Chapter 23- Salah Sangka
Setelah rapat bersama dengan para direksi selesai, Felicia mengajak keluarganya dan juga Nath untuk makan siang bersama, sekaligus ia ingin mengetahui lebih detail tentang kehidupan Nath hingga saat ini. Apakah Nath pantas untuk menjadi menantunya atau tidak. Apalagi setelah ia mendengar obrolan Aldo dan Aditya mengenai kedekatan Aldo dengan Nath yang sudah melewati batas, jadi untuk mengantisipasi semua hal yang terjadi, takutnya Nath hamil duluan, jadi sebaiknya ia mengetahui tentang informasi calon menantunya lebih mendalam.
“Apa sebenarnya Nath sudah hamil tapi tidak memberitahukan kepada Aldo? Atau dia sendiri tidak tau bahwa dirinya hamil? Jikalau Nath hamil, aku harus menjaga calon cucuku sendiri dengan hati - hati.” Ucap Felicia dalam hati.
Terus terang Felicia mulai menyukai Nath yang banyak membuat perubahan untuk diri Aldo, sudah tidak dingin seperti dahulu kala, terutama hubungannya dengan Aditya. Sudah sangat jauh berbeda dimana ia mendengar canda tawa antara ayah dan anak yang sangat ia rindukan.
“Nath, ikut makan siang bersama kami ya!” Ajak Felicia selagi jalan keluar dari ruang rapat bersama dengan Aldo dan Aditya. Para lelaki menghentikan langkahnya dan menengok ke arah Felicia karena kaget dengan ucapan Felicia. Tidak banyak wanita yang ingin Felicia ajak bersama, terutama makan bersama keluarga intinya. Hal ini seperti penerimaan menantu atau ospek menantu. Aldo dan Aditya saling memandang dan tersenyum melihat perubahan tiba - tiba Felicia.
“Baik Bu.” Nath tersenyum simpul dan mengangguk menuruti permintaan Felicia. Bingung juga tiba - tiba diajak makan bersama.
Akhirnya Aditya langsung menggandeng Felicia untuk pergi bersama, sementara Aldo hanya bisa berjalan di sebelah Nath, karena tidak enak jika terlalu mesra di hadapan kedua orang tuanya apalagi karyawan kantornya. Ia tetap harus menjaga profesionalitas kerjanya walaupun bersama kekasihnya sendiri.
Mereka akhirnya pergi ke restoran michelin di kawasan kuningan. Restoran dengan dekorasi sangat indah walaupun minimalis. Ambience yang dirasakan pertama kali oleh Nath adalah kehangatan karena semua lampu berwarna kuning tapi tidak terlalu terang. Dekorasi yang sangat indah dengan bunga minimalis. Western Vibe. Seperti itu rasanya begitu masuk ke dalam resto ini.
Salah seorang pelayan tersenyum menyapa di depan pintu masuk.
“Selamat siang Nyonya Felicia.”
“Private room Nina!” Jawab Felicia kepada pelayan tersebut.
Langsung pelayan yang bernama Nina mengarahkan Felicia dan tamu ke arah private room. Membuka pintu dan mempersilahkan duduk. Ia langsung memberikan buku menu kepada para tamunya. Air putih langsung disajikan di meja masing - masing tamu.
“Ini resto saya, gak usah bingung mau pilih apa. Kamu pilih aja yang kamu suka Nath!” Perintah Felicia.
“Pantas saja pelayan tadi terasa sangat menghormati tante Feli, ternyata ini resto nya sendiri.” Gumam Nath dalam hati.
“Saya steak tenderloin medium rare, mashed potato.” Jawab Nath singkat setelah melihat isi menu di resto ini.
“Hei, kamu jangan makan yang rare, sebaiknya yang well done saja!.” Tegur Felicia.
“Kenapa ma?” Aldo penasaran melirik mamanya sendiri. Bingung tiba - tiba mamanya mencegah seseorang makan dengan steak yang medium rare.
“Kamu...hamil bukan?” Felicia langsung mengarahkan pandangan kepada Nath yang sedang minum. Seketika mulut Nath langsung menyemburkan air karena kaget tiba - tiba Felicia mengatakan seperti itu.
“Sa… saya gak hamil koq bu.” Nath tergagap setengah tersedak sambil di tepuk punggungnya oleh Aldo.
“Kamu yakin kamu gak hamil?” Felicia mencari kebenaran di mata Nath yang masih terkaget. Ia bingung antara Nath bohong atau tidak, matanya tidak dapat terbaca sama sekali.
“Mama….koq mama bisa mikir gitu sih!” Aldo langsung melihat ke arah Felicia. Ia sendiri kaget kenapa mamanya bisa berpikir seperti itu. Sementara pelayan di sana disuruh keluar oleh Felicia dengan gerakan tangan menyuruh mereka pergi dari ruangan.
“Bukannya hubungan kalian sudah melewati batas?” Felicia makin menyelidiki.
Nath terdiam dan kaget sendiri. “Kenapa tante Felicia bisa berpikir seperti itu, apakah Aldo sudah menceritakan tentang detail hubungan mereka? Benar - benar Aldo mulut ember.” Gerutu Nath dalam hati. Ia langsung melirik Aldo minta penjelasan.
Aldo sendiri melihat lirikan Nath yang meminta penjelasan kepadanya. “Mama koq bisa ngomong gitu? Lewat batas gimana ma?” Aldo pura - pura bodoh. Takut jika dimarahi Nath, takut jika ia dikatakan mulut ember oleh Nath. Sementara Aditya hanya senyum - senyum saja sambil minum air putih yang ada di mejanya.
“Alah...gak usah tutupin lagi. Mama tuh denger kamu ngomong apa sama papa. Dasar kalian gak jujur sama mama! Kamu tuh harusnya perhatiin orang hamil donk! Masa orang hamil di kasih makanan yang bisa saja mengandung salmonella gitu. Orang hamil harus makannya yang sudah matang saja!” Cerocos Felicia. Sementara Nath menunduk. Ia sendiri bingung, bagaimana caranya hamil? Kemarin saja ia baru menyelesaikan tamu bulannya. Hari ini ia baru bebas dari tamu bulanannya.
“Kamu beneran hamil Nath?” Aldo jadi memandang Nath dengan senyum bingung. Tidak tahu harus mengatakan apa. Aldo merasa tidak pernah berbuat aneh - aneh pada Nath, bagaimana caranya Nath bisa hamil? Sementara Aditya, semakin mendekatkan diri ke mejanya, benar - benar ingin tau, apakah ia akan segera punya cucu atau tidak.
“Hamil? Enggaklah. Aku baru kemarin selesai tamu bulanan koq!” Nath menjelaskan dengan polosnya. Ya tidak mungkinlah ia hamil, mereka tidak melakukan apapun. Hanya sebatas ciuman masa bisa hamil. Sanga aneh.
“Apa…….koq bisa? Apa kamu kurang tokcer ya, Al?” Kata - kata polos Aditya membuat semua orang memandangnya. Benar - benar papa yang polos.
“Papa… apa - apaan sih!” Protes Aldo. Merasa tersinggung dengan kata tokcer. Bagaimana bisa tokcer, cobain aja belum. Hadeh...
“Kamu nyobain berapa kali?” Tanya jahil Aditya sambil sedikit berbisik.
“Gak pernah. Masih aku jaga baik - baik ini perempuan pa! Ini perempuan galak banget kalau aku udah mulai nakal. Gimana caranya bisa hamil !!!” Aldo protes. Sementara Nath langsung memerah wajahnya, dan Felicia ia tertawa terbahak - bahak dengan Aditya. “Aldo bener - benar polos atau dia gak mikir kalau yang dia omongin itu ada di samping nya dan orang tuanya sendiri. Benar - benar tidak tahu malu!” Protes Nath dalam hati sambil menunduk malu. Benar - benar memalukan pacarnya yang satu ini.
“Awwww sakit Nath!!! Jangan cubit sembarangan.” Aditya dan Felicia semakin tertawa terbahak - bahak saat pinggang Aldo dicubit oleh Nath. Nath benar - benar kesal kepada Aldo. “Tunggu saja balasanku di apartemen nanti!” Bisik Nath di telinga Aldo. Aldo langsung bergidik ngeri mendengarkan ancaman Nath.
“Sudah… sudah.. Karena kamu gak hamil, ya sudah makan apapun boleh! Sekarang kita pesan makanan dulu, sudah waktunya makan!” Felicia menghentikan semua kegilaan yang disebabkan olehnya sendiri. Salah sangka yang membuatnya malu sendiri. “Sepertinya tadi kurang mendengarkan pembicaraan Aldo dan papa secara lengkap. Aduh bodoh bikin malu!” Felicia merutuki diri sendiri di balik senyumnya.
Setelah menyelesaikan makan siang bersama, akhirnya Aldo dan Aditya kembali ke kantor, sementara Felicia mengajak Nath untuk menemaninya terlebih dahulu.
“Mama pinjam Nath dulu. Kamu bisa urus pekerjaan kamu sendiri kan?” Nath bingung kenapa ia harus pergi dengan Felicia. “Apakah mau menyelidiki lebih dalam lagi? Atau jangan - jangan tante Feli tau sesuatu? Atau jangan - jangan aku disuruh resign dan menyerah untuk Aldo?” Pertanyaan berkecamuk dalam hati Nath tapi ia tetap berusaha tenang.
“Ngapain sih ma pinjam Nath segala. Kantor Aldo lagi banyak kerjaan nih!” Protes Aldo memanyunkan bibirnya sendiri. Nath dan Aditya tersenyum melihat Aldo yang tiba - tiba bisa menjadi manja.
“Idih ini anak, pinjam sebentar aja gak rela!” Protes Felicia sambil menjitak kepala Aldo.
Aditya dan Nath tertawa terbahak - bahak melihat Aldo dijitak, baru kali ini melihat Aldo begitu manja sampai dijitak oleh mamanya sendiri. Kemana Aldo yang cool dan datar? Sepertinya hilang dibawa angin.
“Ya udah!! Janji ya ma, jangan apa - apain Nath. Dia harus kembali dalam keadaan utuh!” Rajuk Aldo menjadi tambah manja terhadap Felicia. Sementara Felicia sangat senang, anaknya sudah mulai manja lagi terhadap dirinya. Aldo yang dingin sudah mencair, dan itu karena Nath.
“Anak bawel. Sana kerja! Cari duit yang banyak, biar mama bisa belanja.” Felicia mengusir Aldo dan Aditya agar cepat pergi, karena ia mau berbelanja, jalan - jalan dan saling bercerita dengan Nath, calon menantunya.
Aldo dan Aditya akhirnya melenggang pergi dari resto, tetapi baru berjalan beberapa langkah, Aldo berbalik dan mendekati Nath. CUP! Aldo langsung mengecup kening Nath dan berlari ke arah papanya lagi. Nath langsung tertunduk malu dengan pipinya semakin memerah. Aldo semakin romantis tapi ia malu karena Aldo melakukannya di depan kedua orangtuanya. “Aldo tidak tau malu dan tidak tau tempat!” Gerutu Nath dalam hati. Felicia, tentu saja hanya bisa tersenyum melihat perubahan dalam diri Aldo.
oooOOOooo
“Nath, kita jalan - jalan dulu ya! Kamu mau cari apa gak? Atau lagi mau belanja apa ga?” Tanya Felicia di dalam mobil. Nath yang menyetir mobilnya karena pak sopir disuruh pulang oleh Felicia. Ia ingin lebih dekat dan tidak ada yang mendengar apa yang dibicarakan dengan Nath.
“Belum ada sih Bu. Oh ya, ini kita mau pergi kemana ya?” Nath tersenyum sambil menyetir. Fokus mengendarai mobil sedan mewah milik Felicia. Mobil Jaguar hitam keluaran terbaru di tahun ini Jaguar F type Coupe 3.0 dengan Plat B 371. Mobil ini hadiah anniversary pernikahannya dengan Aditya.
“Jangan panggil Bu! Panggil Mama ! Sama kayak Aldo. Hmm kita ke Pacific Place aja ya.” Felicia membenarkan panggilan Nath kepadanya. Nath hanya bisa tersenyum.
“Kamu jangan sungkan sama saya ya Nath. Entah kenapa saya senang dengan kamu, apalagi melihat perubahan pada diri Aldo.” Felicia tersenyum jika ia mengingat kejadian hari ini. Hatinya menghangat melihat perubahan besar dalam diri Aldo. Aldo tidak dingin dan murung lagi. Setidaknya Aldo sudah melupakan Diana, dan hanya Nath yang bisa melakukannya. Suka ataupun tidak, Felicia tau, bahwa ia harus menerima Nath dengan kasih sayang agar anaknya kembali menjadi Aldo yang ceria dan manja.
“Iya Bu eh Mama.”
“Ntar pas sampai, kita ke cafe dulu yuks. Mama mau tanya banyak nih sama kamu.”
“Iya ma.” Nath hanya bisa menurut dengan perkataan Felicia.
Akhirnya mereka sampai di Pacific Place dan langsung menuju Cafe yang berada di outdoor mall tersebut. Mereka memesan kopi untuk santai bersama.
“Jadi Nath, mama mau tanya banyak tentang kamu dan Aldo.”
“Baik ma.” Nath menyesap kopinya sedikit demi sedikit.
“Orang tua kamu dimana?” Felicia ingin mengkonfirmasi kebenaran yang diberikan oleh detektifnya dengan Nath secara langsung.
“Sudah meninggal ma. Kecelakaan pesawat.”
“Maaf Nath.”
“Oh gak apa - apa ma. Sudah lama berlalu.”
“Kamu punya saudara?”
“Ada ma, tapi sudah meninggal. Tante saya.”
“Saudara kandung?”
“Tidak ada ma, saya anak tunggal.” Nath mulai terbiasa memanggil Felicia dengan sebutan mama.
“Kamu tinggal dimana selama ini sebelum bertemu dengan Aldo?”
“Di melbourne ma. Setelah kecelakaan orang tua saya, saya dibawa oleh tante ke melbourne, tapi setahun kemudian tante meninggal karena sakit.”
“Baik, kamu sudah tidak sendiri sekarang, sudah ada kami. Dan saya rasa saya mulai sayang sama kamu.” Felicia menenangkan Nath. Kasihan tepatnya terhadap nasib Nath.
“Terima kasih ma.” Nath hanya bisa tersenyum getir mendengarkan penuturan dari Felicia. Getir karena harus berbohong terhadap orang yang begitu baik terhadapnya. Getir juga karena seperti mendoakan orang tuanya meninggal, mamanya sendiri.
“Dulu di melbourne bagaimana hidup kamu?”
“Ya untungnya papa masih ada tabungan jadi saya masih bisa bersekolah dan hidup di sana, selebihnya untuk makan dan keperluan lain, saya melakukan part time di resto gitu.”
“Hebat kamu Nath. Anak yang kuat.” Felicia merasa sedih sendiri mendengarkan penuturan kehidupan Nath. Air matanya tak sengaja lolos mengenai pipinya. Betapa getir kehidupan Nath selama ini.
“Terima kasih ma.” Nath tersenyum.
“Oh ya...sekarang bagaimana hubungan kamu dengan Aldo?”
“Baik ma. Aldo sangat baik dan saya sayang Aldo.”
“Apakah kamu berencana menikah dengannya?”
“Saya belum tahu ma. Hubungan kami baru sebentar, sulit rasanya mengatakan menikah atau tidak karena kami masih dalam masa pengenalan.” Jelas Nath disambut Felicia yang mengangguk - angguk tanda mengerti.
“Saya tidak mau kamu mempermainkan hati Aldo dan meninggalkannya begitu saja. Hati Aldo pernah hancur karena orang yang ia sangat sayangi meninggal. Entah Aldo sudah pernah mengatakan hal ini pada kamu atau belum. Namanya Diana.” Lirih Felicia mengingat Diana.
“Saya pernah dengar nama Diana, tapi tidak tau keseluruhan cerita tentang Diana.” Nath yang sebenarnya adalah Diana, ia tahu apa yang terjadi antara hubungan Aldo dan Diana, tapi ia harus mengetahui cerita lainnya yang akan disampaikan oleh tante Felicia. Melihat dari sudut pandang orang lain.
“Baik akan saya ceritakan.” Ucap Felicia yang akan memulai cerita mengenai Diana dan keluarganya. Nath duduk diam mendengarkan cerita Felicia mengenai dirinya sendiri.
See you next chapter yaaa... Love you
Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga
Muach...muach..muach..
Siez