CHAP 19 - Fakta Baru
Dua hari setelah cuti bersamanya dengan Aldo, Nath langsung mengurus penyelidikannya kembali. Bahunya sudah sembuh, jadi ia sudah dapat beraksi kembali. Sebelumnya ia mensetting sebuah tempat untuk dijadikan pertemuannya dengan Bram. Ia tahu bahwa Bram orang yang sangat kejam, jadi tidak mungkin ia bertemu muka langsung dengan Bram. Ia harus mengakali suatu tempat yaitu Club house K sudah lama terbengkalai, yang sudah menjadi pantauan Nath, tidak akan ada orang yang masuk ke sana, seharusnya rencananya untuk menyelidiki Bram bisa berjalan sempurna. Ia harus membuat Bram percaya bahwa Nath berada di lokasi yang sama dengannya.
Setelah selesai setting tempat, Nath langsung menghubungi Bram dengan nama samaran biasanya, Scarlet. Nath ingin mencari tau tentang keberadaan Mr.X. Ia tahu, Bram adalah orang berbahaya, jadi, ia harus bermain cantik untuk mendapatkan apa yang ia mau dengan Bram.
“Hi, Bram sayang… kamu masih ingat suaraku?” Kata Nath di telepon sambil menggunakan mikrofon yang mengubah suaranya. Nomor telepon Nath selalu berubah, karena ia punya pengacak nomor dan tidak diketahui oleh musuhnya, karena ia selalu melempar titik koordinat GPS nya ke orang lain bahkan negara lain. Jadi tidak mungkin bisa dilacak oleh Bram atau musuh manapun.
“Ya...suara seksimu sudah lama tak aku dengar sayang. Scarlet.” Jawab Bram sedang sibuk menyiksa salah satu anak buahnya yang baru ia tangkap karena gagal membunuh target.
“Bisa kita bertemu sayang? Aku butuh bantuanmu.”
“Waw….. Ada apa Scarlet yang hebat membutuhkan bantuanku?” Bram menghentikan kegiatannya untuk mendengarkan Nath dengan baik.
“Tentu saja aku membutuhkan kamu tampan. Kamu adalah mafia paling berpengaruh di sini dan kamu tau segalanya.” Jawab Scarlet merayu. Memang Bram adalah adalah pria masih muda yang tampan. Ia seperti dewa yunani yang tampan dan mapan, sayangnya ia berada di jalur mafia. Ia sangat suka melakukan kekerasan dan licik dalam urusannya sendiri. Semua orang yang bertentangan dengan Bram biasanya akan disiksa dan mati. Bila pun bisa lolos, pasti sudah cacat. Jadi Nath harus hati - hati.
“Hahah… kamu masih tau cara merayuku untuk mendapatkan maumu. Baiklah, tentukan dimana kau ingin bertemu, aku akan mengikutimu.” Bram langsung menutup teleponnya dan ia tahu, Nath pasti menggunakan nomor telepon yang ia tidak bisa lacak, jadi tidak ada gunanya untuk mencari tau, ia hanya tinggal menunggu Nath saja.
“Ok sayang, aku akan memberitahu alamatku nanti.”
“Tapi, semua ada bayarannya sayang.”
“Tentu saja Bram. Asalkan kau mengikuti mauku.” Putus Nath segera. Bram tersenyum licik. Ia sudah ingin sekali menangkap Scarlet, karena selama ini Scarlet terlalu licin seperti belut. Kali ini, ia pasti bisa menangkap Scarlet bagaimanapun caranya.
Nath to Bram : Jam 8 di club house K
Hanya Nath yang bisa chat atau telepon langsung kepada Bram, sementara Bram tidak bisa. Karena sudah Nath block semua nomor untuk menghubunginya dan re-routing. JIka Bram meneleponnya, maka akan tersambung dengan nomor orang lain. Itulah permainan pintar Nath. Dahulu saat ingin menyergap Nath, Ia malah menyergap orang yang salah karena ia masuk ke kantor polisi dan hal itu membuat kehebohan yang sangat besar.
Sementara itu, di kantor, Nath dan Aldo masih melakukan beberapa pekerjaan yang terlantar akibat mereka cuti bersama, walaupun pekerjaan itu melelahkan, tapi menyenangkan karena bisa bekerja dengan orang yang saling menyayangi.
“Al….” Panggil Nath membuyarkan konsentrasi Aldo.
“Kenapa honey?” Panggil Aldo mesra.
“Aku nanti jam 7 ada janji ketemu dengan teman, kamu pulang duluan ya.”
“Teman? Aku kenal?” Aldo penasaran.
“Nope. Ini teman aku dari Melbourne. Kita mau kumpul bareng.”
“Aku ikut bisa?”
“No...Ladies night!” Nath menolak dengan menggoyangkan jari telunjuknya.
“Ok, aku tunggu di unit aku ya, kalau kamu udah kelar.”
“Sip Bos!” Nath langsung ceria.
Aldo sebenarnya curiga dan khawatir dengan izin Nath untuk pergi bersama dengan temannya. Ia takut jika akan terjadi yang tidak - tidak dengan Nath. Ia takut Nath akan pulang dengan luka tembak lagi.
Sebenarnya Nath memang akan bertemu teman - temannya dari Melbourne, tapi di sela - sela pertemuan, Nath akan meminta izin keluar terlebih dahulu untuk mengurus Bram. Pertemuan dengan teman - teman hanya kedok bagi Nath agar Aldo tidak khawatir.
oooOOOooo
Jam 7.00 malam……
“Hi Nath….” Panggil seorang gadis cantik berpakaian merah di sebuah cafe di senayan.
“Hi Mel...wah udah lama gak ketemu. Kangen banget sama kamu.” Nath langsung mendekati Melisa, temannya dari Melbourne dan beberapa teman wanita lainnya. Nath langsung cium pipi kanan dan kiri para temannya.
“Kangen banget sama kamu. Jadi gimana kerjaan kamu di sini Nath? Enak?” Tanya wanita berbaju biru bernama Eilin. Ia merupakan wanita paling cantik dan modis di antara semua yang berkumpul. Ia juga adalah orang yang terkaya di kelompok Nath. Sedikit sombong tapi jika berteman dengan baik dengannya, maka ia akan sangat loyal untuk menghamburkan uangnya untuk teman - temannya. Satu yang ia tidak bisa tolerir adalah jika salah satu temannya mendapatkan hal lebih baik daripada dirinya. Salah satunya adalah soal pria.
Eilin sangat senang berteman dengan Nath, karena sepertinya tidak ada pria yang menyukai Nath, bahkan Nath tidak pernah terlihat berhubungan dengan pria manapun.
“Baik donk Lin, tapi namanya kuli ya mana ada yang enak. Hahaha.” Jawab Nath terbahak - bahak. Duduk perlahan di belakang Nath, ternyata Aldo sudah mengikutinya ke dalam cafe itu. Aldo mencuri dengar apa yang mereka bicarakan. Ternyata Nath tidak berbohong bertemu dengan temannya. Karena tidak mau ketahuan oleh Nath, Aldo langsung pergi meninggalkan cafe. Bisa bahaya jika Nath tau, karena bisa dikatakan Aldo tidak percaya sama sekali dengan Nath.
“Gimana cowo di sini Nath? OK gak buat digebet? Sekarang kamu udah punya pacar belum?” Tanya Melisa penasaran.
“Pacar? Mana ada yang mau sama aku. Hahaha.” Nath harus berbohong, karena tidak mau merusak persahabatannya dengan Eilin. Eilin itu anak dari salah satu orang yang berpengaruh di Indonesia. Jika merusak mood Eilin karena tersaingi, bisa - bisa salah satu rencana Nath gagal. Eilin adalah anak dari Pranoto dari group PRG. Pranoto adalah salah satu kliennya bukan untuk mata - mata ataupun hacker, hanya konsultan, tapi untuk project. Salah satu penghasilan Nath terbesar karena Pranoto mempercayakan beberapa project IT kepada Nath. Jadi tidak mungkin Nath menghancurkan penghasilannya sendiri. Selain itu juga perusahaan Pranoto ada kerjasama dengan perusahaan Aldo. Jadi ia harus sangat berhati - hati.
“Masa kamu gak laku Nath? Kamu cantik tau!!” Eilin membelai kepala Nath. Sahabatnya terkasih.
“Ya elah… mana ada yang mau sama cewe miskin gini… gak ada keluarga.. Anak gak jelas gini. Pasti orang tua mereka akan bertanya bibit.. bebet.. bobot… dan di sana udah pasti aku langsung didepak.” Nath tertawa miris menghina dirinya sendiri.
“Kalau sudah jodoh gak kemana Nath. Jangan pesimis.” Melisa menepuk punggung Nath.
"Mel, kamu masih suka sama Victor?" Tanya Nath jahil.
"Enggak lah. Itu cowok uda lewat zaman. Kenapa tanya? Kamu mau?" Tanya Melisa kesal karena di ungkit masa lalunya.
"Siapa juga yang mau. Dia itu sekarang sekantor sama aku. Hadeh.. bikin malu aja tuh orang. Masih narsis seperti dulu. Dia blg, aku suka sama dia. Ampun deh. Ini semua karena kamu Mel!" Protes Nath.
"Maaf Nath. Hahaha.. gimana sekarang dia? Masih ganteng, macho, maskulin kayak dulu?" Melisa menggoda. Sebenarnya ia penasaran dengan cinta pertamanya. Tapi karena sekarang ia sudah punya kekasih lain yang lebih mapan, jadi ia tidak terlalu peduli dengan Victor.
"Pret.. mual aku lihat muka dia. Gayanya sih ampun." Nath rasanya ingin mual jika mengingat Victor. Benar - benar menyebalkan bisa bertemu makhluk aneh itu.
"Awas pret.. pret.. pret.. taunya kamu suka lagi sama dia." Goda Eilin
"Hadeh.. udah deh, jangan bikin mood aku hancur." Nath jadi kesal sendiri jika mengingat Victor. Kenangan yang buruk.
Akhirnya mereka larut dalam percakapan, selamat 30 menit Nath bercakap - cakap, tapi karena sudah jam nya untuk bertemu dengan Bram, maka ia izin untuk pulang terlebih dahulu, karena ia harus mengurus kerjaannya yang tertunda. Walaupun mereka kecewa bertemu sebentar saja dengan Nath, tapi tetap harus direlakan. Karena namanya juga karyawan ‘kan, tidak seperti mereka keluarga konglomerat.
Nath segera pergi ke rumah lamanya dan menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk bertemu dengan Bram secara virtual. Tidak lupa ia menggunakan wajah Scarlet dan pengubah suara. Nath mulai menyalakan laptopnya sambil menunggu kedatangan Bram.
oooOOOooo
Sementara di Club House K….
“Scarlet darling...where are you??” (Scarlet sayang, dimana kamu?) Panggil Bram yang baru memasuki club house.
“Aku di sini sayang.” Nath memanggil Bram dari layar proyektor yang sudah disiapkan olehnya.
“Kok kita bertemu virtual sayang? Apakah kamu gak percaya sama aku untuk bertemu langsung? Atau kamu gak ada nyali untuk bertemu denganku secara langsung?” Goda Bram.
“Mungkin kita bisa skip semua basa basi ini Bram sayang. Belum waktunya kita bertemu. Baiklah, aku ingin bertanya suatu hal kepadamu.”
“Berapa bayaran yang kau bisa berikan padaku?” Tanya Bram menantang.
“Bayarannya adalah informasi tentang Welmin group.” Welmin group adalah target Bram. Memang Bram ingin mengakuisisi dan menghancurkan pemilik Welmin, tapi hanya Nath yang tahu semua informasi. Karena Nath sangat pintar untuk mengorek informasi dengan cara apapun.
“Baik… akan kuberikan apa yang kau mau.” Bram puas dengan tawaran Nath.
“Kamu tau kasus dengan Sastria?”
“Tau lah… tua bangka m***m dan bodoh itu. Kamu yang bertemu dengan Sastria di cafe itu?”
“Yes…”
“Gila, kamu membunuh anak buahku, kamu membiarkan dia kehilangan banyak darah. Dasar psikopat.”
“Hei… jangan menghina aku seperti itu, aku tidak membunuhnya, aku memberikan dia kesempatan hidup, tapi jika dia meninggal, bukan salahku. Salahnya tidak memiliki nyali untuk hidup. Dan kamu lebih parah dari aku bukan? Bila anak buahmu lolos dariku, tak mungkin ia lolos darimu, apalagi setelah mengetahui dia gagal membunuhku.”
“You know me so well, Scarlet.” (Kamu sangat mengenal aku, Scarlet) Bram tertawa, karena memang seperti itu yang akan Bram lakukan jika anak buahnya gagal dalam suatu misi yang diperintahkannya. Apalagi jika target lolos. Ia tidak akan sungkan langsung membunuh di tempat.
“Ok, skip anak buahmu.Sekarang giliranku bertanya, siapa Mr.X ?”
“I don’t know Scarlet. I just got the order, but I don’t want to know who gave it, I just need money.” (Aku tidak tahu, Scarlet. Aku hanya mendapatkan perintah tanpa mengetahui siapa yang memerintahku. Aku hanya membutuhkan uang saja)
“Ok, next question. Kamu tau tentang kasus Farmasi 7 tahun lalu yang dimanipulasi Sastria?” (Ok, pertanyaan selanjutnya)
“Yes. I know it. Apa hubungannya dengan kamu?” (Ya, aku tahu itu.)
“Ada klien yang butuh. Dan data mengenai kasus Farmasi seperti hilang di bawa arus.”
“Hahah… itu kerjaan Mr.X juga kan. Keluarga Wijaya jadi mati semua. Aku yang membantu menyabotase mobil anaknya, di tabrak truk dan akhirnya...Boommm meledak.” Bram memperagakan efek meledak dengan tangannya. Ia tersenyum bangga dengan kegiatan yang ia lakukan. Seperti suatu prestasi hebat membunuh keluarga Wijaya.
“Great. Kamu yang menyabotase, siapa yang menyuruhmu?” Nath menahan amarah, tapi ia tetap harus berwajah datar agar Bram tidak curiga.
“Mr. X tentu saja.”
“Bagaimana caranya untuk bertemu Mr.X atau berhubungan dengannya?”
“Ia sangat selektif untuk menghubungi orang yang dipercayakan untuk tugasnya. Ia akan menghubungimu sendiri apabila kamu hebat. Tapi sepertinya ada hacker hebat dibelakang Mr. X. Kita tidak bisa menghubungi Mr.X langsung. Hanya jika Mr. X menginginkan berhubungan, maka kita baru bisa berbicara dengannya.”
Sepertinya Mr.X terlalu licin. Nath harus bisa memecahkan algoritma re routing Mr. X dari handphone Sastria yang diambil oleh Nath.
“Ada lagi yang bisa aku bantu darling?”
“Bantu aku berhubungan dengan Mr. X.”
“Apa bayaranmu sayang?”
“You will never know what I can do for you. I know you want to know about the Welmin group. Am I wrong?” (Kamu tidak akan pernah tau apa yang bisa kulakukan untukmu. Aku tahu jika kamu ingin mengetahui tentang Welmin Group. Apakah aku salah?)
“You always know about me. Great, I will help you. Now, I want the Welmin group’s data.” (Kamu selalu tahu tentangku. Hebat. Aku akan membantumu. Sekarang, aku mau data Welmin group)
"Santai dulu sayang. Akan kuberikan separuh data Welmin, ada di meja di dekatmu. Dan...... ah, aku masih meminta beberapa informasi yang aku butuhkan, dan akan ku hubungi kau saat kubutuhkan!"
"Boleh, tapi ada data yang kupinta darimu terlebih dahulu!" Bram bernegosiasi dengan Nath. Ia mulai mengelus dagunya yang berkumis tipis seperti berpikir data mana yang ia inginkan.
"PRG group?" Tebak Nath.
"Ah kamu pintar!!" Bram langsung tersenyum senang. Ia sangat senang bekerja sama dengan Scarlet. Pintar menebak apa yang ia inginkan.
"Baik, akan kuberikan saat diperlukan! Sekarang urus terlebih dahulu Mr. X!" Perintah Nath."Okay, Thanks for this meeting. I will contact you again.” Nath langsung memutus pertemuan virtualnya dengan Bram. (Terima kasih untuk meeting ini. Aku akan menghubungimu lagi.)
Nath memang tidak peduli dengan PRG group, group milik temannya Eilin, karena PRG group selalu melakukan pekerjaan kotor, dan Nath tau semuanya. Perusahaan itu juga selalu menghancurkan bisnis orang lain untuk kepentingannya sendiri. Yang lebih parah adalah Nath mengetahui jika PRG group akan menghancurkan SJH group milik Aldo. Nath tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Bilapun SJH group hancur, hal itu harus ada di tangan Nath, bukan orang lain.
Nath tidak bodoh, semua percakapannya dengan Bram di rekam secara langsung. Ia tidak mau menghilangkan bukti apapun, karena jika terjadi sesuatu dengan Nath, maka ia akan memberikan semua bukti itu kepada Aldo. Biar Aldo yang akan menyelidikinya lebih dalam.
See you next chapter yaaa... Love you
Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga
Muach...muach..muach..
Siez