Chap 21 - Kemungkinan
“Kamu selidiki tentang Nathania, asisten baru Aldo. Selidiki semua latar belakang dan asal usulnya, bagaimana kehidupannya selama ini! Terutama, apakah ia ada hubungan dengan Lani atau tidak!” Perintah wanita paruh baya di telepon yang tidak lain adalah Felicia kepada seorang detektif yang sangat ia percaya selama ini.
Selama ini, Ia selalu mencari jejak keberadaan sahabatnya, Lani dan anak - anaknya. Ia tidak percaya bahwa mereka bertiga meninggal dalam kecelakaan. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan selama ini. Felicia tidak berani untuk bertanya atau meminta bantuan Aditya, karena Aditya selalu berkata, jika mereka sudah masa lalu dan tidak usah diusut kembali. Tapi Felicia sangat tidak puas dengan jawaban Aditya. Ia benar - benar harus menemukan suatu fakta yang mungkin disembunyikan oleh Aditya. Lani sudah seperti keluarganya sendiri, ia tidak akan membiarkan fakta mengenai keluarga Lani tidak terungkap.
“Baik nyonya. Saya akan menyelidiki semuanya.” Jawab detektif yang bernama Heru. Ia sudah bekerja selama 15 tahun dengan Felicia untuk menyelidiki berbagai hal. Terutama yang berkaitan dengan Aditya, meskipun agak sulit untuk menyelidiki suaminya sendiri. Beberapa hal yang diselidiki adalah apakah Aditya memiliki selingkuhan? Apakah Aditya ada kaitan dengan kehancuran keluarga Wijaya? Semua hasil nihil bila berkaitan dengan Aditya. Ia terlalu bersih atau mungkin terlalu licin untuk diselidiki. Atau mungkin memang Aditya tidak terlibat sama sekali dengan musibah keluarga Wijaya? Rasanya banyak pertanyaan di benak Felicia, terutama mendengar rumor bahwa Adityalah yang membuat kehancuran keluarga Wijaya. Terbukti dengan Aditya membeli seluruh saham keluarga Wijaya di perusahaan WJX group.
Setelah satu minggu menyelidiki tentang Nathania, Heru langsung melaporkan perkembangan penyelidikannya kepada Felicia. Sangat sulit bagi Heru untuk menyelidiki Nathania, karena memang tidak banyak data yang bisa didapatkan untuk seorang Nathania. Hampir semua data mengenai Nathania tertutup rapat. Bahkan saat ia menyelidiki ke Melbourne, ternyata memang semua orang mengenal Nathania sebagai seorang penyendiri, pekerja keras dan tidak terlalu memiliki banyak teman. Benar - benar orang yang tidak terlalu dikenal oleh masyarakat.
“Nyonya, tidak banyak yang saya bisa laporkan. Saya sudah mengirimkan penyelidikan saya ke email nyonya. Silahkan di cek.” Kata Heru di telepon.
-----------------------------------------------------------------
Nama : Nathania
Nama Orang Tua : Nico & Helena
Tanggal Lahir : 28 Juni 1998
Orang tua meninggal karena kecelakaan pesawat dari bali ke jakarta. 10 November 2015
Daerah tempat tinggal : Apartemen Taman Anggrek.
Usaha orang tua : Travel agent Nic & Co. ( bangkrut )
Sekolah Nathania : Home Schooling sejak masuk SD karena sering di bully oleh teman - temannya.
Tante : Victoria. Meninggal tahun 2016. Tidak memiliki keluarga.
Di Melbourne, Nathania kost di Fitzroy.
Sekolah di Curtin University dengan c*m laude dan beasiswa penuh selama pendidikan. Menempuh s1 dan s2.
Pekerjaan :
1. Part time di restaurant menjadi cuci piring
2. Part time sebagai koki cadangan
3. Bekerja di PRG group Melbourne selama 4 tahun dan pindah ke indonesia.
Jabatan terakhir : Konsultan bisnis
----------------------------------------------------------------
"Waw... kasihan juga anak ini." Decak Felicia saat melihat data detail mengenai Nathania. Ia sebenarnya sungguh kasihan dengan kehidupan Nathania yang bisa di bilang malang. Kehilangan orang tua di usia muda dan juga ia harus berusaha sendiri untuk menjalani hidup. Wanita yang cukup tangguh, pikir Felicia.
“Baiklah, kita lihat bagaimana perkembangan hubunganmu dengan anakku. Jika kamu memang orang baik, aku pasti akan merestui kalian.” Gumam Felicia.
oooOOOooo
“Sayang...hati - hati, Felicia sedang menyelidiki kamu.” Kata Lani di telepon.
“Ya ma, aku sudah memperkirakan hal itu. Pasti tante Feli menyelidiki aku dengan sangat teliti, secara aku sedang mendekati anaknya.” Jawab Nath pelan.
“Ada detektif yang ia perintahkan dan mereka mendatangi rumah kita. Untungnya mama sudah menggunakan topeng, jika tidak, ia akan mencurigaiku.” Tawa Lani puas di telepon. Memang Lani juga memiliki alat untuk mencetak wajah baru seperti Nath. Lani memang sejak awal tinggal di Melbourne selalu menggunakan wajah palsu. Jika tidak, orang yang berniat jahat terhadap keluarga Wijaya akan dengan mudah mencarinya.
“Jangan lupa selalu re-routing telepon kita sayang. Jangan sampai terlacak ataupun tersadap oleh mereka!”
“Baik ma.”
“Bagus. Bagaimana sekarang perkembangan misi kita?”
“Mama masih ingat dengan Bram?”
“Ya. Kenapa dengan dia?”
“Kita berurusan dengan dia ma. Dia orang yang membunuh Kak Marco. Dia menyabotase mobil Kak Marco.Truk yang dikendarai supir yang menabrak kak Marco juga orang yang disuruh oleh Bram.”
“What… b******k!!!!!! Jadi dia yang membunuh anak kesayanganku. Benar - benar kita harus membalasnya!” Emosi Lani serasa ingin meledak mendengar bahwa ada orang yang menyabotase mobil anak kesayangannya. Ingin rasanya Lani membunuh semua orang yang menyebabkan keluarganya hancur. Menghancurkan mereka sampai ke akarnya.
“Di belakang dia masih ada orang yang lain ma yang menyuruhnya membunuh keluarga kita.”
“Siapa?” Tanya Lani penasaran.
“Mr. X. Aku masih tidak tau siapa dia ma. Aku masih mencari tau.”
“Kamu harus berhati - hati berhubungan dengan Bram. Ia sangat kejam. Mama akan bantu kamu sayang.”
“Baik ma. Bantu aku ma. Bantu selidiki Mr. X. Aku akan menghancurkannya dari sini.”
“Ok. I will do it! Kita balas mereka yang jahat pada keluarga kita! Dan… apakah ini ada sangkut pautnya dengan Aditya?”
“Aku masih tidak tau ma, siapa dibalik semua ini. Om Adit masih dalam radar penyelidikanku, apakah ia masih ada sangkut paut dengan keluarga kita atau tidak.”
“Ya, kita harus menyelidiki Aditya lebih lanjut juga. Mama percaya sama kamu sayang.”
“Sudah dulu ma, aku harus bekerja dulu. Takut Aldo curiga.” Pamit Nath kepada Lani dan langsung menutup teleponnya. Ia menelepon dari rooftop gedung SJH group, tempat teraman dalam satu gedung. Tempatnya dahulu bersembunyi dengan Aldo jika ingin bermain maupun bersembunyi jika melakukan kesalahan. Selama ini hanya Keluarga Aldo, keluarga Wijaya dan orang khusus yang ditugaskan membersihkan rooftop yang mengetahui passcode untuk masuk ke dalamnya.
Setelah menyelesaikan telepon dengan Lani, Nath langsung beranjak dari rooftop gedung, ketika hendak menuruni tangga, tidak sengaja ia berpapasan dengan Aldo.
“Nath, kamu abis dari mana?” Tanya Aldo penasaran.
“Aku...aku dari atas. Kenapa Al?”
“Atas? Rooftop?”
“Yes. Kenapa?” Jawab Nath santai. Ia lupa bahwa seharusnya tidak ada orang yang bisa naik ke rooftop kecuali orang - orang tertentu.
“Koq bisa?” Aldo semakin penasaran. Bingung bagaimana caranya Nath bisa masuk ke atas.
“Ya bisa lah, kan gak di kunci.” Nath langsung tersadar betapa bodohnya ia, bisa hancur rencana kalau Aldo mengetahui jika Nath tau passcode dari pintu rooftop.
“Aneh, koq bisa gak di kunci ya.. Apa yang bersihin lupa kalau harusnya dikunci.” Aldo semakin bingung.
“Wah gak tau deh. Memang harusnya terkunci? Kenapa gak di buka aja?” Nath pura - pura bodoh.
“Ya...memang aturannya seperti itu. Hahaha..” Aldo sendiri bingung menjelaskan kepada Nath.
“Ya sudah, aku mau kembali kerja dulu ya.” Nath langsung berlalu dari hadapan Aldo. Semakin lama bisa semakin mencurigakan untuk Aldo jika terlalu lama berdiskusi tentang rooftop.
Ketika Nath beranjak, Aldo langsung memegang tangan Nath. Ia langsung menarik tangan Nath untuk mengikutinya ke rooftop.
“Yuks, ikut dulu sama aku. Aku mau kasih tau kamu suatu rahasia.” Ajak Aldo sambil menggandengan tangan Nath menuju rooftop. Nath dengan terpaksa mengikuti Aldo.
“Ingat...passcode pintu ini, SJH0490. Jika kamu butuh menyendiri, kamu bisa naik ke atas sini.” Aldo langsung memencet tombol untuk membuka pintu rooftop.
“Ok.”
“Ini tempat rahasia aku sejak kecil Nath. Di sini tersimpan segala kenangan.” Jelas Aldo sambil memandang ayunan yang biasa Diana gunakan dengan nanar. Matanya hampir meneteskan cairan bening jika teringat ayunan yang biasa Diana gunakan. Senyum dan tawa Diana yang tidak pernah hilang dari benak Aldo.
“Dengan Diana?”
“Yes...Kamu gak cemburu kan?” Aldo sedikit takut jika Nath tersinggung apabila kekasihnya masih mengenang orang yang paling ia sayangi sebelumnya. Tentu saja Diana mantan calon istri dari Aldo.
“Gak lah, buat apa cemburu sama orang yang sudah meninggal.” Nath tersenyum simpul. Mengingat apa yang ia lakukan bersama Aldo di rooftop. Mereka selalu duduk bersama di ayunan dan bermain di taman rahasia berdua. Terkadang bisa bertiga dengan Marco.
Apalagi jika Nath atau Aldo melakukan kesalahan pada ibu mereka, mereka biasanya bersembunyi di sini, hanya Nath yang tau dimana Aldo akan bersembunyi dan begitu sebaliknya. Mereka akan saling menemukan satu sama lain.
“Ya, memang sudah meninggal, tapi kenangannya masih hidup di sini. Kamu masalah gak?” Aldo menunjuk dadanya sendiri. Ya, kenangan akan Diana selalu tersimpan di dalam hati Aldo selamanya.
“Gak lah. Biasa aja. Aku juga punya masa lalu koq. Semua orang punya masa lalu. Semua orang yang kita sayangi di masa lalu. Dijadikan saja kenangan yang menyenangkan, jangan menjadi kenangan yang menyakitkan.” Nath tersenyum lalu beranjak untuk duduk di ayunan. Mengingat masa lalunya yang menyenangkan.
Aldo tersenyum simpul kemudian langsung duduk diam di bangku taman. Menikmati semua pemandangan yang ada di rooftop gedung. Dengan spontan, Aldo menyalakan lagu kesukaannya bersama Diana. “Always be my baby” versi David cook. Kebiasaan Aldo dari dahulu, jika sudah duduk di bangku taman rooftop, ia akan menyalakan lagu kenangannya bersama Diana.
We were as one babe
For a moment in time
And it seemed everlasting
That you would always be mine
Now you want to be free
So I'm letting you fly
Cause I know in my heart babe
Our love will never die
No!
You'll always be a part of me
I'm a part of you indefinitely
Girl don't you know you can't escape me
Ooh darling cause you'll always be my baby
And we'll linger on
Time can't erase a feeling this strong
No way you're never gonna shake me
Ooh darling cause you'll always be my baby
Tiba - tiba Nath bernyanyi bersama dengan Aldo, lagu kesukaan mereka dari dahulu. Selalu lagu ini yang mereka nyanyikan apabila mereka bersama di atas gedung SJH ini. Mereka menikmati kenangan dalam benak mereka masing - masing. Terhanyut oleh kenangan.
“Hei...kamu koq fals banget si nyanyi. Ampun dah merusak lagu.” Protes Aldo mendengar suara Nath yang tiba - tiba fals. Diana juga sama, selalu fals di bagian reff, tidak sanggup untuk nada tinggi.
“Hadeh… ganggu aja orang lagi nyanyi. Namanya juga lagi senang, gimana sih. David cook aja gak protes aku fals koq.” Balas Nath cemberut karena memang Aldo selalu protes terhadapnya jika menyanyi lagu dengan fals.
Deg...Aldo langsung terdiam, kenapa protesnya Nath sama dengan Diana. Kenapa hampir semua mirip. Semua bagian fals sama dan protesnya pun sama. Tidak ada yang berbeda antara Nath dan Diana. Mereka bernyanyi sama - sama kacau dan bisa tidak beraturan. Apakah...Nath dan Diana orang yang sama? Gumam Aldo dalam hati, ia sangat curiga dengan Nath, kenapa bisa hampir semua sama dengan Diana. Apakah ini hanya kebetulan atau memang Nath adalah Diana? Apakah Diana hilang ingatan hingga menjadi seperti ini setelah kecelakaan 7 tahun lalu?
“Hei...jangan bengong gitu donk. Masa orang nyanyi fals aja bisa bengong.” Nath menggoyangkan bahu Aldo karena melihat Aldo sedang berpikir keras dan melamun.
“Oh gak… cuma inget masa lalu aja.” Aldo langsung merapikan posisi duduknya.
“Ya ampun, sampai segitunya menghayati masa lalu. Ya udah yuk, kita ngantor. Uda kelamaan di atas.” Ajak Nath.
Mereka akhirnya turun dari rooftop dan langsung menuju ruang rapat, karena tepat jam 10 pagi ada meeting bersama dengan Aditya dan para pemegang saham SJH group.
See you next chapter yaaa... Love you
Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga
Muach...muach..muach..
Siez