Chap 24 - Tentang Diana

2651 Kata
Chapter 24 - Tentang Diana  “Baik akan saya ceritakan.” Ucap Felicia yang akan memulai cerita mengenai Diana dan keluarganya. Nath duduk diam mendengarkan cerita Felicia mengenai dirinya sendiri. “Sebenarnya Diana adalah anak dari sahabat saya. Kami sudah menjodohkannya dengan Aldo.” Felicia melamun mengingat Diana, anak perempuan yang sangat ia sayangi, anak perempuan yang sangat ia damba bisa lahir dari rahimnya sendiri. “Diana sangat pintar memasak, mungkin Lani, mamanya selalu mengajarkannya untuk masak. Ia anak yang manis dan perhatian khususnya kepada Aldo. Aldo yang anak tunggal selalu saja bermain dengan kakak adik itu. Marco dan Diana.” Nath terdiam mengingat kembali masa lalunya yang bahagia bersama Marco dan Aldo. Tapi sayang Diana meninggal dalam kecelakaan 7 tahun lalu bersama Lani dan Marco di hari yang sama dengan meninggalnya Dito. Dito katanya meninggal karena serangan jantung. Aldo mendengar desas desus bahwa Papanya yang menyebabkan kematian keluarga Diana. Aldo menanyakan perihal kebenaran kepada papanya, tetapi papanya  hanya diam dan tidak bisa menjawab apapun. Aldo sangat kecewa dengan papanya yang tidak berbuat apapun untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Aldo.” Felicia mulai terisak mengingat kejadian 7 tahun lalu. Sangat menyakitkan. Tidak terasa air mata Felicia pun mulai mengalir mengingat masa lalu. Nath mengelus bahu Felicia untuk menenangkannya serta memberikan kekuatan untuk mencurahkan isi hatinya.  “Aldo….ia semakin hari semakin mengurung diri. Semakin depresi dan dingin terhadap lingkungan sekitarnya.” Felicia menunjukkan wajah sedihnya menceritakan kehidupan Aldo saat di tinggal Diana. Pahit mengingat sikap Aldo yang seperti orang depresi. “Ia sempat cuti sekolah selama 1 tahun karena depresi yang ia alami. Untuk mengobati depresinya, bahkan kami sudah membawanya ke psikiater, tetapi tidak ada perubahan yang cukup berarti, hingga kami menjadi tidak bisa berbuat apa-apa dan Aldo semakin menjadi orang pendiam dan dingin. Ia menghindari semua orang yang ada di dekatnya. Aldo curiga dengan semua orang, bahkan ia tidak memiliki teman hingga saat ini.” Lanjut Felicia. “Tapi apakah benar Pak Aditya menyebabkan kematian keluarga Diana ma?” Tanya Nath penasaran. Ia harus tau yang sebenarnya, agar tidak salah sasaran dalam membalaskan dendamnya. “Mama masih gak tau akan hal itu. Semua kebenaran seakan tertutup. Bahkan mama menyewa detektif untuk menyelidiki hal ini. Tapi semuanya nihil. Tidak ada yang menunjukkan bahwa papa terlibat dalam kematian keluarga Diana. Bahkan perusahaan wijaya, perusahaannya keluarga Diana, dibeli sama papa karena ia beralasan agar tidak jatuh ke pihak lain. Mereka merintis bersama perusahaan itu, walaupun akhirnya Dito, papanya Diana, memutuskan untuk memisahkan diri dari group Adit.” “Terus bagaimana caranya bisa Pak Adit dituduh sebagai orang yang menyebabkan kematian keluarga wijaya?” Nath semakin penasaran. Felicia menghela nafasnya sendiri. Napas yang terlalu berat untuk menceritakan hal yang hampir ia lupakan. “Ada orang yang memfitnahnya. Begitu kata detektif yang kusewa. Adit sendiri tidak membela diri saat difitnah semua orang. Ia hanya mengurung diri setelah tau bahwa Dito dan keluarganya meninggal. Mamapun tidak diperbolehkan masuk ke ruangannya.”  “Apakah pak Adit tidak mencari tahu siapa yang memfitnahnya?” “Mama juga tidak mengerti. Pintu seakan tertutup. Sangat sulit menggambarkan ekspresi Adit saat sahabatnya meninggal dan keluarganya juga ikut meninggal dalam kecelakaan. Setiap kali mama tanya tentang kebenarannya, papa hanya bilang, itu masa lalu. Sudah tidak perlu diungkit lagi. Tapi rasanya ada yang mengganjal dalam hati mama.” “Apa itu ma?” “Mama ingin membersihkan nama papa dari fitnah ini. Entah papa terlibat atau tidak, mama ingin mengetahui cerita sesungguhnya. Tidak dari desas desus yang selalu menyudutkan papa.” “Apakah sudah berhasil mendapatkannya ma?” “Belum Nath. Semua detektif yang mama sewa, hasilnya nihil. Seperti ada yang menutupi dan terlalu jenius.” Felicia memegang dahinya, sakit bila memikirkan apa yang terjadi. “Pasti Mr.X.” Pikir Nath dalam hati. “Oh ya… lanjut tentang Aldo. Entah mengapa setelah 1 tahun kepergian Diana, Aldo menjadi dingin, tapi bisa marah secara agresif, dan ia paling tenang jika sudah berada di rooftop kantor SJH group dan apartemen yang ia tempati sekarang. Jadi kami memutuskan agar Aldo tinggal di apartemen saja agar ia bisa tenang.” “Apartemen? Kenapa ma?” “Mungkin di sana ada kenangannya dengan Diana. Diana biasanya menginap di apartemen itu bersama Marco dan Aldo. Dan di rooftop adalah tempat Aldo dan Diana bersembunyi jika melakukan kesalahan. Mereka bertiga berbagi rahasia di rooftop itu.” Nath mengangguk. Ia sangat mengingat apa yang mereka lakukan di rooftop dan di apartemen. Mereka bertiga selalu bersama.  “Terkadang mama melihat Aldo seperti berhalusinasi berbicara sendiri dengan kedua temannya itu. Mama sangat ketakutan Aldo menjadi gila karena depresi yang ia miliki. Jadi mama mengajaknya untuk pergi keluar negeri untuk melupakan masa lalu. Untuk mengobati Aldo.” “Sampai keluar negeri ma?” “Yes Nath. Kami di luar negeri selama 4 tahun. Sekalian Aldo melanjutkan sekolahnya di sana.” “Apakah ada perubahan diri Aldo setelah pergi dari Indonesia?” “Hmm…. hanya sedikit. Aldo sudah tidak terlalu murung, tapi dia tetap tidak mau berteman dengan siapapun, apalagi berhubungan dengan wanita manapun, sehingga sampai kemaren masih ada yang bilang bahwa Aldo adalah gay. Mama jadi takut sendiri.” “Aldo enggak gay koq ma. Dia masih straight.” Nath tersenyum menjawab kebingungan dan ketakutan Felicia. “Hahah...iya mama tau dan sudah dibuktikan bukan.” Felicia tersenyum jahil pada Nath. “Yang penting saat ini, mama mau kamu tidak meninggalkan Aldo sendiri dengan alasan apapun. Karena mama tidak mau Aldo kembali depresi seperti dahulu lagi. Sudah cukup 7 tahun yang menyakitkan. Bantulah Aldo menjadi orang yang bahagia.” Pinta Felicia sekalian menggenggam tangan Nath. “Baik ma, Nath akan mencoba membahagiakan Aldo.” Hati Nath berkecamuk mendengarkan penderitaan yang dialami oleh Aldo. Ia sangat merasa bersalah harus menjebak Aldo seperti ini. Berbohong pada orang yang ia sayangi atas nama balas dendam. Rasanya seperti makan buah simalakama, dimakan mama mati tidak dimakan Aldo mati. Benar - benar situasi yang sangat menyulitkan hidup Nath. Seharusnya ia tidak terlibat dalam balas dendam bodoh ini. “Terima kasih Nath. Mama akan belajar menyayangi kamu dan merestui kamu berpasangan dengan Aldo karena hanya kamu yang mampu membuat hidup Aldo kembali ceria.” Felicia langsung memeluk Nath dengan erat. Bersyukur karena ada wanita yang membuat anaknya berubah total menjadi ceria kembali. Aldonya telah kembali seperti dahulu. Tidak terasa sudah 2 jam Nath berbincang dengan Felicia, sudah waktunya ia pamit untuk pulang ke kantor, tapi Felicia menolaknya. Ia masih ingin bersama Nath. Entah mengapa rasanya seperti anak perempuan terkasihnya sudah kembali. Diana yang ia sayangi sudah kembali, tapi dalam bentuk perempuan lain yaitu Nath. “Yuks kita ke supermarket dulu. Beli perlengkapan hidup Aldo?” Ajak Felicia sambil menggandeng tangan Nath. “Perlengkapan Aldo?” Nath bertanya dengan bingung. “Haha...bahan makanan buat Aldo. Mama yakin tiap hari kamu masakin buat Aldo kan?” “Iya ma.” Nath tersenyum malu sendiri.  “Mama senang ada yang perhatikan Aldo, apalagi masakin masakan sehat terus buat dia. Dia itu benar- benar suka fast food. Mama takut dia jadi sakit.” “Iya ma, nanti Nath masakin buat Aldo ya tiap hari.” Akhirnya Nath dan Felicia berbelanja banyak kebutuhan sehari - hari untuk makan Aldo dan Nath, mungkin kulkas Nath akan penuh sesak seketika jika langsung dimasukkan semua belanjaan dari tante Felicia. Dan Felicia memutuskan untuk sekalian mengantarkan Nath kembali ke apartemen, tidak untuk pulang ke kantor.  Selama perjalanan, Felicia hanya bisa senyum - senyum sendiri, tidak menyangka bisa langsung dekat dengan calon menantu pilihan Aldo, bukan calon menantu pilihannya. Sepertinya pilihannya pada Citra adalah salah. Ia harus segera membahas pembatalan perjodohan ini dengan keluarga Citra. Felicia sudah terpikat dengan kebaikan, kelembutan dan kepintaran Nath. Sepertinya Aldo saat ini tidak salah pilih untuk mencari calon istrinya sendiri. “Mama ikut kamu ke apartemen ya… kita buat makan malam sama- sama. Dari dulu mama sangat suka anak perempuan dan masak barengan sama mama. Ok Nath.” Bujuk Felicia untuk masak bersama dengan wajah seperti puppy face, sangat manja. Berbeda dengan Felicia yang awal tidak menyukai Nath dan memandang rendah. “Iya ma, mama mau masak apa?” Nath sangat sabar dengan Felicia. Memang sudah lama ia tidak terlalu dekat dengan Felicia, mungkin saat ini bisa mengulang kembali masa lalu. Tante Felicia yang ia sayangi, selalu membuat dapur berantakan dan makanannya menjadi gosong. Maka dari itu, ia sangat senang jika Diana membantu untuk memasak, karena masakan Diana selalu enak dan dipuji seluruh keluarganya. “Hmm...nasi liwet pake ikan teri, terus tambah perkedel, tambah bakwan jagung, terus sambel dadak tomat dan lalapan. Slurpp enak banget nich.” “Waw...sunda banget ini ya masakan. Hahaha...” Nath teringat masa lalu, jika tante Felicianya sangat senang dengan masakan sunda begitu juga dengan om Aditya. Jika membuat masakan sunda di rumah, porsinya harus dilebihkan karena mereka bisa menambah porsi menjadi tiga kali lipat. “Kesukaan mama itu sih. Lezaatt.. Kamu jangan lupa w******p sama Al ya, sekalian ajak papa Adit buat makan bareng di apartemen. Ok!” Pinta Felicia berseri - seri mengingat apa yang akan ia masak bersama Nath. “Ok ma. Nanti sampai apartemen saya chat Aldo.” “Ya udah, mama aja deh. Kamu fokus nyetir biar cepat sampai.” Felicia langsung menelepon Aldo agar maksudnya cepat tersampaikan.   “Al, pulang cepat ke apartemen ya! Ajak papa sekalian. Mama dan Nath mau masak nich!” Perintah Felicia ditelepon. “Hah.. apartemen? Dari tadi mama sama Nath terus? Kasihan amat Nath ma...Biarin dia istirahat deh. Masa masih di suruh masak.” Protes Aldo. “Dih.. Nath aja mau. Kenapa kamu yang protes sih.” “Iya ma...nanti Al sama papa cepet pulang deh. Mama yang masak atau Nath?” “Nath masak lah, mama siapin bahan aja sama bantuin Nath.” “Bagus deh.. Nanti gosong semua kalau mama yang masak.” Aldo meledek mamanya sendiri. “Dasar anak kurang ajar!! Beraninya kamu menghina mama. Udah dulu. Mama kesal sama kamu!!!! Cepet pulang, atau Nath nanti mama sita!” Ancam Felicia. Sebenarnya Felicia senang Aldo bisa bercanda lebih banyak daripada biasanya. Aldo dinginnya sudah hilang, diganti Aldo yang jahil seperti dahulu. Nath hanya bisa tersenyum melihat Felicia yang mencoba mengancam Aldo dan akhirnya cekikian sendiri.    oooOOOooo   Setelah sampai apartemen, Nath langsung mengganti baju kerjanya menjadi baju santai karena akan memasak hidangan yang banyak, tentu saja menggunakan baju kantor tidaklah nyaman. Tanpa disangka, Felicia ingin meminjam baju Nath agar ia bisa menjadi santai. Akhirnya Nath membuka lemarinya dan membiarkan Felicia mencari baju yang ia inginkan. “Waw, bajunya pada bermerk semua nih. Sepertinya bukan brand Indonesia semua. Apakah karena Nath kelamaan di Australia, jadi gak ada yang made in Indonesia?” Jiwa kepo Felicia semakin meningkat mengecek isi lemari Nath. “Ya ampun, dia ada lingerie segala. Segala warna lagi, seksi pula! Dasar anak nakal! Pasti buat godain Aldo. Hahaha.. Pantes Al bertekuk lutut sama dia.” Felicia melanjutkan pencarian ke bagian lemari lainnya. Ia sampai berpikiran m***m saat melihat ada lingerie di salah satu rak baju Nath. “Waw...tasnya kece - kece nih! Dasar ini anak pasti boros banget ya! Semua yang dia punya di lemari sih, harganya ampun.” Nath merasa tante Felicia sangat lama di dalam kamarnya, apa yang sedang ia lakukan? Lagi menyelidiki atau sulit cari pakaian yang pas? “Ma, udah ketemu bajunya?” Panggil Nath dari dapur. Felicia tersentak dengan panggilan Nath dan segera menghentikan kegiatan keponya dengan lemari Nath. “ Udah nih, mama pinjam kaos oversize sama hotpants kamu ya.” Teriak Felicia dalam kamar. Sementara Nath sudah bersiap di dapur untuk membersihkan beras dan bahan lainnya. Dengan rambut di cepol sembarang dan baju dasternya. “Pakai yang mana aja ma. Ambil aja.” Balas Nath dengan teriakan. Sebenarnya Felicia masih ingin menyelidiki barang - barang di lemari Nath, siapa tau ada petunjuk apa gitu. Jiwa keponya berkecamuk. Pakaian Nath di lemari tidaklah banyak, kamar Nath begitu kosong, dinding kamarnya hanya hitam dan putih saja. Semua peralatan standar apartemen saja, tidak ada yang wah. Bahkan tidak ada foto Nath sama sekali.”Ini apartemen koq seperti kosong ya? Tidak ada foto atau apapun? Atau itu anak memang tipe penyendiri sampai tidak ada foto teman atau keluarga?” Pikir Felicia dalam hati.  Akhirnya dengan segera Felicia keluar dari kamar Nath. Harumnya nasi liwet buatan Nath sudah menyeruak ke penciuman Felicia, rasanya tidak sabar untuk segera mencicipi nasi liwet buatan Nath. “Duh wangi banget Nath ini liwet. Bikin tergiur nih. Mama bisa bantuin apa Nath?” Felicia mendekatkan dirinya pada Nath yang masih sedang menanak nasi, ikan teri dan beberapa bumbu, tidak lupa di alasi dengan daun pisang agar wangi dan nikmat. Ayam, tahu dan tempe sedang digoreng oleh Nath. Harumnya semerbak memanjakan hidung Felicia. “Hahah… sebentar lagi matang ma. Tinggal potong timun, cuci lalapan sama bikin sambal saja ma. Mama mau yang mana?” “Mama kupas timun dan cuci lalapan aja ya, kamu buat sambal.” Tawar Felicia disertai senyuman manis dari Nath. Memang dari dulu bantuan yang Felicia lakukan jika Nath atau Lani memasak adalah memotong timun. Felicia selalu menghindari upaya memberikan rasa pada makanan atau memasak sendiri, karena biasanya gagal total.  Nath dengan gesit mengulek sambal dadak tomat dan ia cicipi. Agar tau rasanya pas atau tidak, ia menawarkan Felicia untuk mencicipi sambal buatannya. “Cobain nih ma, udah pas belum?” Nath langsung menyendokan sambal ke dalam sendok teh tentunya dalam porsi kecil saja, karena takut Felicia kepedasan. Nath sangat tau bahwa Felicia dan Aldo tidak tahan dengan sambal yang benar - benar pedas.  “Dih… enak banget Nath, gak terlalu pedas, asam asin dan manis. Mama suka banget sambel kamu. Bisa ngulang porsi berkali - kali ini mah.” Felicia senang sekali dengan sambal buatan Nath, sangat pas di lidahnya bahkan sambal buatan Nath saja sudah bikin ketagihan lidahnya.  “Mama bisa aja. Udah mau jam 5.30 nih ma, sebentar lagi Aldo pasti datang, yuks bersih - bersih dulu.” Nath mengajak Felicia untuk bersih - bersih. Sementara Felicia mandi terlebih dahulu, Nath langsung mempersiapkan semua hidangan di atas meja. Setelah semua tertata rapi, Nath langsung menuju kamar untuk bersiap, ia memilih baju yang cukup santai tapi sopan untuk berganti setelah ia mandi.  Felicia keluar dari kamar mandi dan menggunakan baju Nath yang lainnya seperti kaos press body dan celana hot pants. Nath sangat terkejut melihat penampilan Felicia, sebagai wanita yang sudah berumur hampir setengah abad, tubuh Felicia masih seksi dan ramping. Rasanya sangat ingin memuji tante Felicia. “Wih, mama seksi banget, hot abissss… Pantas saja papa Adit tidak bisa memindahkan matanya dari mama.” Puji Nath setelah melihat penampilan Felicia yang masih seperti hot chick. “Kamu nih bisa aja muji mama. Kamu pakai yang sama donk kayak mama. Biar kita hot berdua.” Goda Felicia. “Malu ma...Apalagi nanti ada papa dan Aldo.” Sebenarnya Nath bukan malu karena menggunakan hot pants, tapi ia tidak mau luka - luka di pahanya terlihat orang lain. Cukup Aldo saja yang melihat. Ia juga malas jika ada pertanyaan lanjutan terhadap kehidupannya sendiri.  “Kamu juga seksi, ngapain malu. Kalau sama papa, anggap aja gak keliatan.” Goda Felicia kembali. “Haha...gak pede lah ma. Nanti - nanti saja ok.” Nath segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan peluh setelah memasak tadi. Felicia tertawa mendengar penuturan Nath.  “TEEETTT!!! TEEETTT !! TEEETTT!!” Bunyi bel unit apartemen Nath berbunyi, tandanya Aldo sudah datang. Felicia terburu -buru membuka pintu unit Nath dan langsung menyambut kedatangan orang - orang tersayangnya. “Ya ampun ma…..seksi amat.” Itulah tanggapan Aditya saat pertama kali melihat Felicia dengan pakaian santai Nath. Ia sangat memuja istrinya dari dahulu, dan saat ini, istrinya dirasa sangat menggairahkan. Ia segera mencium bibir Felicia, sudah lama istrinya tidak berpakaian santai seperti ini. “Woi pa….ini ada orang di belakang papa, ya ampun. Mau Aldo kasih kunci unit apartemen Aldo gak? Berbuat m***m di sana aja. Jangan di unit apartemen Nath.” Aldo protes.   See you next chapter yaaa... Love you Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga Muach...muach..muach.. Siez        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN