Chapter 29 - Siapa kamu?
Aku memang wanita, tapi aku mampu memanfaatkan otakku untuk menghancurkanmu. Segala kelakuan busukmu akan ku ungkap dengan sangat mudah, seperti membalikkan telapak tanganku.
- Nathania -
Verrel segera mengecek cctv di hotel dan hasil yang didapatkan adalah nihil. Ia bingung juga kenapa seluruh rekaman cctv yang melibatkan Aldo dan Citra antara pukul 21.00 sampai 22.00 hilang semua, segalanya terlihat normal, tidak ada interaksi apapun antara Aldo dan Citra. Tidak ada jejak sedikitpun. Bahkan siapa orang yang berani membiusnya juga ia tidak tahu. Tidak ada tanda pergerakan sedikitpun padahal iya yakin membawa Aldo ke kamar bosnya sekitar pukul 21.40. Tapi di kamera cctv, tidak ada orang di lorong kamar hotel itu. Terasa bodoh bagi seorang Verrel yang sudah dilatih sebagai bodyguard dan mata - mata. Ia berhadapan dengan orang yang sangat profesional.
“Pasti ada seorang hacker yang bermain di sini. Apakah aspri Aldo yang melakukannya? Apakah dia mata - mata juga? Atau hanya seorang w************n bodoh yang beruntung? Siapa dia?” Verrel bertanya dalam hatinya. Ia mencurigai Nath, tapi sepertinya Nath hanya orang biasa yang tahu hanya bekerja kantoran saja. Tidak ada tampang sebagai mata - mata ataupun hacker. Mungkin ia pintar dalam pekerjaan tapi bukan berarti pintar dalam masalah hacker bukan?
“Aku harus menyelidiki aspri itu. Ia sangat mencurigakan.” Verrel meyakinkan dirinya sendiri.
Verrel meneruskan pengecekan cctv dan ia dapatkan Nath baru masuk ke kamar Aldo pukul 05.00 dengan kondisi lelah dan baju yang sangat terbuka. Ia mengecek backward seluruh cctv di hotel dan ia dapatkan bahwa memang Nath keluar dari hotel pukul 19.00 dan baru kembali pukul 05.00 pagi. Seluruh jejak cctv sangat meyakinkan.
“Ya.. aspri itu izin pamit pada bosku sekitar pukul 18.55, jadi pasti ia pergi ke suatu tempat, bukan sakit perut seperti kata perempuan itu sebelumnya. Kemana dia pergi dari pukul 19.00 sampai jam 05.00?”
Verrel kemudian meneliti cctv lagi, ternyata ada seorang wanita masuk ke kamar Aldo pukul 20.00 dan pulang pada pukul 04.30. Siapa wanita ini? Sangat mencurigakan. Apakah kekasih Aldo yang lainnya? Berambut blonde, tinggi, cantik, high heels, pakaian atas ketat dan celana panjang ketat berwarna hitam. Seperti catwoman.
Verrel menjadi bingung sendiri. Jika bukan aspri itu pelakunya, lantas siapa wanita ini? Apa hubungannya dengan Aldo? Tapi mau tidak mau, ia tetap harus menyelidiki aspri Aldo dan wanita dalam cctv, mungkin salah satu dari mereka adalah otak di balik kekacauan yang terjadi saat ini. Verrel kemudian mengambil foto wajah dari wanita misterius yang baru keluar dari kamar Aldo untuk kemudian ia selidiki.
oooOOOooo
“Al, sudah siap untuk pergi?” Nath mengecek semua barang bawaan Aldo untuk ke peninjauan lokasi dan assesment dengan para pejabat setempat.
“Udah, yuks kita breakfast dulu. Lapar.” Aldo memegang perutnya yang kelaparan.
“TING…..” Tiba - tiba ada bunyi pesan dari handphone Aldo.
Citra : Al, hari ini aku gak ikut dulu sama kamu. Aku agak gak enak badan.
Aldo : Ok
“Siapa Al?” Tanya Nath.
“Citra, katanya gak enak badan.” Nath tersenyum smirk mendengar penjelasan Aldo. Sudah pasti gak enak badanlah, dosis obat biusnya lumayan tinggi. Sebenarnya Nath bisa saja memberikan dosis rendah, tapi ia terlalu kesal pada Citra yang berusaha menjebak Aldo, sehingga obat biusnya sengaja diperbanyak.
“Ya udah, yuks kita turun aja ke resto. Aku juga sudah lapar.” Nath mencium pipi dan menggandeng tangan Aldo untuk pergi bersama.
Insting mata - mata Nath tau, Citra pasti akan berbuat sesuatu di kamarnya nanti. Pasti ia akan menggeledah kamarnya dengan Aldo. Untuk menghilangkan bukti bahwa dirinya yang menggagalkan rencana Citra, Nath telah mengirimkan handycam Citra ke rumah Pranoto, pemilik PRG group. Mungkin dalam 2 sampai 3 hari, Pranoto akan mendapatkan handycam itu. Nath sangat berharap Pranoto akan murka pada Devan dan menghentikan semua kerja sama antar perusahaan secara langsung.
Pranoto adalah tipe lelaki yang tidak ingin diinjak harga dirinya oleh orang lain terutama masalah wanita apalagi mendapatkan blackmail yang berisi video mesumnya dengan Citra yang memungkinkan menghancurkan image perusahaan dan keluarganya.
Sebelumnya, Nath telah mentransfer semua data di handycam Citra ke cloud service yang ia miliki dengan access security level tinggi saat Aldo masih pingsan. Handycam Citra saat ini hanya berisi video mesumnya dengan Pranoto serta beberapa foto vulgar Citra dengan bodyguardnya.
“Pasti Pranoto naik darah melihat video ini. Fiuhh apa yang akan terjadi pada Devan ya? Aku penasaran. Ributkah? Atau berdamai.. Hahaha...” Nath tertawa smirk dengan apa yang telah ia lakukan.
Oh ya, selain itu, Nath juga memasang beberapa kamera cctv kecil di kamarnya, ia takut jika ia lengah, bisa saja Citra menaruh sesuatu di kamarnya. Nath selalu membawa perlengkapan mata - matanya kemanapun ia pergi. Karena perlengkapannya sangat mini, maka dengan mudah ia taruh di tas tangannya. Tas tangannya pun sudah didesain memiliki kompartemen sendiri untuk menaruh barang rahasianya. Tidak sembarangan orang bisa menyadari tempat tersebut.
Saat menuju resto, Nath merasa ada yang memperhatikan gerak geriknya, ia melihat orang itu di kaca tepat depan Nath. Ya orang itu adalah Verrel, bodyguard yang ia bius semalam. Nath akan berakting bodoh untuk mengecoh Verrel.
"Al, aku ke toilet sebentar ya. Tolong ambilkan makananku dulu ya." Nath pamit ke toilet. Sebenarnya Nath ingin menjebak Verrel untuk mengikutinya.
"Ok. Aku ambilkan." Aldo mencium pipi Nath dan langsung berjalan menuju buffet yang sudah disiapkan oleh pihak hotel.
Nath berjalan ke arah toilet dan ia yakin bodyguard itu mengikutinya. Nath pura - pura menelepon seseorang dan bersikap manja dengan telepon itu.
"Hai sayang… kamu lagi dimana?" Panggil Nath mesra di teleponnya.
“...........”
"Oh ya.. tadi malam kamu sungguh menakjubkan.. aku mau lagi.. kamu buat aku ketagihan. Buat aku melayang." Nath tertawa dalam hati. Ia bersikap sangat centil. Flirting dengan rambutnya sendiri. Terasa sangat bodoh.
“...........”
"Aldo? Dia sangat payah. Tidak seperkasa kamu. Dia hanya orang bodoh yang tak bisa memuaskanku seperti kamu. Kamu sumber kebahagiaanku." Nath merasa dirinya seperti jalang saja. Terus berbicara provokatif dan genit.
“...........”
"Aku gak tau Aldo dimana semalam. Biarkan saja.”
“...........”
“Hmm...Mungkin sama calon istrinya." Balas Nath cekikikan tidak jelas.
“...........”
“Cemburu? Ya nggak lah, buat apa juga.”
“...........”
“Kemarin malah sengaja aku tinggalkan mereka berdua, aku sudah muak melihat wajah mereka berdua. Saling suka tapi masih bermain belakang denganku.“
“...........”
“Kamu paling tau aku bagaimana kan.”
“...........”
"Hmm...saat aku kembali ke kamar hotel, dia sudah tidur di ranjang. Sepertinya dia teler."
“...........”
"Ya aku hanya akan setia padamu. Karena kamu kekasihku. Aldo bodoh itu hanya bisa aku ambil uangnya saja. Untuk urusan ranjang dan hati, kamu nomor satu. Aku tidak butuh dia. Manusia lembek."
“...........”
“Lumayan kan bisa mendapatkan uang dari pria bodoh itu. Untuk jajan kita berdua sayang.”
“...........”
"Ya… nanti malam kutemui kamu lagi ya.. Mungkin Aldo sialan itu masih sibuk dengan calon istrinya itu." Nath memperhatikan sekitar dan sepertinya ia cukup berhasil dengan aktingnya.
“...........”
“Bye sayang.. Love you.” Nath pura - pura mematikan sambungan teleponnya. Bodyguard itu sudah termakan siasatnya, terbukti lelaki itu memang sedang mengambil video dirinya menelepon. “Kena kau!” Nath tersenyum puas.
"Dasar… kamu ternyata wanita jalang juga. Jika kamu pergi tadi malam. Lantas siapa yang membiusku?" Ucap Verrel dalam hati. Setidaknya satu teka teki terpecahkan. Aspri Aldo sedang bersama seorang pria dan ia dapat membuktikannya lewat kamera cctv hotel.
Nath membuat dirinya seakan kebetulan bertatap muka dengan bodyguard Citra. Ia harus berakting lagi merayunya. Sepertinya orang ini bisa dipergunakan olehnya. Nath harus terlihat seperti jalang sungguhan di hadapan bodyguard tampan ini.
Nath pura - pura menabrakan dirinya pada bodyguard Citra sambil menempelkan alat penyadap di bajunya.
"Maaf Pak.. saya tidak sengaja." Nath memegang bahunya yang bersenggolan dengan Verrel.
"It's ok." Verrel tersenyum. "Memang aspri Aldo sangat cantik, tinggi, putih, lembut dan sepertinya orang yang cerdas. Jika dibandingkan dengan bosnya sendiri, bosnya tidak ada apa - apanya. Pantas saja Aldo sangat tergila - gila dengannya." Pikir Verrel.
"Sepertinya saya pernah melihat anda." Nath pura - pura berpikir, sok dekat dengan Verrel.
"Mungkin pernah nona. Saya asisten nona Citra, nama saya Verrel. Nona ini asistennya Bapak Aldo kan?"
"Ah iya.. saya baru ingat. Pak Verrel. Hmm senang bertemu dengan anda. Nama saya Nathania, anda bisa memanggil saya Nath. Wah, ternyata asisten bu Citra sangat tampan dan mempesona." Nath mulai merayu dengan centilnya. Sementara Verrel hanya bisa tersenyum tanpa balasan yang berarti.
“Jika kamu suka, kamu bisa menghubungiku kapan saja.” Nath memberikan kartu namanya sekalian mengedipkan salah satu matanya agar menambah kesan genit pada Verrel.
Verrel hanya tersenyum dan melihat Nath pergi menuju Aldo. Verrel sangat terpesona pada pandangan jarak dekat dengan Nath apalagi setelah berbicara dengan Nath. Selama ini, ia hanya melihat Nath dari jauh. Jujur saja, menurut Verrel, Nath adalah tipe wanita idaman baginya. Sayangnya, Nath juga jalang seperti bosnya., jika tidak, ia pasti akan mengejar Nath mati - matian.
Verrel melihat Nath bermesraan dengan Aldo, mencium bibir Aldo dan memeluknya saat bertemu benar - benar pemain drama seperti natural seorang kekasih. Ia mentertawakan Aldo yang bodoh bisa dikerjai 2 wanita sekaligus. “Sangat payah hidupmu Aldo. Ditipu wanita dan kau bertekuk lutut terhadapnya.” Gumam Verrel.
Setelah selesai breakfast, Aldo dan Nath segera pergi ke tempat proyek akan di langsungkan. Mereka juga menemui pejabat setempat untuk mengajukan izin pembangunan pabrik mobil. Untungnya para pejabat setempat mau membantu Aldo karena akan memberikan lapangan kerja yang sangat besar bagi warga sekitar Sidoarjo.
Aldo sangat senang dengan perkembangan proyeknya saat ini, apalagi ditemani oleh Nath. Semua pekerjaan jadi lebih mudah. Bernegosiasi dengan kemampuan Nath sangat tidak diragukan. Tidak salah ia membawa Nath kemanapun ia pergi.
Setelah menyelesaikan rapat dengan pejabat setempat, Aldo dan Nath pergi untuk bersantai sejenak, mereka pergi ke taman Abhirama. Duduk di gazebo dan memandangi taman yang indah. Menikmati pemandangan alam yang sulit mereka dapatkan di Jakarta. Anggap saja sedang berkencan, begitulah menurut Aldo.
"Al…" Nath memeluk Aldo erat.
"Kenapa sayang?" Aldo mencium pucuk kepala Nath.
"Aku mau jujur sesuatu dengan kamu, dan aku harap kamu jangan marah dan mau bekerja sama denganku."
"Apa itu?" Aldo penasaran dengan kata kejujuran yang diucapkan Nath.
"Hmmm.. tadi waktu kita breakfast, kita diikuti oleh salah satu bodyguard Citra. Sepertinya dia menyelidiki kita."
"....." Aldo terdiam, ingin mengetahui selanjutnya cerita Nath.
“Hmm.. menyelidiki tentang kejadian semalam, bagaimana bisa kamu selamat dari cengkraman Citra.”
“Ah...Terus...” Aldo mulai connect dengan ucapan Nath.
“Aku tadi berniat mengecohnya, agar ia tidak menyangka bahwa aku yang membantu menyelamatkanmu.”
“And then...” Aldo masih menunggu kelanjutan cerita Nath.
"Terus aku tadi berpura - pura menelpon seseorang dan bertindak seperti w************n dan...hihihi." Nath tak sanggup menahan tawanya jika mengingat Verrel.
"Dan apa? Ayolah.. kamu ini bicara sedikit sedikit. Aku tuh dengernya jadi penasaran!" Aldo kesal karena penasaran dengan apa yang akan diucapkan Nath.
"Dan aku bilang di telepon ke pacar bohongku itu bahwa kamu.. hmmm tapi jangan marah yaa….”
“Iya aku gak akan marah sama kamu.”
“Janji?” Nath menunjukkan kedua jarinya untuk membuat swear pada Aldo.
“Janji.”
“Hmm aku bilang kamu kurang perkasa.. huabauahua…" Tawa Nath membahana. Sementara wajah Aldo memerah karena dibilang tidak perkasa.
"What??? Kamu bilang aku kurang perkasa?? Kamu mau berapa ronde hah? Sini sekarang aku perlihatkan sama kamu betapa perkasanya aku." Aldo sangat kesal diejek Nath. Meskipun itu untuk membela dirinya, tapi harga diri Aldo terasa terinjak jika memilih topik perkasa. Nath yang merasa bersalah mulai mengelus d**a Aldo agar tenang kembali.
"Hahaha.. maaf sayang. Aku hanya ingin menjebak dia. Di telepon bohongan itu, aku ceritanya tuh ya… punya pacar lain. Dan kamu itu hanya untuk aku peras. Seperti ini." Nath memasukkan tangannya ke dalam kemeja Aldo dan memperagakan gaya memeras di p****g d**a Aldo.
"Ouch.. kamu jangan nakal! Kamu bisa buat aku turn on tau!" Aldo memperingatkan dan melepaskan tangan Nath yang sudah nakal meraba di dalam kemejanya. Aldo bisa hilang akal jika tangan Nath terlalu lama berada di dalam kemejanya.
"Ya.. aku gak nakal lagi. Hmm singkat cerita, sepertinya dia ingin tahu aku kemana dan apakah aku yang menyelamatkan kamu dari tangan Citra."
"And then??"
“Gak mungkin aku menunjukkan diri bahwa aku yang membantumu lolos dari Citra. Bisa bahaya kan aku.”
“Terus??”
"Ya aku harus berakting donk… “
“Terus...” Aldo menjadi kesal karena Nath bercerita sedikit - sedikit membuatnya penasaran.
“Teruss… Aku juga menggoda dia. Hahahahah." Nath makin terpingkal dengan kejadian pagi ini. Tapi sebaliknya Aldo menjadi masam wajahnya. Ia tidak rela Nath bersikap genit pada bodyguard Citra.
"Kamu goda gimana?" Aldo semakin datar. Ada nada kesal dalam ucapannya.
"Aku kasih kartu nama donk.. siapa tau dia mau hubungi aku terus aku kedipin dia deh.. nih kayak gini nih...." Nath memperagakan cara mengedipkan salah satu matanya dengan genit tadi di depan Verrel.
"Ishh… genit banget sih! Ok.. sekarang aku mau tanya.. Gantengan mana dia sama aku?" Aldo mulai melepaskan pelukannya dan merapikan diri agar dibilang ganteng oleh Nath.
"Dia lah.." Seketika Aldo menjadi lemas karena tidak terpilih. Wajahnya kembali masam. Cemberut tidak jelas karena tidak dipilih pacarnya sendiri.
"Hmmm.. matanya hazel, kulitnya eksotis.. ototnya kekar.. wuihh dalamnya gimana yaa… uuuhhhh… gak kuat deh mungkin… hmm kalau kamu berani nakal sama wanita lain, mungkin…. Aku… hmmppphhh." Nath berpura - pura membayangkan tubuh Verrel dengan hiperbola agar Aldo cemburu, dan hasilnya adalah Aldo menghentikan ucapan Nath dengan membungkam bibir Nath dengan bibirnya.
Aldo menghentikan cumbuannya dan memberikan jarak 5 cm. Ia sedikit berbisik di telinga Nath. "Tidak pernah sedikitpun dalam hatiku untuk berpaling dari kamu. Kamu satu - satunya dalam hidupku."
Nath yang sangat senang dengan ucapan Aldo langsung mencium bibir Aldo dengan mesra, melumat dan sudah tidak memikirkan apa ada yang melihat mereka atau tidak. Nath dan Aldo sudah tidak peduli orang lain.
"Tunggu!" Aldo melepaskan ciumannya.
"Apalagi sih? Kamu nih ganggu kesenangan orang aja. Sini bibirnya…." Nath kesal karena ciumannya dihentikan Aldo. Nath masih mau memeluk leher Aldo untuk menciumnya, tapi Aldo memberikan jarak agar ia bisa bertanya selanjutnya.
"Terus kamu mau kerja sama apa dari aku?"
"Aku mau kamu pura - pura bodoh. Ya.. kekasih bodoh yang tidak tau sedang diselingkuhi. Aku tau, Verrel pasti merekam semua ucapanku tadi. Jadi.. aku mau kamu pura - pura kaget saat mendengar ucapanku tadi. Ok… terutama di hadapan Citra. Kamu harus pura - pura patah hati jika Citra mengirimkan video itu. Ok!" Nath mulai memajukan bibirnya lagi untuk dicium oleh Aldo dan memeluk leher Aldo, tapi Aldo menghentikan bibir Nath yang sudah maju 5 cm dengan kedua jarinya.
"Verrel??" Aldo menaikkan alisnya. Ia kesal karena wanitanya sampai mengetahui nama bodyguard Citra itu.
"Yes… namanya Verrel...Verrel ganteng nan perkasa dan tidak pernah menghentikan ciuman aku.. itu nama lengkapnya." Nath menambahkan bumbu agar Aldo tambah cemburu.
"What.. kamu tambahin ganteng nan perkasa dan tidak pernah menghentikan ciuman dengan kamu??.. Kamu mau aku hukum ya??" Aldo mulai menggelitik pinggang Nath dan Nath sangat tidak kuat dengan gelitikan tangan Aldo. Aldo sangat tau area sensitif Nath yang bisa membuat Nath turn on. Tapi ia benar - benar harus menghukum Nath karena membicarakan pria lain di depannya. Membuat Aldo cemburu saja..
"Eh tunggu, aku masih penasaran, bagaimana caranya kamu menyelamatkan aku dari Citra?" Aldo penasaran. Ini hal yang paling membuat Aldo penasaran.
"Aku kan ninja tau!" Nath menjulurkan lidahnya untuk meledek Aldo. Tidak mungkin Nath mengatakan yang sejujurnya pada Aldo.
"Serius." Nath hanya cengengesan dan Aldo tidak percaya ucapan Nath. Nath memang terasa sangat misterius. Dan ini masih menjadi tanda tanya yang besar bagi Aldo mengenai diri Nath seutuhnya. "Kamu ini siapa sih?" Itu yang ingin Aldo tanyakan.
Flashback on
Setelah Nath menyelesaikan makan malam dengan Aldo dan Citra ia pergi keluar dari hotel menggunakan taxi. Ia pergi suatu gang untuk berganti baju. Nath harus membuat trik karena ia sudah mendengar rekaman pembicaraan Citra dan Devan bahwa hari ini Citra akan memberikan obat perangsang pada Aldo untuk menjebaknya.
Nath harus membuat seolah - olah ia pergi ke suatu tempat dan pulang dari tempat itu saat jam 05.00 agar tidak dicurigai. Ia sudah bisa mengakses kunci keamanan kamera di hotel. Ia juga membuat banyak orang menjadi saksi bahwa ia pergi jam 19.00 dan pulang saat jam 05.00.
Setelah selesai mengganti baju dan berganti wajah menjadi Scarlet, Nath datang kembali ke hotel dan tidak ada satupun orang yang mengenalinya. Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk pulang dan pergi ke hotel. Tapi Nath mengulur waktu agar tidak mencurigakan.
Pada pukul 20.00, Nath segera masuk ke kamarnya seakan pencuri masuk ke kamar seseorang. Agar yang dicurigai adalah Scarlet yang menghancurkan rencana Citra bukan Nath.
Setelah selesai dengan urusannya dengan Aldo, Nath keluar dari hotel saat jam menunjukkan pukul 04.30 pagi. ia memesan taksi dari lobi dengan wajah Scarlet dan pulang lagi ke hotel dengan wajah Nath. Sungguh melelahkan pergantian wajah ini. Tapi tetap harus ia lakukan agar tidak ada yang curiga pada Nath. Ia yakin Verrel akan menyelidikinya dan akan mengetahui bahwa wanita di cctv itu adalah Scarlet.
Flashback off
See you next chapter yaaa... Love you
Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga
Muach...muach..muach..
Siez