CHAP 11 – Pacar
“Al, ntar jemput mama ya. Kita udah lama gak jalan bareng.” Pinta Felicia di telepon.
“Ya ma. Ntar Aldo jemput ya.” Aldo segera menutup teleponnya dan bersiap menjemput mama tersayangnya. Hari ini hari minggu, saatnya bermanja ria dengan mamanya tersayang.
Setelah sampai di mansionnya, Felicia ternyata sudah bersiap di gerbang agar tidak membuang waktu berjalan – jalan Bersama Aldo.
“Morning mama sayang.” Sapa Aldo sambil membuka pintu untuk mama tersayang. Ia membuka pintu depan untuk duduk di sampingnya.
“Mama duduk di belakang aja Al.” Felicia langsung membuka pintu belakang sendiri membuat Aldo sedikit curiga, tapi mungkin mamanya mau bersantai, jadi tidak Aldo pikirkan lagi.
Dalam perjalanan ke mall, tiba – tiba Felicia meminta berbelok ke komplek sebelah. Aldo pikir, Felicia akan menjemput temannya. Tapi semakin lama semakin curiga, karena tempat yang dituju sepertinya Aldo kenal. Y aini rumah Citra. Ya ampun… Aldo merasa di jebak.
Aldo sangat kesal dengan Felicia yang tiba-tiba menyuruhnya menjemput Citra di rumahnya. Aldo sangat tidak menyangka kalau Citra harus ikut pergi dengan Felicia. Alasannya Felicia adalah untuk mendekatkan Aldo pada calon istri. Rasanya lelah mendengar ocehan Citra di dalam mobil. Seperti radio rusak yang bernada manja dan membuat Aldo mual.
“Tante, aku seneng banget looh… diajakin jalan bareng gini. Sama Kak Aldo tersayang lagi.” Ucap Citra manja.
“Tante juga senang donk Cit, Aldo juga pasti senang, yak an Al?”
“Ya ma…” Jawab Aldo terpaksa.
“Tu bener kan Cit, Aldo memang senang di dekat kamu, Cuma dia agak malu-malu aja.”
“Idih…kakak sayang koq malu-malu gitu si…aku makin sayang deh kak.” Citra bergelayutan di lengan Aldo.
“Sorry, lagi nyetir, boleh singkirkan tangan kamu gak? Apa mau kecelakaan aja?“ Kata Aldo ketus masih fokus menyetir. Malas mendengarkan ocehan Citra.
“Duh..maaf ka, terbawa suasana…rasanya pengen peluk…Bolehkan tante??” Manja Citra.
“Bolehlah…..Aldo kan calon suami kamu. Oh ya…kita ke mall PP yah…mau cari baju tunangan kamu sama Aldo.”
“Cittttttttttttttttttttttttt” Mobil tiba-tiba direm oleh Aldo.
“Aldo…kamu kenapa???” Tanya Felicia kaget.
“Mama tadi ngomong apa? Tunangan?” Tanya Aldo kaget.
“Iya donk, papa dan mama sudah berbicara dengan orang tua Citra, dan mereka setuju. Kalian akan tunangan 3 bulan lagi. Makanya kita harus persiapkan semuanya.”
“Aldo…………….Duh……” Aldo terdengar putus asa.
“Aku tau, kakak seneng banget kan mau tunangan sama aku..sampai sulit berkata-kata.” Kata Citra yang membuat Aldo bertambah mual.
“Bukannya ini terlalu cepat ma? Aku kenal sama Citra aja belum lama. Gimana bisa tiba-tiba tunangan??” Protes Aldo.
“Ya cinta kan bisa datang belakangan. Yang penting bibit, bebet, bobot sudah terpenuhi. Lama kelamaan juga kamu bisa cinta sama Citra. Citra ini gak ada kekurangan apapun loh. Tipe kamu banget kan , Do.” Jelas Felicia.
Aldo sudah pusing dengan kata-kata Felicia dan Citra. Rasanya ingin segera kabur dari mobil.
Ketika sudah sampai mall, Aldo langsung memisahkan diri dari Felicia dan Citra dengan alasan mau ke toilet, saat ia berkeliling, Aldo melihat Nath. Terasa ada secercah harapan untuk Nath membantu. Aldo langsung menarik tangan Nath, sambil bersembunyi di pilar depan salah satu toko di mall. Aldo tau Nath memiliki banyak ide, dan mungkin saja ia dapat membantunya keluar dari masalah ini.
"Selamatkan aku Nath!!!" Bisik Aldo.
"Ya elah pak...kamu lagi..kamu lagi.. dunia sempit banget. Apa juga yang mau diselamatkan…ada monster di sini? Alien? Hantu? Memangnya aku AVENGERS ???"
" Please help me Nath !” Mohon Aldo. (Tolong saya Nath)
“Aku udah mentok banget di sini. Mau kabur gak bisa."
"Bantuan apa? Bapak habis hamilin anak perempuan orang? Dikejar suruh tanggung jawab?" Cerocos Nath tak berhenti.
“Ya enggak lah…mana mungkin aku hamilin anak orang. Iniiiii tolong jauhkan aku dari Citra. Dia lagi sama mama aku berbelanja. Tadi mama bilang, aku di suruh temenin dia belanja, ternyata...dia mengajak Citra."
"Citra kan calonmu pak...Masa kabur gitu sih. Seksi semok gitu, malah kabur. Banyak cowok yang suka model begitu kan pak. Koq bapak aneh banget si."
"Please...kalau kamu bantuin saya...Gak semua orang suka model begitu kali Nath. Please!! Bantu saya lepas dari pertunangan dengan Citra." Aldo dengan tangan memohon pada Nath. Ekspresinya sangat ketakutan sekaligus jijik dengan Citra. Nath juga bingung apa yang harus ia lakukan untuk membantu. Tapi karena janjinya Aldo, maka mau tak mau harus diusahakan.
“What??? Tunangan pak? Congrats donk kalau gitu.” Nath langsung menjabat tangan Aldo dan tersenyum lebar. Sebenarnya Nath tau, Aldo tidak mungkin senang bertunangan dengan Citra, tapi ya mau bagaimana lagi kan.
“Nath, saya mau lakukan apa yang kamu minta. Saya benar-benar tidak tahan. Help me Please.” Aldo tambah memohon. Wajahnya sudah terlalu panik.
"Janji!!!!!!"
"Janji banget Nath."
"Sekarang mereka dimana?"
"Itu di Hermes." Aldo menunjuk Toko Hermes yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Ya udah tungguin mereka keluar lah. Nanti bapak ikuti saja apa yang aku lakukan. Okeh."
"Sip Nath.."
Nath juga bingung apa yang harus ia lakukan untuk membantu Aldo, mungkin harus memancing dulu Citra dan Felicia untuk mendatangi tempat mereka. Akhirnya Aldo chat ke mamanya, mengatakan bahwa ia menunggu di sekitar Dior (Toko di mall tersebut).
Sesaat Aldo melihat bayangan mamanya dan semakin tegang memegang tangan Nath.
"Aldo...Al..." Panggil Citra. Citra sudah mengetahui baju dan bentuk tubuh Aldo, jadi tidak mungkin dia salah orang.
"Nath, harus apa kita...mak lampir datang....." Aldo merasa terdesak.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung menarik Aldo dan medekatkan bibirnya dengan bibir Nath. Hanya tinggal sekitar 3 cm. Nath memberikan jarak agar terlihat mereka sedang berciuman. Berpura – pura seharusnya tidak akan meninggalkan efek buruk. Pikir Nath.
"Aldo...." Panggil Felicia.
Aldo langsung menarik tangan Nath dan menempelkan bibirnya pada bibir Nath. Awalnya hanya menempel, tapi lama kelamaan, entah mengapa Aldo langsung melumat bibir Nath dengan bersemangat. Nath yang bingung hanya bisa berdiam diri menerima ciuman Aldo. Ciuman yang membuat lutut Nath lemas.
Nath tadinya kaget dan tidak menggerakkan bibirnya tetapi lama kelamaan ia menjadi terpancing karena rasa mint dari bibir Aldo. Nath seperti tersihir untuk membuka mulutnya dan membalas ciuman Aldo. Entah apa yang ia pikirkan karena Nath sama sekali tidak dapat berpikir mengenai hal lain selain ciuman Aldo yang terus berputar di kepalanya. Aldo semakin memperdalam ciumannya, saliva Nath dengan Aldo bertukar, rasanya mereka tidak dapat dipisahkan, dan terlalu menikmati ciuman yang sangat nyaman dan tanpa beban.
Mereka seakan tuli dan tak peduli pada orang yang memanggil dan melihat mereka berciuman, dunia seakan milik Aldo dan Nath saja. Entah mengapa Nath sangat menikmati berciuman dengan Aldo hingga tersadar akan teriakan Felicia. Rasanya Nath tidak ingin melepaskan ciuman ini. Mungkinkah ini yang dinamakan KETAGIHAN....
"Aldo...kamu udah gila...Masa melakukan hal tak senonoh di tempat terbuka seperti ini. Siapa wanita ini" Sergap Felicia. Nath yang masih terkejut langsung mundur ke belakang Aldo.
"Ini pacarku ma....."
"Pacar? Sejak kapan kamu punya pacar? Tunggu sebentar....Ini bukannya asisten kamu?????????" Tanya Felicia curiga.
"Iya ma...dia asisten aku di kantor.... Tapi di luar kantor, dia kekasihku."
"Kamu...siapa nama kamu?" Tanya Felicia ketus sekaligus kaget. Felicia memegang dadanya, takut tiba – tiba terkena serangan jantung.
"Nathania bu." Nath langsung memberikan tangannya untuk berjabat dengan Felicia, Felicia langsung menjabat dan mulai berpikir sejenak tentang Nath.
"Tante, ini wanita yang saya ceritakan kemarin, yang suka morotin Aldo." Ucap Citra tiba – tiba, tidak senang dengan Felicia yang masih menjabat tangan Nath dengan erat. Ia takut jika Felicia tiba – tiba merestui Aldo dan Nath.
"What..morotin??" Tanya Aldo yang merasa aneh dengan kata-kata Citra. Felicia langsung terkesiap dengan kata morotin. Ia langsung melepaskan tangannya yang masih berjabatan dengan Nath.
"Iya kan....nich cewe yang waktu itu tumpahin minuman ke bajuku karena heels patah. Abis itu dia mintain kamu beli sepatu mahal. Ini aku ada buktinya." Citra langsung membuka foto di hanphonenya dan menunjukkan pada Felicia.
Felicia menjadi geram akan perkataan Citra. Ia tak percaya apa yang telah ia lihat dan dengar. Wanita cantik dan sederhana di depannya adalah wanita matre yang suka morotin anaknya. Benar – benar Felicia tidak dapat menerima hal itu. Selain itu, rasanya malu sekali melihat anak sendiri berciuman dengan wanita di tempat umum. Walaupun sekilas, ia merasa senang, karena tuduhan bahwa Aldo gay sudah bisa ia buktikan bahwa anaknya bukan gay. Dan mungkin Aldo sudah mulai move on dari Diana. Tapi yang Felicia tidak senang adalah, wanita yang membuat Aldo move on bukanlah wanita yang ia sukai sebagai tipe menantunya, wanita matre. Citra yang lebih mendekati tipe sebagai menantunya. Mau tidak mau, Felicia harus protes terhadap Aldo karena menantu tidak sesuai keinginannya.
"Ya ampun Aldo...mama udah kasih kamu wanita cantik dan tidak kurang apapun, kamu malah deketin wanita matre begini????"
“Aku yang mau beliin dia sepatu itu ma. Bukan Nath yang minta.” Bela Aldo.
“Ya tetep aja dia ini gak sekelas dari kita Al. Sudah…sekarang kita pulang, kita harus bicarakan ini semua secara private. Mama gak mau jadi tontonan di mall karena kelakuan kamu ini.”
“Ya ma, aku pulang. Tapi aku anterin Nath pulang dulu ya.” Bujuk Aldo.
“Gak ada istilah antar – antar. Pulang sekarang ikut Mama!! ” Paksa Felicia, dan di sampingnya ada Citra yang tersenyum puas.
“Ok…Nath, kamu pulang sendiri gak apa-apa kan?” Tanya Aldo sambil memegang tangan Nath.
“Gak apa-apa pak.” Nath menggelengkan kepala. Tiba-tiba Aldo mencium keningnya.
“Hati-hati di jalan, I love you.” Ucap Aldo dengan suara lembut. Dan ucapan I love you ini sukses membuat Nath terasa mabuk kepayang dan pipi bersemu merah.
oooOOOooo
Sailendra Mansion
“Pa… ini marahin anakmu!” Teriak Felicia saat melihat Aditya, suaminya.
“Kenapa dimarahi ma?? Anak udah gede koq.” Jawab Aditya. Sementara Aldo tertunduk seperti ketahuan mencuri.
“Ini anak ciuman sembarangan di mall, bener-bener gak senonoh.”
“Ciuman sama siapa ma?”
“Itu aspri nya dia yang baru.” Felicia manyun menceritakan kejadian tak menyenangkan kepada suaminya.
“Wanita atau pria?” Aditya menyahut dengan penasaran. Karena gossip terdengar bahwa Aldo adalah gay.
“Wanita lah…masa pria.” Felicia tambah kesal. Apakah Aditya masih menganggap Aldo gay? Pikir Felicia.
“Aduh….bagus anakku…..Papa bangga sama kamu…Artinya status jomblo kamu sudah berakhir kan.” Ucap Aditya bangga.
“……..” Aldo bingung dengan situasi tiba-tiba papanya mendukung.
“Koq malah bangga sih pak…Ini anak kan udah bikin malu. Di depan Citra lagi. Mau taruh dimana muka mama…..”
“Lah, mama harusnya seneng donk Aldo bisa ciuman sama wanita.. Mama kemaren nich bilang kalau Aldo jadi gay, artinya sudah terbukti kalau Al bukan gay. Mama jangan uring – uringan lagi dengan status gay Aldo ma. Kita harus merayakan ini. Akhirnya dia bisa kecantol sama wanita.”
“Mama memang senang mengetahui kalau Aldo itu bukan gay. Tapi masalahnya wanita yang ia cium itu pa………”Felicia sangat putus asa. Memang ia senang kalau Aldo tidak gay, tapi Wanita yang ia inginkan adalah Citra bukan Nath yang matre.
“Masalahnya dimana ma?”
“Ih si papa nih….. Itu wanita gak sekelas sama kita.”
“Ya udah pasti dia gak sekelas donk maaa….Kalau sekelas, artinya dia udah tua. HAHAHA…” Tawa Aditya meledak, dan Aldo tersenyum mendengar candaan papanya.
“Dih, malah bercanda si papa nih. Ga selevel…bukan HORANG KAYA kayak kita.” Jelas Felicia.
“Ya elah…jaman apa ini ma…pake acara HORANG KAYA…. Yang penting dalam berpasangan itu, saling mencintai, bukan level dan kaya. Kayak papa dan mama….”
“Wanita itu matre. Citra udah kasih bukti sama mama pa… Wanita itu morotin Aldo” Felicia tambah geram. Suaranya makin melengking.
“Kaga matre ma, itu Aldo beliin karena sepatu dia patah. Kan mama tau sendiri sepatu Nath patah.” Bela Aldo.
“Patah si patah, tapi kan gak harus beli sepatu yang mahal banget.” Protes Felicia sambil mengerucutkan bibirnya.
“Sepatu yang patah itu sama harganya dengan sepatu yang dia beli ma. JIMMY CHOO…” Jelas Aldo.
“JIMMY CHOO…. Sebelumnya itu sepatunya kamu yang beli apa bukan?” Selidik Felicia. Rasanya tidak mungkin seorang Aspri bisa membeli barang semahal itu. Berapa pula gajinya bisa membeli barang semahal itu.
“Itu mama gak lihat outfit dia dari atas sampe bawah ma? Itu barang branded semua. Dan Nath itu baru bekerja sama Aldo 2 minggu. Dia juga apartemennya sebelahan sama Aldo. Nath itu dari Australia ma sebelumnya jabatan dia juga sudah tinggi di sana. Dia juga bukan orang yang susah.” Aldo memperjelas semuanya. Aldo sangat kesal karena Nath dibilang matre.
“Sebelah apartemen kamu??????” Felicia semakin mendekat penasaran.
“Iya ma, masa mama gak percaya. Ntar barengan sama Aldo aja ke apartemen kalau gak percaya.”
“Nanti mama akan sidak kamu. Ini kamu sebelahan kan, bukan 1 unit yang sama?” Tanya Felicia lebih dekat dan penasaran.
“Kaga mah, di aitu tetangga aku.”
“Sudah… sudah.. yang penting sekarang Aldo sudah ketemu Wanita yang dia suka. Biar dia jalanin dulu. Biar dia rasain. Jangan jadi gay lagi. Gitu kan Al.” Aditya melerai dan menenangkan suasana.
“Ih….kalian ini papa dan anak sama aja….gak mau dukung mama.” Felicia kesal dan langsung pergi ke kamarnya. Sementara itu, Aldo dan papanya langsung berbicara santai.
“Eh..ciuman depan umum…apa kamu gak terlalu ekstrim?” Tanya Aditya.
“Hahaha…sebenernya Al juga malu pa pas sadar.”
“Jadi ciumannya gak sadar?” Goda Aditya.
“Sadarlah…..tapi…keenakan sampe gak liat tempat umum sampai dengar teriakan mama… HAHAHAH.”
“Emang kamu gak suka sama si Citra Citra itu…yang dijodohin mama?”
“Kaga doyan pa….LEBAY banget anaknya. Manja. Suara sok imut. Nempel melulu kayak perangko.”
“Hahah…terus ASPRI kamu gimana?” Tanya Aditya semakin penasaran.
“Hahaha…itu cewe ketus sepanjang sejarah.”
“Lah….koq cewek ketus dipacarin?”
“Haha…cewe ketus yang satu ini agak beda sih pa. Entah kenapa menarik perhatian banget buat Al. Gak pernah ada cewek kayak gini sepanjang sejarah hidup Al kecuali Diana.”
“Diana? Anak Dito?”
“Yes pa. Cuma dia yang aku sayang. Tapi sejak ada Nath, entah kenapa rasa untuk Diana semakin memudar.”
“Jadi selama ini kamu bukan GAY kan?”
“Ya enggak lah…Aku tuh masih lurus bener pa.. Cuma aku gak bisa hilangkan trauma kehilangan Diana. Itu aja.”
“Sudah 7 tahun Diana meninggal Al, kamu memang wajib move on. Jangan berlarut-larut dengan masa lalu. Diana pasti mau kamu move on juga.”
“Ia pa, Al tau. Dan yang sekarang yang bisa buat Al move on itu cuma Nath.”
“Ya udah, papa akan berbicara sama mama, biar gak usah memaksa menikahkan kamu sama Citra.” Ucap Aditya menenangkan Aldo.
“Thanks a lot pa. Aku pulang dulu ya pa. Mau kasih penjelasan sama Nath.” Jawab Aldo sambil memeluk papanya.
“Ok…Wish all the best Al.”
Aldo langsung bergegas ke apartemen untuk memberikan Nath penjelasan.
See you next chapter yaaa... Love you
Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga
Muach...muach..muach..
Siez