CHAP 16 – Memories

1412 Kata
CHAP 16 – Memories Ketika kenangan menyakitkan itu hadir kembali padaku, rasanya ingin mati saja. Melihat kamu bersimbah darah dan terkulai lemas. Mengapa bukan aku saja yang ada di posisi kamu? Biar aku yang menggantikanmu untuk menderita bahkan kehilangan nyawa. Aku rela. -Aldo-   “Jangan tinggalin aku sendiri Di.. aku mau ikut kamu.” Teriak Aldo memanggil Diana yang semakin menjauh. Bayangannya semakin hilang dari pandangan Aldo. “Jaga diri baik -baik Al.” Diana mengucapkan perpisahan sambil melambaikan tangan. Wajahnya pucat  berdarah dan luka disekujur tubuh Diana.  “Please Di.. comeback. Don’t leave me alone.” Pinta Aldo sambil menangis melihat kepergian Diana. (Tolong di, kembalilah. Jangan tinggalkan aku sendiri.)  “Papa kamu pembunuh Al!” Ucap Diana dengan nada marah, matanya melotot tajam seolah mengintimidasi Aldo. “Maafkan papaku Di. Aku janji akan menemukan pembunuh itu.” Aldo berlutut sedih dan merasa bersalah. Perasaan yang menghantuinya selama ini, mendengar rumor dari banyak orang bahwa papanya yang membunuh keluarga Diana. “Di… tunggu aku… aku tidak bisa tanpa kamu. Aku ikut denganmu.” Aldo menangis sejadinya melihat kepergian Diana, bayangan Diana semakin lama semakin menghilang dari pandangan Aldo. Tiba – tiba Aldo terbangun, ternyata ia bermimpi kembali tentang Diana. Mimpi yang menghantuinya selama 7 tahun.  Ia selalu terbangun dari mimpi yang seperti ini. Setelah 2 minggu belakangan ia bisa tidur dengan nyenyak, ternyata mimpi ini hadir kembali. Terutama hari ini, karena adanya ketakutan yang baru, ketakutan kehilangan Nath.  Setelah melihat luka di bahu Nath yang ia yakini adalah luka tembak. Aldo masih menerka – nerka apa yang terjadi dengan Nath. Mengapa Nath bisa mendapatkan luka tembak, membuat ia menjadi insomnia kembali. Semua kenangan tentang kehilangan berputar – putar di otaknya. Ia tidak ingin merasakan kehilangan lagi untuk kedua kalinya. Cukup hanya Diana saja.  Ia sangat ingat akan rasa kehilangan Diana. Tentang Diana kesayangannya yang semakin hari semakin menjauh dari ingatannya karena terganti oleh Nath yang sikap dan kebiasaannya sangat mirip dengan Diana. Segala apa yang Nath sukai sama seperti semua kebiasaan Diana. Semua sikap Nath sama seperti sikap Diana. Kenangan terlalu menyakitkan bagi Aldo yang harus menerima kenyataan bahwa Diana sudah tiada dengan kecelakaan tragis. Aldo sampai saat ini masih menyelidiki tentang kasus keluarga wijaya, dan salah satu yang ia selidiki adalah kecelakaan yang merenggut nyawa Marco dan Diana adalah sabotase dari musuh Dito Wijaya yang entahlah siapa mereka. Aldo mengecek kondisi mobil Marco dan ternyata rem mobil Marco dirusak oleh seseorang. Selain itu, supir truk yang menabrak Marco sudah hilang ditelan bumi. Tidak tahu mengapa tiba – tiba supir truk itu diberitakan meninggal saat Aldo sedang menyelidikinya. Seperti ada rekayasa di dalam kecelakaan ini.  Aldo selalu bermimpi buruk saat mengingat wajah Diana yang benar- benar terluka karena kecelakaan mobil. Wajah penuh darah dan luka di sekujur tubuh. Saat itu, Aldo sendiri yang membantu memindahkan Diana dari mobil Marco saat kecelakaan. Sebelumnya, Aldo mencari Diana ke rumahnya, tapi tidak bertemu, Ia malah bertemu dengan Lani yang memaki nya di depan semua tamu yang sedang melayat. Berteriak bahwa keluarga Aldo adalah pembunuh Dito Wijaya. Aldo yang bingung karena dikatakan sebagai keluarga yang pembunuh oleh Lani menjadi kalut. Pikirannya tidak terkendali, ia merasa berdiri di antara orang tuanya dan orang tua Diana. Agar tidak terbawa emosi lebih lanjut karena fitnah Lani, akhirnya Aldo memutuskan untuk pulang saja dan bertanya langsung pada papanya, tetapi saat akan pulang, Aldo melihat Marco memasuki mobil dengan wajah sangat marah. Ia takut akan wajah Marco yang marah dan penuh emosi. Ia takut Marco akan datang ke rumahnya dan berseteru dengan papanya. Benar -benar Aldo tidak ingin adanya keretakan hubungan antara dua keluarga ini. Selamanya keluarga wijaya adalah keluarganya juga yang Aldo cintai.  Dengan sigap Aldo mengikuti Marco dengan mobilnya. Ia melihat Marco mengebut dengan kecepatan yang sangat tinggi seperti kesambet setan, menyalip semua kendaraan yang ada di depannya dan tiba – tiba ada truk keluar jalur yang menabrak mobil Marco.  Kecelakaan yang sangat fatal, mobil Marco terpelanting di jalan , berguling - guling dan akhirnya menabrak pohon besar, bagian depan mobilnya hancur sementara bagian lainnya juga sudah penyok. Aldo segera berlari untuk mengecek keadaan Marco. Ia ingin mengeluarkan Marco dari mobil dengan cepat, tapi sangat sulit untuk mengeluarkannya karena tidak ada orang yang membantu Aldo. Kaki Marco terjepit perseneling. Sangat susah diangkat oleh Aldo seorang diri. Aldo melihat isi mobil Marco dan ia mendapati ada orang lain di dalam mobil. Ia sangat putus asa ternyata di dalam mobil bagian belakang ada Diana yang sudah terkapar tidak sadarkan diri dan terluka di seluruh tubuhnya. Ia sangat bingung hingga berteriak – teriak untuk meminta pertolongan tapi tidak ada yang datang membantu. Sedangkan sopir truk yang menabrak mobil Marco langsung pergi begitu saja.  “Aldo...Al...” Teriak Marco kesakitan memanggil Aldo. “Ya Co, aku lagi panggil ambulans untuk membantu.” Aldo semakin panik. “Aku sudah sulit bergerak Al, kakiku terjepit. Selamatkan Diana dulu. Tolong jaga dia dan mamaku. Kamu harapan aku satu – satunya.” Marco memohon sambil menahan rasa sakit disekujur tubuhnya. “Aku akan jaga mereka Co, kamu kuat, tunggu sebentar, aku akan keluarkan Diana dulu.” Aldo langsung membuka pintu belakang dan mengeluarkan Diana dari mobil.   Aldo pikir setelah menyelamatkan Diana, ia akan langsung menarik Marco, tapi sayangnya semua terlambat, karena mobil Marco langsung meledak setelah Aldo berhasil menyelamatkan Diana. “Marco…. Marco….. Marco… jangan tinggalkan aku. Maafkan aku Marco.” Teriak Aldo sambil menangis saat melihat mobil Marco meledak. Ia menyesal tidak bisa menyelamatkan Marco. Aldo hanya melihat senyum Marco sesaat ia mengeluarkan Diana dari dalam mobil. Setelah ambulans datang, mereka langsung memindahkan Diana ke rumah sakit dan keadaannya sangat lemah. Dokter berkata banyak tulang rusuknya yang patah. Bahkan wajahnya banyak tertusuk kaca. Mungkin karena saat kejadian, Diana tidak menggunakan sabuk pengaman, sehingga ia mengikuti pergerakan mobil yang berguling - guling.  Dokter tidak bisa memastikan untuk kemungkinan hidup untuk Diana. Aldo benar – benar kehilangan arah, tidak tau apa yang harus ia lakukan. Ia hanya bisa berdoa saja yang terbaik untuk Diana. Ia bahkan tidak berani mengungkapkan siapa Diana kepada orang lain. Ia takut jika ada yang mau membunuh Diana apabila diketahui siapa dia. Biarlah mereka mengira semua orang di mobil itu meninggal semua. Aldo berjanji akan menyelidiki semuanya.  Aldo bahkan tidak ingat dengan Lani, mamanya Diana. Ia bahkan tidak berani berbicara dengan Lani, karena Lani sangat membenci keluarganya. Aldo berjanji akan mengunjungi Diana setiap hari karena dokter mengatakan bahwa Diana mengalami koma, dan tidak jelas apakah ia akan bertahan hidup atau tidak. Setelah koma setelah 4 hari, melalui telepon, Aldo diberitahu oleh dokter bahwa Diana sudah meninggal dan salah satu keluarganya akan menjemput jenazahnya. Aldo bergegas ke rumah sakit, tapi sayang, Aldo terlambat. Diana sudah tidak ada di ruangannya. Tidak ada jejak mengenai Diana dimanapun. Bahkan sampai sekarang, Aldo tidak tau dimana makam Diana. Ia juga sudah tidak tau dimana Lani berada, karena menurut berita, Lani ikut meninggal dalam kecelakaan, padahal Aldo tidak melihat Lani sama sekali di mobil tersebut. Tapi Aldo tidak berani membuka mulut bahwa Lani tidak berada di dalam mobil itu, demi keselamatan Lani jika benar dia masih hidup. Mungkin yang menjemput jenazah Diana adalah Lani. Tebak Aldo Selama 7 tahun ini ia selalu ke psikiater untuk mengatasi depresinya dan hampir setiap malam Aldo meminum obat antidepresan. Ia selalu gelisah setelah bermimpi tentang Diana. Diana yang penuh darah. Rasa bersalahnya karena kepada Marco karena tidak bisa menjaga wasiatnya untuk menjaga Diana dan Lani. Ada rasa bersalah dalam hatinya, mengapa ia begitu bodoh tidak tau dimana Diana dimakamkan, siapa yang menyabotase mobil Marco, dimana Lani. Semua pertanyaan itu semakin membuat Aldo stress.  Penyelidikan Aldo tentang mobil Marco dan yang terjadi dengan keluarga Wijaya selalu buntu. Seperti ada yang selalu menghalangi apa yang terjadi. Jika ia bertanya pada papanya, papanya selalu bilang tidak tahu mengenai hal itu dan tidak ingin ikut campur. Aldo menjadi berpikir, apakah papanya ada terlibat dengan kehancuran keluarga wijaya seperti yang dituduhkan oleh Lani, bahwa papanya terlibat dalam kehancuran perusahaan wijaya.  Dengan kejadian yang menimpa Nath, Aldo membandingkan dengan kejadian Diana, karena permasalahan perusahaannya mungkin akan menyeret Nath ke jurang bahaya, sama dengan keluarga wijaya. Aldo masih hanya bisa menebak hal itu karena ia juga tidak tau siapa sebenarnya Nath. Mereka baru berkenalan sebentar saja. Apakah luka tembak itu ada hubungan dengan perusahaannya atau karena urusan Nath sendiri? Aldo memang harus menyelidiki Nath lebih dalam lagi. Ia mencintai Nath, walaupun ia menaruh curiga yang sangat besar kepada Nath. See you next chapter yaaa... Love you Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga Muach...muach..muach.. Siez  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN