SEPULUH - FLARE

1046 Kata
Sesampainya di stand, mereka langsung mengatur ulang stand Grizzle Academy. Dimulai dari mengganti lampu, mengubah penataan barang-barang serta membuat games dari ramuan-ramuan yang mereka bawa. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mengubah suasana stand agar lebih menyenangkan dan menarik. Sesuai dengan diskusi yang dilakukan Carla, Cerland, dan Saex, mereka juga meminta beberapa hal ke pihak penyelenggara. Fasilitas-fasilitas mendasar yang seharusnya diberikan ke tiap stand juga mereka minta. Crefy, Ziera, Loify, dan Lachian yang berjaga sebelumnya juga membantu. Awalnya mereka bingung saat melihat ada banyak barang yang diangkut dari akademi, tapi setelah Saex menjelaskan secara singkat rencananya, mereka sangat bersemangat dan antusias. Perempuan yang tadi mengatakan tentang duo jenius SS masih memperhatikan Saex dan Cerland dari jauh. Lalu, setelah penataan ulang stand Grizzle Academy selesai, ia berjalan menghampiri stand. "Selamat sore," ucap Saex yang segera berjalan ke meja paling depan saat melihat ada orang yang akan datang. Setelah melihat dengan jelas orang yang datang, ia langsung memasang wajah malas. "Aku nggak mungkin salah lihat, Saex dari duo jenius SS," bisik perempuan itu sambil tersenyum. Saex tersentak kaget. Tidak banyak orang yang tahu nama dari duo jenius SS. Orang-orang hanya tahu julukan mereka, entah itu julukan tim ataupun individu mereka masing-masing. "Sepertinya kita perlu perkenalan ulang. Aku Flare, ranking satu dari Froaster School. Lebih tepatnya lawan abadi duo jenius SS di setiap perlombaan. Julukanku memang lawan abadi kalian, tapi aku lebih tertarik bekerja sama dengan kalian," ucap Flare dengan percaya diri. Ia bahkan menunjukkan senyum terbaiknya saking antusiasnya. "Terserah deh, jadi tujuanmu ke sini mau apa?" sela Cerland sebelum Saex mengumpat ke arah Flare. Flare adalah salah satu anak yang ingin dimusnahkan Saex dari muka bumi. Setiap ada perlombaan, nama itu selalu keluar dari guru pembimbingnya. Bahkan tidak hanya guru pembimbingnya, melainkan semua orang selalu membandingkan Saex dan Flare di setiap perlombaan. Rasanya Saex sudah mendengar ribuan atau bahkan jutaan kali nama Flare disebut hanya untuk dibandingkan dengannya. Kalau bisa dimusnahkan, kenapa tidak? Begitu pikir Saex. "Daftar di sini dong," jawab Flare yang dengan cepat langsung mengambil salah satu lembar formulir pendaftaran serta sebuah bolpoin dan menuliskan namanya. Saex ingin menarik kertas yang diambil Flare, tapi terlambat. "Namanya sudah terisi, berarti tidak bisa dibatalkan. Grizzle Academy selalu kekurangan murid, tidak mungkin kalian menolak aku," ucap Flare dengan penuh kemenangan. Ia tersenyum bangga karena Saex tidak bisa menghentikannya. Flare sebenarnya tahu sebenci apa Saex padanya karena Flare juga dulunya benci dengan Saex. Tidak jauh beda dengan keadaan Saex, Flare selalu mendengar dirinya dibanding-bandingkan. Bahkan seharusya Flare yang lebih benci dengan Saex, karena walaupun dibanding-bandingkan, Saex selalu menang dari Flare sehingga Flare yang harus menanggung malu. Lebih tepatnya harus menanggung hinaan tambahan karena setelah berkali-kali bertanding, ia selalu kalah dari Saex, seolah-olah Flare tidak belajar dari kekalahannya. Padahal Flare selalu meningkatkan dirinya dan belajar dari kekalahannya yang sebelumnya, hanya saja Saex selalu belajar satu langkah lebih baik dari Flare. Setelah itu, anak-anak Grizzle Academy lainnya mengambil alih bagian pendaftaran, sedangkan Carla, Cerland, dan Saex hanya duduk diam. Sebenarnya tidak benar-benar duduk diam, hanya saja mereka tidak memiliki jobdesc khusus. Ide yang diusulkan Saex membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Ditambah lagi dengan adanya Saex dan Cerland yang dengan baiknya memasang lencana peringkat mereka lalu menjadi pajangan stand Grizzle Academy sehingga ada beberapa anak dengan peringkat tinggi yang tertarik untuk mendaftar. Sebagian besar orang yang lewat stand Grizzle Academy memilih untuk mengajak Saex dan Cerland berbicara, karena rasanya aneh melihat anak-anak peringkat tinggi di sekolah yang bagus malah memilih masuk akademi yang bahkan tidak mendapat peringkat sama sekali. Saex dan Cerland tidak banyak berbasa-basi, mereka hanya menjawab sesuai dengan pertanyaan yang dilontarkan orang-orang. Karena mereka juga tidak berniat memaksa orang untuk mendaftar di Grizzle Academy, tujuan mereka adalah untuk mendapatkan orang yang benar-benar mau di Grizzle Academy dengan menujukkan keberadaan Grizzle Academy, bukan dengan paksaan atau kata-kata manis. "Totalnya berapa anak?" tanya Saex sebelum mereka mengemasi barang-barang dan kembali ke akademi karena waktu pendaftaran sudah berakhir kemarin. "Lima belas termasuk kalian," jawab Ruby setelah menghitung formulir pendaftaran yang telah diisi. Carla, Cerland, dan Saex langsung bersorak setelah mendengar jawaban Ruby. Tujuan awal mereka untuk mendapatkan jumlah anak yang cukup untuk mengikuti Pertandingan Akademi Tahunan sudah tercapai, sekarang mereka harus membuat rencana baru untuk selanjutnya. *** "Jadi apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Flare ketika Carla, Cerland, dan Saex sudah kembali ke akademi. Awalnya Carla, Cerland, dan Saex hanya diam karena sedikit bingung padahal mereka tidak mengatakan apa pun ke anak-anak yang baru saja mendaftar. "Anak-anak Grizzle Academy dengan semangat menceritakan semuanya," jelas Holy, salah satu anak baru. Carla, Cerland, dan Saex langsung mengangguk-angguk, mereka langsung teringat kejadian-kejadian sebelumnya. Anak-anak Grizzle Academy memang suka bercerita, pikir mereka. "Entahlah, masih berpikir," jawab Saex tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun. "Gimana kalau kita kumpul dulu malam ini, lalu perkenalan masing-masing. Cari tahu kekuatan sama kelemahan satu sama lain, lalu diskusi," usul Carla tiba-tiba. "Ide bagus, aku kabari yang lainnya. Mau jam berapa?" tanya Flare dengan antusias. "Setelah makan malam, jam delapan aja," jawab Carla setelah beberapa detik berpikir. "Oke, sampai ketemu nanti," ucap Flare yang langsung pergi sambil menarik tangan Holy. Sedangkan Cerland dan Saex menatap Carla dengan penuh arti. "Akhirnya Carla bisa berpikir," canda Cerland untuk menghilangkan suasana canggung yang tiba-tiba saja muncul. "Sejak kapan aku tidak bisa berpikir!?" protes Carla sambil mencubit lengan Cerland. Sedangkan Saex hanya geleng-geleng melihat kelakuan mereka. "Gimana kalau kita balik ke kamar dulu, istirahat. Nanti malam kan masih harus diskusi panjang," ucap Saex sebelum Carla dan Cerland melanjutkan pertengkaran mereka. "Oke," jawab Carla dan Cerland yang langsung beranjak lalu pergi ke kamar masing-masing. Saat Carla membuka kamarnya, ia mendapati tiga orang anak baru yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Seketika itu juga Carla kembali ke kenyataan dan sadar betapa miskin akademinya. "Carla, kami mau keluar kok. Jadi pakai saja tempat tidurnya," ucap Lyra sambil beranjak dari tempat tidur diikuti oleh dua anak lainnya. "Terima kasih," ucap Carla sambil sedikit mengangguk lalu berjalan ke tempat tidur yang sudah panas setelah dipakai tiga orang. Carla hanya bisa menarik napas dengan berat. Apalagi asrama di Grizzle Academy tidak memiliki alat pendingin sama sekali, mereka memanfaatkan posisi akademi yang berada di tengah hutan dan letaknya agak tinggi sehingga sedikit lebih dingin dari wilayah lainnya. Ya sudahlah, tidak ada yang bisa kulakukan juga untuk yang ini, pikir Carla dalam hati sambil berusaha untuk tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN