CHAP 20 - Ketemu Calon Mertua

2587 Kata
CHAP 20 - KETEMU CALON MERTUA Nath membuka matanya, berkedip ternyata ia baru menyadari matahari sudah cukup terik. Sepertinya ia ketiduran, handphonenya mati karena baterai habis, jadi alarm tidak menyala sama sekali. Semalam sepertinya ia melakukan banyak hal dan sangat lelah sekali. Ia harus tetap pulang ke apartemen karena khawatir Aldo akan cemas. Sebenarnya ia sangat ingin menginap di rumah papanya, tapi bisa runyam jika Aldo bertanya terus dimana ia berada. Hari ini hari Sabtu, waktunya bermalas - malasan lebih lama. Saat mengucek mata, tiba - tiba terdengar bel pintu, dan sudah dipastikan itu adalah Aldo. Karena selama ini hanya Aldo yang memencet bel tiga kali.  “Sebentar...” Nath dengan segera membuka pintu, tanpa ia tahu pakaian apa yang ia kenakan. Ia hanya mengenakan celana dalam dan sport bra. Karena semalam ia sudah sangat lelah, ia hanya membuka bajunya dan tidur. Semalam ia masih melakukan penyelidikan tentang Bram, Welmin dan PRG group. Tanpa terasa sudah jam 3 pagi. Dengan lelahnya ia harus pulang ke apartemen, takut Aldo cemas mencarinya. “Hi honey..Good Afternoon.” Aldo berdiri di depan pintu, menyapa dengan ramah dan tersenyum. Aldo memperhatikan Nath dari atas sampai bawah sampai meneguk salivanya sendiri. “Ka..kamu sadar apa yang kamu pakai?” Aldo terbata - bata. Pemandangan saat ini membuat gairah tiba - tiba meningkat. Nath seperti menantang Aldo dengan penampilannya. “Hoam….ngapain sih kamu pagi banget ke sini? Aku ngantuk banget tau. Capek.” Nath protes sambil berjalan menuju dispenser untuk minum. “Pagi?? Ini tuh udah siang Nath, udah jam 11 siang. Lagian kenapa sih Handphone kamu kok mati lagi. Aku kan jadi khawatir. Kamu tadi malam pulang jam berapa? Kenapa kamu buka pintu pake baju begitu? Kalau bukan aku yang datang gimana? Kamu mau kasih lihat ke siapa?” Aldo memberondong pertanyaan kepada Nath. “Hadeh… Nanya tu satu per satu. Jangan kayak emak - emak marahin bocah Al.” Protes Nath sambil minum air putih. “Ya udah, jawab satu per satu pertanyaanku tadi.” “Semalem pulang mungkin jam 1 pagi atau 2 mungkin. Handphone mati, lupa charge. Udah cape, jadi cuma buka baju terus tidur.” Nath menjawab singkat. “Ngapain sampe subuh begitu Nath??” “Namanya juga ladies night. Kamu gak pernah pertemuan begitu sih, makanya GAUL!!!” Nath memanyunkan bibirnya. “Hufftt.. Bikin khawatir. Laper gak?” Aldo mendekati Nath dan mencium puncak kepalanya. “Laper lah… kenapa?” Nath langsung memeluk Aldo dengan manja. Memeluk Aldo sangat menyenangkan, hangat dan wangi maskulin Aldo sangat terasa di hidung Nath. Tubuh Aldo yang pelukable sangat enak untuk dipeluk setiap saat, seperti sangat pas dengan tangan Nath. “Aku udah beli pizza tuh. Ada di unit, mau makan gak?” Aldo semakin memeluk Nath mesra dan manja. “Mau donk…...Lagian kenapa kamu gak bawa ke sini aja sih sekalian.” Protes Nath dan langsung mencium pipi Aldo. “Nath, kayaknya kamu salah tempat cium deh. Harusnya di sini...” Protes Aldo sambil menunjuk bibirnya. “Belum sikat gigi. Masih bau jigong...Aku mandi dulu ah.” Nath melepaskan pelukannya dan berlari ke kamar mandi untuk bersiap. “Aku tunggu ya.. Buruan, gak usah pake lama Nath.” “Iya cerewet..” Teriak Nath dari dalam kamar mandi. “Mau aku mandiin gak Nath?” Goda Aldo. “Kaga...dasar m***m kamu !!!” Teriak Nath protes. Sedangkan Aldo cekikkan di sofa. Setelah Nath selesai bersiap, ia langsung menghampiri Aldo yang sedang duduk di sofa dan memeluknya dari belakang. Mencium pucuk kepala Aldo, pipi dan lehernya. “Nath...kamu mau aku jadiin makan siang ya?? Kamu mulai nakal.” Goda Aldo memegang tangan Nath. “Aku lapar ni...yuks pizza sudah menanti.” Ajak Nath. “Morning kiss dulu!” Pinta Aldo sambil memajukan bibirnya. “Ini udah afternoon Aldo… bukan morning!” Protes Nath. “Ya udah, nanti abis pizza, aku dapat afternoon kiss. Ok?” Tawar Aldo. “Ok boss…..” Akhirnya Nath dan Aldo pindah ke unit Aldo. Mereka langsung melahap pizza. Pizza super supreme dan tuna delight ukuran large. Saat makan Aldo mencium terus bibir Nath berulang kali. Membuat Nath terganggu dengan acara makannya. Nath sangatlah lapar karena semalam dia tidak makan. Mungkin sejak makan siang kemarin sampai sekarang terhitung hampir 24 jam ia tidak makan. Dengan teman - temannya ia hanya minum saja, itupun hanya air putih. Karena ia takut jika mengikuti temannya, ia akan ikut mabuk. Teman - temannya sangat suka mabuk jika sudah berkumpul. Nath tidak bisa melakukan hal itu, masih banyak yang harus ia kerjakan. “Udah kiss nya Al...aku makan sampai belepotan nih!” Protes Nath.  “Aku kangen tau!” “Ya ampun Al, kita tu baru gak ketemu berapa jam, masa udah kangen. Kamu koq jadi lebay gini Al.” “Namanya juga jatuh cinta Nath. Ya gitu, gak mau jauh.” Aldo menangkup kedua pipinya, membuat ekspresi cute sambil tersenyum. “Dasar cowok manis kesayangan aku...” Nath langsung memegang pipi Aldo mencium bibirnya, mengelap bibir Nath yang penuh sambal dan saus tomat ke bibir Aldo.  “Nath, kamu ini mau kiss apa meper sambal ke bibir aku?” Protes Aldo yang bibirnya mulai kepedasan. “Itu namanya jatuh cinta Aldo. Rasa sambal yang pedas tu jadi kayak rasa coklat yang manis.” Nath menggombal. “Ya udah, aku mau bibir kamu yang manis aja!” Aldo melumat bibir Nath dan tidak mau melepaskannya. Ia langsung menahan tengkuk Nath dan mulai melumatnya. Tangan Aldo mulai membelai kepala Nath turun ke punggung dan semakin agresif. Membuat kissmark di leher Nath. “Al, sambal jangan meper ke leher donk. Pedih!” Protes Nath mencebikan bibirnya. “Itu namanya kissmark ala sambal yang nyossss sedapnya.” Goda Aldo. Leher Nath terlihat sangat merah, paduan antara kissmark dan sambal. Entahlah warnanya bagaimana, yang pasti Aldo sangat senang dengan mahakaryanya. Mereka tertawa bersama dan saling memeperkan sambal ke bibir dan leher masing - masing. Bercanda dengan bahagia. Kissmark di leher Aldo tidak kalah banyak dengan Nath. “Tettt….Tett…..Tettt….Tetttt….” Bunyi pintu membuyarkan kegiatan Nath dan Aldo. Tadinya Aldo ingin membiarkan bel nya berbunyi terus, tapi lama kelamaan bel itu sangat mengganggu.  “Cek siapa di luar Al.” Perintah Nath karena sudah merasa tidak mood untuk melanjutkan. Aldo saat melihat dari door viewer sangat kaget. Ternyata mamanya yang datang ke apartemennya.  “Nath, cepetan beresin, mama datang.” “Aku ngumpet dimana Al?” “Gak usah ngumpet… kita perkenalan secara formal aja sama mama.” “Tapi bajuku gak panteslah Al. Aku ngumpet dulu.” “Atau lebih baik aku gak buka pintu ya?” “Aku ngumpet aja di bawah ranjang. Ok.” Tawar Nath. Tidak mungkin ia bertemu Felicia dengan keadaan kacau. Apalagi kissmark Aldo di lehernya sangat terlihat. Pasti Felicia langsung berpikir aneh - aneh.  “Ya udah cepet sana ngumpet.” “Al, ganti baju kamu jadi turtle neck. Leher kamu merah semua!” Perintah Nath melihat leher Aldo sudah tidak karuan warnanya. Aldo segera mengganti pakaiannya dengan turtle neck. Ia juga tidak mau mamanya nanti berpikir aneh - aneh tentang dirinya. Nath dengan cepat menyembunyikan diri, tapi ia tidak yakin bila di bawah ranjang adalah tempat yang aman. Ia segera menyelinap keluar balkon Aldo, dan lompat ke balkon unitnya. Felicia pasti tidak akan bisa menemukannya. “Yes, bentar aku buka pintu.” Jawab Aldo terhadap bel yang terus di tekan. Aldo segera membuka pintu untuk mamanya. “Lama banget sih. Kamu ngapain sih?” Protes Felicia. “Baru dari wc ma, sakit perut.” Aldo mengelus perutnya untuk meyakinkan Felicia bahwa ia sakit perut. “Dasar alasan. Kamu menyembunyikan wanita di sini? Aspri kamu?” Felicia menyisir semua tempat Aldo bahkan menyingkap seprai dan melihat di bawah ranjang. Ternyata tidak ada orang di dalamnya. Semua tempat sudah diperiksa dan ternyata tidak ada orang di dalamnya. Ia baru percaya bahwa Aldo sedang sendiri. “Idih mama gak percaya sama Aldo. Dasar nich!” Protes Aldo. Aldo sendiri bingung, Nath bersembunyi dimana. “Hmm...kamu bilang Nath itu bertetangga dengan kamu, tunjukan mama unitnya. Mama mau tau!” “Yuks, Aldo ajak mama.” Aldo menggandeng tangan Felicia untuk berjalan ke unit Nath. Sementara Nath berganti baju dengan turtleneck dan merapikan dandanannya. Ia melihat di cctv bahwa Aldo dan Felicia berjalan mengarah ke unitnya.   “Tett...tett...tettt...” Aldo memencet bel unit Nath. “Yes..” Nath langsung membuka pintu dan tersenyum ke arah Felicia dan Aldo. “Ma… ini kenalin Nath. Nath ini mamaku.” Nath langsung memberikan tangannya untuk berjabat dengan Felicia, tapi Felicia menolak untuk berjabat tangan. “Jadi kamu tinggal di sini? Siapa yang bayar unit ini untuk kamu?” Felicia masuk ke dalam unit Nath dan mulai meneliti isi di dalamnya. “Ia bu, saya tinggal di sini. Saya yang bayar sendiri koq.” Jelas Nath datar. Ia merasa direndahkan. Felicia memang seperti ini jika terhadap orang ia tidak sukai. Nath sudah tau itu, tapi ada trik untuk membuat Felicia bisa sayang terhadap Nath. Felicia cuma kalah dengan makanan enak yang dimasak untuknya secara langsung di hadapannya. Dahulu, Diana selalu berusaha memasak untuk Felicia, sehingga Felicia sangat sayang kepada Diana. Nath berjanji akan menaklukan Felicia untuk kedua kalinya, dengan masakannya. “Ibu udah makan belum? Kebetulan saya mau masak untuk makan siang.” “Emang kamu bisa masak apa?” Tanya Felicia menantang. “Spaghetti Aglio- olio. Mau coba, Bu?” Nath tersenyum langsung kepada Felicia. Tante yang ia sayangi seperti ibunya. Felicia juga sangat sayang padanya saat menjadi Diana. Ia selalu menjadi prioritas bagi Felicia. Dan salah satu makanan yang sangat Felicia suka adalah spaghetti Aglio - olio buatan Diana. Nath masih ingat semua resep yang Felicia sangat suka. Baginya sangat mudah menaklukan Felicia dulu, mungkin saat ini ia bisa menaklukannya lagi, untuk merestuinya dengan Aldo. “Ya udah masak sana.” Nath langsung bergegas menyiapkan semua bahan dan memasaknya. Wangi cream yang Nath masak sangat membuat Felicia berselera, tapi ia harus menjaga imagenya agar tidak cepat takluk kepada Nath. Felicia masih duduk tenang di sofa sambil bercengkrama dengan Aldo. Bertanya tentang kehidupan Aldo selama 2 minggu ini, ada perkembangan apa. Tanpa terasa masakan Nath sudah matang dan siap di sajikan di meja makan. “Yuks makan semua..” Ajak Nath. Aldo dan Felicia segera menuju meja makan. Menyesap wangi dari masakan Nath yang sangat mereka kenal. Wangi masakan Diana. Felicia terkesiap dengan wangi yang ia cium.  Nath langsung membagikan spaghetti buatannya kepada masing - masing orang yang menunggu di mejanya. Felicia langsung mencoba masakan Nath dan terdiam seketika. “Koq rasanya seperti rasa masakan Diana yang lama tidak aku cicipi. Aku kangen masakan seperti ini.” Gumam Felicia dalam hati saat mencoba masakan Nath. “Kamu dapat resep seperti ini darimana?” Tanya Felicia penasaran dan masih menikmati masakan Nath. “Oh..dari internet lah bu.” Jawab Nath santai. Ia tahu kalau Felicia pasti bingung dengan masakan Nath karena rasanya sama dengan resep Diana. Hanya Diana yang bisa memasak spaghetti seperti ini. Tidak terlalu lembek dan tidak terlalu keras, bumbu creamy dari s**u segar dan keju yang di masak dengan sempurna. Benar - benar hanya Diana yang bisa memasak seperti ini. “Gak enak kah bu?” Tanya Nath penasaran. “Rasa masakan ini sama dengan orang yang saya kenal.” “Diana ma...” Aldo menambahi sambil menikmati makanan Nath. “Iya bener kamu Al. Selama ini ke resto manapun, tidak pernah mama temukan rasa makanan yang biasa Diana buat. Hanya Diana dan Lani yang bisa memasak seperti ini. Rasa yang membuat mama ketagihan. Kamu serius hanya cari di internet?” Felicia semakin penasaran. Hatinya tak karuan jika meningat Diana, apalagi tiba - tiba merasakan rasa yang sama dengan Diana. “Iya bu. Nanti saya kasih tau resepnya jika ibu suka ya.” “Gak… saya gak bisa masak. Nanti kalau saya mau, saya minta kamu masakin aja. Bisa kan?” Tawar Felicia. “Bisa donk bu.” Nath langsung tersenyum ke arah dua orang yang menikmati spaghetti buatannya. Yes… 1 masalah sudah mulai ia taklukan. Felicia sudah ketagihan dengan masakannya. Ia hanya tinggal membuka luka lama saja agar Felicia semakin mengingat Diana. “Ka..kamu bisa masak apa lagi Nath?” “Hmm… Nasi goreng… Western food, Chinese food.. Yang simple aja bu.” “Ma..nasi goreng yang Nath buat, rasanya persis seperti Diana. Aku juga bingung kenapa.” Aldo menambahkan. “Koq kamu bisa masak yang sama dengan Diana? Apa kamu kenal dengan Diana dan Lani?” Felicia menyelidik, piringnya sudah bersih. Sangat nikmat dan sempurna rasa masakan Nath. “Siapa itu bu?” Nath pura - pura bodoh dengan mengaku tidak kenal dengan orang yang Felicia sebutkan. “Ah...ya sudah. Tidak usah diperpanjang lagi. Orangnya sudah meninggal. Dua orang yang aku sayangi.” Felicia lirih mengingat sahabat dan anak sahabatnya terkasih. Sungguh tragis kehidupan sahabat tercintanya. Bisa meninggal satu keluarga dalam kecelakaan mobil di hari yang sama dengan suaminya meninggal.  “Baik Bu.” Nath hanya bisa tersenyum saja. Suasana canggung sudah mencair antara Nath dan Felicia. Entah mengapa Felicia menjadi menyukai Nath.  “Orang tuamu kerja apa Nath?” Lanjut Felicia. “Orang tuaku dulu bekerja sebagai travel agent bu.” “Dulu?” “Iya. 7 tahun lalu mereka sudah meninggal. Kecelakaan pesawat.” Reka Nath. “Maaf.” “Gak apa - apa bu. Santai saja.” “Kamu selama 7 tahun ini bagaimana kehidupannya? Tinggal sama siapa?” Lanjut Felicia menyelidiki latar belakang Nath. “Awalnya saya pindah ke Melbourne bersama tante saya, tapi tidak lama ia meninggal. Ya...jadi saya hidup sendiri di Melbourne.” “Maaf...” “Oh gak apa - apa bu, jangan minta maaf.” “Selama di Melbourne, bagaimana kamu bertahan hidup?” Felicia mulai merasa kasihan dengan kehidupan Nath yang cukup menyedihkan. “Hmm..kerja part time dan untungnya orang tua saya ada sedikit tabungan untuk saya, jadi saya tidak terlalu mengalami kesulitan untuk bertahan hidup.” “Sekolah kamu bagaimana?” “Saya selalu mendapatkan beasiswa, jadi sekolah tidak menjadi masalah.” “Waa… kamu pinter banget donk ya.” Felicia memuji Nath. Ia sangat kagum dengan kepintaran Nath sementara Aldo hanya mengangguk - anggukkan kepalanya. Aldo sangat kagum dengan kepintaran dan kemandirian Nath. “Terima kasih bu. Saya cuma beruntung saja.” Nath tersenyum. Felicia semakin kagum terhadap Nath. Sepertinya apa yang diceritakan Citra selama ini tidak benar. Semakin Felicia mengenal Nath, semakin ia mengagumi Nath. Felicia lama bercengkrama dengan Aldo dan Nath. Tidak terasa sudah 2 jam ia bertamu di unit apartemen Nath. “Ya sudah, saya pulang terlebih dahulu. Sampai bertemu lagi Nath.” Felicia langsung mencium pipi kanan dan kiri Nath untuk berpisah. Sangat ingin rasanya memeluk Nath, tapi ia masih gengsi. Nath mengantarkan Aldo dan Felicia keluar dari unitnya dan langsung menutup pintu setelah melambaikan tangan tanda perpisahan. Aldo segera mengantarkan Felicia ke lobby untuk menunggu supirnya datang.  “Mama suka dengan Nath? Aldo gak salah pilih kan ma??” “Mama masih dalam penyelidikan terhadap Nath. Tapi mama suka dia. Untuk jadi calon menantu… tunggu penyelidikan selesai.” Felicia mencium pipi Aldo kanan dan kiri setelah dibukakan pintu mobilnya oleh Aldo. Felicia masih berpikir ada kejanggalan pada diri Nath terutama dengan masakannya yang sama dengan Diana. Sangat aneh, karena Lani pernah berkata, hanya keluarganya yang masak seperti itu. Resep rahasia keluarganya. Apakah Nath bertemu Lani dan belajar kepadanya untuk memasak? Atau adakah hubungan antara Nath dan Lani? Karena Nath tidak mungkin Diana, wajah mereka sangat berbeda. Ia harus menyelidiki latar belakang Nath dengan lebih detail. Pikir Felicia. See you next chapter yaaa... Love you Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga Muach...muach..muach.. Siez    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN