Chapter 30 - Scarlet
Tidak usah mencariku, karena aku akan datang padamu tanpa kau sadari. Bersiaplah menerima akibat dari apa yang pernah kamu lakukan, karena aku dewi kematian bagimu.
-Scarlet-
Citra berjalan ke sana ke sini. Ia sangat takut saat mengetahui handycamnya hilang. Di sana banyak perbuatan dan bukti ia melakukan hubungan seksual dengan banyak lelaki. Dan itu semua suruhan Devan untuk memuluskan bisnisnya. Semua video dan foto adalah bukti betapa hancurnya Citra sebagai wanita karena Devan. Ibunya hanya mengetahui Citra dipergunakan sebagai simpanan PRG group, ia tidak mengetahui video m***m yang Citra punya dijadikan senjata Devan untuk memeras beberapa pengusaha.
"Bagaimana hasil penyelidikanmu?" Tanya Citra pada bodyguardnya, Verrel.
"Yang menyabotase tindakan kita semalam adalah Scarlet. Dia mata - mata internasional." Jelas Verrel. Nama Scarlet sudah terkenal di dunia mata - mata dan hacker. Tidak semua orang pernah melihat wajahnya, tapi beruntung ia memiliki teman hacker yang pernah bekerja sama dengan Scarlet.
"Scarlet?"
"Ya Scarlet."
"Untuk apa dia menyabotase ku dengan Aldo hah? Apa untungnya buat dia?" Citra sangat kesal. Bagaimana bisa sabotasenya terhadap Aldo malah di gagalkan oleh mata - mata internasional. Apa yang terjadi? Apa ia sedang menyelidiki Citra atau menyelidiki Aldo? Apa ini ada urusan bisnis dengan papanya? Semua teka teki ini membuat kepala Citra semakin pusing.
"Scarlet membuat kesalahan dalam memperlihatkan wajahnya di cctv. Sehingga bisa kita selidiki." Lanjut Verrel.
"Itu kesalahan atau sengaja ia lakukan?" Citra mulai menerka - nerka yang terjadi.
"Sengaja?" Verrel baru terpikir kata - kata itu. Semua cctv sudah di hack olehnya, tapi kenapa wajahnya sendiri tidak dihapus? Apakah memang ia sengaja menampilkan diri? Tapi untuk apa?
"Bagaimana dengan aspri Aldo, apakah dia terlibat?"
"Dari penyelidikan saya, dia tidak terlibat. Ia keluar dari hotel jam 19.00 dan baru kembali jam 05.00. Selain itu juga saya memiliki bukti rekaman kalau dia bersama pria lain." Verrel langsung menyerahkan handphonenya yang berisi rekaman Nath berbicara di telepon. Citra tersenyum smirk mendengar percakapan Nath di telepon.
"Dasar jalang! Ternyata begini kelakuanmu. Aku bisa memanfaatkan ini untuk menghancurkannya… mungkin bisa dikirim ke tante Felicia. Agar dia membenci Nath." Citra memiliki ide yang cemerlang untuk menyingkirkan Nath.
"Kirimkan videomu pada tante Feli dan Aldo. Biar mereka tau Nath seperti apa." Citra tertawa menakutkan. Cukup menakutkan bagi Verrel karena biasanya Citra tidak pernah seperti ini. Citra seperti orang psikopat.
"Baik nona." Verrel langsung mengirimkan videonya pada Felicia.
“Sekarang kita geledah kamar Aldo, siapa tau kita mendapatkan petunjuk dari barang mereka. Harusnya aspri itu bodoh!” Citra menyuruh Verrel untuk mengecek semua barang yang mungkin ia bisa gunakan untuk menyerang Nath atau bahkan bertemu bukti yang lainnya.
“Baik Nona.” Verrel langsung bergegas masuk ke kamar Nath dan mengecek semua barang di sana, tentunya ia merapikan kembali seperti sedia kala agar tidak mencurigakan. Tidak ada barang apapun di dalam kamar Nath. Bahkan koper Nath hanya baju saja dan pakaian dalam yang seksi. Sedangkan di koper Aldo hanya ada pakaian saja. Ia menggeledahnya sampai ke semua sudut ruangan di kamar, tapi ia tidak menemukan apapun.
oooOOOooo
Jakarta
Felicia sedang arisan bersama teman - teman sosialitanya. Tiba - tiba terdengar bunyi pesan masuk ke handphonenya. Saat membuka pesan video itu, Felicia teramat kaget melihat video yang dikirimkan dari orang yang tidak ia kenal.
Wajah Felicia berubah menjadi masam, kesal dan memerah seperti menahan emosi. Ia melihat Nath seperti jalang sekarang. Pandangan Felicia terhadap Nath berubah 180 derajat. Ia jadi membenci Nath karena telah berani mempermainkan Aldo. Felicia pernah memperingatkan Nath untuk tidak mempermainkan perasaan Aldo, tapi ternyata Nath lebih parah dari itu. Emosi Felicia sudah memuncak, ia tidak menyangka yang ia percaya malah menjadi seperti ini.
Felicia sudah tidak mood mengikuti arisan, akhirnya dia undur diri dari perkumpulannya. Ia harus memberitahukan Aldo mengenai masalah Nath. Ia tidak mau anaknya semakin lama semakin terjebak dengan Nath.
"Halo Al.." Panggil Felicia di telepon kepada Aldo.
"Kenapa ma?"
"Hmm hubungan kamu dengan Nath baik - baik saja?" Felicia agak cemas jika ia terlalu frontal mengatakan ketidaksukaannya pada Nath. Ia harus menjaga perasaan Aldo.
"Baik koq. Tambah mesra lagi." Aldo menelepon sambil memeluk Nath di kamar hotel.
"Hmm begini.. mama dapat kiriman video…"
"Ah video Nath nakal ya ma.. hahaha..." Aldo tertawa terbahak - bahak karena ia juga dikirim video yang sama. Awalnya ia kesal mendengarkan perkataan Nath di video itu, tapi karena Nath sudah memberitahukan sebelumnya, jadi Aldo bisa meredam kekesalannya.
"Ka.. kamu dapat video itu? Terus kamu kenapa ketawa?" Felicia bingung dengan sikap Aldo yang santai saja.
"Mama jangan kasih tau siapapun ya… sama papa juga jangan. Cuma rahasia kita bertiga. Ok ma." Aldo tau mamanya bisa menyimpan rahasia apapun yang diberikan oleh Aldo.
"Apa?"
"Sebenarnya itu Nath gak telepon sama siapapun, dia ini cuma akting aja nelpon dengan centil. Emang dasar nih si centil." Aldo menjitak kepala Nath.
"Maksudnya?"
"Jadi semalam itu, aku mau dijebak sama Citra pakai obat perangsang ma. Terus entah bagaimana caranya, si centil ini bisa menyelamatkanku."
"Obat perangsang? Fiuh.. syukurlah kamu selamat Al." Felicia sangat lega tidak ada masalah besar yang terjadi antara Aldo dan Citra.
“Bagaimana caranya Nath bisa menyelamatkan kamu Al?” Tanya Felicia penasaran.
“Gak tau.. Dia bilang kalau dia ini ninja.. Benar - benar anak centil ini tidak pernah serius kalau ngomong.” Aldo memandang Nath sebal. Ia sebal karena tidak diberitahukan caranya Nath menyelamatkan dirinya.
“Ninja? Hahaha.. Ada - ada saja anak itu.” Felicia tertawa lega dengan perkataan Aldo. “Bagaimana mungkin Nath yang begitu lemah menjadi seorang ninja, pasti ada orang yang membantu Nath menyelamatkan anaknya, dan mungkin yang membantu menyelamatkan Al memang seorang ninja.” Felicia berpikir sendiri.
"Terus.. untuk mengelabui bodyguard Citra, supaya Nath gak ketahuan yang membantu aku, ya jadi dia centil gitu di telepon. Pakai bilang aku gak perkasa lagi. Dasar anak centil kurang asem!" Aldo mencubit pipi Nath. Sementara Nath hanya cengegesan saja di pelukan Aldo.
"Syukurlah kalau memang seperti itu kejadiannya. Mama hampir sakit jantung melihat video itu Al." Felicia bernafas lega, sepertinya ia harus memberikan perintahnya pada detektif pribadinya untuk menyelidiki Citra, takut jika Citra berbuat yg lebih parah pada Aldo. Ia harus menjaga anaknya sendiri.
"Sekarang Nath dimana?"
"Ni lagi sama aku. Lagi aku peluk kayak teddy bear." Aldo semakin mengeratkan pelukannya dan mulai mencium ceruk leher Nath.
"Ah.. Aldo genit nih ma… duh.. tangannya jangan nakal Al.. kamu tuh telepon yang bener aja.. hadeh… maaaa ini anaknya harus di ajarin sopan tangannya." Nath sengaja berteriak agar Felicia tau apa yang dilakukan Aldo.
"Aku tuh nakalnya sama kamu doank." Aldo merayu Nath dan mulai memasukkan tangannya ke dalam kaos Nath, meraba apa yang ada di dalamnya.
"Al.. tangannya disekolahin dulu.. dasar kamu nakal!" Balas Felicia di telepon. Ia rasanya ingin tertawa bahagia setelah kecurigaannya ternyata tidak benar. Ia senang jika Aldo bahagia dengan Nath.
"Ma.. udah dulu ya.. aku ada urusan penting." Aldo segera pamit dan menutup telepon dari Felicia.
"Dasar bocah.. kalau dekat sama Nath jadi super mesum.. sama kayak papanya. Hadeh.. buah gak jatuh jauh dari pohonnya. Hahaha..." Felicia bergumam sendiri di dalam mobil. Ia tertawa bahagia setelah bermuram durja.
Felicia akan membalas Citra setelah apa yang ia lakukan terhadap Aldo. "Tunggu saja Citra. Aku akan membuat kamu sengsara. Beraninya kamu mau menjebak anakku!" Felicia mengepalkan tangannya, niatnya sudah bulat untuk membalas Citra. Ia tidak menyangka Citra yang manis dan baik bisa sekejam itu terhadap anaknya. Anak kesayangannya.
oooOOOooo
Hotel PX - Sidoarjo
Nath terbangun sewaktu pukul 05.00, Tubuhnya serasa sangat pegal dengan kerja kerasnya selama di Sidoarjo, menyediakan bahan untuk rapat bahkan menyelamatkan Aldo dari Citra. Fiuh, kerja double. Tadinya Nath berniat untuk mandi, tapi sepertinya ia harus mengecek dahulu rekaman dari sadapannya.
Nath menggunakan earphone agar tidak terdengar oleh Aldo dan dengan seksama memilih sadapan yang ingin ia dengar. Record sadapan Nath menyimpan sendiri setiap 1 jam. Jika tidak ada suara apapun dalam 1 jam, maka sadapan itu akan terhapus sendiri. Alat sadap Nath memiliki Artificial intelligence sendiri.
Record C -2 ( Citra -2 ) Terdengar Citra sedang berbicara dengan bodyguardnya, Verrel.
Citra : "Bagaimana hasil penyelidikanmu?"
Verrel : "Yang menyabotase tindakan kita semalam adalah Scarlet. Dia mata - mata internasional."
Citra : "Scarlet?"
Verrel : "Ya Scarlet."
Citra : "Untuk apa dia menyabotase ku dengan Aldo hah? Apa untungnya buat dia?"
Verrel : "Scarlet membuat kesalahan dalam memperlihatkan wajahnya di cctv. Sehingga bisa kita selidiki." Lanjut Verrel.
Citra : "Itu kesalahan atau sengaja ia lakukan?"
Verrel : "Sengaja?" Ucap Verrel seperti ada penekanan bahwa ia bingung.
Citra : "Bagaimana dengan aspri Aldo, apakah dia terlibat?"
Verrel : "Dari penyelidikan saya, dia tidak terlibat. Ia keluar dari hotel jam 19.00 dan baru kembali jam 05.00. Selain itu juga saya memiliki bukti rekaman kalau dia bersama pria lain."
Citra : "Dasar jalang! Ternyata begini kelakuanmu. Aku bisa memanfaatkan ini untuk menghancurkannya… mungkin bisa dikirim ke tante Felicia. Agar dia membenci Nath."
Citra : "Kirimkan videomu pada tante Feli dan Aldo. Biar mereka tau Nath seperti apa." Terdengar suara Citra tertawa.
Verrel : "Baik nona."
Citra : “Sekarang kita geledah kamar Aldo, siapa tau kita mendapatkan petunjuk dari barang mereka. Harusnya aspri itu bodoh!”
Verrel :“Baik Nona.”
Nath menekan tombol stop. “Ternyata mereka mengirimkan video itu? Hahah dasar bodoh.” Nath tertawa sendiri di dalam hati. Penggeledahan yang dilakukan oleh Verrel juga sesuai prediksi Nath. Rencana memancing Verrel juga sudah tepat.
“Tentu saja di dalam kamar hotel kamu gak akan menemukan apapun, karena aku sudah membawa semua bukti di tasku.” Gumam Nath dalam hati.
Nath kemudian memilih record Citra yang lain.
Record C -3 ( Citra -3 ) Terdengar Citra sedang melakukan sambungan telepon sepertinya dengan Devan.
Devan : Bagaimana tadi malam? Sudah berhasil?
Citra : Belum pa. Ada yang menggagalkan rencanaku.
Devan : Apa????? Rencanamu gagal lagi? Apa yang terjadi?
Citra : Ada yang menggagalkannya pa.
Devan : Siapa? Aspri Aldo?
Citra : Bukan, dia Scarlet. Papa kenal manusia itu?
Devan : What the f**k…. Scarlet terlibat dalam masalah kita?
Citra : Iya pa, dan sepertinya ia mengambil handycam ku. ( Citra bernada seperti ketakutan dalam menceritakan kehilangan handycamnya)
Devan : Apa di dalamnya ada video lain selain kamu dengan Aldo?
Citra : Yes pa. Aku gak pernah hapus semua video di handycam itu.
Devan : What the hell !!! Are you stupid? How can? ( Terdengar Devan begitu emosi dengan pengakuan Citra)
Citra : Aku.. aku minta maaf pa. Aku tidak menyangka jadi seperti ini. Sepertinya Scarlet itu membuat aku pingsan, begitu juga dengan Verrel. Saat aku bangun, Verrel tidur disampingku.
Devan : What have you done, STUPID??? ( Terdengar Devan semakin geram, mungkin jika Citra ada di depannya, ia akan memukul Citra dengan sangat keras )
Citra : I’m sorry pa. I will fix it. I will find Scarlet.
Devan : Memang siapa kamu bisa mencari Scarlet? Ia orang yang tidak mudah dilacak. Aku sudah pernah berusaha melacaknya, tapi semua tidak berhasil.
Citra : Setidaknya aku memiliki foto Scarlet.
Devan : Foto? Kirim padaku sekarang. Akan kuhancurkan jalang itu. Dengar! Besok hari terakhirmu untuk mendapatkan Aldo. Jika kau masih tidak berhasil, lihat apa yang akan terjadi pada ibumu!
Citra : Ba.. baik pa.
Nath tertawa sendiri, sepertinya rencana memancing Devan terlibat sudah berhasil. Menjadikan Scarlet sebagai sasaran Devan. Nath harus merancang cara lain untuk menghancurkan Devan. Membuat Devan merasa menang dan kemudian menghancurkannya dari dalam. Itu yang terbaik untuk orang seperti Devan.
Setelah itu Nath mencari sadapan Verrel.
Record V -1 ( Verrel-1 ) Terdengar Verrel menelepon seseorang.
Verrel : Hi Mark, how are you? (Hai Mark, apa kabar?)
Mark : Good. What happened? (Baik, Ada apa?)
Verrel : Kamu sudah lihat wanita yang kukirimkan fotonya?
Mark : Yes. Kenapa dengan dia?
Verrel : Kamu tau siapa dia?
Mark : Aku rasa dia Scarlet. Mata - mata dan hacker internasional.
Verrel : Bagaimana caranya menemukan dia?
Mark : Apa kamu sedang bermasalah dengannya?
Verrel : Dia mencari masalah dengan bosku.
Mark : Maka tamatlah riwayat bos mu.
Verrel : Kenapa? Koq kamu pesimis banget?
Mark : Tiap perusahaan yang sudah dicampuri Scarlet, biasanya akan bangkrut atau tertangkap oleh interpol.
Verrel : What?? Apa dia bekerja sama dengan interpol?
Mark : I don’t know.. Hmm biasanya jika perusahaan itu tidak mau membayarnya, maka Scarlet akan melaporkan perusahaan itu ke interpol. Atau ada yang menyewa Scarlet untuk menghancurkan suatu perusahaan untuk dapat diakuisisi oleh musuhnya.
Verrel : Bagaimana bisa membayarnya? Bagaimana cara menghubunginya?
Mark : Hanya Scarlet yang bisa. Ia sangat jenius, mungkin seperti Tony Stark dari iron man, mungkin melebihi.
Verrel : What the f**k….
Mark : Mungkin ia ada di sekelilingmu dengan wajah lain. Atau dia sudah menempelkan penyadap pada telepon orang yang ia tuju sehingga rencanamu bisa terbongkar olehnya. Mungkin juga ada keuntungan yang didapatkan jika menjebak bosmu. Atau dia ingin meminta uang bosmu atau bisa juga ada yang membayarnya untuk menjebak bosmu. Entahlah. Hanya Scarlet yang tau.
Verrel : Alat sadap? Bagaimana kita tau bahwa kita sedang disadap oleh Scarlet?
Mark : Entahlah, Scarlet bisa membuat peralatan sekecil mungkin hingga kau tidak menyadari bahwa kau sedang di sadap. Kau bisa hancur tanpa mengetahuinya terlebih dahulu. Itu yang terkenal dari Scarlet.
Verrel : What should i do? (Verrel terdengar makin pesimis)
Mark : Just wait, Scarlet mungkin akan menghubungimu atau bosmu.
Verrel : Benar - benar wanita ajaib.
Mark : Ajaib dan psikopat. Ia tidak akan membunuhmu, tapi ia akan menyayatmu hingga kau mati dengan sendirinya kehabisan darah.
Verrel : Ini sebuah personifikasi?
Mark : No… itu memang gaya Scarlet. Ia tidak pernah membunuh orang, tapi ia membiarkan buruannya mati dengan sendirinya. Membiarkan buruannya mencoba menyelamatkan diri hingga tetes darah terakhir. Ia benar - benar psikopat. Mungkin lebih tepatnya dewi kematian.
Verrel : Bagaimana kau bisa tau?
Mark : Ada orang yang selamat dari Scarlet sementara temannya mati kehabisan darah. Ya seperti itulah Scarlet. Orang gila.
Verrel : Apakah aku bisa menghubungi orang yang selamat itu?
Mark : Tentu saja tidak bisa.
Verrel : Kenapa?
Mark : Karena ia sudah mati di tangan bosnya. Bram.
Verrel : What the……..hell. Wanita iblis ini harus mati di tanganku.
Mark : Maybe you will die first. Hahaha.
Verrel : Go to hell Mark.
Verrel menutup sambungan teleponnya dengan Mark.
Nath tersenyum smirk, ternyata seperti itu julukannya di mata para mafia. Bagus juga sebagai dewi kematian. Hahaha...
See you next chapter yaaa... Love you
Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga
Muach...muach..muach..
Siez