CHAP 18 - Membuat Kenangan Bersama

1907 Kata
Chapter 18 - Membuat Kenangan Bersama Kenangan pahit dapat diganti dengan kenangan yang manis. Biarlah kenangan manis ini akan kuingat seumur hidup menggantikan segala kepahitan dalam hidupku. Aku percaya dan cinta kamu 100%. -Aldo- Mobil Aldo segera melaju ke Dufan, hari ini sangat tumben jalanan sepi, padahal hari kerja. Setelah masuk ke dalam gerbang Ancol, Aldo segera mencari parkiran, sementara Nath diturunkan di depan Dufan agar bisa membeli tiket masuk terlebih dahulu. Dengan bahagia dan melompat - lompat kegirangan, Nath memberitahu Aldo dia sudah mendapatkan tiket masuknya. Aldo sendiri bingung, kenapa Nath melompat - lompat seperti anak kecil, seperti Diana dulu, jika sudah dapat tiket masuk Dufan, ia akan melompat - lompat riang. “Oh my God, kenapa Diana lagi yang terlihat dalam diri Nath”. Gumam Aldo.   Mereka menaiki berbagai macam wahana, mengambil foto masing - masing. Sangat indah hari ini untuk bersenang - senang. Rasanya seperti kembali ke masa kecil. Yang paling Nath senangi adalah Kora - kora, ia bisa bolak balik main sampe 6 kali, hal itu membuat Aldo mual.  “Al, kora - kora lagi.. yuks.” Ajak Nath dengan menggandeng Aldo ke tempat kora - kora kembali. “Nath, kita tu udah naik 5 kali. Kamu mau main berapa kali??? Aku sudah mual ini.” Aldo memegang perutnya yang mulai terasa mual. “1 kali lagi ya Al….. Kalau gak 6 kali rasanya gak AFDOL.” Nath terus menggandeng Aldo untuk naik kembali ke wahana itu. “6 kali?? Diana juga sering bilang begitu.. kalau gak 6 kali gak Afdol. Ya ampun Tuhan, kenapa kesukaan mereka sama. Wahana kesukaan mereka juga sama. Apakah Diana mengirimkan Nath untuk aku? Agar aku tidak kesepian lagi???” Aldo berpikir terus saat di berada kora - kora. Kenapa mereka bisa mirip segala kesukaan dan tindakan? Apa Diana yang mengirimnya? Betapa senangnya Aldo melihat Diana dalam diri Nath. “Al….aku lapar...makan Mcd yuks.” Nath lapar sekali setelah beberapa jam menaiki wahana di Dufan,  dan pilihan makan paling cepat adalah Mcd. “Bukannya kamu mau ikan bakar?” “Lama Al, aku udah keroncongan. Cacing dalam perut udah berdendang ria. Tuk turuktuk tuk.” Nath menirukan suara gendang yang aneh. “Kenapa kelakuan sama lagi dengan Diana kalau sudah kelaparan akut? Selalu menirukan suara gendang yang aneh.” Batin Aldo semakin terkesima dengan Nath. “Ya udah ayo.” Akhirnya Nath dan Aldo menuju Mcd, mereka memesan makanan dan langsung take away. Nath ingin menikmatinya di mobil bersama Aldo sambil melihat sunset. “Al….keren banget ya liat sunset. Seneng banget bisa ke sini lagi.” Nath riang gembira melihat sunset bersama Aldo sambil memakan burger Mcd. “Ya...aku juga seneng banget. Udah lama gak refreshing ke sini.” Aldo masih melahap burgernya. “Oh ya? Sejak kapan kamu gak ke sini lagi? Kalau aku mungkin sudah 7 tahun kali.” Nath masih berbicara dengan mulut penuh burger. “Waw..sama donk. Aku juga sudah 7 tahun tidak ke sini. Oh ya...Kamu memang dulu tinggal di Indo? Bukan di Melbourne sejak kecil?” Aldo semakin penasaran dan menyelidiki. “Hahah.. aku orang Indo koq. Masa kamu gak liat di resume aku sih. Hmmm 7 tahun lalu aku memang pergi ke Melbourne karena mau sekolah.” “Orang tua kamu dimana?” “Udah meninggal.” Nath sebenarnya tidak semuanya berbohong, tapi ia memang harus menyembunyikan perihal Lani. Karena di kartu keluarga yang ia miliki, ia sudah sebatang kara. “Sorry.” “No Need…..” Nath masih asik melahap burgernya. Ia tidak mau terlalu membawa perasaan jika berbicara dengan Aldo. “Boleh aku tanya lebih lagi tentang keluarga kamu?” Aldo mulai merasa… apakah Diana kehilangan ingatan sehingga menjadi Nath? Seluruh keluarganya meninggal 7 tahun lalu kah? Secercah harapan untuk Aldo jika memang Nath adalah Diana. “Boleh aja.” Nath mulai berpikir harus berbohong apa kepada Aldo. Membuat cerita yang menyedihkan tapi tidak mirip dengan kejadian yang Diana alami. “Orang tua kamu meninggal karena apa?” “Kecelakaan pesawat.” Bohong Nath masih melahap burger dengan santai, tanpa ekspresi sedih. “Kamu cuma hidup sendir? Ada saudara kandung lain?” “Enggak. Aku cuma hidup sendiri saja.” “Terus siapa yang merawatmu selama 7 tahun belakangan?” “Tante.” “Bisa aku kenalan sama tante kamu?” “Uda meninggal.” Nada Nath datar. Ia harus mengatakan bahwa seluruh keluarganya meninggal, ia tidak ingin diselidiki Aldo. Karena ia tahu, Aldo bisa menyelidikinya dengan mudah jika ia mau. Memang di Melbourne tidak ada yang mengenal Nath memiliki saudara. Ia dan Lani menutup rapat semua hubungan mereka. Mereka hanya seperti pemilik kost dan penyewanya, karena Lani membuat rumah seperti kost di Melbourne. Jadi tidak ada yang mencurigai hubungan mereka. “I’m sorry again.” Aldo menyesal karena pertanyaannya membuka luka lama Nath dimana seluruh keluarganya meninggal. Ia sangat ingin menjaga dan melindungi Nath. “No problem..it's all just memories, nothing to regret.” Nath menepuk bahu Aldo. Baginya kesedihan sudah tidak perlu disesali. Yang perlu ia lakukan adalah mencari tahu penyebab kematian papa dan Marco saja. “Udah gelap nih. Pulang yuks.” Ajak Aldo. “Yuks. Thanks for today Al.” Nath langsung mencium sekilas bibir Aldo. Berterima kasih untuk masa lalu yang menyenangkan. Aldo tidak terima hanya di cium sekilas saja oleh Nath, ia langsung menarik tangan Nath dan memegang tengkuk Nath, melumat bibirnya dengan rakus seakan tidak ada hari esok untuk mencium Nath. “hmmmphhh….hmmmph..” Nath melepaskan bibirnya dari Aldo dan memukul d**a Aldo perlahan. “Hahah...masa cium gak kerasa gitu.” Protes Aldo. “Dasar m***m, udah pulang yuks. Capek nih.” Aldo langsung mengemudikan mobilnya menuju ke apartemen. Sesampainya di apartemen, Aldo mengikuti Nath ke dalam unit Nath.  “Mau ngapain lagi Al?” Protes Nath di depan pintu. “Makan malam sama - sama yuks.” Ajak Aldo seolah tidak mau berpisah dengannya. “Ya udah, ayok. Tapi pesan aja ya. Aku malas masak.” “Ok, My queen.” Mereka berdua masuk ke dalam unit apartemen Nath.  Aldo memesan ramen dari resto kesukaan Nath, Ia memesan beberapa porsi karena ia tahu Nath sangatlah lapar. Jika lapar, Nath bisa menjadi singa karena galak sekali. Jadi sebaiknya Aldo harus mempersiapkan diri dengan makanan yang melimpah setelah lelah bermain seharian dengan Nath “Honey, kayaknya ada si Citra di unit ku deh tadi siang.” Kata Aldo sambil melihat aplikasi cctv di handphone-nya. Aldo memang malas untuk mengangkat telepon dari Citra. Ada 30 kali panggilan dari Citra ke handphone Aldo. Ia sangat malas berurusan dengan wanita ini. Jadi  Aldo mematikan nada dering handphonenya dengan sengaja karena terganggu dengan panggilan Citra. “Hah… ngapain dia?” Nath langsung menghentikan acara cuci piringnya. “Gak tau, Cindy juga bilang kalau dia ke kantor. Nyariin aku sama kamu.”  “Hadeh… salah nih kita ngambil cuti bersama, bisa ketauan ama orang kantor nanti… hahaha.” Nath tertawa terbahak - bahak memikirkan bila ini bisa jadi kabar yang menghebohkan. “Ya emank apa salahnya cuti bersama. Kita bukan pasangan selingkuh koq, jadi gak akan dimarahi siapapun donk.” “Kita ni kayak pasangan selingkuh tau… aku ntar yang disebut pelakor, karena merebut kamu dari Citra, calon tunangan kamu itu.” “Idih kapan dia jadi calon tunangan, males dah.” Aldo protes sambil mendekati Nath yang masih asyik mencuci piring, Ia langsung memeluk Nath dan mencium leher Nath. “Uda ada istriku tercinta di dekapanku sekarang, buat apa yang lain lagi. Satu aja sudah cukup. Gak habis - habis deh. Yang satu ini cuteee banget. Gak ada gantinya.” Aldo tambah memeluk dengan erat, mencium pucuk kepala Nath. “Istri?” Nath mengerutkan dahinya. “Iya.. kamu itu istri aku!” Tegas Aldo. “Sejak kapan? Nikah aja belum.” Nath protes dengan status barunya. “Sejak sekarang. Kalau nikah.. hmm yuks besok kita ke catatan sipil. Kita langsung nikah sipil disana.” Ajak Aldo. “Hahaha… kamu ini belum kenal aku lama, gimana caranya bisa suruh orang nikah tiba - tiba.” Nath tertawa melihat Aldo yang sangat buru - buru ingin menikahinya. “I love you. Gak perlu menunggu waktu yang lama untuk tahu bahwa kamu itu soulmate-ku.” Goda Aldo memeluk erat tubuh Nath. “Aku belum mau!” Tolak Nath bercanda menyikut perut Aldo yang menempel di punggungnya. “Gak apa gak nikah sekarang, tapi kamu ini udah terikat sama aku. Gak boleh genit sama lelaki lain!” Ancam Aldo sambil mencium - cium leher Nath. “Dih… mata mah bebas aja mau liat siapa. Kalau genit, ya buat refreshing gak apa lah. Apalagi sama bule - bule ganteng itu kan.. ruarrr biasa. Memanjakan mataku.” Ledek Nath. “Gak.. kamu itu punya aku dan hanya milik aku. Aku gak rela kamu berbagi dengan siapapun. Bahkan ngelirik cowok lain aja aku gak rela!” Aldo kesal dan semakin mengeratkan pelukannya seakan takut Nath pergi. “Hei…. koq gitu.” “I would never let you go.” Aldo semakin nakal mencium kepala, leher dan punggung Nath. “Aku lagi cuci piring, dan kamu jangan…...hmmppphh” Protes Nath langsung di bungkam oleh lumatan bibir Aldo. Nath memukul - mukul d**a Aldo, tanda ia sudah hampir kehabisan napas. “Kamu tuh, tukang cari kesempatan. Dasar kamu m***m tingkat tinggi!!” Protes Nath yang masih dipeluk Aldo. “Aku m***m sama kamu doank sayang. Percayalah.” Aldo menggelitik pinggang Nath. “Udah sana nonton dulu, aku mau cepat kelarin cuci piring.” Usir Nath. Aldo tersenyum genit lalu meninggalkan Nath untuk duduk di sofa. “Al….” Panggil Nath yang telah menyelesaikan cuci piringnya. “Kenapa honey?” Aldo menoleh ke Nath yang sedang berjalan ke arahnya. “Kamu yakin dengan aku? Kamu gak mau cari identitas aku dulu?” “Gak. Aku yakin sama kamu 100%” Aldo tersenyum penuh cinta memandang Nath. Ia yakin pilihannya kali ini tidak salah. Ia juga harus memperjuangkan restu dari kedua orangtuanya untuk Nath. “A… aku.” “Kamu takut gak dapat restu dari mama?” Aldo langsung to the point saja. Ia tahu mamanya tidak suka dengan Nath. Sementara itu, Nath hanya bisa mengangguk. Sebenarnya bukan itu yang Nath takutkan. Ia takut semakin menghancurkan Aldo dengan balas dendamnya yang memakai perasaan berlebih. “Apa mau aku hamilin dulu aja?” Ledek Aldo. “Enak aja! Itu mah maunya kamu aja.” Nath memukul d**a Aldo. Ide Aldo benar - benar gila.  “Kalau hamil? Ya kita nikah aja. Susah amat?” Aldo langsung menarik Nath untuk duduk di pangkuannya. Membelai kepala Nath dan mencium kedua pipinya. “......” Nath terdiam dengan ucapan Aldo. Sangat mudah dan tak masalah bagi Aldo untuk mengucapkan kata menikah. Tapi bagi Nath, hal itu sangat sulit, karena misi belum tercapai dan mama Lani masih mencurigai keluarga Aldo di balik kehancuran keluarganya. Ia harus mencari alasan lain. “Hei...kenapa diam? Apakah kamu gak mau nikah sama aku?” Aldo memandang Nath yang masih ada di pangkuannya.  “Hm….. kita baru kenal sebentar, sepertinya ucapan menikah itu terlalu jauh. Kita masih harus mengenal satu sama lain terlebih dahulu.” Ucap Nath berkelit.  “Baiklah, aku ikutin apa mau kamu. Tapi aku harap kamu memikirkan kembali tawaran aku.” Aldo langsung mengecup puncak kepala Nath dan memeluknya dengan erat. “Ok Al.” Nath membalas memeluk Aldo dengan lebih erat, seperti takut kehilangan. “Ya udah pulang sana. Istirahat. Besok kita kerja.” Nath mengecup kepala Aldo. Mata Aldo sepertinya sudah 5 watt. Lelah seharian menemani Nath bermain berbagai wahana di Dufan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN