Dalam hidup, Aurel agaknya mulai menyadari, bahwa ada sesuatu yang pada hakekatnya memang tidak bisa dipaksakan. Ada saatnya kita harus bisa bersikap menerima apa yang sudah menjadi keputusan setiap orang. Menerima bahwa ada hati beku yang tak bisa ia cairkan lewat sebuah tetesan air mata hangatnya. Ada hati yang sudah berubah menjadi batu nan kokoh, hati yang sudah kehilangan sisi kelembutannya. Saat Aurel mengetahui jika usaha yang dilakukan Bryan berakhir kekecewaan, sejujurnya ia sudah mempersiapkan dirinya untuk tidak menangis apalagi menyesalinya. Tapi perasaan hati siapa yang tahu? Sebab pada kenyataannya air mata sialan ini justru terjatuh juga.. Aurel sadar, tidak seharusnya ia menangisi hal seperti ini. Tidak seharusnya ia membuang air mata berharganya hanya untuk seseorang yan

