Chap 26- New Company

2086 Kata
Chapter 26 - New Company Pagi sudah datang, sinar matahari masih malu memancarkan cahayanya, mengintip di balik tirai sepasang kekasih yang tertidur dan saling memeluk dan enggan dipisahkan. Alarm sudah berteriak memanggil menandakan sudah jam 6.00, mereka masih bergelut di bawah selimut, seakan belum waktunya mereka bekerja. "Al.. bangun, uda jam 6 nih. Siap - siap ngantor." Nath mengguncang-guncangkan tubuh Aldo karena tubuhnya dipeluk terlalu erat oleh Aldo, sehingga tidak bisa keluar dari kungkungan Aldo.  "Masih pagi Nath." Aldo mengucek matanya dan menguap. Tubuhnya masih memerlukan istirahat karena berpikir semalaman. Aldo tidak bisa tidur karena memikirkan Nath adalah Diana. "Kamu hari ini meeting ama DevGroup. Bangun Al.. nanti telat." Nath memaksa melepaskan diri dari Aldo. Ia harus membersihkan diri karena berkeringat di tempel Aldo terus saat tidur. Sebenarnya Nath masih mengantuk dan lelah karena memasak dan jalan - jalan kemarin, tapi apa boleh buat, mereka harus tetap professional. Lapar juga sudah mendera perut Nath, keroncongan karena banyak energi yang ia keluarkan yang diakibatkan oleh Felicia. "Iya iya.. aku bangun." Aldo langsung melepaskan pelukannya. Nath segera ke kamar mandi dan membersihkan diri. Ia mengunci pintu kamar mandi, takut Aldo tiba - tiba masuk dan mengintip. "Nath buka donk pintunya.. kita mandi sama - sama aja." Aldo mengetuk pintu kamar mandi dengan tidak sabar. "Enak aja! Aku gak mau mandi sama kamu! Yang ada nanti malah gak selesai ini mandi! Tunggu di depan dengan sabar ya anak manis!." Teriak Nath di dalam kamar mandi. Dengan kesal, Aldo duduk kembali di pinggir ranjang,Ia merasa harus menyelidiki dari kamar ini. Ia harus mencari kesempatan bila Nath lengah. Nath yang sudah selesai mandi, langsung keluar dan menggunakan bathrobe nya, ia harus mencari baju di lemari terlebih dahulu,  “Mandi dulu Al. Nanti langsung ambil baju di unit kamu.” Perintah Nath. Aldo langsung membuka bajunya di depan Nath. Melepaskan kaos Nath yang semalam sudah ia pakai. "Hei.. jangan buka baju di sini donk. Masuk ke kamar mandi sana! Dasar kamu. m***m aja pagi-pagi. Buruan mandi!" Nath langsung mengalihkan pandangannya ke lemari dan mulai sibuk mencari pakaian untuk bekerja.  Aldo langsung berjalan ke kamar mandi dengan senyum smirk dengan sigap ia memeluk Nath dan mencium bibirnya. "Morning kiss babe.." setelah mencuri ciuman, Aldo langsung lari ke kamar mandi, takut dijitak kembali oleh Nath. Nath hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Aldo yang semakin manja pada dirinya. Setelah selesai mandi, mereka sarapan bersama. Karena Aldo tidak membawa pakaian ganti, mau tidak mau ia hanya menggunakan bathrobe saja. "Nath, nanti ambilin baju aku ya di unitku. Malu kalau pakai bathrobe keluar dari sini." Pinta Aldo dengan puppy face nya. "Iya iya…" Nath segera menyelesaikan makannya dan mengambil kunci unit apartemen Aldo.  Setelah Nath keluar, Aldo langsung melancarkan aksinya untuk mencari benda apapun yang bisa menunjukkan bahwa Nath adalah Diana.  "Aku harus ambil apa? Hmm.. Ya aku masih punya ikat rambut Diana. Aku harus cek DNA rambut Diana dan Nath.” Setelah selesai mengambil sampel rambut Nath, Aldo langsung bergegas ke ruang tamu untuk duduk manis menunggu Nath. "Ini bajunya. Ayo ganti dulu. Sebentar lagi jam 7.30. waktunya ngantor nih." Nath memberikan Aldo baju ganti dan pergi ke kamarnya sendiri untuk merias diri.  oooOOOooo DevGroup Nath dan Aldo sampai ke kantor DevGroup untuk memulai meetingnya dengan Devan dan para direksi di sana mengenai pembangunan pabrik mobil yang baru. Ada Aditya di sana yang sudah menunggu di lobby kantor. Aldo dan Nath mendekatinya agar bisa pergi ke ruang rapat bersama. "Al, papa harap kamu berhati - hati dengan Devan. Ia orang yang sangat emosional dan bisa berbuat licik. Ingat kata-kata papa." "Iya pa. Al akan berhati - hati." Perkataan Aditya didengar oleh Nath dan ia mulai curiga dengan hubungan antara Devan dan Aditya. Apakah mereka memiliki masa lalu yang menyeramkan sehingga Aditya bisa berbicara begitu? Padahal mereka adalah teman baik papanya. Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan sikap Aditya. Nath harus menjaga Aldo sebisanya.  "Hai.. selamat datang sahabatku. Lama kita tidak bertemu." Ucap seorang pria paruh baya mendekati Aditya. Ia segera memeluk Aditya dengan erat. "Baik." Ucap Aditya singkat dan melepaskan pelukan pria itu yang tak lain adalah Devan Santoso. "Hai.. Aldo kan? Sudah lama kita gak ketemu.10 tahun lalu kah? Saat kamu masih remaja." Devan mendekati Aldo “Hai… kamu Aldo bukan?” Devan melirik Aldo yang berada di belakang Aditya. Aldo langsung menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arah Devan. Ia segera menjabat tangan Devan. “Wah sudah lama kita tidak bertemu. Mungkin sudah 10 tahun ya Al.” Devan tersenyum tipis. “Iya om. Sudah lama kita tidak bertemu.” “Dan ini siapa?” Devan melihat ke arah Nath. “Ini Nath om, asisten pribadi saya.” Aldo menjawab, diiringi dengan senyuman Nath. “Wooo ini Nath ya… yang suka diceritakan oleh Citra. Hahahah….” Devan memandangi Nath dari atas sampai ke bawah. “Wanita ini memang sempurna, pantas saja Citra sangat cemburu pada wanita ini.” Gumam Devan dalam hati.  Nath hanya bisa tersenyum saja mendengarkan perkataan Devan. Ini suasana yang agak canggung. Seperti Nath akan dihakimi saja. “Ya sudah, ayo kita mulai rapat.” Devan mengajak rombongan Aditya untuk memasuki ruang rapat.  “Selamat datang bapak dan ibu semua, hari ini kita akan membahas mengenai proyek merger kita dengan perusahaan SJH Group, kita akan membangun pabrik mobil bersama. Sebagaimana kita ketahui, perwakilan dari SJH group adalah Bapak Aldo Sailendra sementara dari pihak DevGroup akan diwakili oleh Citra Santoso, anak saya.” Devan membuka rapat. Citra duduk di sampingnya dengan percaya diri.  Flashback on “Citra, bagaimana hubungan kamu sama Aldo sekarang?” Tanya Devan pada anak semata wayangnya. “Gak ada perkembangan pa. Dia gak suka sama aku. Aku juga gak suka sama dia.” Citra menjawab datar, sebenarnya Citra juga malas untuk berhubungan dengan Aldo. Ia jengah dengan sikap cuek Aldo. Tidak peduli dengan kehadirannya sama sekali. “SUKA???” Devan mulai meninggikan suaranya. “Iya pa, Aldo sangat cuek sama aku.” Citra merengek. “Tapi kamu tetap harus mendekati Aldo dan menjadikan dia suami kamu!” Perintah Devan. “Pa,tapi dia gak suka sama aku. Dia lebih suka sama asisten pribadinya itu. Nathania..” Rengek Citra pada Devan. “Kalau dia gak suka sama kamu, kamu harus buat dia bertekuk lutut sama kamu, atau terikat denganmu. Dengan cara apapun boleh. Kamu papa legalkan berbuat apapun agar Aldo menjadi milik kamu.”  “Tapi pa….” “Kamu mau jatuh miskin? Mau cobain jadi miskin dan semua yang kamu punya hilang?” Devan semakin mengintimidasi Citra. “Enggak pa.” Citra tertunduk lemas. “Kalau kamu gak mau, lakukan semua yang papa perintahkan. Jauhkan Nath dari Aldo! Jadikan dirimu satu - satunya untuk Aldo. Biar saja Aldo tidak mencintai kamu. Yang penting nanti semua asset dia bisa kamu ambil. Mengerti Citra?” Teriak Devan emosi. “Baik pa. Citra mengerti.” Citra semakin menunduk, menahan air matanya. Sejak kecil Citra selalu dididik keras oleh papanya. Harus segalanya mengikuti perintah papanya.  “Mulai besok, kita akan bekerja sama dengan Aldo. Kamu akan menjadi perwakilan papa untuk perusahaan baru yang merger dengan Aldo. Ingat! Jangan sia - siakan kesempatan ini! Kamu harus membuat dia jadi milik kamu. Bagaimanapun caranya!!” Titah Devan semakin tersulut emosi. Bagaimana tidak tersulut emosi, anaknya yang bodoh ini tidak banyak bertindak untuk mendekatkan diri pada Aldo, padahal ia sudah berupaya agar Felicia mau membuat anaknya menjadi menantu keluarga Sailendra, tapi anaknya hanya bisa bilang jika Aldo tidak suka pada dirinya. Berapa banyak perawatan dan barang mahal yang telah ia berikan pada Citra untuk meningkatkan harga diri dan kualitas diri. Tapi tetap otak Citra bodoh seperti mamanya. Hanya tau berbelanja, tanpa bisa menolongnya. Perusahaan Devan saat ini diujung tanduk, hampir bangkrut karena gagalnya mendapatkan proyek dengan perusahaan baja lainnya.  Satu - satunya cara untuk menyelamatkan perusahaannya hanyalah mengambil seluruh asset dari SJH group. Ia harus bisa menikahkan Citra dan Aldo. Bagaimanapun caranya. Semua cara harus ditempuh. Mereka harus menikah, maksimal 3 bulan lagi. Citra harus berbuat sesuatu pada Aldo. Sementara itu, Delia, istri dari Devan hanya bisa menangis di balik pintu kamarnya melihat anaknya yang dipaksa mendekati dan menikahi orang yang sama sekali tidak ia cintai. Apakah hal yang sama akan terulang dengan anaknya? Menikah dengan orang yang tidak ia cintai? Flashback off “Baik, saat ini kami punya lahan di daerah jawa timur untuk lahan prospektif pembangunan pabrik mobil. Bagaimana jika kalian melakukan peninjauan terlebih dahulu?” Devan menambahkan. “Saya setuju saja pak untuk peninjauan lahan.” Aldo menjawab. “Baik, Aldo dan Citra bisa meninjau lahan tersebut besok. Nanti saya siapkan tiket pesawat dan seluruh akomodasi kalian selama di jawa timur.” Devan to the point. Ia tidak suka bertele - tele untuk memecahkan suatu masalah. “Ok Pak. Saya akan persiapkan segala kebutuhan.” Jawab sekretaris Devan. Ia bertugas mengkoordinasi semua kegiatan Aldo dan Citra selama di Jawa Timur. Devan memerintahkannya agar membuat acara peninjauan lahan sekaligus menjadi bulan madu bagi Aldo dan Citra.  Selesai dari rapat, Devan meminta keluarga Sailendra untuk makan siang bersama, tentunya asisten pribadinya Aldo yaitu Nath menunggu di lain tempat atau pulang saja ke kantor, Devan tidak peduli, karena ini adalah acara keluarga antara Devan dan Aditya. Nath dengan senang hati keluar dari ruang pertemuan tapi ia menempelkan penyadap suara sekaligus GPS di handphone Devan saat ia membagikan proposal kerjasama.   Penyadap suara yang Nath selipkan berupa selembar kertas tipis berukuran 0.1 cm, tidak akan terlihat oleh Devan karena akan menempel terus di handphonenya. Alat itu tidak akan bermasalah jika terkena air sekalipun. Alat sadap sekaligus GPS tidak terlalu terlihat, seperti kasat mata, alat ini adalah buatan Nath. Tidak bisa terlacak oleh siapapun kecuali orang yang menciptakannya yaitu Nath sendiri. Nath mengembangkan penyadap itu sejak 3 tahun lalu. Ia merekam semua pembicaraan Welmin, PRG group dan beberapa perusahaan yang ia mata - matai. Ia punya bukti kemaksiatan semua perusahaan itu. Tapi ia akan gunakan saat waktu yang tepat.  oooOOOooo “Bagaimana Felicia sekarang Dit?” Tanya Devan pada Aditya, memulai pembicaraan mereka agar lebih santai. “Baik. Bagaimana Delia.” Balas Aditya. “Baik juga. As usually.”  “Glad to hear that.” Aditya hanya menjawab seadanya. Sebenarnya ia ingin segera meninggalkan makan siang ini. Tidak betah dengan Devan. Pasti ada maksud tersembunyi yang ingin Devan lakukan dalam pertemuan ini. “Oh ya…. Bagaimana rencana perjodohan ini Al? Kamu ok kan dengan Citra? Karena sepertinya Citra sangat bahagia dijodohkan dengan kamu.” Citra tersenyum simpul, terasa sedikit memaksa.  “Hmm… saya belum berpikir ke arah sana Om. Masih fokus untuk bekerja.”  “Bekerja kan bisa diiringi dengan pernikahan sempurna Al.” Devan menjawab agak memaksa. “Maaf om. Nanti saya pikirkan kembali.” Aldo menyanggah. “Bisa sambil pendekatan terlebih dahulu Al. Kan dimana - mana harus pendekatan terlebih dahulu agar bisa mencocokan diri, baru nanti bisa menikah. Dan Om harap kamu bisa menikah secepatnya dengan Citra.” “Hmmm...maaf saya….” Aldo sebenarnya ingin memberitahu Devan, bahwa ia tidak cocok dengan Citra dan ia sudah memiliki Nath, tapi bagaimana memberitahu Devan? “Kamu dekat dengan aspri mu itu? Kamu boleh koq bermain dulu yang puas dengan dia, tapi tempat kamu kembali ke rumah hanyalah Citra. Ya orang sekelas asprimu itu, bolehlah dijadikan mainan… tinggal bayaran saja kan.” Devan berkata melecehkan Nath. Aldo sangat tidak terima dengan perkataan Devan. Ia tidak rela seorangpun berbicara jahat tentang Nath. “Maaf om, sepertinya anda sudah terlalu jauh mencampuri urusan saya dengan Nath. Aspri saya namanya Nathania. Dan saya juga mencintai dia. Sepertinya saya tidak berjodoh dengan Citra. Maaf om, tidak bermaksud menyinggung om. Tapi beginilah keadaannya. Mohon pengertian dari om Devan.” Aldo frontal menolak perjodohannya dengan Citra. Tadinya ia akan bermain halus untuk menolak, tapi karena Devan terlalu menyinggung dan melecehkan Nath, ia menjadi kesal. Aditya melihat kemarahan dari wajah Aldo, ia menggenggam tangan Aldo untuk menenangkannya. Aldo harus meredam emosinya sendiri. “Kita lihat nanti saja Al, saya yakin kamu berjodoh dengan anak saya.” Devan mengucapkannya datar dan langsung pamit diri dari makan siang bersama. Hanya tersisa Citra, Aditya dan Aldo saja di ruangan itu.  “Maaf Citra, kami undur diri terlebih dahulu.” Aldo dan Aditya meninggalkan Citra yang masih bengong melihat keadaan ini.  Sementara Nath di dalam mobil masih mendengarkan pembicaraan Devan dengan sekretarisnya, tidak lama kemudian ia mendengarkan pembicaraan Devan dengan Citra yang ingin membuat Aldo menjadi miliknya. Nath hanya tersenyum smirk saat mengetahui rencana Devan untuk Aldo. “Tenang saja Al, aku akan melindungimu semampuku.” Gumam Nath.  See you next chapter yaaa... Love you Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga Muach...muach..muach.. Siez  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN