku gabut aja. Terus aku chat dan telpon berkali-kali, kamu nggak ngangkat, jadi aku khawatir.” “Hah?” Kanya bingung dengan jawaban Baskara. Tanpa memutuskan sambungan, ia mengecek w******p, menemukan puluhan pesan dan dua belas panggilan yang semuanya dari Baskara. Tapi anehnya… chat pertama Baskara adalah ‘Kanya, are you okay?’. “Kanya, are you okay?” gumam Kanya mengulang teks itu. “Eh,” Baskara agak tergagap karena ketahuan berbohong. “Iya deh aku bohong.” “Hah, apanya?” Keduanya diam dan bingung masing-masing. “Coba kamu jelasin dulu deh Bas.” Kanya berujar sambil bertanya-tanya. “Eh iya, jadi aku lihat chat terakhir –yang sebelum aku chat beruntun, agak aneh. Kamu nggak biasanya nyingkat tulisan. Terus, kamu juga banyak typo-nya. Aku pikir kamu lagi ada masalah jadi keburu-buru gitu nulisnya,” jawab Baskara sambil terkekeh kecut. “Ternyata aku salah.” Kanya terpukau pada cara Baskara mengamati perilaku orang lain. Baskara menyadari hal kecil soal bagaimana Kanya menulis pesan seperti angin yang mengusir mendung dari hati gadis itu. Entah bagaimana mood-nya saat ini mulai membaik. “Yah, kamu nggak salah juga sih. Aku tadi ada masalah dikit.” Kanya ikut terkekeh. “Sama bunda?” “Bukan.” “Banyu ya?” pertanyaan Baskara membuat Kanya diam sejenak. Ia takut menjawab karena tak ingin Banyu mendapat prasangka buruk dari Baskara. “Kalau nggak mau cerita, nggak papa kok.” Lanjut Baskara. Suara itu menyadarkan Kanya dari lamunannya. “Aku mau cerita, tapi… aku harap kamu enggak berpikiran jelek ya soal Banyu.” Harap Kanya disambut oleh kata iya dari Baskara. Keduanya pun menghabiskan waktu mengobrol. Kanya terus mengoceh soal bagaimana perasaannya pada Banyu dan bagaimana Banyu yang kaku terus membuatnya kewalahan dan lelah. Sementara Baskara diam mendengarkan tanpa menyela sekalipun sampai teman bicaranya selesai. “Jadi gitu.” Akhir Kanya. Gadis itu menghela nafas seolah telah tunai tugasnya. “Aku dah pernah cerita belum sih kalau aku sama Banyu tuh satu SMA?” tanya Baskara. Kanya terkaget, ia tak menyangka Banyu bisa berteman dengan orang paling kaya dan paling popular di kampus. Bukannya merendahkan, tapi hal itu sepertinya hamper mustahil mengingat betapa tertutupnya Banyu pada manusia lain. “Aku sama Banyu dulu satu eskul, basket.” Ujar Baskara. “Sekarang kami udah jarang sapa sih, mungkin udah nggak pernah. Tapi dulu, aku lumayan akrab sama dia.” Kanya menganggukkan kepala sambil tetap diam dan mendengarkan Baskara di ujung sambungan. “Kalau aku bilang sih, dari dulu Banyu emang kayak gitu. Dia susah mengekspresikan diri ke orang lain. Dia mungkin terlalu jujur, tapi nggak ada maksud buruk kok dalam perkataannya.” Baskara melanjutkan. “Banyu mungkin juga gitu ke kamu.” Hatinya Kanya sedikit melega. Mendengarkan Baskara bicara soal Banyu dan memberikannya pencerahan, membuat Kanya merasa tenang Kembali. “Makasih ya Bas…” Kanya tersenyum cerah, dan itu bisa dirasakan Baskara meskipun matanya tak melihat langsung Pembicaraan terus berlanjut dan berlarut. Keduanya berhenti ketika adzan magrib menggema. *** “Kenapa tadi aku malah mbelain Banyu ya?” Setelah percakapan itu, Baskara malah bingung sendiri dengan tingkah lakunya. Memang saat ini ia sama sekali tak tertarik lagi untuk menjadikan Kanya sebagai ‘target’. Kanya adalah teman yang harus ia jaga, jadi mungkin wajar kalau ia berusaha menenangkan dengan mengatakan hal baik soal Banyu. Tapi yang membuat Baskara terheran, karena mulutnya secara otomatis membicarakan sikap-sikap Banyu dan otaknya memutar ulang kenangan masa SMAnya dengan pria itu. Seiring dengan perkataannya, dirinya ikut bernostalgia mengingat sesi Latihan, jajan di kantin, dan hal lainnya Bersama Banyu. ‘Apa aku masih menganggap Banyu teman? Setelah lama tak tegur sapa? Kenapa pula aku harus terllibat sama masalah hubungan cinta Banyu?’ batin Baskara bertanya. Lama termenung, pria itu tiba-tiba menyunggingkan senyum sebelah sambil menggelengkan kepala. “Semesta ini lucu sekali. Sialan.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN