CHAP 28 - Jebakan Citra

2113 Kata
Chapter 28 -  Jebakan Citra "Jangan memaksakan kehendakmu padaku karena sampai kapanpun kita gak akan pernah bersama." - Aldo- Setelah menyelesaikan urusan pekerjaannya, Nath pamit diri untuk masuk terlebih dahulu ke kamar hotel. Ia merasa harus ada yang dibicarakan dengan mamanya. Nath beralasan perutnya masih tidak enak dan ingin beristirahat.  “Al, aku ke kamar dulu ya. Masih sakit perut yang tadi.” Pamit Nath sambil berdiri. “Kamu udah makan obat belum?” Aldo cemas memegang tangan Nath. “Udah, tapi aku mau istirahat dulu aja ya. Kamu lanjutin makan sama Bu Citra.” Nath melepaskan tangan Aldo dan segera undur diri. Ia sangat ingin memperjelas hubungan mamanya dengan Devan. Mungkin ada teka - teki yang bisa ia ungkap dan sambungkan dengan segala kejadian dalam hidupnya. “Ya udah.. Sana pergi lah, sakit koq pakai acara turun ke bawah. Tidur sana! Ganggu orang banget!” Ucap Citra ketus. Ia sangat senang Nath tiba - tiba sakit. Ini bisa ia jadikan momen yang tepat untuk menjebak Aldo. Ia harus cepat menaruh obat perangsang di minuman Aldo. Hari ini harus berhasil. Citra hanya punya waktu 3 hari untuk menjebak Aldo. Nath segera undur diri dan pergi ke kamar hotelnya. Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung menelpon mamanya.  “Hi ma. Good night. I want to talk about something to you.” Nath memulai pembicaraan. (Hai, ma, Selamat malam. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu) “What’s matter Di?” Tanya Lani penasaran. (Ada apa Di?) “Do you know Devan Santoso?” (Apakah kamu tahu Devan Santoso?) “Yes. Why?” (Ya, kenapa) “Ma… dia itu siapa?” “Dia teman mama dan papa.” Jawab Lani datar. “Mama ada hubungan yang lebih dari teman dengan dia? Aku mendapatkan rekamannya berbicara dengan Delia, istrinya.” Lani terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Bingung karena tiba - tiba masa lalunya harus terungkit. “Ma…. hei.. Are you there?” Nath bingung karena mamanya hanya diam saja. (Ma, hei, apakah kamu masih ada di sana?) “Apa yang kamu dengar dari Delia dan Devan?” Lani tidak mau salah menjawab atau menjelaskan sesuatu yang seharusnya tidak diketahui oleh Nath. “Hmm… Delia bilang, Devan adalah kekasih mama. Delia menjebak mama dan papa dengan foto vulgar sehingga papa terpaksa menikahi mama. Selain itu, Devan juga dijebak Delia bahwa Devan menghamili Delia yang sebenarnya Devan tidak pernah menghamilinya.” Jelas Nath. “Apa? Itu semua jebakan Delia. Benar - benar kurang ajar dia! Beraninya mempermainkan hidupku!” Lani mulai emosi karena mendengarkan penuturan Nath. Teka teki hidupnya selama ini terpecahkan. Akhirnya ia tahu siapa yang membuat foto vulgarnya dengan Dito. Ia tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Delia padanya. ”Terkutuklah kamu Delia.” Gumam Lani dalam hati. Ia begitu membenci Delia yang menghancurkan hidupnya. Ia berjanji pada diri sendiri akan menuntaskan dendamnya pada Delia. “Begitulah menurut percakapan mereka ma.” “Apalagi yang mereka katakan?” Lani penasaran sambil menahan emosinya. “Hmm… Apakah mama masih mencintai Devan?” Nath bertanya agak pelan, takut menyinggung perasaan mamanya. “Dulu… aku sangat mencintainya. Seluruh hidupku hanya untuknya. Tapi setelah menikah dengan Dito dan merasakan kebaikannya. Aku belajar mencintai Dito.” Lani bersuara getir. Mengingat hidupnya dahulu. Terjebak dengan orang yang tidak dicintai sama sekali. Walaupun mereka sahabat, tapi hati tidak dapat dipaksakan. Ya, walaupun akhirnya Lani berusaha mencintai Dito, tapi wajah Devan tidak dapat hilang begitu saja dari kenanga Lani. Devan adalah cinta sejatinya. Tapi Lani tidak bisa mengatakan yang sejujurnya kepada Nath. Ia tidak mau Nath berpikir yang tidak - tidak terhadapnya. “Baiklah ma. Aku merasakan ada hubungannya antara kematian papa dan Marco dengan Devan.” “Hah…..Devan???” Lani benar - benar terkejut. Ia benar - benar tidak menyangka bahwa Devan bisa berbuat senekat ini. Mungkin saja Devan membenci Dito karena menikahinya, tapi membunuh Marco? Ia tak habis pikir. “Iya, sekarang Devan menyekap Bram. Dan Bram akan dibunuh oleh Devan. Ini ada hubungannya dengan Welmin Group. Data yang kuberikan padanya membuat ia mengakuisisi perusahaan itu. Devan tidak terima sehingga ia akan mengambil keseluruhan Welmin dari Bram.” “Orang bodoh yang tamak. Apa kau akan menyelamatkan Bram?”  Lani mengumpat.  “Tentu saja tidak. Ia adalah ular kepala dua. Sudah wajar baginya untuk membusuk.” “Bagus! Tidak perlu ikut campur urusan Devan dengan Bram. Fokus pada urusan kita menghancurkan Aditya dan tetap selidiki Devan. Apabila ia ada hubungan dengan kematian papa dan Marco, hancurkan dia! Kita balas semua yang ada hubungan dengan kematian papa dan Marco!” Perintah Lani. “Aku masih belum mengetahui apa hubungan Aditya dengan Devan dalam kehancuran papa dan kematian kak Marco. Nanti akan kupasang penyadap pada handphone Aditya.” “Good.” (Bagus) “Ok ma. Nanti aku ceritakan apa yang aku dengar padamu. Sudah dulu ya. Aku takut Aldo datang. Bye ma.” “Take care Diana.” Putus Lani di sambungan telepon. Lani sangat emosi mendengar penuturan Diana. Hatinya tercabik mendengar kelakuan Devan, ia tidak menyangka Devan bisa senekat itu. Rasanya ia ingin menghampiri langsung Devan dan bertanya padanya. Mengapa ia membunuh anak tercintanya. Tak cukupkah ia menghancurkan Dito saja? Mengapa anaknya di bunuh. Anak kandung Devan sendiri. Ya benar...Marco adalah anak Devan walaupun Devan tidak tahu yang sebenarnya dan hal itu menyebabkan Lani sangat mencintai Marco. Marco selalu nomor 1 di hati Lani, meskipun ia memiliki anak perempuan yaitu Diana, anaknya dengan Dito.  oooOOOooo Tadinya Nath ingin mendengarkan lagi sadapannya di handphone Devan, tapi entah mengapa hatinya merasa tidak enak meninggalkan Aldo sendiri dengan Citra. Ia harus mencari Aldo agar tidak terkena muslihat Citra.  Saat ia akan keluar dari pintu kamar, ia melihat Aldo di bopong oleh beberapa pria kekar yang menggunakan jas hitam. Aldo terlihat seperti orang mabuk, meracau tidak jelas. Ada Citra dibelakangnya pria - pria kekar tersebut. Nath harus menghentikannya tapi tidak mungkin menghentikannya begitu saja tanpa persiapan. Ia harus memasuki kamar Citra saat para bodyguard Citra pergi. Ia harus berbalik menjebak Citra, mungkin dengan salah satu bodyguardnya. Nath langsung melakukan hack pada beberapa cctv di hotel. Ia menghapus bagian saat Aldo dibopong oleh beberapa bodyguard, mengganti beberapa bagian menjadi seakan tidak pernah ada kejadian Aldo dengan Citra bersama. Setelah itu, Nath memanipulasi cctv di lorong lantainya untuk kegiatan berikut yang akan dilakukan olehnya.  Nath mengatur waktu start di jam tangannya saat ia akan bertindak dan memberikan waktu 10 menit untuk menyelamatkan Aldo. Setelah beberapa lama mempersiapkan diri di dalam kamar, Nath melihat keluar dari kamarnya, ia memakai topeng scream yang baru ia beli di jalan pulang tadi. Setelah mengecek keadaan ternyata hanya ada 1 orang bodyguard yang berjaga di depan kamar Citra. Nath langsung menekan tombol start di jam tangannya dan dengan cepat, Nath segera menyuntikkan obat bius di leher saat pria kekar itu sedang melihat ke arah lain. Ya, Nath memang membawa banyak persiapan, karena ia tahu yang dihadapi adalah Citra dan Devan. 2 orang licik yang bisa menghancurkan Aldo. Sebelumnya Nath sudah mencuri kunci akses utama seluruh kamar dari cleaning service yang membersihkan kamarnya. Ia tahu harus bersiap jika keadaan tidak memungkinkan. Nath kemudian membuka kamar Citra dan yang ia dapatkan adalah Citra sedang mencumbu mesra Aldo tanpa sehelai benangpun, dan Aldo sedang meronta b*******h seperti singa mendapatkan mangsanya. Dari belakang, Nath segera menyuntikkan obat bius yang ia simpan ke leher Citra yang sedang melakukan aksinya mesumnya.  Nath melihat, Citra sedang merekam aksinya dengan Aldo. Nath melihat Aldo masih meronta - ronta ingin di puaskan, karena tidak mungkin melakukannya di sini dan ia harus bertindak cepat, Nath memukul tengkuk Aldo agar pingsan. Setelah Aldo terdiam, Nath mulai menarik Aldo turun dari ranjang dan menggantinya dengan bodyguard yang telah ia buat pingsan. Nath melucuti semua pakaian bodyguard itu dan membuatnya seakan sedang bercinta dengan Citra. Ia mengabadikan momen ini agar bisa dipakai sebagai ancaman untuk Citra.  “Selamat menikmati Citra, kamu akan menyesal melakukan ini pada Aldo.” Nath melihat Citra miris, digunakan sebagai alat oleh Devan. Sementara Citra masih tergolek lemas tak berdaya dengan bodyguardnya, tanpa sehelai benangpun dan ditutupi dengan selimut. Setelah selesai melakukan sesi foto, Nath memakaikan pakaian untuk Aldo, membawa semua barang milik Aldo agar tidak menjadi bumerang bagi Aldo dikemudian hari. Saat Aldo dan Nath sampai ke kamarnya, cctv lorong di hotel menyala kembali sesuai dengan pengaturan Nath, seperti tidak terjadi apapun.  oooOOOooo “Good morning sayang….” Nath mencium bibir Aldo untuk membangunkannya. “Morning honey… duh koq aku sakit kepala dan tengkuk banget ya...” Aldo memegang kepalanya yang sangat sakit, seperti berputar. Tengkuknya sangat sakit seperti habis dipukul orang. “Kemarin kamu mabuk ya sama Citra?” Nath bertanya dengan kesal. Ia melipat kedua tangannya di depan d**a. “Nggak koq. Aku gak minum alkohol. Kamu tau kan aku paling gak suka alkohol.” Aldo masih memegangi kepalanya yang sangat sakit. Ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi tadi malam. “Hadeh… untung tuh ya… aku lihat kamu. Kalau gak, kamu sekarang sudah ada di ranjang sama Citra.. Dan kamu akan menyesali itu jika aku terlambat.”  “Hah… di ranjang sama Citra?” Aldo sangat kaget. Ia berpikir keras, bagaimana caranya ia bisa ada di ranjang bersama Citra. Pasti ada yang tidak beres. Pasti Citra mencampurkan sesuatu di minumannya saat ia ke toilet. "Iya.. aku pikir kamu mau selingkuh sama Citra!" Nath bertambah kesal mengingat betapa bodohnya Aldo bisa terjebak dengan Citra. "Mana mungkin aku selingkuh dengannya…." Aldo membela diri, memeluk tubuh Nath dari belakang. "Lain kali, kalau kamu akan pergi, minuman yang ada di meja jangan diminum lagi! Semalam kamu liar banget. Pasti ada obat perangsang!!! Kamu mengerti???" Nath memperingatkan dengan keras. Aldo harus bisa menjaga dirinya sendiri. Tidak mungkin Nath menjaganya terus. Suatu saat pasti bisa kecolongan. "Iya sayang.. maafkan aku. Aku janji tidak akan begitu lagi." Aldo memeluk Nath semakin erat. Ia bersyukur Nath bisa menyelamatkannya dari jebakan Citra. "Ingat.. minuman atau makanan apapun yang diberikan Citra atau keluarganya, lebih baik kau tidak memakannya!" "Iya tuan putri. Hamba mengerti." Aldo mengeratkan pelukannya dan mencium ceruk leher Nath. "Nanti makan obat sakit kepala, aku rasa kamu akan sakit kepala seharian." "Kenapa bisa seharian honey?" Aldo bingung sendiri. "Karena aku pukul tengkuk kamu supaya kamu gak ngaco tadi malam!" Nath melepaskan pelukannya dan bergegas mengambil breakfast yang telah ia pesan sebelumnya. Tadinya Nath ingin membius Aldo agar tidak melakukan kegiatan gilanya, tapi ia takut ada efek samping untuk Aldo karena sudah diberikan obat perangsang oleh Citra, jadi jalan satu - satunya membuat Aldo diam adalah membuatnya pingsan. Sementara obat bius yang ia berikan kepada Citra dan bodyguard itu, full dosis. Mungkin mereka masih belum bangun hingga saat ini. Ya tapi obat bius bagaimanapun pasti akan menimbulkan sakit kepala hingga mual.  Aldo memegang lehernya yang masih sakit dan tegang. Ia bingung sendiri kenapa Nath memukulnya, bukannya bisa menuntaskan gairah Aldo yang diberikan obat perangsang? Apa ia terlalu liar semalam hingga Nath dengan kejam memukulnya? Sementara di kamar lain…. "Aduh kepalaku sakit banget." Citra merintih memegang kepalanya. Ia membuka matanya dan masih memeluk pria di sampingnya. Walaupun sakit kepala, Citra tersenyum puas merasa ia sudah menjebak Aldo. Ia masih melihat dirinya tanpa benang sehelaipun dan merasakan ada pria di sampingnya memeluknya. “Akhirnya Aldo terjebak juga olehku.” Gumam Citra dalam hati, merasa puas akan keberhasilannya. Tak lama pria di samping Citra pun bangun dan merasakan sakit di kepala yang hebat.  "Sakit banget kepalaku…" Ucap pria di samping Citra memegang kepalanya.  Citra masih pura - pura tidur cantik dipelukan pria itu, ia menyangka jebakannya berhasil. Tapi saat ia membuka matanya, ia mendapati orang yang ia peluk adalah Verrel, bodyguardnya yang paling ia percaya. "Arrrrgh what the fuck.. ngapain kamu di ranjang sama aku???" Citra berteriak karena kaget. Ia langsung bangun dari tempat tidur menarik selimut untuk menutupi dirinya. “Ma..maaf nona, saya benar - benar tidak tahu apa yang terjadi.” Verrel bingung dengan apa yang terjadi.  “Apa yang terjadi b******k?? Dimana Aldo? Dimana kameraku?” Teriak Citra penuh emosi. Ia melotot terhadap Verrel. “Sa.. saya tidak tahu apa yang terjadi nona. Yang saya ingat, tadi malam saya berjaga di depan pintu kamar nona.” Verrel mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam. Ia juga bingung kenapa saat ia bangun bisa berada di kamar Citra dengan kondisi telanjang. “Brengsek.. Apa ini kerjaan Nath?” Citra mulai mencurigai Nath. Bagaimana wanita bodoh itu bisa menghancurkan rencananya. “Saya akan mengecek CCTV.” Verrel bergegas memakai pakaiannya dan keluar dari kamar Citra. “ARRRGGGHHHH b******k!!!!” Citra sangat kesal dengan kejadian yang menimpanya. Rencananya gagal lagi. Ia harus membuat perhitungan dengan Nath. Citra melempar semua barang di kamar hotelnya. Emosinya benar - benar sudah tidak terkendali lagi.  See you next chapter yaaa... Love you Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga Muach...muach..muach.. Siez  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN