CHAP 17 – Semakin Dekat
Aku dan kamu tidak pernah jauh, tapi kita menjadi tidak bisa dekat karena masa lalu. Sekeras apapun aku melawan hati ini, aku tetap kembali pada kamu. Karena kamu satu - satunya.
- Nathania -
“Ada perkembangan apa Di?” Tanya Lani di telepon.
“Aku baru tau, bahwa hancurnya perusahaan papa karena sebuah manipulasi ma.”
“Manipulasi? Kamu sudah sampai mana penyelidikannya?”
“Mama tau yang bernama Sastria? Yang bekerja di perusahaan Aldo?“
“Tau.. dia orang kepercayaan Aditya.”
“Dia yang memanipulasi proyek farmasi papa.”
“Lantas bagaimana perkembangannya Di. Apa lagi yang kamu tau?” Lani lebih penasaran lagi. Ia sudah mengira ada orang dalam Aditya yang menghancurkan perusahaannya. Tidak salah jika ia menuduh Aditya menjadi dalang kehancuran perusahaan Dito.
“Sekarang Sastria sudah meninggal ma. Dia di bunuh, di tembak saat Diana sedang mengintrogasinya. Tapi untungnya ada percakapan yang Diana rekam saat berbicara dengan Sastria.”
“Apakah kamu terluka Di?” Suara Lani mengkhawatirkan keadaan Diana.
“Sampai saat ini Di masih baik – baik saja ma. “
“Syukurlah.”
“Tapi ada dalang dibalik semua ini ma, Mr. X, dan aku masih mencari tau siapa orang ini.”
“Apakah Mr. X ini belum bisa kamu lacak?”
“Gerakannya sangat halus dan tidak dapat dibaca.”
“Bisa meminta bantuan temanmu?”
“Bisa, aku sudah meminta bantuannya. Aku juga mengambil handphone Sastria dan akan mengecek lebih lanjut ma.” Diana tidak mungkin memberitahu kepada Lani bahwa ia terluka, Lani bisa sangat khawatir dengan keadaannya.
“Apa di handphone Sastria ada petunjuk?”
“Banyak chat dan telepon di nomor Sastria. Aku sedang melihatnya satu per satu.”
“Kamu harus berhati – hati Di.” Kata Lani cemas.
“Baik ma.”
“Kamu satu – satunya anak mama yang masih hidup. Mama harap kamu bisa jaga diri.”
“Baik ma.”
Nath dan Lani segera mengakhiri pembicaraan mereka.
oooOOOooo
“Teeett...Teeett....Teeett...” Aldo membunyikan bel unit Nath.
“Yes sayang.... I know it was you.” Teriak Nath dari dalam unit di sambut Aldo yang senyum dari balik pintu.
“Morning honey.” Aldo langsung memeluk Nath dan mencium bibirnya begitu Nath membuka pintu. Nath masih bergelayut manja dengan Aldo. Masih 1,5 jam lagi untuk jam kantor. Seperti biasa Nath sudah membuatkan sarapan untuk Aldo.
“Nath, kamu tu pakai kimono gitu ya...kayak lagi godain aku tau. Kamu tau gak sih kalau baju gini tu bisa menggoda iman orang.” Aldo memperhatikan Nath dari atas sampai bawah. Nath memakai baju kimono merah dan seperti menggoda imannya yang sudah tidak teguh. Aldo mulai membayangkan jika kimononya ia buka...hadeh..tegang..tegang.
“Goda iman kamu doank kali.” Goda Nath sambil berjinjit mencium bibir Aldo.
“Kamu mau jadi sarapan pagi aku ya?” Aldo memeluk erat dan mencium kepala Nath.
“Siapa yang mau jadi sarapan Al, ini kan supaya kamu gampang obatin luka di bahu aku. Gak ada pikiran buat goda kamu kali. Dasar kamu otak kotor. Pagi - pagi aja otaknya sudah kotor begini, apalagi kalau malam, bisa ganas kali kamu ini.” Nath melepaskan pelukan Aldo dan mulai meledek dengan mentoyor kepala Aldo karena otak Aldo mulai kotor.
“Dasar kamu main toyor kepala orang aja !! Bagi aku, pagi sama malam, sama aja ganasnya. Hahaha” Aldo menambah erat pelukannya mencium kepala Nath berkali - kali. Sungguh pagi yang manja. “ Sarapan dulu ya..aku lapar. Sekarang sarapan apa kita hari ini honey?” Lanjut Aldo masih memeluk manja Nath dan mencium kepala Nath.
“Spaghetti Carbonara sayang.....” Nath melepas pelukan dan mengajak Aldo ke meja makan.
Wangi spaghetti carbonara yang menggugah selera Aldo. Sebelumnya ia selalu melewatkan sarapan, tapi semenjak berpacaran dengan Nath, ia selalu teratur untuk makan sarapan pagi. Apalagi jika Nath yang memasak, selalu pas di mulut Aldo. Bahkan Aldo bisa menambah porsi hingga 2 sampai 3 kali.
“Honey...gimana kalau kamu buat resto aja. Aku jadi investor deh.” Aldo sambil mengunyah makanannya.
“Makan sama ngomong itu satu per satu. Ngomong sampai blepotan gitu.” Ledek Nath.
Aldo cepat - cepat mengunyah dan menelan spaghettinya baru berbicara kembali. “Gimana kalau kamu buat resto aja. Aku jadi investor deh.”
“Hadeh...makanan amburadul aja dibuatin resto. Kamu ada – ada aja sih Al.” Ucap Nath sambil menyentil hidung Aldo. Kebiasaan Nath adalah berbicara protes tapi kelakuan manja. Benar – benar seperti Diana yang selalu begitu kepada Aldo.
“Serius deh. Entah kenapa, apapun yang kamu buat itu rasanya enak banget. Ketagihan abis. Tiap hari itu aku selalu mikir...hari ini sarapan apa ya sama Nath. Jadi semangat sarapan kan kalau gitu.” Ucap Aldo bermanja – manja.
“Dasar kamu tuh. Memuji selalu kelebihan. Kamu selama ini kebanyakan MSG ya kalau makan?”
“MSG?”
“Ya… generasi MICIN kamu! Hahahaha” Ledek Nath tertawa terbahak -bahak.
“Dipuji malah ngeledek kamu ini! Serius aku tuh.” Protes Aldo sebal karena diledek Nath.
“Ayo cepetan makannya, nanti telat ke kantor.”
“Nath, bahu kamu belum ganti perban nih. Ntar aku gantiin ya. Takut infeksi.” Aldo melirik bahu Nath. Setiap hari memang Aldo yang menggantikan perban Nath. Sudah sekitar 3 hari setiap pagi dan malam Aldo yang menggantikan perban di bahu Nath.
“Iya, yang penting kamu kelarin dulu makannya sana.”
“Sip sayang. Duh nikmat bener makan barengan pacar.” Aldo tambah menggoda sambil makan spaghetti.
Setelah selesai makan, Aldo langsung bersiap mengambil kotak P3K untuk mengobati bahu Nath.
“Buka baju kimononya sayang.” Perintah Aldo sambil menyiapkan perban dan obat lainnya untuk membersihkan luka Nath.
“Ok sayang.” Nath langsung membuka kimono merahnya dan di dalamnya hanya bra hitam yang ia pakai, benar – benar sengaja untuk menggoda iman Aldo.
“Nath, kamu mulai berani buka kimono dan dalamnya gak ada apapun ya. Biasanya pakai kemeja dan cuma buka 3 kancing aja?” Aldo mulai menggoda Nath sambil memperhatikannya seksama, mencium bahu Nath yang tidak terluka.
“Otak kamu aja yang kotor. Pakai begini supaya kemejaku gak kotor, lagian setelah diperban jadi gampang ntar pakai kemeja. Kalau pakai baju lain lagi, ntar aku tuh susah pake kemejanya. Dasar kamu!!” Nath menjitak kepala Aldo.
“Kamu koq tambah kejam sih Nath, pake acara jitak segala.” Aldo memegang kepalanya yang dijitak oleh Nath. Sebenarnya tidak sakit, tapi entah kenapa hari ini Aldo menjadi orang yang lebay aja. Aldo meniup bekas luka Nath agar cepat kering dan segera ia pakaikan perban.
“Lebay kamu!!! Kamu ini wajib dijitak, soalnya pikiran kamu menjalar kemana - kemana. Dijitak itu supaya otaknya lurus lagi.”
“Kamu gak sayang sama aku ya? Kalau aku bodoh karena kamu jitak gimana?” Protes Aldo memegang kepalanya yang dijitak oleh Nath.
“Alahmak, mana ada orang dijitak jadi bodoh. Kalau udah bodoh dari sananya ya udah donk.” Nath menjulurkan lidahnya dan berlari ke kamar karena akan ditangkap oleh Aldo.
“Awas kamu ya Nath. Tunggu pembalasanku.” Aldo tersenyum smirk. Ia akan membalas Nath dengan pelukan dan ciuman sebagai balasannya.
Nath langsung mengunci pintu kamarnya, tidak mau kejadian kemarin terjadi kembali, Aldo masuk ke kamarnya dengan tiba - tiba. Setelah selesai mengganti pakaiannya, Nath keluar dan ia kaget, karena saat membuka pintu, Aldo sudah berada didepan pintunya.
“CUP.. CUP.. CUP” Aldo mencium Nath.
“Hei….. koq main cium segala sih.” Protes Nath.
“Ini balasan untuk kamu yang tadi jitak aku. Mulai sekarang, kalau kamu nakal, aku akan membalasnya dengan mencium kamu!” Aldo tersenyum licik, sementara Nath tertunduk malu. Pipinya langsung memerah.
“Udah… udah.. Yuks ke kantor. Telat nih kita.”
“Nath, kita boleh bolos hari ini gak?” Tawar Aldo.
“Bolos? Mau ngapain?”
“Aku mau jalan berdua sama kamu. Kalau hari kerja gini kan biasanya sepi tuh.”
“Jalan kemana?” Nath mengerlingkan mata. Ia sebenarnya butuh hiburan juga. Sudah terlalu stress dengan semua urusannya.
“Hmm.. Ancol?”
“Ok Bos… Siap laksanakan.”
“Ntar kita main di pantai aja. Kan sampai malam tuh. Menikmati sunset berdua sepertinya romantis, sambil makan ikan bakar. Hehehe.” Aldo cengengesan.
“Gimana kalau ke dufan sekalian. Aku mau naik banyak permainan di sana.”
“Ok my Queen.” Aldo mengecup dahi Nath. Mereka segera mempersiapkan pakaian untuk berliburnya hari ini.
Sementara itu, di kantor Aldo….
“Mbak, Saya mau ketemu dengan Pak Aldo. Bilang sama dia, calon tunangannya mau ketemu!” Pinta seorang wanita cantik dan seksi yang bernama Citra dengan pongahnya.
“Ma… maaf bu, hari ini Pak Aldo tidak masuk hari ini.” Jawab Cindy perlahan dan menunduk, karena ia tau bahwa Citra adalah calon istri Aldo, seperti yang pernah ia dengar saat Felicia datang ke kantor Aldo.
“Kenapa? Sakit?”
“Maaf bu, saya kurang tau. Pak Aldo hanya chat saja dengan saya memberitahukan hal tersebut.” Jawab Cindy masih tertunduk.
“Hmm….” Cindy sedikit berpikir, sepertinya ada orang yang kurang di ruangan ini. “Asisten pribadi Aldo masuk gak?”
“Enggak juga bu.”
“What the f**k. Mereka berdua meliburkan diri. Benar – benar tidak bisa di diamkan.” Citra marah – marah di depan Cindy. Wanita cantik yang tiba – tiba menyeramkan apabila marah. Citra langsung menelepon Felicia untuk menanyakan alamat Aldo.
“Tante, alamat apartemen Aldo dimana ya? Katanya sekretarisnya, Aldo sakit.” Citra langsung berpikir cepat agar bisa mendapatkan alamat apartemen Aldo, tentu saja Felicia yang cemas langsung memberikan alamat apartemen Aldo. Ia senang apabila Citra mau berkunjung dan mendekatkan diri dengan Aldo, daripada Nathania yang mendekatkan diri.
“Apartemennya di jalan x1, kuningan. Dekat dengan kantor koq sayang. Makasi udah perhatiin Aldo ya. Nanti kamu kasih kabar ke Tante ya gimana keadaan Aldo.” Felicia sangat berterima kasih karena ada wanita yang perhatian dengan Aldo. Bersyukur sekali ada yang mau baik dengan Aldo.
Citra bergegas menuju mobilnya di basement kantor Aldo, ia sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Aldo dan Nath di apartemennya. Ia harus berhasil mendekati Aldo, karena bisnis keluarganya bisa di ambang kehancuran apabila ia tidak memiliki Aldo. Ayahnya, Devan Santoso sangat membutuhkan suntikan dana untuk proyeknya dan kerja sama dengan SJH group sampai saat ini tidak goal. Benar - benar membuat kondisi keuangan papanya menjadi kacau. Jadi perjodohan Ini hanya bisnis, tidak ada perasaan yang terlibat.
Citra sebenarnya sangat malas untuk berhubungan dengan Aldo, apalagi bermanja - manja apalagi ia mengetahui dari gosip yang beredar bahwa Aldo adalah gay. Ia merasa jijik dengan Aldo, memang Citra akui, Aldo tampan dan mapan, siapa wanita yang tidak suka pada pria seperti ini. Tapi tetap saja, Aldo tidak menyukai perempuan, itu menjadi nilai minus bagi dirinya. Namun, semenjak Ia dan Felicia menangkap basah Aldo dan Nath di mall berciuman, Egonya sangat terluka. Masa orang sekelas Nath bisa memenangkan Aldo. Apakah Aldo sebenarnya tidak gay? Benar - benar tidak masuk akal.
Citra sangat tidak menyangka Aldo begitu royal pada seorang wanita, jika ia menjadi kekasih apalagi istri Aldo, harusnya Aldo lebih royal pada dirinya untuk membelikan apapun yang ia mau. Yang membuat Citra bertambah kesal adalah mungkin semua outfit yang dipakai Nath adalah pemberian Aldo. Iri rasanya melihat Nath dengan barang branded, apalagi barang yang dipakai oleh Nath adalah merk kesukaan Citra. Jadi tidak ada salahnya kan mendekati Aldo. Meskipun tidak mendapatkan hatinya, ia bisa mendapatkan hartanya.
Tidak lama, Citra sudah sampai di depan unit Aldo dan memencet bel unitnya. Lima belas menit menunggu, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Citra berusaha menelepon Aldo, tapi tidak ada jawaban dari Aldo. Tidak di reject, tapi tidak diangkat. Pikiran Citra semakin liar, ia menduga Aldo dan Nath sedang bercinta. Bisa bahaya kedudukan Citra, terutama jika Nath hamil. Sangat menakutkan dan tidak dapat dibayangkan oleh Citra. Bisa gagal rencananya dan papanya.
“Apa dia lagi bercinta dengan p*****r sialan itu? Aduh lupa tanya lagi dimana alamat wanita itu.” Gumam Citra. Setelah kesal menunggu hampir 1 jam, akhirnya Citra meninggalkan unit apartemen Aldo.
See you next chapter yaaa... Love you
Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga
Muach...muach..muach..
Siez