Pengenalan tokoh
Ribuan tahun yang lalu, seorang Dewi Pedang bernama Yue Yin melakukan kesalahan besar dikhayangan. Ia membunuh puluhan Jendral Langit karena kesalahan mereka, namun aksinya yang tak kenal ampun membuatnya harus dihukum oleh Kaisar Langit.
“Dewi Pedang, seharusnya kamu memberikan mereka kesempatan untuk memperbaiki sifat mereka," ucap Kaisar Langit sambil menatap tajam Yue Yin.
“Maaf Yang Mulia, hamba sungguh tidak bisa memafkan mereka, karena mereka...” Ucap Dewi Yue Yin terpotong oleh salah satu Dewi yang membencinya.
“Ciiih! Apa arti kesucianmu itu jika kamu membunuh mereka tanpa ampun,” cibir Dewi Lianhua.
“Kamu...” Ucap Yue Yin sambil menunjuk wajah Dewi Lianhua.
“Sudahlah sudah… Tentu kamu sudah tau membunuh sesama Dewa itu hal yang sangat dilarang bukan? Karena kamu melakukan pelanggaran itu, maka hari ini kamu akan menerima hukuman atas nama Langit!“ Ucap Kaisar Langit tegas.
Aula kehakiman Khayangan kembali sunyi. Yue Yin yang merasa dijebak dan selalu dipojokan oleh Dewi Lianhua hanya bisa diam sambil memendam kekesalannya dihati.
“Aku Dewi Pedang siap menerima hukuman langit! “ Yue Yin berucap lantang dan kemudian segera berlutut dihadapan Kaisar Langit.
“Aku suka jiwa kesatriamu itu Dewi, maka bersiaplah," ucap Kaisar Langit mengeluarkan pedang berwarna keemasan.
“Hukumanmu mulai hari ini rohmu akan aku pindahkan kedalam Pedang emas ini, kamu akan terbebas dan bisa kembali kekhayangan jika Pedang ini digunakan dengan baik, serta menumpas kejahatan dan mengukir kebaikan disetiap langkah seseorang yang akan menggunakanmu kelak," ucap Kaisar Langit kemudian membuat segel formasi.
Swuuuung!
Segel tersebut berdengung dan kemudian melesat kedalam tubuh Dewi Pedang, Yue Yin yang telah bersiap tiba tiba rohnya terasa terserap kearah pedang emas yang ada di dihadapan Kaisar Langit.
“Akkhhh!" Yue Yin berteriak saat rohnya telah memasuki pedang emas.
“Mulai saat ini Dewi Pedang akan diberhentikan sementara tugasnya. Dan ia akan diturunkan kealam Fana hingga sosok yang menggunakan pedang yang didiaminya akan melakukan kebaikan, dan menumpas kejahatan," ucap Kaisar Langit.
“Baik Yang Mulia!" Para Dewa, dan Dewi berucap kompak, serta memberikan hormat mereka.
“Yue Yin, saatnya kamu memperbaiki semua dosa yang telah kamu buat,“ ucap Kaisar Langit kemudian membuat segel tangan dan setelah itu pedang emas yang didalamnya terdapat roh Yue Yin menghilang.
Swuuuuuush!
Pedang emas yang didalamnya terdapat roh Yue Yin tiba di Benua Langit, pedang emas tersebut meluncur deras kearah hutan yang sangat sepi.
Jleeeeb! Dhuaaaaar! Pedang emas menancap dan meledakan pohon disekitarnya.
Cerita dimulai Legenda Dewa pedang
Tian Long seorang pemuda berumur tujuh belas tahun kini terlihat sedang memainkan cangkulnya dengan heboh. Gerakan yang terlihat kaku seperti sedang menggunakan gerakan berpedang ia gerakan.
“Longer! Berhentilah bermain main, lihatlah tanah yang kau cangkul itu menjadi berantakan," ucap rekannya bernama Fusen sambil tersenyum kecut.
“Hahaha aku tahu kamu iri dengan gerakanku ini,“ ejek Tian Long terus bergerak mencangkul sambil menggerakkan pinggulnya.
Dipagi harinya mereka terus bekerja hingga tak terasa waktu telah berganti menjadi sore hari. Mereka berdua beristirahat digubuk kecil yang biasa mereka gunakan untuk beristirahat setelah bekerja diladang tani mereka.
“Longer, apakah kamu tidak ingin menjadi seorang kul ... kul …” Ucap Fusen kebingungan.
“Kultivator,” jawab singkat Tian Long.
“Nah itu maksudku," balas Fusen yang menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
“Sen mana mungkin warga desa seperti kita mampu menjadi seorang Kultivator, bahkan mimpi akupun tak berani memimpikannya,“ ucap penuh kejujuran Tian Long.
“Hahaha namun kulihat kamu…” ucap Fusen terhenti.
“Sudahlah aku juga hanya iseng," ucap memotong Tian Long.
Waktu terasa cepat berganti pada malam hari, keduanya kembali kerumah mereka masing masing. Namun sesampainya, dan hendak beristirahat tiba tiba Tian Long merasakan suasana sekitarnya yang hampa, sedikit aroma amis tercium diindra penciumannya. Karena itu, Tian Long tidak bisa beristirahat dengan tenang.
“Kenapa malam ini terasa hambar,“ gumam Tian Long.
Lelahnya kerja dipagi hingga sore hari tak membuatnya lelah sama sekali bahkan mengantuk, akan tetapi suasana hambar tersebut sungguh membuat hatinya merasa gelisah, dan tidak bisa beristirahat sama sekali. Waktu berganti pada pagi harinya, Tian Long masih membuka matanya lebar lebar menatap atap rumah kecilnya.
Tok! Tok! Tok!
“Longer! Longer! Bangunlah mari kita kepasar menjual beberapa sayuran yang telah kita panen kemaren.” suara Fusen.