“Biarkan Aurel pulang denganku.” “Enak saja! Dia datang bersamaku, maka pulangnya harus tetap bersamaku!” “Ck! Tapi dia tinggal bersamaku!” “Memangnya kenapa kalau dia tinggal satu atap denganmu? Tidak ada larangan untukku mengantarnya pulang, kan?” “Tentu saja ada! Kau tidak boleh ... aish! Kau!” “Apa!” Aurel terlihat kebingungan, sedari tadi sibuk menoleh ke kiri dan ke kanan. Mengamati wajah dua orang pria yang tengah beradu mulut dengan begitu menyebalkan. “Mereka berdua apa-apaan, sih? Berdebat sih berdebat saja! Tapi untuk apa coba menyita ke dua tanganku seperti ini?” Aurel melirik ke dua tangannya yang telah di monopoli oleh ke dua pria itu. Seolah dirinya adalah barang rebutan yang siap ditarik dari ke dua sisi. “Pokoknya aku tidak mau tahu, Aurel tetap akan pulang bersam

