Chapter 25 - Right Time at the Right Moment
Aldo sangat kesal tiba - tiba papanya bersikap romantis terhadap mama. Bukan kesal karena cemburu, tapi karena ia tidak bisa masuk ke dalam unit Nath terjegal dengan kelakuan orang tuanya sendiri.
Aditya segera melepaskan tautan bibirnya dengan Felicia dan terkekeh sendiri mendengar Aldo yang sangat kesal terhadap kelakuannya dan istrinya tercinta.
“Kamu pengen ya? Sana samperin Nath, dia masih di kamar koq. Baru selesai mandi kali, atau jangan - jangan belum pakai baju.” Goda Felicia sambil mengeratkan pelukannya kepada suaminya tercinta. Ia masih ingin bermanja - manja dengan suaminya.
Aldo jengah sendiri melihat kelakuan orang tuanya, dengan segera ia melesat meninggalkan kedua orang tuanya itu menuju kamar Nath. Ingin segera memeluknya karena seharian ia di tinggalkan. Sekalian ia juga cemburu karena kedua orang tuanya sangat romantis sementara ia masih diam saja tidak bisa berbuat apapun karena Nath masih canggung.
Aldo langsung membuka pintu kamar Nath tanpa mengetuk dan pemandangan yang disajikan adalah Nath hanya terbalut handuk yang menutupi d**a sampai ke bawah setengah paha. Aldo meneguk saliva nya sendiri, ia tidak pernah melihat Nath dalam keadaan seperti itu. Bisa dikatakan menggugah selera.
“ARRRRRGHHHHHH…. ALDO KELUARRRRRR????” Teriak Nath di dalam kamar karena melihat Aldo yang sedang berdiri kaku di depan pintunya. Orang tua Aldo tertawa cekikikan mendengar teriakan Nath. Tadi Felicia sengaja mengambil baju Nath dari kamar mandi dan menyembunyikannya sehingga di kamar mandi hanya ada handuk saja.
Aldo langsung keluar begitu diusir oleh Nath. Menutup pintu dan pipinya sangat merah disambut dengan tawa terbahak - bahak yang meledek dari kedua orang tuanya. Benar - benar sekarang orang tuanya menjadi orang tua yang jahil pada anaknya sendiri. “Benar - benar kekanak - kanakan mereka.” Gerutu Aldo dalam hati seraya mengalihkan pandangan ke kedua orang tuanya.
“Kamu ini, suka ngintip ya? Kalau mau masuk kamar orang itu, ketuk pintu terlebih dahulu!” Ledek Felicia yang masih memeluk mesra suaminya tercinta.
“Abis tadi mama bikin aku parno, jadi aku buru - buku buka pintu kamar Nath, siapa yang tau dia masih dalam keadaan gak siap.” Aldo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sangat malu diteriaki oleh Nath apalagi di depan kedua orang tuanya. Nanti waktu Nath keluar dari kamar, pasti ia akan dijitak oleh Nath. Hadeh, benar - benar sial kuadrat.
“Alasan kamu tuh. Emang udah ngebet aja tu. Cari kesempatan dalam kesempitan!” Ledek Aditya semakin tertawa cekikikan.
Aldo kesal dengan orang tuanya, dengan mata jengah ia mengalihkan pandangan ke pintu kamar Nath, ia segera duduk di sofa agar jauh dari pintu, takut tiba- tiba Nath menjitaknya.
“Duh ada yang kesal!! Ketahuan ngintip orang.. HAHAHAHAHH.” Felicia tertawa makin menjadi - jadi. Senang melihat anaknya sendiri malu, jarang sekali Felicia melihat Aldo yang seperti ini. Aldo hanya diam saja. Menunduk malu.
“Sebenernya senang kan? Ketagihan lihat malah, tapi malu karena ada kami. Hahahaha” Aditya menambahkan, wajah Aldo semakin merah seperti kepiting rebus.
Tidak lama Nath keluar dari kamarnya, dengan rasa malu yang membuat wajahnya merah, Nath memberanikan diri keluar. Rasanya ingin menjitak Aldo karena masuk tanpa permisi, tapi tidak enak karena masih ada orang tuanya.
“Eh itu Nath. Maaf ya Aldo emang gitu orangnya kadang suka ngintip!” Felicia memanggil Nath yang terlihat malu sendiri saat keluar kamar, tertawa cekikikan. Semua pandangan mata teralih pada Nath yang baru keluar dari kamarnya. Dengan pakaian yang cukup santai tapi sopan, kaos denim berwarna kuning dan celana jeans ¾.
Nath tertunduk malu sendiri dan hanya senyum sebentar saja untuk menyapa Aditya yang baru saja datang. Ia berjalan menuju ke sofa tempat Aldo duduk dan tiba - tiba ia menjitak Aldo dengan sangat cepat. Tidak terlihat oleh mata tapi rasa sakitnya sangat terasa oleh Aldo.
“Aw… sakit Nath, jangan kejam gitu donk! Aku gak sengaja tau. Ini jebakan.” Protes Aldo sambil memegang kepalanya yang terjitak Nath. Tidak lama kemudian Nath kembali mendekat dan menjitak Aldo. Ia sangat kesal karena Aldo melihatnya tadi saat di kamar.
“Hahahahahahahh ” Felicia dan Aditya tertawa hingga sakit perut saat melihat kelakuan Aldo dan Nath. Tak menyangka anak semata wayangnya bisa di jitak oleh wanita. Aldo yang dingin sekarang jadi Aldo yang gampang protes dan manja.
“Sudah sudah jitak - jitaknya, sekarang ayo kita makan.” Ajak Aditya untuk menghentikan kelakuan Nath dan Aldo. Perut sudah tidak bisa kompromi karena mencium wangi hidangan yang menggoda selera.
“Yuks makan sayang.” Felicia langsung merangkul lengan Aditya untuk ke meja makan. Sementara Aldo melihat Nath yang masih cemberut. Dengan segera Aldo langsung mendekati Nath dan mencuri cium di bibir Nath. Nath terkejut dan Aldo langsung lari ke arah meja makan. Seperti anak kecil yang mendapatkan permen saja. Tentu saja Aditya dan Felicia tidak melihat apa yang dilakukan Aldo sebelumnya, karena mereka masih fokus melihat hidangan yang disajikan di atas meja.
Akhirnya semua duduk dan mengelilingi meja makan. Mereka langsung mengambil porsi makanan masing - masing dan terlihat sangat menikmati nasi liwet yang disajikan oleh Nath.
“Aku gak nyangka loh, mama bisa masak seenak ini.” Aditya memuji istrinya, ia pikir istrinya sendiri yang memasak nasi liwet yang sangat lezat ini.
“Hadeh, papa gak usah mimpi deh! Mama tu palingan cuma cuci lalapan dan potong timun aja. Mana mungkin mama yang masak sih!” Aldo meledek mamanya sendiri. Ia percaya, mamanya gak akan bisa masak seenak ini, yang membuat ketagihan.
Tiba - tiba Felicia menjitak kepala Aldo. Merasa sangat direndahkan. Memang ia tidak memasak, tapi kan ia juga ada effort untuk membantu Nath, walaupun yang dikatakan Aldo 100% benar.
“Aw… sakit ma!!! Ini aku dijitakin melulu, lama - lama aku bisa bego nih!” Protes Aldo memegang kepalanya yang terkena jitakan mamanya.
“Dasar anak kurang ajar nih. Kamu emang pantas dijitak.” Felicia bersungut - sungut kesal.
“Tapi bener kan ma… ayo ngaku. Nath ayo jujur… siapa yang buat ini semua?” Aldo kesal.
Nath hanya bisa tersenyum saja sambil makan ayam goreng kesukaannya.
“Udah makan - makan, kalian ini ribut terus, bikin selera makan jadi nambah. Hahahah...” Aditya sebenarnya ingin menghentikan pertengkaran antara ibu dan anak, tapi sepertinya menyenangkan mendengarkan berisik di meja makan yang biasanya sunyi. Tak terasa Aditya sudah mengambil porsi ke 2 untuk nasi liwetnya dan 3 potong ayam goreng.
“Eh papa ni…. Meleng sebentar ayam goreng udah tinggal 3 potong aja… papa udah abisin berapa?” Aldo melihat piring Aditya dan sisa tulang di piring kotornya.
Aditya hanya tersenyum karena ketahuan mengambil banyak banyak ayam goreng.
“Enak aja apa enak banget pa?” Tanya Aldo jahil.
“Enak… pake banget dan sangat.” Aditya langsung melayangkan dua jempolnya ke depan wajahnya.
“Ya iya lah… masakan calon mantu ini emank enak donk pa.” Felicia memuji sambil senyum - senyum.
“Jadi mama udah restui Aldo nih?” Aldo sangat senang mendengar mamanya sendiri memanggil Nath dengan calon mantu. Benar - benar tidak di duga.
“Iya donk… pinter masak, cantik, baik, mama jadi ada temen ngobrol kan. Bisa shopping bareng, bisa salon bareng, belanja tas bareng. Keluar kota bareng…..” Felicia masih berangan- angan apa yang ia lakukan dengan Nath nanti.
“Itu mama borong semua kegiatan sama Nath, waktu buat Aldo kapan ma?” Aldo merajuk dengan cemberut dan manja. Semua yang ada di ruangan itu terpaku pada Aldo yang bisa tiba - tiba protes manja. Tidak lama mereka tertawa terbahak - bahak hingga memegang perut masing - masing, Aditya sampai batuk - batuk saking tertawa lepas.
“Kamu ini kayak anak kecil aja sih. Kan kamu sudah tiap hari sama Nath, sekarang giliran mama lah. Ya kan Nath?” Felicia mengalihkan pandangan pada Nath untuk mendapatkan persetujuan dari Nath dan Nath hanya mengangguk sekaligus tersenyum.
“Ih si mama. Kita harus bagi jadwal yang adil. Aldo gak mau semua waktu Nath diserobot sama mama. Bisa rugi Al.” Aldo semakin protes.
“Hadeh… ini tu Nath jadi sebagai apanya kalian si? Babysitter? Kenapa gak ada yang rebutin papa sih?” Tanya Aditya seakan menambahkan minyak di api. Agar lebih terbakar kobaran pertengkarannya.
“Tu ma… sama papa aja. Kenapa sih mesti nempel sama Nath, bikin Aldo kesel aja.” Tiba - tiba Nath langsung mencubit pipi Aldo karena sudah jengah mendengar pertengkaran yang tidak penting. Padahal dari tadi yang dibicarakan hanya bisa senyum saja.
“Dih Nath, koq pake cubit segala. Aku tuh lagi membela hak aku!” Protes Aldo sambil memegang pipinya.
“Berisik, ngalah sama orang tua!” Perintah Nath sambil menutupkan bibirnya dengan satu jari.
“HAHAHAHAHA….” Langsung terdengar tawa Felicia yang rasanya menang mendapatkan Nath. Nath sudah ada dipihaknya. Aldo menekuk wajahnya tanda kalah. Aditya senyum - senyum selagi menikmati makanan bersama Nath. Dibiarkannya 2 orang ini ribut terus tanpa henti.
Akhirnya makan malam yang penuh keceriaan selesai, semua makanan di meja sudah ludes tak bersisa. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Hari ini hari yang sangat membahagiakan bagi keluarga Aldo. Seakan waktu 7 tahun lalu sudah kembali pada keluarga ini. Keluarga yang ceria dan bisa bercanda satu sama lain.
“Nath, mama dan papa pamit ya, besok kita main lain ok.” “Pamit Felicia kepada Nath di depan pintu unit apartemen Nath.
“Ia ma, terima kasih untuk hari ini ya.” Nath langsung memeluk Felicia sementara Felicia mencium pipi Nath kanan dan kiri.
“Besok masih mau main lagi sama Nath? Serius ma? Ini namanya pembajakan...” Protes Aldo karena semua waktu Nath tersita untuk mamanya. Nath dengan segera mencubit pinggang Aldo untuk mendiamkannya protes. “Aw.. awww Nath.” Nath menutup mulut Aldo dengan salah satu lengannya agar tidak berisik terus.
“Udah ah, lama - lama bisa KDRT ini, sana mama dan papa pulang aja. Sekarang giliran Aldo sama Nath.. hush..hush...” Aldo mengusir kedua orang tuanya agar cepat pulang. Sudah waktunya ia berdua dengan Nath, sejak tadi siang dia sudah kangen berat sama Nath, malah Nath di monopoli sama mamanya.
“Huff dasar anak nakal, ya udah sana mesra - mesraan sama Nath, cepet - cepet kasih mama cucu.. Ok!” Ledek Felicia yang bergegas pergi dengan suaminya yang tercinta. Semoga saja ia segera akan mendapatkan cucu. Tapi.. eh sepertinya ada yang salah. Harusnya mereka segera dinikahkan karena Felicia sendiri sudah sangat cocok dengan Nath. "Apalagi sih yang di tunggu oleh Aldo?? Dasar anak lamban. Nanti kalau jodoh disambar orang, bisa nangis bombay deh dia." Gerutu Felicia dalam hati saat berjalan di sepanjang lorong apartemen dengan suaminya tercinta.
Akhirnya dari segala keramaian yang terjadi antara Nath dan keluarga Aldo, saat ini hanya menyisakan Aldo dan Nath saja.
"Sana pulang dulu. Bersih - bersih diri dulu!" Titah Nath.
"Boleh mandi di sini aja gak?" Aldo tiba-tiba manja dan memeluk Nath dari belakang saat Nath mencuci piring kotor.
"Mandi aja sana. Tinggal ke kamar doank kan. Tapi kan kamu gak ada baju di sini." Nath masih fokus mencuci piring.
"Bugil aja boleh?" Goda Aldo sambil meniup - niup telinga Nath untuk menggodanya.
"Terserah sih. Kamu uda gede kan.. tau apa yang harus kamu lakukan." Nath mulai menyikut perut Aldo.
"Kamu ni. Dari tadi KDRT sama aku terus. Kapan aku di sayang - sayang kalau gini?" Protes Aldo mengeratkan pelukannya, tapi tangannya mulai nakal memeluk dan menggelitik Nath.
"Itu tangan ya.. belajar tata krama dulu!" Nath menggoyangkan tubuhnya untuk melepaskan diri dari Aldo. Tapi bukannya terlepas, Aldo malah semakin nakal dan menjelajah tubuh Nath. Di cium ceruk leher Nath dan meninggalkan jejak di sana. Untungnya Nath masih dalam posisi rambut di cepol ke atas, sehingga sangat mudah mencium leher Nath.
"Heiii… mandi dulu sana.. masih bau asem ini kamu!" Protes Nath.
"Iya iya nyonya besar.. aku mandi, sebentar lagi aku kembali. Kamu cepetan cuci piringnya." Aldo langsung menuju kamar mandi dan membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, Aldo hanya memakai handuk saja untuk keluar dari kamar karena ia tidak membawa baju sehelaipun selain baju kantor yang ia gunakan.
Dengan percaya diri, Aldo keluar dari kamar hanya melilitkan handuk di pinggangnya yang menampilkan perut yang indah dan otot yang membakar gairah. Tapi sayangnya saat ingin mencumbu Nath. Gadis itu sudah tidur di sofa. Mungkin Nath lelah seharian bersama mamanya. "Dasar mama… monopoli aja semua waktu Nath, Al jadi gak kebagian. Uda mandi wangi malah di tinggalin tidur. Huff rugi aku…" Rutuk Aldo yang melihat Nath tertidur di sofa.
Berat hati Aldo menggendong Nath ala bridal style untuk masuk ke kamarnya. Niat Aldo awal adalah bermesraan dengan Nath tapi yang ia dapat adalah Nath tertidur memeluk teddy bearnya dengan mesra. Niat awal Aldo sudah gagal total. Ia kesal pada mamanya sendiri.
Setelah sampai di sudut ranjang, Nath segera diturunkan ke atas ranjang. Sebenarnya Aldo sudah tidak bisa menahan diri, tapi mau bagaimana lagi. Nath sudah teler karena ulah mamanya sendiri.
Aldo kemudian mencari baju di lemari Nath. Biasanya Nath punya baju oversize dan cocok untuk Aldo. Setelah menggunakan baju dan celana pendek milik Nath, Aldo berbaring di samping Nath. Mengelus kepalanya. Dengan cahaya lampu yang cukup terang, ini baru pertama kalinya Aldo bisa tidur disebelah Nath.
Ia merasa ada sesuatu di kepala Nath, suatu tanda lahir kemerahan. Biasanya ia tidak pernah memperhatikannya, tapi sekarang sangat jelas. Tanda lahir itu sama dengan tanda lahir Diana. Aldo sangat ingat dengan tanda lahir Diana, ada di kepala dan paha dalam. Aldo melihatnya saat berenang dengan Diana dahulu. Aldo menjadi khawatir sendiri. Siapa sebenarnya Nath? Mengapa punya tanda lahir yang sama dengan Diana? Ia harus mengajak Nath berenang agar mengetahui, apakah tanda lahir di paha dalamnya masih ada. Jika ya, maka sudah bisa dipastikan Nath adalah Diana.
Jika memang Nath adalah Diana, mengapa ia tidak mengaku? Apa rencananya mendekatiku? Pantas saja semua masakan dan tingkah laku Nath itu sama dengan Diana. Baiklah, saat ini sebaiknya Aldo mengikuti semua permainan Nath. Ia akan menyelidiki dan memperhatikan Nath dengan seksama.
"Selamat malam kesayanganku, mimpi indah. I love you." Aldo mengecup bibir Nath dengan lembut. Aldo dan Nath pun akhirnya tidur bersama dan menjemput bunga mimpi yang indah.
See you next chapter yaaa... Love you
Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga
Muach...muach..muach..
Siez