Chapter 27 - Fakta Devan 1
Hari ini, Aldo dan Citra akan pergi ke Jawa Timur untuk meninjau lahan pembangunan pabrik. Ia akan pergi selama 3 hari. Setelah semalam Aldo menginap di unit Nath, Ia hanya menumpang tidur saja, karena merasa bisa tidur nyenyak jika memeluk Nath. Pagi ini jam 5 Aldo sudah bersiap untuk pergi ke bandara. Keberangkatannya pukul 8 pagi. Nath sudah menyiapkan segalanya untuk Aldo, jadi Aldo tinggal mempersiapkan dirinya saja untuk pergi. Nath semalam sudah merayu Aldo agar bisa membawa dirinya pergi ke Jawa Timur bersama dan Aldo sangat setuju. Aldo cukup khawatir jika ia hanya berdua saja dengan Citra, sepertinya ada yang tidak beres yang akan terjadi.
“Sayang, kamu jadinya nyusul atau sama - sama aku ke Jawa timurnya?”
“Bareng sama kamu. Ntar kita check in barengan aja di bandara jadi bisa sebelahan duduknya pas di pesawat. Ok!”
“Kamu udah tau penerbangan yang mana? Koq cepet amat kamu booking pesawatnya?”
“Nath gitu loh. Udah kamu tenang aja. Semua udah aku atur.”
“Terus kamu tinggal dimana?”
“Sekamar sama kamu kan. Atau gak boleh?” Nath menggoda Aldo dengan mengedipkan salah satu matanya.
“Hmmm…...gimana sebaiknya yaa….” Aldo melirik Nath genit.. Pura - pura berpikir.
“Oh… kamu mau sekamar sama Citra ya… ya udah deh, aku lebih baik gak usah ikut sama kamu. Bisa ganggu rencana bahagia kamu sama Citra.” Nath pura - pura marah dan cemburu.
“Haha…… iya nih kamu ganggu banget. Aku kan…..” Aldo semakin menggoda Nath, senang melihat Nath terlihat cemburu.
“Aku kan apa? Mau aku kiss sampai nangis kamu? Berani - beraninya mau selingkuh depan aku!” Ancam Nath sambil pura - pura marah.
“Mau donk…. Sekarang boleh gak?” Aldo semakin menggoda Nath. Mendekatkan dirinya pada Nath seakan menantang untuk menjalankan ancaman Nath. Menyodorkan bibirnya untuk di kiss sampai nangis oleh Nath.
Nath langsung menyambar bibir Aldo dan menuntut lebih dalam, mengeksplor gigi dan lidah Aldo. Nath menjadi sangat agresif jika menginginkan sesuatu dan belum diberikan.
“Nath...kamu nakal. Mau bikin aku turn on ya?” Bisik Aldo di telinga Nath mesra.
“Aku mau cium kamu boleh gak?” Nath menatap Aldo dengan sangat dalam dan tulus. Jujur Nath sangat suka berciuman dengan Aldo. Terasa membuatnya terbang ke awan.
“Ah….Nath...you make me crazy.” Aldo mendesah, tak dapat mengendalikan diri lagi.
Aldo semakin menggila, sulit melepaskan momen seperti ini, saat Nath benar - benar nakal dan Aldo tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Dengan sigap, Aldo membawa Nath ke ranjang dan ingin mulai melucuti pakaian Nath dan pakaiannya sendiri. Nath langsung memegang tangan Aldo untuk menghentikannya.
“Jangan sekarang! Belum waktunya.” Nath menghentikan gerakan Aldo.
“Baik. Aku ikuti apa mau kamu my queen.” Aldo melepaskan tangannya dan mulai berdiri, bersiap untuk berangkat ke Jawa Timur. “Ya, aku gagal lagi deh.. Hadeh.. Sabar… sabar.” Aldo bergumam dalam hati.
oooOOOooo
Di bandara Citra terlihat sangat kesal karena ia melihat Nath sedang bergelayut manja di tangan Aldo. Ia takut rencananya gagal untuk menjebak Aldo. Jika rencananya gagal, ia bisa dimarahi oleh papanya, dan ancaman papa bisa berlaku.
“Koq aspri kamu ikut Al?” Tanya Citra ketus.
“Ya.. biar pekerjaan cepat selesai. Lagian dia gesit dan bisa dipercaya koq. Kerjaan kita akan semakin ringan jika ada Nath.” Aldo mengelus tangan Nath dengan mesra.
“Kamu udah booking kamar tambahan buat dia?” Citra menunjuk wajah Nath.
“Gak usah booking lah. Ngapain juga booking.” Aldo tersenyum melihat Nath.
“Lah terus? Dia tidur dimana? Aku gak mau sekamar sama dia.”
“Tidur sama aku lah. Ngapain juga tidur sama kamu.” Aldo tersenyum melihat Nath. Ia tidak mau melihat wajah Citra yang menyebalkan. Nath hanya tersenyum genit menggoda Aldo.
Sesampainya di bandara Juanda, Jawa Timur, mereka melanjutkan perjalanan ke Sidoarjo selama 30 menit. Hotel yang di booking adalah Hotel PX, hotel bintang 5 di Surabaya. Dengan segera mereka menaruh semua barang bawaannya di kamar masing - masing. Sebenarnya Nath dan Aldo masih lelah, tapi dalam 1 jam mereka harus bersiap untuk meninjau lahan pabrik mobil. Mau tidak mau mereka harus bersiap segera agar pekerjaan ini cepat selesai.
"Honey… ntar kita dinner romantis ya. Aku ntar booking resto." Panggil Aldo mengerlingkan mata.
"Siap sayangku.. muah." Nath memberikan ciuman jarak jauh dan langsung ditangkap oleh Aldo.
“Al, aku makan vitamin dulu ya.. Lupa tadi pagi belum makan nih.” Nath mencari vitaminnya di tas, beberapa hari ini Nath sangat kelelahan, jadi ia sangat membutuhkan vitamin untuk menjaga staminanya.
Aldo sebenarnya cukup khawatir dengan kondisi Nath yang terlalu capek. Nath selalu lembur untuk mempersiapkan dokumen pembangunan pabrik di Jawa Timur.
“Honey… kalau gak enak badan?”
“Ya, aku agak capek sih. Kerjaan lumayan menumpuk”
“Kalau kamu menikah sama aku, kamu bisa beristirahat di rumah aja. Gak usah kerja” Tawar Aldo. Ia sangat ingin istrinya di rumah dan menyambutnya saat pulang kerja. Mengurus anak - anaknya dengan telaten. Biarlah Aldo yang bekerja, seperti papanya, Aditya.
“Hm…… ntar aku pertimbangkan.”
“Please marry me….” Aldo memohon dengan menyatukan kedua tangannya. Sangat berharap Nath setuju. (Tolong menikah denganku)
“You know nothing about me. How can you propose to me?” (Kamu tidak tahu apapun tentangku. Bagaimana mungkin kamu melamar aku?)
“I know about you. But yeah, I don't know everything about you, you can tell me.” (Aku tahu tentang kamu. Tapi jika aku tidak mengetahui tentangmu, kamu bisa memberitahuku)
“Not yet. It’s not a good time now. So please understand.” (Belum saatnya. Bukan waktu yang tepat saat ini. Tolong mengertilah)
“Ok. I will wait.” Aldo cukup lesu mendengar ucapan Nath. Ia sangat ingin menikahi Nath. Ia ingin tau segalanya tentang Nath, tapi Nath masih merahasiakan segalanya. Apakah Aldo harus menyewa detektif untuk mencari tahu tentang Nath? (Ok, saya akan menunggu)
“Yuks ke lobi sekarang, sepertinya sopir sudah datang. Citra mungkin sudah siap Al.” Aldo segera merapikan dirinya dan menggandeng Nath keluar dari pintu kamar hotelnya.
Setelah sampai di lobi, Citra terlihat sangat jutek, kesal dengan adanya Nath di tempat yang sama dengan ia berada. Jika gagal saat ini, bisa jadi papanya, Devan akan bertambah marah kepadanya. Jatah uang bulanannya mungkin akan di stop jika Citra tidak berhasil menjebak Aldo.
Nath yang melihat Citra begitu membencinya terpikir sebuah ide menarik. Ia akan menempelkan penyadapnya di handphone Citra untuk mengetahui rencana yang akan Citra lakukan terhadap Aldo. Secara tidak sengaja, Nath menabrakan diri pada Citra dan handphone Citra terjatuh ke lantai. Nath memungutnya dengan sigap dan langsung menempelkan penyadapnya di handphone Citra.
“Jalan tuh pake mata. Main tabrak orang sembarangan aja. Sudah seperti banteng saja kamu.” Maki Citra.
“Maaf ya bu, saya benar - benar tidak sengaja.” Nath menunduk untuk meminta maaf pada Citra.
Aldo, Nath dan Citra segera masuk ke mobil yang sudah menunggu di lobi utama hotel. Mereka akan pergi meninjau lokasi pembangunan pabrik. Setelah sampai, masing - masing orang sibuk dengan urusannya.
Nath pergi ke toilet dan langsung mengecek apa saja pembicaraan yang dilakukan Devan dari kemarin hingga hari ini. Ia harus mengetahui semua rencana Devan sebelum terlambat.
Nath menekan tombol cek record dari handphonenya dan memasang earphone.
Record D-1 ( record Devan 1)
Devan berbicara dengan seorang pria yang diyakini Nath sebagai sekertarisnya.
Devan : kamu sudah tangkap dia?
Viki : Bram sudah ditahan.Sekarang dia ada di gudang kita.
Devan : Good job Viki. Interogasi dia. Bagaimana caranya dia bisa mengambil alih welmin. Ia juga mengancam PRG group. Dapatkan informasi itu dengan cara apapun!
Viki : Ada yang membocorkan data welmin. Bram berkata orang bernama Scarlet yang memberikannya.
Devan : Scarlet? Siapa wanita itu?
Viki : Seorang mata - mata dari Australia.
Devan : Selidiki bagaimana mata - mata itu bisa mendapatkan data dan siapa dia. Selidiki dengan rapi. Jika dia berguna, kita pekerjakan dia! Awasi Scarlet!
Viki : Bram mengatakan bahwa Scarlet tidak bisa dihubungi, hanya Scarlet yang bisa menghubungi kita.
Devan : Bagaimana caranya memancing wanita itu menghubungi kita?
Viki : Belum saya ketahui pak. Saya akan mencari tahu.
Devan : Ok. Saya tunggu kabar baik darimu.
Viki : Baik pak. Akan segera saya selesaikan.
Devan : Ah ya, 1 lagi. Paksa Bram untuk tanda tangan surat pemindahan aset Welmin group kepadaku. Setelah itu, bunuh dia. Ingat Viki, buat seperti kecelakaan. Aku ingin semuanya bersih! Buang semua bukti.
Viki : Baik pak. Semua cctv di lokasi kejadian sudah saya handle. Saya akan membunuhnya tanpa jejak.
Devan : Good.
Nath bergidik ngeri mendengarkan percakapan antara Devan dan Viki. Nath kemudian menekan tombol next untuk mendengarkan rekaman berikutnya. Terdengar percakapan Devan dengan seorang wanita.
Delia : Devan, kamu jangan memanfaatkan anakku terus untuk bisnismu. Tak cukupkah kamu menjualnya pada Pranoto, PRG group untuk dijadikan simpanan?
Devan : Dia memang pantas untuk diperlakukan seperti itu. Buat apa aku membelanjakan barang mewah dan pendidikan yang tinggi untuk orang yang tidak berguna.
Delia : Tapi dia anak kita. Jangan kau rusak lagi hidupnya. Biarkan dia hidup dengan orang yang ia cintai. Biarkan dia bahagia!
Devan : Anak kita? Dia anakmu dengan lelaki sialan yang menghamilimu. Salah kau sendiri tidak mau dia bertanggung jawab malah menuduh aku menghamilimu!
Delia : Tidakkah kau menyayanginya setelah 21 tahun kau hidup dengan Citra?
Devan : Tidak pernah seujung kukupun aku menyayanginya. Kau bilang bahagia? Dimana saat aku memohon kau melepaskanku untuk mencari kebahagiaanku?
Delia : Tapi aku mencintaimu. Aku ingin kau bahagia bersamaku. Aku yang paling bisa memahami kamu Devan!
Devan : Cinta? Kau bukan mencintaiku, tapi kau terobsesi padaku dan obsesimu membuatku menjadi monster. Ini yang kau namakan karena cinta!
Delia : Aku tidak pernah membuat kamu menjadi monster. Aku memanusiakan kamu! Kamu yang depresi dan tergila -gila oleh Lani.
Devan : Dari dahulu aku hanya mencintai Lani. Tapi kau merusak semua rencanaku dan masa depanku.
Delia : Tapi aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Dev.
Devan : Kau pikir kau yang terbaik untukku?
Delia : Aku yang mencintaimu setulusnya, seluruh jiwa ragaku.
Devan : Cinta bullshit!!!
Delia : Aku hanya ingin memilikimu dan mencintaimu seutuhnya. Lani tidak mencintai kamu. Buktinya dia menikah dengan Dito. Aku yang selama ini setia padamu!
Devan : Itu karena kamu b******k ! Kau menjebak Lani dengan Dito sehingga Dito terpaksa menikahi Lani karena foto - foto yang kau rekayasa! Seharusnya aku yang menikahi Lani, bukan Dito.
Delia : Da… darimana kamu tahu?
Devan : Aku sudah tau segala kebusukanmu pada Lani. Kau terlalu bodoh untuk menyembunyikan semua rahasia.
Delia : Ba… bagaimana mungkin. A… aku.
Devan : Kau ingat saat mabuk bersamaku? Ya, kau terlalu bodoh untuk mengikuti permainanku. Dan kau mengatakan segalanya sendiri.
Delia : Ta… tapi Dito mencintai Lani.
Devan : Tapi Lani hanya mencintaiku. Kau menghancurkan segalanya.
Delia : Tapi Lani sudah mati, Dev. Hanya ada aku sekarang untukmu. Aku yang selalu setia denganmu.
Devan : Lani tidak pernah mati dalam hatiku. Sebaliknya kau. Cepatlah mati. Aku sudah tidak tahan denganmu!
Delia : Dev…. aku…..
Devan : Dasar kau perempuan jalang. Semua ini karenamu! Pergi dari ruanganku! Jangan pernah masuk ke ruanganku lagi! Aku muak melihat wajahmu!
Nath terdiam mendengar ucapan Devan dan istrinya Delia. Ia tidak menyangka bahwa mamanya ada hubungan dengan Devan dahulu. Fakta ini benar - benar mengejutkan. "Apa jangan - jangan kematian papa dan Marco ada hubungan dengan Devan? Dan Bram ditangkap? Apakah Devan itu Mr. X?" Berbagai pertanyaan hadir di pikiran Nath. Ia harus mencari tahu.
"Nath.. kamu di dalam?" Panggil seseorang dan itu adalah Aldo, membuyarkan lamunan Nath.
"Iya Al, aku lagi sakit perut. Ada apa?" Nath pura-pura merintih sakit perut.
"Kamu salah makan sayang? Perlu aku ambilkan obat? Atau kita ke dokter saja?" Aldo cemas di depan pintu toilet Nath.
"Gak usah. Sebentar lagi aku selesai. Kamu tunggu saja di ruangan."
Nath segera menutup layar handphonenya dan keluar dari toilet untuk menemui Aldo.
See you next chapter yaaa... Love you
Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga
Muach...muach..muach..
Siez